Karakter Utama:
Arga: Cowok yang biasanya tenang, rapi, dan selalu jadi "penjaga" kalau mereka nongkrong. Tapi malam itu, dia sama mabuknya.
Kinar: Cewek ceplas-ceplos, panikan, dan tipe sahabat yang tahu semua aib Arga dari zaman masih ngompol sampai sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Interogasi Malam Hari dan Gengsi yang Retak
Malam harinya, rintik hujan kembali membasahi atap seng rumah kontrakan mereka, menciptakan suara ritmis yang membuat suasana di dalam rumah terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Kinar duduk di atas karpet bulu ruang tengah sambil menyandarkan punggungnya ke sofa. Di depannya, laptop masih menyala menampilkan bab tiga skripsinya, tapi pandangan mata Kinar justru kosong menatap dinding.
Pikirannya masih tersangkut pada kejadian di kantin siang tadi. Gerakan Arga yang tiba-tiba menggenggam erat tangannya dan sorot mata cowok itu yang begitu tajam saat mengusir Rendi terus berputar di otaknya seperti kaset rusak.
Cklek.
Pintu kamar belakang terbuka. Arga keluar hanya dengan kaos oblong putih polos dan celana pendek kain. Di tangannya ada sebuah gelas mug besar berisi susu cokelat hangat yang asapnya masih mengepul tipis. Cowok itu berjalan santai, lalu menjatuhkan dirinya ke atas sofa tepat di atas kepala Kinar.
"Belum tidur lo? Katanya besok mau bimbingan pagi bareng Pak Bambang?" tanya Arga sambil menyeruput susu cokelatnya, memecah keheningan malam.
Kinar mendongakkan kepalanya ke atas, menatap dagu Arga dari posisi bawah. "Belum bisa tidur. Otak gue masih mampet gara-gara revisian tadi." Kinar diam sejenak, menimbang-nimbang apakah dia harus menanyakan hal ini atau tidak. Namun rasa penasarannya sudah berada di ubun-ubun. "Lagian... gue masih kepikiran sama akting lo tadi siang di kantin."
Arga yang baru saja mau meneguk susunya lagi mendadak menghentikan gerakannya di udara. "Akting yang mana? Yang pas gue usir si buaya darat itu?"
"Iya," Kinar membalikkan badannya hingga kini dia duduk bersila menghadap sofa, menatap Arga dengan pandangan menyelidik yang tajam. "Gue kenal lo bukan sehari dua hari, Arga. Lo kalau lagi akting bohong biasanya mata lo bakal kedip-kedip cepat atau lo bakal sibuk garuk-garuk leher. Tapi tadi siang di depan Rendi... lo tenang banget. Tatapan mata lo itu... beneran kaya cowok yang lagi emosi karena miliknya diganggu orang lain."
Arga terdiam. Dia meletakkan gelas mug-nya ke atas meja kopi dengan perlahan. Suasana di antara mereka mendadak berubah menjadi sangat intens, hanya menyisakan suara deru rintik hujan di luar rumah. Arga mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Kinar yang jarak wajahnya kini hanya terpaut beberapa puluh sentimeter saja.
"Kalau iya, kenapa?" tantang Arga dengan suara baritonnya yang rendah dan terdengar sangat serius, membuat Kinar otomatis menahan napasnya. "Kalau ternyata tadi siang gue gak lagi akting, lo mau gimana, Kinar?"
Jantung Kinar langsung melakukan lompatan ekstrem di dalam dadanya. Sentuhan dingin dari lantai keramik seolah menguap begitu saja digantikan oleh rasa panas yang mendadak menjalar ke seluruh wajahnya. "Lo... jangan bercanda deh, Ga. Inget aturan nomor satu di atas meterai kemarin..." suara Kinar mencicit pelan, mendadak kehilangan keberaniannya yang biasanya selalu berkobar.
Melihat wajah Kinar yang sudah merah padam mirip kepiting rebus dan kegugupan cewek itu yang begitu kentara, pertahanan Arga akhirnya runtuh. Sedetik kemudian, tawa keras Arga langsung pecah memenuhi ruang tengah.
"Bwahaha! Muka lo, Nar! Sumpah, kocak banget!" Arga tertawa sampai memegangi perutnya, kembali bersandar ke sofa dengan puas. "Aduh, lagian lo lagian serius banget sih nanggepinnya! Ya gue akting lah! Kan gue udah bilang, harga diri gue sebagai cowok tampan di kampus bakal jatuh kalau istri pajangan gue digodain sama cowok modelan Rendi di depan umum. Lagian lo geer banget, mana mungkin gue langgar aturan nomor satu!"
Kinar tertegun sejenak, lalu rasa malu yang luar biasa berganti menjadi rasa kesal yang meluap-luap. Dia menyambar bantal sofa di dekatnya lalu memukulkannya ke dada Arga dengan brutal.
"ARGA SIALAN! LO BENER-BENER MAU MATI YA?!" teriak Kinar sambil terus melayangkan pukulan bertubi-tubi, mencoba menyembunyikan fakta bahwa di dalam lubuk hatinya, ada sedikit rasa kecewa yang menyelusup masuk saat mendengar kata 'akting' dari mulut cowok itu.
Arga hanya bisa mengaduh sambil berusaha menangkis serangan bantal dari Kinar dengan tawa yang masih tersisa. Mereka berdua terus kejar-kejaran dan bercanda di ruang tengah malam itu, mencoba mengabaikan fakta bahwa ego dan gengsi persahabatan mereka sebenarnya sudah mulai retak, menyisakan benih-benih perasaan baru yang siap mekar kapan saja.
btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya juga ya. tinggal tekan profile, terima kasih /Smirk//Rose/