Adila Dimitri... Kesucian yang sudah terenggut, tidak mengubahnya menjadi wanita lemah. Mandiri, kuat, berani dan tidak takut dengan apapun, sudah menjadi slogan dalam hidupnya.
"Hidup ini pilihan, apapun yang membuatmu sedih, tinggalkan...!!!
Apapun yang membuatmu tersenyum, pertahankan...!!!"
Aditya Putra Wiriaatmaja... kehilangan cinta karena kondisi yang membuatnya tidak bisa bertahan.
"Aku bukannya tak mau merelakan kepergianmu, aku hanya menyesali kelemahanku memperjuangkanmu untuk tetap disisiku. Aku belajar tulus untuk mencintai meski tak harus memiliki, belajar ikhlas merelakan meski harus kehilangan...!!"
Pertemuan yang diawali dengan drama settingan yang Adila ciptakan, membuat mereka terjebak dalam kondisi yang tidak nyaman, hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali dalam kondisi yang jauh berbeda.
Akankah sifat absurd Adila mampu meluluhkan hati Aditya yang menyukai wanita sederhana dan anggun seperti mantan kekasihnya dulu???
Sequel dari ❤Cinta Yang Hilang❤...
Pantengin terus di semua partnya👌👌
Happy reading💋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal Gila
Langit yang gelap mendukung suasana hati Adila yang terselimuti awan kesedihan. Jodoh.... kata itu memporakporandakan hati yang sedari tadi sudah remuk melihat kedekatan Aditya dan Moza yang memang sangat-sangatlah dekat.
Marah..??? apa berhak dia marah...??? kenapa dia harus marah, Aditya bukan siapa-siapa dan memang bukan siapa-siapa untuknya. Tapi kenapa hatinya sekarang perih???
Adila bersandar di kursi kayu reyot di bagian sudut belakang rumah, tepatnya didepan gudang penyimpanan barang yang sudah tidak terpakai lagi. Bukan hanya menenangkan, tempat ini juga sedikit rengang dari bagian rumah utama, jadi tidak akan ada kebisingan yang bisa dia dengar.
Keadaan yang sepi menjadikan ia nyaman berlama-lama berdiam diri disini. Merenung, mengeluh dan berkeluh kesah pada hamparan langit, pada udara malam yang segar dan pada bulan bintang yang selalu tersenyum memperhatikannya.
Tapi sekarang mereka tidak ada, bulan dan bintang seakan tak rela melihat kesedihannya hingga memilih bersembunyi dibalik gelapmya malam. Adila menyerukan kepala pada kaki yang dia tekuk dengan kedua tangan melingkar memeluknya.
Kok gue jadi melow gini....
Adila membentur-benturkan dahi ke tulang lutut.
Tali dress yang melingkar dipinggang tiba-tiba tak terlihat, hitam. Jantung Adila berpacu, perlahan ia mengangkat wajah dan ternyata, gelap. Ia memejamkan matanya kuat, mengeratkan pelukan di kaki yang bergetar semakin hebat.
Gue bisa.... bue bisa.... jangan takut Dila.... jangan takut....
Respon di tubuh memungkiri semua itu, butiran keringat semakin mengucur deras dipunggung dan juga dahinya. Ketakutan semakin menjalar dari kaki hingga ke ubun-ubun kepala, adakah yang bisa menolongnya saat ini, mungkinkah ada yang peduli dengannya sekarang???
"Adila kamu baik-baik saja?"
Suara yang sangat dia kenal, menyadarkan Adila dari ketakutan yang sudah merasukinya. Adila menengadah, melihat cahaya yang berasal dari ponsel yang orang itu bawa.
"Pak Aditya?"
"Iya ini saya." Aditya menarik kedua bahu Adila, membantunya berdiri.
"Tolong, aku takut." Ucapnya dengan suara bergetar dan tangan berpegangan pada dada Aditya.
"Aku akan membawamu kedalam."
"Jangan... aku tidak mau Tante Dona tahu kelemahanku." Mohonnya dengan lirih.
Aditya tidak mengerti apa maksud dari ucapan Adila, bukannya Tante Dona itu mamanya??? tapi dalam kondisi seperti ini tidak mungkin juga dia harus menanyakan hal yang sangat sulit untuk dia pahami.
Aditya meraup kedua tangan Adila didadanya,"Lihat aku...!"
Adila menurut, perlahan membuka mata menatap manik kecoklatan milik Aditya dengan bibir yang menggigil ketakutan.
"Kamu harus bisa melawan rasa takutmu, maka semuanya akan baik-baik saja, kamu pasti bisa."
"Aku tidak bisa."
"Aku yakin kamu bisa."
"Sepertinya memang konsleting lagi Tuan." Ucap seseorang dari kejauhan.
"Cepat kamu perbaiki."
"Baik Tuan."
Aditya mematikan ponselnya, memasukannya kedalam saku. Keadaanpun menjadi gelap kembali. Ia tidak mungkin membiarkan orang lain melihatnya dalam keadaan seperti ini dengan Adila.
Tubuh Adila yang semula sudah sedikit tenang, kembali menegang.
"Aku takut." Ucapnya dengan mencengkram baju Aditya.
"Ssssttt....," Aditya menempelkan telunjuknya dibibir Adila,"... ada seseorang yang berjalan kemari." Bisiknya.
Aditya menarik Adila dalam dekapannya, perlahan membawanya ke balik pintu yang tidak tertutup rapat. Bersembunyi dari cahaya senter satpam yang berjalan kebelakang rumah mendekati mereka.
"Oalah... pantes, kabelnya putus lagi, untung tak bawa kabel cadangan."
Senter yang dibawa satpam itu, menyemburatkan cahaya yang temaram, menembus masuk melalui dinding kaca. Hingga dengan samar Aditya masih bisa melihat Adila yang masih bergetar ketakutan.
Aditya menyentuh tangan Adila yang sangat dingin didadanya. Menyangga tubuh Adila yang merosot, dengan tangan yang melingkar dipinggangnya.
"Kamu masih kuat kan?"
Adila menatap Aditya dengan mata yang mulai meredup, mengangguk pelan dengan menggigit bibir bawahnya menahan dingin yang berasal dari rasa ketakutannya.
Keberanian yang entah datang dari mana, Aditya menyentuh bibir Adila agar melepaskan gigitan yang bisa melukai bibirnya sendiri.
Kedua mata mereka saling bersitatap, hembusan nafas mereka saling beradu. Ada dorongan yang kuat dalam dirinya, menghangatkan bibir merah yang ranum berisi itu.
Perlahan Aditya menelengkan kepala, menyusurkan tangan dibalik tengkuk Adila yang bebas tak terhalang apapun. Mengukung tubuh Adila, mendorongnya agar semakin merapat di dinding tembok.
Bibir mereka saling bersentuhan. Perlahan Aditya menggerakan bibirnya dengan lembut, menyecap dan memagutnya hingga Adila ikut terbawa arus dalam hangatnya sentuhan yang Aditya berikan.
Adila meremas baju didada Aditya, menikmati alur kemana ciuman itu akan membawanya. Enggan semua itu segera berakhir, Aditya menahan tengkuk Adila, memperdalam ciumannya dengan saling membelit dan bergumul didalamnya.
"Ah akhirnya nyala lagi." Ucap satpam itu.
Lampu bohlam yang kuning kemerahan didalam gudang, tidak menyurutkan kedua insan itu untuk saling melepaskan. Keduanya terlalu asyik, hanyut merajut kehangatan yang membawa mereka akan kerinduan yang selama ini mereka butuhkan.
******
"Sudah beres semuanya?"
"Sudah Nyonya, mudah-mudahan kali ini tidak akan mati lagi."
"Heemm baguslah..."
Kemudian Dona melihat Adira yang berjalan dari arah belakang dengan lilin yang masih menyala ditangannya, melamun.
"Dira kamu dari mana?"
Adira tersentak," Dira dari...."
"Non Dilanya belum ketemu Non?" Tanya Pak satpam yang saat tadi tak sengaja berpapasan dengan Adira yang sedang mencari Adila yang tidak ada dikamarnya.
"I...iya Pak belum." Jawabnya tergagap.
"Kalau begitu biar Bapak cari sekali lagi kebelakang, Biasanya Non Dila paling suka diem deket gudang". Ujarnya.
"Jangan...," Reflek Adira berteriak,".... Ah maksud aku nggak usah, mungkin sekarang Adila sudah ada dikamarnya." Menetralkan kembali suaranya seperti sedia kala.
"Ya wis kalau begitu, saya kedepan lagi... permisi Non, Nyonya."
"Iya Pak."
"Dira kamu lihat Aditya nggak?"
Adira yang baru saja akan berbalik menuju kamarnya kembali menegok Moza yang baru datang dari arah pintu utama.
"Loh memang Aditya belum balik dari tadi?" Sela Dona.
"Belum Tan... apa mungkin dia masih di kamar mandi ya, biar Moza coba cek aja kesana."
Adira langsung membuka suaranya, mencegah Moza untuk mendatangi kamar mandi.
"Nggak usah Mbak... tadi saya lihat Pak Aditya masuk lagi ke kamar mandi kayaknya sakit perut."
Kening Moza berkerut, berpaling melihat Dona.
"Iya kali Za Nak Aditya sakit perut, masakannya kan lumayan agak pedes."
"Iya juga sih... ya udah, kalau gitu kita tunggu didepan aja yuk Tan."
"Yuk."
Adira membuang nafasnya lega, berhasil menghempaskan satu persatu orang yang mungkin melihat apa yang baru saja dia lihat.
Mereka berciuman.... bagaimana bisa???
Adira menyambar gelas air minum, menegaknya hingga habis. Mengusir bayangan Aditya dan Adila yang sudah menodai matanya yang masih suci ini.
Dila kamu bener-bener gila... bagaimana mungkin, Pak Aditya kan... Mbak Moza...arrrgh... aku bisa ikut gila karena kamu Adila Dimitri
Suara langkah seseorang yang berjalan terburu, menarik matanya untuk segera melihat, Adila. Dia berjalan menaiki tangga dengan setengah berlari.
Tak berselang lama Aditya muncul, dengan langkah tegapnya masuk lebih dalam menghampirinya.
"Adira...."
Adira tersenyum canggung," Mbak Moza mencari Bapak tadi."
Ia tahu Aditya pasti tidak akan bisa menjawab, ia hanya melemparkan pandangan menyembunyikan apa yang sudah terjadi diantara dirinya dan Adila.
Seakan tahu apa yang sedang di pikirkan Aditya, Adira kembali berucap,"Tapi tadi saya sudah bilang kalau Bapak sakit perut.... Sekarang Mbak Moza menunggu Bapak diruang tamu."
"Ah iya terima kasih..," Jawabnya terbata,"... kalau begitu saya tinggal dulu." Lanjutnya.
"Sebentar Pak."
Adila menarik beberapa helai tisu di meja makan dan memberikannya kepada Aditya.
"Ini... ada sesuatu dibibir Bapak, sebaiknya dibersihkan dulu."
Spontan Aditya meraba bibirnya," Te...terima kasih "
"Sama-sama.... kalau begitu saya ke kamar dulu."
Aditya mengangguk,"Iya..."