-TAMAT-
Muhammad Faiz Al Ghifari atau Gus Faiz adalah seorang anak laki-laki dari seorang Kyai besar yang memiliki pondok pesantren di pedalaman Jawa. Dia adalah sosok yang sempurna dan selalu menjadi bahan incaran para gadis dan ibu-ibu di manapun dia berada.
Suatu ketika Gus Faiz bertemu dengan Anindya Athaya Zahran, seorang santri putri angkuh yang selalu mencari 1001 cara untuk mengakhiri hidupnya.
Gus Faiz yang selalu tergerak untuk menggagalkan upaya bunuh diri Nindy tidak sengaja terlibat dalam perjanjian yang di luar nalarnya. Perjanjian yang benar-benar mengubah jalan hidupnya, perjanjian yang tidak berterima oleh akal sehatnya, dan perjanjian yang menyalahi aturan hidupnya.
Akankah Gus Faiz menepati janji itu? Bolehkah Gus Faiz melaksanakannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Upi1612, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BB 24 - Surat Cinta Akbar untuk Mama
Akbar hanya diam mendengar kata-kata Gus Faiz. Dia merasa sangat sedih, namun Akbar tahu sampai akhir dia tidak akan merasakan apa yang selalu diingin-inginkannya. Memiliki keluarga yang utuh dan hangat.
“Terima kasih, Is..” kata Akbar dengan suara lirih. Hingga Gus Faiz harus mendekatkan telinganya.
“Iya, Bar. Saya minta maaf ya, Bar. Kalau saya ada salah sama kamu.” kata Gus Faiz.
Akbar mengangguk kesulitan menjawab. “K-kantong c-celana..” katanya.
Gus Faiz mengerti sepertinya Akbar ingin memberikan sesuatu yang ada di kantong celananya. Pihak rumah sakit sudah memberikan pakaian itu padanya. Dia hanya perlu memeriksa nanti.
Tiba-tiba Akbar membusungkan dadanya dan mulai kesulitan bernafas. Gus Faiz menekan bel untuk memanggil perawat. Menandakan terjadi sesuatu yang gawat hingga mereka harus datang ke ruangan tersebut.
Akbar semakin kesulitan bernafas.
Gus Faiz langsung mendekatnya mulutnya ke telinga Akbar untuk menalkinkan Akbar.
“Laa ilaha illallah..” bisik Gus Faiz. Air matanya kembali mengalir.
“Laa.. i-la.. ha.. illallah..” diucapan terakhir Akbar menghembuskan nafas terakhir.
Perawat datang, lalu memeriksa keadaan Akbar. Setelah melakukan pemeriksaan seperti yang dilakukan dokter kepada Ilham. Perawat itupun menatap Gus Faiz, dan menggeleng.
“Innalillahi wa innailaihi raajiun.” ucap perawat itu. Seraya menutup tubuh Akbar dengan kain.
“Innalillahi wa innailaihi raajiun.” ucap Gus Faiz. “Akbar!” seru Gus Faiz langsung menghampiri Akbar.
Air mata Gus Faiz kembali menderas, kakinya gemetar. Dia membuka kain penutup Akbar agar wajah Akbar terlihat.
“Bar, maafkan saya, bahkan sampai akhir saya tidak mampu membawa keluarga kamu ke sini.” kata Gus Faiz.
Gus Faiz melihat wajah Akbar yang tertidur damai. Lalu Gus Faiz menutupnya lagi.
“Mas, mohon maaf, saya tahu ini bukan saat yang tepat, namun saya ingin menanyakan bagaimana administrasinya? Tanpa menyelesaikan bagian administrasi jenazah tidak bisa di bawa pulang. Sambil menunggu pasien akan kami pindahkan ke Kamar Jenazah.” tanya perawat.
“Boleh saya pinjam ponsel, Sus?” tanya Gus Faiz.
Gus Faiz benar-benar bingung, dia tidak bisa melengkapi administrasi Akbar karena dia tidak membawa KTP dan dompet. Dia harus segera menghubungi pengurus pondok, dia juga bingung harus membawa jenazah Akbar ke mana.
Gus Faiz ingin sekali membawa jenazah Akbar ke rumah Robby, semoga saja Robby bisa menerima Akbar. Gus Faiz tidak bisa membawa jenazah itu ke kantor Yuni, ibunya.
Suster memberikan ponselnya pada Gus Faiz. Gus Faiz buru-buru mengambilnya, dan mengeluarkan secarik kertas berisi nomor Rizki dalam sakunya. Diapun memasukkan nomor telepon lalu menelepon Rizki.
“Halo, Assalamualaikum, Rizki. Tolong saya, tolong bawakan dompet saya ke Rumah Sakit Sumber Bahagia, lantai 3, kamar mawar nomor 1. Saya tidak memiliki ponsel. Jadi, tolong ke sini sekarang ya, saya mohon. Tolong ya, Riz. Baik. Terima Kasih. Wassalamualaikum.”
Selesai menelepon, Gus Faiz memberikan ponsel itu pada perawat. “Mohon kelonggaran waktunya, Sus. Teman saya sedang ke sini.” kata Gus Faiz.
“Baik. Saya permisi dulu kalau begitu.” kata Suster.
Gus Faiz mengangguk. “Terima kasih.”
Setelah perawat pergi, ia teringat wasiat Akbar. Diapun mengambil celana Akbar dan mulai mencari sesuatu di kantong celana Akbar yang penuh dengan darah itu.
Gus Faiz merasakan sesuatu, lalu dia buru-buru merogoh kantong celana tersebut dan mengeluarkan isinya. Ternyata ada secarik kertas lusuh. Gus Faiz melirik Akbar. Sepertinya Akbar ingin mengatakan sesuatu lewat kertas itu. Kertas itu terdiri dari beberapa lembar
Gus Faiz membuka surat itu.
Untuk Mama
Hai, Ma, Apa kabar? Akbar selalu berharap Mama selalu dalam keadaan sehat. Ma, Akbar tidak tahu bagaimana cara untuk mengungkapkan semua perasaan Akbar karena Mama selalu menolak bertemu Akbar, dan Akbarpun terlalu malu untuk mengatakannya secara langsung di tempat ramai. Jadi, akbar menulis surat ini, dengan surat ini Akbar selalu berharap bisa menyuarakan apa yang Akbar rasakan. Akbar juga berharap, surat ini akan sampai pada Mama dengan atau tanpa Akbar.
Mama.. Terima kasih telah melahirkan Akbar, telah membesarkan Akbar, dan telah mau Akbar repotkan selama ini. Ma, Akbar sayang Mama. Sayang sekali. Akbar ingin sekali memeluk Mama, mencium tangan Mama, dan mendapat senyuman dari Mama. Jujur, Akbar sangat iri pada Ilham, Faiz, dan teman-teman Akbar yang lain, yang keluarganya selalu bersama dan hangat.
Ma, Akbar ingin meminta maaf, karena Mama terpaksa melahirkan Akbar 18tahun lalu. Meski Akbar hanyalah anak pembawa sial, anak yang tidak diinginkan, dan anak yang membuat Mama harus pergi dari rumah. Akbar selalu berharap Mama menyayangi Akbar sebagaimana Akbar menyayangi Mama.
Ma, Akbar tidak pernah menyalahkan atau membenci Mama. Karena Akbar tahu, sebetulnya Mama sangatlah menyayangi Akbar, itulah mengapa dalam keadaan sulit 18tahun lalu, alih-alih Mama menggugurkan Akbar, Mama tetap memilih melahirkan Akbar, pergi meninggalkan Kakek dan Nenek yang terus meyuruh Mama menggugurkan Akbar yang masih dalam kandungan.
Ma, Akbar minta maaf karena selama ini, Akbar belum pernah bisa menjadi anak yang bisa dibanggakan oleh Mama. Selama ini, Akbar hanya sering melakukan tindakan-tindakan yang membuat Mama tidak suka pada Akbar. Tapi sungguh, Ma, Akbar tidak benar-benar ingin melakukan hal-hal buruk, Akbar hanya kesepian dan haus akan kasih sayang dan perhatian. Akbar tidak bohong, Ma, Akbar hanya ingin diperhatikan Mama dan Papa. Namun, sayangnya alih-alih mendapat perhatian, ternyata tingkah Akbar justru semakin menjauhkan Akbar dengan Mama. Bila mengharapkan kasih sayang dan perhatian adalah kesalahan, Akbar mohon agar Mama bisa memaafkan Akbar.
Ma, Akbar juga meminta maaf soal hewan peliharaan Akbar. Meski Mama tidak pernah menyuruh Akbar untuk membuang mereka, Akbar tahu kalau Mama tidak menyukai mereka. Tapi Akbar sangat menyayangi mereka, karena setiap melihat mereka Akbar selalu seperti sedang melihat diri Akbar sendiri. Akbar melihat bagaimana Akbar yang menakutkan, Akbar melihat bagaimana Akbar terkurung meski diberikan makan, Akbar melihat bagaimana Akbar yang kesepian, Akbar melihat bagaimana Akbar membutuhkan teman dan orang tua, dan Akbar melihat mata Akbar yang sangat merindukan kasih sayang bila diperhatikan secara dekat.
Ma, Apabila surat ini sampai pada Mama ketika Akbar sudah tidak mampu lagi melihat senyuman di bibir Mama, Akbar pamit, Akbar selalu berdoa agar Mama selalu bahagia. Mungkin inilah jalan takdir yang Allah berikan pada Akbar, dan mungkin bentuk pengabulan permintaan Mama, Mama selalu ingin Akbar pergi. Jujur, saat Mama pergi dari rumah, Akbar selalu teringat kata-kata Mama. Mama berkata kalau kebahagiaan Mama adalah dengan kepergian Akbar. Akbar sangat ikhlas, menukar apapun atas kebahagiaan Mama.
Ma, seandainya Akbar benar-benar pergi, bolehkah Akbar meminta sesuatu pada Mama? Akbar ingin merasakan ciuman Mama untuk terakhir kali dan merasakan doa Mama sebagai ganti ciuman sayang selanjutnya. Akbarpun akan selalu mendoakan Mama di manapun Akbar berada. Selain itu, kembalilah pada Papa, Ma. Papa sangat kacau selepas Mama pergi. Kembalilah pada Papa. Maafkanlah Papa atas semua sikapnya.
Ma, Terima kasih atas semua yang telah Mama berikan pada Akbar. Terima kasih atas segalanya. Akbar sangat menyangi Mama, rasanya bila Akbar diberikan kesempatan untuk memilih dari rahim siapa Akbar akan lahir, Akbar akan tetap memilih dilahirkan dari rahim Mama, dan menjadi anak Mama. Bolehkah Akbar berharap agar Mama berpikir hal serupa?
Ma, maafkan segala kesalahan yang telah Akbar lakukan. Oiya, kata Faiz surga berada di telapak kaki Mama. Bolehkah Akbar meminta ridho Mama agar bisa Akbar dapatkan surga itu, Ma?
Mungkin hanya itu yang bisa Akbar sampaikan pada Mama. Akbar pamit ya, Ma.
Akbar mencintai Mama karena Allah.
Salam sayang,
Akbar