Jika memang nanti semesta hanya mengizinkan mu singgah kepadaku, maka aku akan membiarkan mu pergi mencari tempat pulang sesungguhnya. Tapi paling tidak aku sudah menjadi bagian cerita yang akan selalu kamu ingat. Meski kamu berusaha untuk melupakannya, akan ku suruh takdir mengikatmu dengan belenggu kenangan. Aku egois bukan?
Benar, kemarilah, akan aku ajari kau arti menunggu.
Kapan terakhir kali kamu dapat tertidur lelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emie_lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter24 Pejalanan: Permainan
Pukul 20.00
"Kakak, terimakasih yaaa hadiahnya, sangat cantik, El suka."
"besok kita pakai couple."
"loh, ini baju couple?"
"iya, kakak juga ada."
"kalau gitu cocoknya kita pergi jalan-jalan."
"hahaha, andai boleh El."
"masih gak boleh ya?"aku sedikit terpaku.
"yahhh...kamu tahu sendiri lah jawabannya."
"gak papa, mama kakak begitu karena ingin melindungi kakak."
"hahaha iya."
"kak maaf ya."
Mendadak suasana menjelma sunyi. Percakapan kami di balik layar telepon yang semula riuh oleh tawa, perlahan runtuh menjadi senyap sarat akan makna, seperti pesta yang lampunya mati tanpa aba-aba.
“Maaf buat apa?”
Beberapa detik berlalu, sunyi menggantung di antara kami, seolah waktu sedang enggan berjalan.
“El belum bisa sekeren Raka.”
“Hah?”
“Raka keren, kan? dia sangat gentel, sementara El tidak.”
Sejak kapan hatiku menjadi serapuh ini. Sejak kapan aku terenyuh hanya karena nada suaranya yang merendah? dulu, empati adalah barang asing bagiku, terlebih jika yang terluka adalah seorang pria. Namun kini, kalimat sederhana yang meluncur dari bibirnya terasa seperti bisikan yang memecah dinding pertahananku.
Aku tidak pernah sadar, bahwa diri ini telah melangkah terlalu jauh, menyelam semakin dalam, menembus palung lara milik El, namun anehnya, aku menolak kembali ke permukaan.
"El listen to me, semua orang pasti berproses, hanya saja Raka sudah pro, intinya El hebat dalam proses El, tidak perlu membandingkan diri dengan Raka. Yang penting jangan stop di proses ini, lakukan proses El dengan sebaik-baiknya. Kamu hebat, kakak bangga dengan kamu, kakak selalu berterimakasih karena kamu ingin berjuang serta berusaha.
"kakak El berterima kasih banyak kepada kakak."
Apa-apaan getar di suaranya itu? tanpa izin, ia menyeret hatiku ikut melemah. Bayi besarku, kau sungguh terlalu lucu untuk bersedih. Kebahagiaan yang kau beri padaku tumbuh dari hari ke hari, mengembang pelan seperti cahaya pagi yang senantiasa datang.
Namun seiring bahagiaku membesar, rasa takut pun ikut menjalar. Ia berdiri di sudut hatiku, diam-diam mengintai, seolah bahagia ini semua hanya singgah sebentar sebelum kembali menjadi lara.
"El, kakak mau bilang sesuatu."
"bilang apa?"
"El gimana hubungan kita setelah kakak tamat?"
"gimana apanya, hubungan kita tetap akan baik-baik saja, seperti sebelumnya."
"kamu yakin?"
"seratus persen yakin, kakak kenapa sih? Jangan mikirin yang aneh-aneh."
"tapi LDR itu berat."
"iya kak, El tahu kalau LDR itu berat, tapi apakah selama tiga bulan ini perjuangan El belum membuktikan? El tidak mau menyesal seperti sebelumnya kak, El ingin kita seperti ini selamanya."
"El, begini. Kakak sudah percaya sama kamu, semua perjuanganmu untuk kakak juga sudah kakak terima, kamu ingin kita dekat kan? Rasa kakak kita sudah sangat dekat, jika kedekatan ini dilanjutkan insting kakak berkata hasilnya tidak akan baik."
"kak tunggu, kenapa tiba-tiba ngomong gitu kak?"
"El ayo kita akhiri permainan ini."
"hah? apa? kak El mohon."
"El mau apa lagi? maaf dari kakak? kan sudah."
"alasan kita harus mengakhiri semuanya apa kak?"
Aku ingin sekali menumpahkan semuanya kepadamu, mengaku bahwa aku takut. Takut jika semesta memaksaku mengulang luka yang sama untuk kedua kalinya. Hatiku ragu, sebab kepercayaan bukan perkara mudah setelah retak. Aku tak sepenuhnya yakin kau akan tetap setia ketika jarak menjelma jurang dan aku berdiri jauh di seberang sana.
Aku takut kau kembali pergi, memilih langkah lain, menggenggam tangan perempuan lain, dan meninggalkanku menata puing, kenangan perasaanku seorang diri. Aku tak sanggup lagi merasakan perih yang sama, perih saat kau berpaling seolah cintaku tak pernah menjadi sesuatu hal penting.
Sebab kini, asal kau tahu, cintaku telah menyala, membara, melampaui kobaran api ketika Bandung menjelma lautan nyala. Dan aku tahu, jika api sebesar ini dikhianati, yang tersisa bukan lagi hangat, melainkan abu.
"kakak takut."
"takut untuk apa?"
"pokoknya kakak takut."
"kak, jangan buat El bingung, kita baik-baik aja kan kak? gak ada masalah, kalau ada masalah ngomong kak."
"kita gak ada masalah El, hanya kakak letak permasalahannya."
"kak El mohon."
"jika suatu saat, ketika kakak jauh dari sisi mu, ada wanita lain menyodorkan dirinya sebagai penggantiku, maka terimalah El."
"gak mau! El akan menolak dia, kakak kenapa sih? El tahu semua usaha ini belum seratus persen, tapi kak El belum menyerah."
Tidak El, aku terlalu pengecut, menanti titik dimana kau melupakan kalimat kita.
"El, sekarang kamu bisa bilang begitu, tapi nanti? Tidak ada yang tahu." lama El terdiam, sambungan telpon kami tidak lebih sebatas ruang hampa.
"baiklah, jika kakak ingin begitu."
Aku sedikit terkejut, apa sebenarnya yang kau mau, Pia? ketika ia akhirnya menyetujui hubungan kalian berakhir, mengapa justru hatimu yang gemetar? alih-alih lega, dadamu terasa sesak, ada nyeri halus yang menyusup diam-diam. Kau tak benar-benar siap merelakan kebahagiaan yang selama ini ia suguhkan.
Padahal seharusnya kau tertawa, meneguk kebebasan, lalu berpesta merayakan akhir.
"tapi kak, El masih boleh menghubungi kakak kan?"
"tidak." kalimatku seakan kuat, padahal ada ragu yang berusaha aku ikat.
"tapi kenapa?"
"El, kamu harus mengerti konsep, jika kita ingin semuanya berakhir, kamu dan kakak harus bisa menjaga jarak. Tidak ada telpon tiap malam, chat setiap detik serta balasan cepat penuh hangat."
"El tidak mau, jangan begini kak, El masih butuh kakak."
"kenapa?"
"El masih butuh nasehat dari kakak, ajaran, atau sekedar tips dari kakak. Keberadaan kakak sangat penting buat El."
Sadarlah, Pia. Sejak awal kau mencintai dalam sunyi. Ia tak pernah benar-benar mencintaimu, bahkan tak pernah menatapmu sebagai seorang kekasih. Kata-katanya kepada Ana tentang “wanita satu-satunya” tak lebih dari denting tong kosong, nyaring di telinga, hampa di makna.
Kau harus terjaga. Tempatkan hatimu pada batas yang ia tentukan, sebatas kakak dan adik. Belajarlah menerima kenyataan pahit bahwa bukan kau yang ia inginkan.
Perlahan aku mengerti, selama ini aku tak lebih dari ruang singgah, seorang psikolog pribadi yang selalu hadir saat jiwanya retak, lalu ditinggalkan ketika ia kembali utuh.
"El sudahlah, kamu sudah memilih keputusan."
"jangan! Kak, tolong dengar aku sedikit saja, jika mau menjauh dariku silahkan, aku tidak mau mengekang, tapi jangan sekarang."
"lalu? kapan?"
"setidaknya sampai kakak tamat, El ingin membuat kenangan dengan kakak."
Baiklah, sampai tamat saja, aku masih bisa mengikuti permainan anak ini? hanya perlu sadar bahwa tidak ada ikatan spesial diantara kami.
"El mohon kak, tolong lah."
"oke, sampai tamat."
"terimakasih banyak kak."
Aku akan mengikuti permainan kamu