NovelToon NovelToon
Takhta, Cinta, Dan Rahasia

Takhta, Cinta, Dan Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:405
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Raffi adalah anak di luar nikah dari Mahesa Pratama, Presiden Direktur Pratama Group Hotel, hasil hubungannya dengan Maya Indira. Meski lahir tanpa status yang diakui keluarga, Raffi mewarisi kecerdasan, bakat kepemimpinan, dan naluri bisnis yang membuat Mahesa diam-diam berniat menjadikannya penerus kerajaan bisnisnya.

Namun, keputusan itu memicu amarah istri sah Mahesa. Demi memastikan putra kandungnya, Julian, menjadi satu-satunya pewaris Pratama Group Hotel, ia menyusun berbagai rencana licik untuk menyingkirkan Raffi. Berbagai fitnah, pengkhianatan, hingga perebutan hak waris membuat Raffi kehilangan segalanya dan dipaksa memulai hidup dari nol.

Dengan tekad yang tak pernah padam, Raffi membangun kembali kariernya dari bawah. Ia berjuang membuktikan bahwa kesuksesan bukan ditentukan oleh status kelahiran, melainkan kerja keras, kemampuan, dan keteguhan hati. Langkah demi langkah, ia bangkit untuk merebut kembali tempat yang seharusnya menjadi miliknya dan cintanya dengan dewi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ada yang Tidak Beres di Hotel

siang itu, suasana Grand Hotel Pratama mendadak sedikit berbeda. Beberapa kendaraan mewah berhenti tepat di depan lobi utama, disusul beberapa bodyguard yang turun lebih dulu dan berdiri di sekitar pintu masuk.

Para karyawan yang sedang bekerja mulai saling melirik.

"Itu siapa?"

"Pak Mahesa datang?"

Belum sempat rasa penasaran mereka terjawab, seorang remaja laki-laki turun dari salah satu mobil. Penampilannya rapi, pembawaannya tenang, dan langkahnya terlihat begitu percaya diri.

Julian.

Putra Mahesa yang selama lima tahun terakhir menempuh pendidikan di Singapura.

Banyak karyawan yang hanya pernah mendengar namanya dari cerita para senior. Mereka hampir tidak pernah melihatnya secara langsung karena sejak kecil Julian lebih banyak menghabiskan waktunya di luar negeri.

"Jadi itu putranya Pak Mahesa?"

"Iya. Sudah besar sekali."

Bisikan kecil mulai terdengar di antara para karyawan.

Julian tidak terlalu memperhatikan. Ia hanya berjalan di samping ayahnya dengan ekspresi tenang, sesekali menjawab sapaan karyawan yang mereka lewati.

Mahesa menepuk pelan bahu putranya.

"Bagaimana? Masih ingat tempat ini?"

Julian tersenyum tipis.

"Sedikit."

Lima tahun memang cukup lama untuk membuat banyak hal terasa asing.

Mereka akhirnya tiba di depan kantor utama direktur. Mahesa membuka pintu dan mempersilakan Julian masuk lebih dulu.

Ruangan itu luas dengan jendela besar yang menghadap langsung ke gedung hotel. Di dinding tergantung beberapa penghargaan dan foto perjalanan panjang perusahaan.

Julian berjalan perlahan mengamati sekeliling.

"Suatu hari nanti," kata Mahesa, "ruangan ini mungkin menjadi tempatmu bekerja."

Julian menoleh.

"Benarkah?"

Mahesa mengangguk.

"Kamu masih punya banyak waktu untuk belajar. Tapi kalau memang ingin meneruskan perusahaan ini, kamu harus memahami semuanya dari bawah."

Julian kembali memandang meja kerja besar di tengah ruangan.

Ada sedikit kebanggaan di matanya, tetapi juga sebuah tanggung jawab yang mulai terasa nyata.

Ia sadar, nama Pratama bukan sekadar nama keluarga.

Di baliknya ada hotel, perusahaan, ribuan karyawan, serta keputusan besar yang suatu hari mungkin harus ia tanggung sendiri.

Di luar ruangan, beberapa karyawan masih membicarakan kedatangan Julian.

Putra Mahesa akhirnya kembali.

Dan tanpa mereka sadari, kehadiran Julian di hotel hari itu menjadi salah satu tanda bahwa generasi berikutnya dari keluarga Pratama mulai mengambil tempatnya.

Julian berdiri di dekat jendela kantor direktur sambil sesekali mengangguk mendengarkan penjelasan ayahnya. Wajahnya terlihat tenang, tetapi dari tatapannya jelas ia belum benar-benar tertarik dengan semua pembicaraan mengenai hotel.

"Kalau suatu hari kamu memimpin tempat ini, kamu harus memahami cara kerjanya dari sekarang," ujar Mahesa.

"Iya, Yah," jawab Julian singkat.

Ia tetap berusaha terlihat mendengarkan, meski pikirannya sesekali melayang. Baginya, pembicaraan tentang laporan hotel, karyawan, dan urusan bisnis terasa terlalu jauh dari kehidupan yang selama ini ia jalani di Singapura.

Tiba-tiba terdengar keributan dari arah koridor.

Beberapa karyawan berlari melewati depan kantor direktur. Wajah mereka terlihat panik. Salah seorang bahkan langsung menghubungi bagian keamanan hotel.

Mahesa mengerutkan kening.

"Ada apa?"

Seorang staf yang terburu-buru berhenti di depan pintu.

"Pak, ada kejadian di salah satu kamar."

"Keadaan tamu?"

Staf itu terlihat ragu sebelum menjawab.

"Ada seseorang ditemukan tidak bernyawa di dalam kamar. Kami belum tahu penyebabnya."

Suasana kantor seketika berubah.

Julian yang sejak tadi terlihat tidak tertarik langsung menoleh. Rasa penasaran muncul di wajahnya.

"Siapa orangnya?" tanya Mahesa.

"Belum diketahui, Pak. Tim keamanan sedang mengamankan lantai tersebut. Kami juga belum bisa memastikan apakah ini bunuh diri atau ada penyebab lain."

Mahesa langsung berdiri.

"Jangan ada yang menyentuh apa pun di kamar itu. Hubungi pihak berwenang dan pastikan area tersebut ditutup."

Staf itu mengangguk cepat lalu kembali berlari.

Mahesa menoleh kepada Julian.

"Kamu tetap di sini."

Namun Julian justru memandang ke arah koridor yang semakin ramai.

"Aku ikut."

"Julian."

"Aku cuma ingin tahu apa yang terjadi."

Mahesa menghela napas. Ia tahu rasa penasaran putranya tidak akan mudah dihentikan.

Di sepanjang koridor, para karyawan berdiri dengan wajah tegang. Bisik-bisik terdengar di berbagai sudut, tetapi tidak ada seorang pun yang berani membuat kesimpulan.

Ada yang menduga tamu tersebut mengakhiri hidupnya sendiri. Ada pula yang merasa ada sesuatu yang janggal.

Sementara itu, pintu kamar telah ditutup rapat dan dijaga petugas keamanan.

Julian berdiri agak jauh dari kerumunan. Untuk pertama kalinya sejak tiba di hotel, ia melihat sisi lain dari bisnis keluarganya—bahwa mengelola sebuah hotel bukan hanya tentang keuntungan, kemewahan, dan nama besar.

Ada juga kejadian-kejadian tak terduga yang bisa mengubah suasana dalam sekejap.

Mahesa menatap pintu kamar tersebut dengan wajah serius.

Ia belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Tetapi satu hal sudah pasti—kejadian itu akan menjadi awal dari masalah baru yang tidak pernah mereka bayangkan.

Mahesa berjalan cepat menuju area kamar dengan wajah yang mengeras. Keributan di salah satu lantai hotel membuatnya merasa marah sekaligus khawatir. Ia tidak ingin kejadian itu berkembang menjadi skandal yang menyeret nama Grand Hotel Pratama.

"Siapa yang bertanggung jawab di lantai ini?" tanyanya tegas.

Seorang direktur operasional segera menghampiri.

"Pak, kami sedang menangani semuanya."

Mahesa menatapnya tajam.

"Pastikan tidak ada karyawan yang bicara kepada wartawan. Jangan sampai informasi yang belum jelas keluar dan menimbulkan kepanikan."

Direktur itu mengangguk cepat. Namun, beberapa kalimat berikutnya membuat suasana semakin serius.

"Data tamu dan seluruh catatan terkait kejadian ini harus diamankan. Jangan ada yang mengubah atau menghilangkan apa pun sebelum pihak berwenang datang."

Mahesa terdiam sesaat, lalu menambahkan dengan suara dingin,

"Kosongkan area lantai tersebut untuk sementara. Tamu yang masih berada di sana pindahkan ke lantai lain dengan alasan gangguan operasional. Lakukan dengan tenang, jangan membuat mereka panik."

"Baik, Pak."

Mahesa menatap pintu kamar yang masih tertutup. Di balik pintu itu terdapat seseorang yang telah kehilangan nyawa, sementara penyebab kematiannya belum diketahui.

"Dan ingat," katanya lagi, "jangan ada yang menyentuh barang-barang di kamar itu. Tunggu polisi dan ikuti prosedur mereka."

Para staf mengangguk.

Julian yang berdiri tidak jauh dari ayahnya memperhatikan semuanya dalam diam. Ia melihat bagaimana satu kejadian bisa membuat seluruh hotel berubah dalam hitungan menit. Karyawan yang sebelumnya sibuk bekerja kini berbicara dengan suara pelan, sementara petugas keamanan menjaga area tersebut.

Mahesa menarik napas panjang. Kemarahannya belum mereda, tetapi ia sadar bahwa dalam keadaan seperti ini, satu kesalahan saja dapat membuat keadaan semakin buruk.

"Semua harus hati-hati," ucapnya.

Di dalam dirinya, Mahesa mulai merasakan firasat tidak nyaman. Ia hanya berharap kematian tamu tersebut memang sebuah kejadian yang tidak berhubungan dengan hotel.

Namun semakin banyak orang yang berusaha menjaga keadaan tetap tenang, semakin kuat pula rasa takut bahwa kejadian ini mungkin menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar.

Sore itu, Maya duduk di teras rumah sambil memperhatikan Raffi yang begitu serius di depan meja. Di hadapannya terbentang beberapa lembar kertas penuh coretan.

Maya tersenyum kecil ketika melihat gambar-gambar itu. Raffi sedang menggambar sebuah bangunan hotel besar dengan banyak jendela, taman luas, kolam renang, bahkan sebuah restoran di bagian depan.

"Ini hotel impianku, Bu," ujar Raffi tanpa mengangkat kepala.

Maya mendekat.

"Hotel impian?"

Raffi mengangguk penuh semangat.

"Kalau sudah besar, aku mau jadi arsitek. Aku yang akan merancang hotelnya sendiri."

Maya terdiam. Tatapannya tertuju pada gambar sederhana yang dibuat putranya dengan penuh kesungguhan.

"Kenapa ingin jadi arsitek?"

"Karena aku suka bikin bangunan. Aku mau bikin hotel yang bagus, tapi bukan cuma mewah."

Raffi berhenti menggambar dan berpikir sejenak.

"Aku mau orang yang datang merasa nyaman. Terus orang yang bekerja di sana juga harus diperlakukan baik."

Maya tersenyum, meski dadanya terasa hangat sekaligus sedikit sesak.

Ucapan Siska beberapa waktu lalu kembali terngiang di kepalanya.

Jangan terus menyembunyikan Raffi dari masa lalunya. Suatu hari dia berhak mengetahui siapa dirinya.

Maya menatap putranya dalam diam.

Sepuluh tahun telah berlalu. Selama itu pula ia berusaha membangun kehidupan sederhana, jauh dari keluarga Pratama dan segala luka yang pernah ditinggalkan.

Namun kini Raffi mulai memiliki impian sendiri.

Ia tidak tahu bahwa dunia yang sedang ia impikan memiliki hubungan dengan masa lalu ibunya.

Maya mengusap rambut Raffi.

"Kalau begitu, belajar yang rajin."

"Pasti, Bu!"

Raffi kembali menggambar dengan penuh semangat.

Maya kemudian bersandar di kursinya. Pandangannya menerawang jauh ke arah bukit yang mulai dipersiapkan untuk pembangunan hotel dan vila.

Mungkin Siska benar.

Mungkin sudah waktunya ia berhenti menentukan masa depan Raffi berdasarkan ketakutannya sendiri.

Tetapi satu pertanyaan masih menghantui pikirannya.

Jika suatu hari Raffi mengetahui bahwa ayah kandungnya berasal dari keluarga pemilik hotel besar, apakah anak itu akan merasa menemukan bagian dirinya... atau justru merasa bahwa selama ini ibunya telah menyembunyikan kebenaran?

Maya menghela napas panjang.

Ia belum memiliki jawabannya.

Yang ia tahu, waktu terus berjalan. Dan semakin besar Raffi tumbuh, semakin sulit pula rahasia itu disimpan selamanya.

Tak lama setelah kabar kematian itu diterima keluarga, seorang perempuan datang ke Grand Hotel Pratama bersama putrinya. Wajahnya tampak pucat, sementara matanya sembap karena terus menangis sepanjang perjalanan.

Begitu melihat jenazah suaminya, tubuh perempuan itu seolah kehilangan tenaga.

"Kenapa bisa seperti ini?" tangisnya pecah.

Putrinya langsung memeluk ibunya erat. Gadis itu sendiri masih sulit mempercayai bahwa beberapa jam sebelumnya ia masih memiliki seorang ayah, tetapi kini harus melihatnya pergi untuk selamanya.

Pihak hotel berusaha memberikan penjelasan dengan hati-hati. Tim medis yang melakukan pemeriksaan awal menyampaikan dugaan bahwa pria tersebut mengalami serangan jantung secara mendadak.

Namun, sang istri langsung menggeleng.

"Suami saya tidak punya penyakit jantung."

Suaranya bergetar, tetapi penuh keyakinan.

"Dia rutin memeriksakan kesehatan. Tidak pernah ada riwayat penyakit jantung."

Seorang staf hotel mencoba menenangkan.

"Kami memahami perasaan Ibu. Namun pemeriksaan awal menunjukkan adanya dugaan serangan jantung. Untuk kepastian penyebab kematian, kami tetap menunggu pemeriksaan lebih lanjut."

Perempuan itu menatap mereka dengan mata penuh air mata.

"Jadi kalian hanya mengatakan serangan jantung karena dia ditemukan meninggal di kamar?"

Tidak ada yang langsung menjawab.

Putrinya yang sejak tadi diam mulai memandang ke arah kamar tempat ayahnya ditemukan. Tatapannya dipenuhi kesedihan sekaligus kecurigaan.

"Ibu..." bisiknya.

Sang ibu menggenggam tangannya.

"Kita tidak boleh langsung percaya begitu saja."

Ia kembali menatap pihak hotel.

"Saya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada suami saya."

Mahesa yang berada tidak jauh dari sana mendengar percakapan tersebut. Wajahnya semakin serius. Ia tidak ingin pihak hotel membuat kesimpulan sebelum pemeriksaan resmi selesai.

"Kami akan bekerja sama sepenuhnya dengan pihak berwenang," ujar Mahesa.

Perempuan itu menatapnya tajam.

"Saya harap begitu, Pak. Karena saya tidak percaya suami saya meninggal hanya karena serangan jantung."

Mahesa terdiam.

Kalimat itu membuat suasana semakin berat.

Sementara putri perempuan tersebut terus memandangi lorong hotel dengan mata berkaca-kaca. Ada sesuatu yang membuatnya merasa kematian ayahnya terlalu mendadak untuk dianggap sebagai kejadian biasa.

Di balik tangisan keluarga itu, sebuah pertanyaan mulai muncul.

Jika benar pria tersebut mengalami serangan jantung, mengapa kematiannya terjadi secara tiba-tiba tanpa riwayat penyakit sebelumnya?

Jawabannya masih menunggu hasil pemeriksaan.

Dan untuk saat ini, tidak seorang pun berani memastikan apa yang sebenarnya terjadi di kamar hotel tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!