Raka seorang guru di salah satu SMA Swasta di ibukota, sekaligus pemegang saham terbesar di sekolah tersebut. tidak ada yang tahu jika keberadaan Raka sebagai guru baru adalah awal dari petaka bagi Raya. Raka sudah lama obsesi pada Raya, hingga Raya harus berusaha melarikan diri ke ibukota. kini karna pertemuan tak disangka, Raka berhasil menemukan Raya, dan ingin memiliki Raya.
Raya, siswi peraih beasiswa di SMA swasta yang terpaksa harus menjadi tawanan seorang guru yang posesif Raka, harus tetap bertahan demi pendidikan nya kesenjang yg lebih tinggi..
dimana Raya berada, Raka pasti mengawasi nya.. seperti seekor pemangsa yg mengintai mangsanya..
"jangan berharap kau bisa lepas dariku Raya, karna itu adalah hal yang mustahil. kau milikku, dan akan tetap menjadi milikku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewinisme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manuver
Malam semakin larut, susunan acara mulai rampung satu per satu. Karna beberapa hal, acara lelang akan di langsungkan setelah acara dansa, padahal menurut roundown acara seharusnya acara lelang saat ini berlangsung dan diakhiri oleh pesta dansa.
Raka masih berdiam diri bersama Kevin, beberapa guru datang silih berganti menghampirinya untuk berbasa basi mengenai berbagai hal.
" Kau tidak berdansa?" tanya Kevin sambil sesekali mematikan ponselnya yang terus berdering.
" Tidak, aku tidak tertarik." Raka seolah tak peduli. Dia terlalu sibuk memperhatikan Raya yang sedang bercengkrama dengan beberapa temannya. Sesekali Raya tampak berjalan mendatangi stand kudapan bersama Berlian, dan sorot matanya berbinar senang ketika merasakan kelezatan dari kudapan yang ia makan. Raka tersenyum lembut menyaksikan hal itu.
" Kau sedang melihat siapa? " tanya Kevin berpura-pura tidak tahu, membuat Raka menoleh kepadanya
" Dia." Raka menunjuk Raya sambil menyeringai menatap Kevin.
Dihadapan Kevin, dia merasa tidak perlu menutupi perasaannya pada Raya. Sebenarnya dia bisa saja menunjukan perasaannya pada Raya kepada siapapun, itu tidak akan berpengaruh apa-apa pada dirinya. Namun jika dia nekat untuk menunjukan perasaannya pada Raya, dia khawatir Raya akan menghadapi kesulitan dari teman-temannya. Mereka sudah pasti tidak akan melepaskan Raya untuk mereka bully. Sekuat apapun Raya melawan mereka, bully an akan tetap terasa menyakitkan baginya.
Nanti, setelah Raya lulus sekolah, barulah ia bebas untuk mengklaim Raya sebagai miliknya, tanpa merasa khawatir dengan nada sumbang orang lain yang membicarakan status sosial Raya. Karna saat gadis itu sudah menyelesaikan pendidikannya, Raka pastikan bahwa ia akan selalu berada disamping Raya untuk menjaga dan melindunginya.
" Bukankah itu Raya? " Kevin pura-pura kaget melihat Raya.
" Ya. Kau mengenalnya?" tanya Raka curiga
" Di rumah sakit. dia mengantar ibunya berobat."
" Waaaahh, dia cantik sekali." Kevin masih berpura-pura takjub melihat Raya
" Cantik bukan?!" Raka berucap bangga, Kevin mengangguk sambil tak melepaskan tatapannya dari Raya.
" Dia kekasihku." ucap Raka tegas.
Kevin yang mendengarnya langsung mengalihkan perhatiannya pada Raka, dia terkekeh pelan.
" Kau... Apa kau berpacaran dengannya?" tanya Kevin disela kekehan nya
" Seperti itulah"
" Seperti itu apa maksudmu? " Kevin mulai memancing Raka untuk bercerita.
" Jangan bilang kau belum resmi berpacaran dengannya, tapi kau sudah ingin mengklaim dia menjadi milikmu?!" Kevin menebak apa yang terjadi antara mereka.
" Dia memang milikku, Kevin." Raka gusar dengan ucapan Kevin.
" Ayolah, kau hanya mengklaimnya menjadi milikmu Raka. Berarti aku masih bisa mengejarnya." Kevin tersenyum sombong melirik Raka.
Ekspresi Raka menggelap dengan pernyataan Kevin, dia tidak akan sudi membiarkan lelaki manapun mencoba memiliki gadisnya. Meski itu adalah temannya.
" Jangan coba-coba. Kau tahu akibatnya jika mencoba merebut milikku." Rahangnya mengeras ketika memberi ultimatum pada Kevin.
Kevin hanya tersenyum melihat Raka dalam sekejap gusar karna ucapannya. Tidak ada yang tahu bahwa di dalam pikirannya, dia sudah menyusun rencana untuk mendekati Raya. Bagaimanapun Raya belum menjadi istri Raka, dan itu artinya dia masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan Raya.
***
Pesta dansa sedang berlangsung saat ini, area tengah ruangan berubah menjadi tempat berdansa, para siswa mulai terlihat berdansa dengan iringan musik klasik yang sengaja diputar. Mereka membentuk lingkaran dengan berpasang-pasangan, dan mulai menari mengikuti alunan musik.
Dari kejauhan Raka melihat Raya beberapa kali menolak ajakan para lelaki untuk berdansa bersama dengannya, dia tersenyum menyaksikan sikap penolakan Raya pada lelaki-lelaki itu.
Pada saat siswa lain sedang asik berdansa, Raya berjalan menghampiri Berlian yang sedang berdansa bersama teman lelakinya.
" Aku pergi ke toilet dulu." bisik Raya yang mendapat anggukan dari Berlian.
Setelah mengatakan hendak ke toilet kepada Berlian, Raya bergerak makin menjauh, dia berjalan menuju arah luar aula, karna disanalah toilet berada. Raka melihat itu, dia tersenyum licik seraya berjalan ingin menghampiri Raya. Beruntung saat itu, Kevin sedang menerima panggilan dan memisahkan diri dari Raka.
Toilet itu berada sedikit jauh dari pintu aula, tepatnya berada di samping gudang penyimpanan. Untuk sampai kesana Raya harus melewati beberapa lorong ruangan yang tidak terpakai. Ketika Raya berada semakin dekat dengan toilet, tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh seseorang. Dengan membekap mulut Raya, orang itu menarik Raya untuk masuk pada satu ruang kosong yg tidak terpakai.
Begitu sampai di ruangan, orang itu menghimpit tubuh Raya ke tembok. Perlahan ia membuka bekapannya, dan tersenyum menggoda menatap Raya dari jarak yang sangat dekat.
" Raka?!"
" Halo sayang." ucap Raka
" Kau..mau apa kau?" raut wajah Raya sudah tampak gelisah.
" Aku merindukanmu sayang." Raka tak tahan untuk segera mengecup bibir kemerahan Raya.
" Tapi ini di sekolah, sedang banyak orang Raka." ucap Raya setengah berbisik.
" Aku tidak peduli. Aku hanya ingin memelukmu."
" Kau sangat cantik malam ini, sampai-sampai aku tidak tahan untuk tidak segera mencumbumu lagi." Raka langsung memberikan kecupan-kecupan di wajah dan leher Raya.
" Kau milikku Raya." sambungnya berbisik di telinga Raya.
Raka memeluk erat Raya. Dia teringat kembali pembicaraannya dengan Kevin, dan itu membuatnya tidak tenang. Apalagi sejak tadi di dalam aula, tidak sedikit lelaki lain yang ingin mendekat pada Raya.
" Yah, tak perlu kau ingatkan." ucap Raya cuek.
Raka terkekeh dengan respon Raya, dia mengusap lembut pipi Raya, sesekali memberikan kecupan kecil disana sebelum akhirnya melabuhkan bibirnya pada bibir Raya.
" Katakan pada Berlian, kau tidak akan menginap dirumahnya."
" Apa?!"
" Berlian. Katakan padanya, kau tidak akan menginap di rumahnya." Raka mengulangi perkataannya.
" Kau akan ikut denganku." sambung Raka sambil ******* kembali bibir Raya.
***
Acara pelelangan akhirnya di mulai. Semua peserta lelang berkumpul di kursi yang sudah di sediakan panitia.
Raka duduk menghampiri Kevin di kursi barisan terdepan. Sedangkan Raya berjalan untuk duduk di tempat yang sudah disediakan Berlian disampingnya.
" Dari mana saja kau?" tanya Kevin begitu Raka duduk di sampingnya.
" Ck.. Apa aku perlu laporan hanya untuk pergi ke toilet?!" jawab Raka cuek.
Kevin hanya diam tak merespon ucapan Raka dan memilih fokus kembali mengikuti acara lelang, beberapa barang sudah berhasil dilelang dengan harga lumayan tinggi. Seperti gramophone (pemutar piringan hitam), foto beserta tanda tangan artis, ada juga kamera jadul, sepatu basket Berlian yang bertanda tangan Michael Jordan dan barang lainnya
Saat semua barang telah habis terlelang, tiba-tiba dari arah belakang panitia, Anastasia muncul membawa sesuatu yang sangat dikenali Raya.
" Hadirin semuanya, barang terakhir yang akan di lelang malam hari ini adalah barang berharga satu-satunya milik teman kita, Raya." Anastasia berucap dengan lantang sambil melihat kearah Raya yang tampak terkejut.
Tadi sehabis gagal mengajak Raka berdansa, Anastasia pergi keluar, niatnya dia ingin menenangkan hatinya setelah ditolak mentah-mentah oleh Raka. Dia berjalan menyusuri taman belakang dekat dengan mess pa Yadi, dan ketika sedang duduk di bangku taman tak sengaja ia melihat sepeda Raya berada disana. Seketika itu muncul ide jahat untuk melelang sepeda Raya.
Raya dan Berlian tidak bisa menahan keterkejutannya, mereka saling pandang dengan mata yang sama-sama terbelalak.
Namun ketika para peserta lelang melihat ke arah Raya, Raya langsung merubah raut wajahnya menjadi tenang. Raka tersenyum gemas melihat tingkah gadisnya yang berlagak kuat.
Raya menghela nafas panjang sebelum ia berdiri dan berucap.
" Terima kasih Anastasia, sebenarnya aku cukup terkejut dengan sepedaku yang kau bawa. Tapi tidak masalah, silahkan lanjut untuk dilelang." ujar Raya seolah tak peduli.
Namun jauh didalam hatinya, dia sungguh mengutuk perbuatan Ana. Dia juga kesal pada Raka, karna dia tak memberitahu jika sepedanya berada di tempat biasa.
Tapi ya sudahlah, dia tidak ingin peduli. Rasanya sayang jika acara penutupan amal malam ini harus diakhiri pertengkaran. Lagipula semenjak kehadiran Raka, Raya hampir tak pernah mengendarai sepeda lagi.
" Baiklah, untuk sepeda yang sangat amat biasa ini. Sebaiknya kita buka dengan harga berapa ya? Mengingat kondisinya sudah seperti tak layak." Ana berucapan dengan nada mengejek yang sangat kentara, hingga mengundang tawa para peserta lelang lainnya.
Ana tersenyum puas melihat Raya ditertawakan oleh orang-orang, sedangkan Raya sudah sejak tadi berusaha menahan amarahnya.
Raka dari kejauhan memperhatikan Raya, dia tersenyum bangga melihat sikap tenang yang ditunjukan raya meskipun dia sedang dipermalukan. Namun ketika dia melihat ke arah Ana, sorot matanya berubah mengerikan.
" Cih. wanita seperti itu ingin dijodohkan denganku?! " gumamnya dalam hati.