Bagaimana perasaan mu jika kau terpaksa harus menikah muda? Terutama dengan orang yang usianya jauh lebih tua dari mu? Inilah yang terjadi dengan Clara Adeline Ferguson. Ia adalah putri tunggal keluarga Ferguson yang terkenal kaya. Papa nya juga adalah salah satu donatur terbesar sekolah SMA Citra Kirana di kota X.
Kenapa? Scandal apa yang telah dia lakukan sehingga ia harus menikah begitu dini? Ya. Jawaban nya adalah. Clara itu sangat nakal dan juga tidak pernah mendengarkan kedua orang tuanya,ia bahkan bisa di bilang anak manja dengan perilaku buruk, tidak jarang ia membuat onar di sekolah, ia bahkan selalu mendapat nilai merah di raport nya dan terancam tidak naik ke kelas tiga karena sering bolos sekolah.
Sementara itu Zidan, adalah seorang guru laki-laki termuda di sekolah SMA Citra Kirana yang katanya adalah keponakan kepala sekolah, namun identitas Zidan ini tidak lah akurat seperti sedikit tertutup dan tidak ada yang tau tentang keluarga nya kecuali sang paman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode #19
Yuna telah tiba di rumah sepupu nya, Brayen seperti yang di perintahkan ibunya ia ingin mengatakan kepada Brayen kalau sekarang Clara sudah tidak tinggal di rumah nya lagi.
"Yuna, ngapain Lo malam-malam ke rumah gue?" tanya Brayen yang saat itu baru keluar dari kamar nya.
"Ini belum semalam itu kali, gue cuma mau bilang aja, tadi sore gue ke rumah Clara buat minta maaf dan bikin Lo sama dia baikan lagi," kata Yuna sambil duduk di Sofa ruang tengah rumah Brayen.
Mendengar itu segera saja Brayen menghampiri Yuna dan duduk di sebelah nya.
"Terus gimana sekarang? Dia udah maafin gue kan? Lo udah jelasin ke dia kan?" kata Brayen penuh semangat.
"Maaf kak Brayen tapi gue gak bisa ketemu sama Clara, kata ibu sekarang Clara udah gak tingal di rumah itu lagi," jelas Yuna dengan perasaan khawatir kalau Brayen pasti akan marah lagi setelah mendengar hal ini.
"Apa? Seserius itu hukuman dari orang tua nya? Lo yakin ini beneran Yuna? Lo jangan bohongin gue ya," kata Brayen tidak percaya.
"Kalau kak Brayen gak percaya sebaiknya cek aja deh sendiri , emang di sana udah gak ada Clara, lagian buat apa juga ibu ngebohongin aku?" kata Yuna lagi.
Brayen teridam, dia tidak bisa berkata-kata lagi saat ini perasaan bersalah semakin menghantui dirinya.
"Tenang aja besok aku bakal minta maaf ke dia di sekolah, gak bisa ketemu di rumah setidaknya kan bisa ketemu di sekolah," ujar Yuna berusaha menenangkan Brayen.
"Intinya gue mau Clara balik kayak dulu lagi," kata Brayen singkat padat dan jelas.
"Iya gue ngerti kok kak, eh tapi tadi siang Clara pingsan karena di hukum sama pak Zidan," ujar Yuna mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Apa? Yang bener Lo?" lagi-lagi Brayen kaget atas pernyataan Yuna.
Yuna mengganguk kan kepala nya pertanda iya." Iya kayaknya pak Zidan gak suka sama Clara deh, soalnya dia selalu bikin Clara kesulitan di kelas,"
"Gue harus ngomong sama pak Zidan, jangan mentang-mentang dia wali kelas kalian ya dia bikin Clara jadi gini," kata Brayen yang tidak tau apa-apa soal Zidan dan Clara.
"Kok sekarang jadi peduli banget sama Clara? Bukan nya dulu kan Brayen benci banget sama dia?" Yuna memberanikan diri untuk bertanya.
"Semua cuma salah paham, gue gak benci kok sama dia, yaudah deh Lo sebaiknya pulang, udah malam biar sopir gue yang nganterin Lo," kata Brayen tak ingin Yuna mengetahui kalau dirinya mulai berbalik suka terhadap Clara.
"Yaudah deh gue pulang dulu ya kak," kata Yuna mengambil tas nya dan kemudian pergi dari hadapan Brayen.
Sementara itu di sisi lain.
Clara dan Zidan baru saja tiba di villa, keduanya sama-sama berjalan masuk ke kamar masing-masing.
"Duh, capek banget rasanya gue pengen deh langsung tidur aja, gak perlu mikirin pelajaran lagi setelah ini," kata Clara setelah melempar tubuhnya ke atas ranjang.
Sementara Zidan langsung masuk ke kamar mandi untuk segera membersihkan dirinya.
"Jadi kangen sama Nola, gue telpon aja kali ya?" kata Clara sambil meraba-raba mencari ponsel nya.
Seketika ia ingat kalau saat ini ponselnya ada di Zidan dan belum sempat mengambil nya.
"Astaga nyebelin banget, ponsel gue kan di dia," batin Clara menggebu-gebu.
Karena ingin menelpon sangat sahabat Clara pun akhirnya memberanikan diri untuk pergi ke kamar Zidan, dia ingin kalah tadi Zidan berjanji ingin mengembalikan ponselnya ketika sudah tiba di villa.
"Huh, di mana orang nya? Kok gak ada? Tapi bagus dia gak ada gue bisa ambil hp gue tanpa ada perdebatan dengan si tua bangka itu," kata Clara yang bergegas menuju tas Zidan untuk mengambil ponsel nya.
Beberapa menit berlalu, tidak di temukan oleh Clara keberadaan ponsel kesayangan nya.
"Aduh, di mana sih bukan nya tadi di masukin ke tas ini ya?" batin Clara terus memeriksa.
Krieeet ...
Terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, Zidan melangkahkan kakinya menuju ranjang, dan melihat kalau Clara yang saat ini sedang mengobrak-abrik isi tas nya.
"Cari apa kamu?" kata Zidan sambil menyimpangkan tangan ke bawah dada dan menatap Clara dengan tatapan tajam.
"Aaaaaaaaa!" Clara kaget dan berteriak lalu meloncat naik ke atas ranjang Zidan dan bersembunyi di dalam selimut milik Zidan.
"Hey turun dari ranjang saya!" kata Zidan marah sambil menarik-narik selimut Clara.
"Mesum dasar mesum pergi kamu!" teriak Clara tidak ingin membuka selimut tersebut.
"Apa? Apa tidak salah? Kamu yang mesum masuk ke kamar orang tanpa basa-basi dan mengobrak-abrik barang-barang saya lalu seenaknya naik ke ranjang dan mengunakan selimut saya," balas Zidan tak mau kalah.
"Lagian bapak ngapain sih gak pake baju cuma pake handuk doang nakutin tau nggak!" teriak Clara masih dalam selimut nya.
Zidan terdiam dan melihat dirinya sendiri, benar dia hanya mengunakan handuk sepingang, rambut nya masih basah dan perutnya yang terlihat ada roti sobek terekspos sempurna.
"Ya tetap saja bukan salah saya apa yang kamu lakukan di kamar saya saya saya sedang mandi?" kata Zidan lagi.
"Nyariin hp, di mana hp saya yang bapak ambil?" kata Clara lagi.
Zidan menarik nafas panjang ternyata itulah permasalahan nya, Zidan pun kemudian berjalan membuka lembari pakaian nya dan kemudian memasang piama.
Ia berjalan ke arah laci dan kemudian mengambil ponsel yang tadinya sempat dia cek dan ia simpan.
"Ini," kata Zidan melemparkan ponsel tersebut ke samping Clara.
"Udah pake baju?" tanya Clara lagi.
"Udah cepat keluar dari kamar saya sekarang juga," perintah Zidan.
Mendengar itu perlahan-lahan Clara membuka selimut nya dan melihat ke arah Zidan yang ternyata memang sudah mengunakan piama nya.
Ia pun segera mengambil ponselnya dan berlari keluar dari kamar tersebut tanpa menatap Zidan terlebih dahulu, karena ia tau saat ini Zidan pasti sangat menakutkan.
"Anak ini," geram Zidan sambil kemudian merapikan selimut nya kembali.
Sementara itu di kamar Clara.
"Aaaaa, kok bisa-bisanya jantung gue berdebar kencang pas lihat badan nya pak Zidan yang kekar gitu, mana ada roti sobek nya lagih, kayak cogan-cogan yang ada di film gak sih, eh tunggu kok gue jadi terkesima gini? Gak, gak boleh ini gak bener," batin Clara serba salah atas perasaan nya sendiri.
Ia pun mengalihkan pikirannya dengan menatap layar ponselnya, namun keanehan ia dapatkan pada isi pesan yang ada di ponsel tersebut, tadi pagi ia memang melihat ada pesan masuk dari Brayen, namun sekarang semua itu sudah lenyap tak tersisa.
"Lah kok aneh ya? Apa ini kerjaan pak Zidan? Tapi buat apa dia apusin pesen dari kak Brayen? Ah udah lah mending nelpon Nola aja deh," kata Clara yang kemudian mulai menghubungi sang sahabat.
Bersambung....