Harap bijak dalam memilih bacaan, sebagian konten ini berunsur dewasa 21+
Demi menyelamatkan panti asuhan yang akan di gusur, Fatimah rela menikah dengan pria setengah baya berusia 50 tahun. Tetapi laki - laki itu sama sekali tak pernah menyentuhnya. Kenapa ? dan ada rahasia apa di balik pernikahannya....
Lalu bagaimana reaksi Glenn Wijaya Liem yang melihat Ayahnya sendiri menikahi wanita yang diam-diam ia cintai sejak tiga tahun yang lalu.... kuy ikutin kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran Johanes
"Kamu nggak apa-apa ?" terdengar suara seorang laki-laki dari belakang yang seketika membuat Fatimah memutar kepalanya untuk melihat.
"Kak Jo, kenapa bisa disini ?" Fatimah terkejut ketika melihat Johanes sudah berdiri di belakangnya.
"Aku mengikutimu." jawab Johanes jujur.
"Kenapa ?" tanya Fatimah.
"Aku sangat mengkhawatirkan mu, tadi ketika melewati halte aku melihatmu. Karena penasaran, jadi aku mengikuti mu sampai sini."
"Kenapa mengkhawatirkan ku ?"
"Aku tidak tahu, tapi entah kenapa kata hatiku ingin sekali melindungi mu."
"Modus." ucap Fatimah dengan ketus.
Johanes terkekeh, memang itu yang selama ini ia rasakan ingin sekali melindungi gadis cantik berhijab itu. Ia sendiri tidak mengerti dengan perasaannya dan ia hanya mengikuti kata hatinya.
"Jadi kamu sudah percaya ?" tanya Johanes sembari melihat bangunan hotel yang berada tak jauh di depannya itu.
"Hm." sahut Fatimah.
"Boleh aku nanya ?"
"Apa ?"
"Sebenarnya apa hubungan mu dengan Glenn, apa benar dia kekasih mu ?" tanya Johanes penasaran.
"Bukan urusan mu." sahut Fatimah sembari bangkit dari duduknya.
"Jadi benar dia kekasih mu." Johanes membuat kesimpulan sendiri.
"Dia boss ku." celetuk Fatimah sambil melangkah meninggalkan tempat itu.
"Benarkah, jadi selama ini kamu bekerja di kantornya ?" tanya Johanes sembari mengikuti langkah Fatimah.
"Hmm."
"Apa dia baik padamu ?"
"Kak Jo kenapa sih suka ikut campur dengan urusan orang lain." ucap Fatimah kesal.
"Karena aku mengkhawatirkan mu."
"Atas dasar apa kamu mengkhawatirkan aku." tanya Fatimah ingin tahu.
"Aku tidak tahu, hanya panggilan hati." jawab Johanes jujur.
"Astaga ini lukisan bagus sekali." ujar Fatimah ketika melihat lukisan yang di pajang di etalase toko, kemudian ia berhenti sejenak untuk mengamati lukisan tersebut dari luar.
"Kamu suka lukisan ?"
"Aku suka melukis, menggambar dan mendisain." sahut Fatimah antusias.
"Benarkah, aku jadi penasaran bagaimana lukisan mu."
"Kadang aku ingin sekali menjual hasil lukisan ku itu."
"Kalau kamu mau aku bisa bantu."
"Benarkah, bagaimana caranya ?" seketika Fatimah langsung menatap laki-laki yang berdiri di sebelahnya itu.
"Bagaimana kalau kita usaha bersama, aku yang menyediakan tempatnya dan kamu yang melukisnya. Nanti hasil lukisan kamu bisa kita pamerkan atau di jual secara online." usul Johanes.
"Ya aku setuju, lagipula aku juga sedang membutuhkan banyak uang." ucap Fatimah, entah kenapa ia tiba-tiba begitu percaya dengan Johanes tapi sepertinya laki-laki itu memang terlihat tulus.
"Untuk apa ?"
"Bukan urusan mu."
"Baiklah, mana nomor hape kamu ?"
"Buat apa ?"
"Tentu saja menghubungi mu kalau tempatnya sudah siap."
"Ah iya, tapi tempatnya usahakan dekat kantor ku ya." ujar Fatimah sambil mengulurkan ponselnya.
"Kamu tenang saja."
"Terima kasih." ucap Fatimah dengan senyum simpulnya dan itu membuat Johanes begitu terpesona.
"Satu lagi." ucap Fatimah.
"Apa ?"
"Tolong usahakan jangan sampai Glenn tahu hal ini." pinta Fatimah.
"Tenang saja aku sama dia tidak akrab bahkan kami selalu jadi rival dalam berbisnis."
"Tapi kamu tidak ada maksud terselubung kan mendekati ku ?" tanya Fatimah menyelidik.
"Astaga. Meskipun kamu bekerja pada rivalku, aku sedikitpun tidak berniat jahat padamu. Kamu tahu, sejak bertemu denganmu pertama kalinya waktu itu aku merasa kamu itu tidak asing."
"Aku nggak percaya."
"Ya terserah, tapi aku lebih senang kalau kamu kerja di perusahaan ku daripada bekerja di tempat mu sekarang. Aku merasa kamu tidak aman di sana." ujar Johanes.
"Aku nyaman kok kerja di sana, mereka sangat baik padaku." sahut Fatimah, ketika mengingat tuan Candra dan Glenn. Meski mereka sama-sama bersikap dingin, tapi mereka begitu perhatian padanya.
"Apa mau ku antar ?" tanya Johanes.
"Nggak usah kak, aku naik bus itu saja." sahut Fatimah ketika melihat bus berhenti di halte.
"Baiklah hati-hati ya."
"Sampai jumpa kak." Fatimah melambaikan tangannya ketika baru menaiki bus.
Johanes hanya tersenyum simpul, setelah bus yang membawa Fatimah pergi. Ia bergegas masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukannya dengan kencang.
Tapi tanpa ia sadari sedari tadi ada sepasang mata yang terus mengawasinya.
Keesokan harinya
Di sebuah gedung pencakar langit yang nampak sangat mega dan kokoh itu, terlihat seorang pria setengah baya tapi masih terlihat muda dan gagah tersebut sedang duduk di kursi singgasananya.
"Apa kamu sudah memastikan kalau mereka mempunyai hubungan ?" tanya laki-laki itu dengan tegas, matanya masih fokus pada beberapa foto yang di berikan anak buahnya beberapa menit yang lalu.
"Saya kurang yakin tuan, tapi mereka terlihat sangat akrab. Karena baru kali ini saya melihat tuan Johanes dekat dengan seorang wanita yang berpenampilan seperti itu." ujar seorang laki-laki yang berperawakan tinggi besar.
"Berikan aku gambar yang lebih jelas lagi, semua foto yang kamu berikan hanya terlihat dari samping dan cari tahu siapa wanita itu ?" perintah laki-laki tersebut.
Beliau adalah tuan Juan hutomo, ayah dari Johanes. CEO sekaligus pemilik perusahaan multifungsi Hutomo Corps.
"Jangan pernah main-main denganku Nak, meski selama ini aku membiarkan mu bermain dengan para ****** itu tapi untuk urusan jodoh aku yang menentukan dan kamu tidak bisa membantahnya." gumam tuan Juan seraya meremas selembar foto Johanes dan Fatimah.
"Sekarang pergilah dan terus awasi mereka !!"
"Baik tuan kami permisi."
Setelah kepergian anak buahnya, nampak tuan Juan bersandar di kursinya dan mulai memejamkan matanya. "Dimana kamu dan putri kita sekarang sayang, seandainya ada kamu di sampingku saat ini. Aku tidak akan menjadi orang yang kejam, kepergianmu telah membekukan hatiku. Maafkan aku yang sudah melukai mu terlalu dalam, aku lakukan itu karena aku sangat mencintaimu tapi kenapa hatimu masih saja untuknya padahal dia sudah mencampakkan mu." gumam tuan Juan dengan lirih tanpa ia sadari ada lelehan kristal di pipinya.
"Pa ?" Panggil Johanes yang seketika membuat tuan Juan yang sedang duduk membelakanginya itu segera memutar kursinya.
"Ada apa ?" tanya nya, laki-laki yang beberapa menit lalu nampak lemah kini sudah terlihat sangat tegas.
"Papa memanggil ku ?" tanya Johanes yang kini sudah duduk di hadapan Ayahnya.
"Persiapkan dirimu nanti malam kita akan makan malam bersama keluarga tuan Richard."
"Jo belum mau menikah Pa."
"Jika perusahaan kita dan perusahaan tuan Richard bekerja sama, maka perusahaan Wijaya liem tidak ada apa-apanya." ujar Tuan Juan dengan senyum menyeringai.
"Pa, sebenarnya apa masalah Papa dengan mereka hingga membuat Papa berambisi untuk mengalahkannya, sampai-sampai Papa melupakan kehadiran Mama." protes Johanes.
"Sejak kapan kamu berani membantahku, lagipula aku sudah memberikan semua kemewahan pada Ibu mu."
"Terserah Papa." ucap Johanes kemudian berlalu keluar.
"Sepertinya wanita itu sudah membuat mu lemah." gumam tuan Juan sembari mengepalkan tangannya.
awal yang menarik semoga ceritanya bagus hingga akhir