Li Yunru tiba-tiba bertransmigrasi ke zaman kuno setelah memakai cincin naga perak berisi ruang spiritual misterius. Bukan itu saja, dia juga menjadi koki spiritual yang mampu menyembuhkan segala jenis penyakit dan keracunan.
Berkat cincin naga perak juga, Li Yunru ditakdirkan menjadi pasangan sang raja naga putih penguasa wilayah utara—Bai Muzhi. Pria berwajah dingin yang jiwanya terluka akibat pedang antar benua ratusan tahun lalu itu, akhirnya menemukan satu-satunya penyembuh yang mampu mengobatinya. Perlahan, perasaan cinta tanpa sadar tumbuh di antara keduanya.
Rupanya kemunculan Li Yunru bukan hanya mengungkap banyak rahasia masa lalu, tapi juga membuat musuh di kegelapan mulai mengincar kekuatan tersembunyi dalam dirinya. Menghadapi misteri ribuan tahun lalu yang mulai tersingkap, mampukah Li Yunru melewati cobaan tersebut sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan Lan Homian
"Bai Muzhi, apakah kamu gila?! Turunkan pedangmu! Jangan berani-beraninya menggunakan pedang itu! Kamu mau membantuku memotong ekor atau memotong hidupku?"
Hong Maxing langsung panik dan refleks ingin melarikan diri. Namun, dua ekornya sudah dipegang erat oleh Li Yunru. Sebagai budaknya, ia sama sekali tidak punya kesempatan untuk kabur.
Bai Muzhi sama sekali tidak tampak gugup. Ia bahkan sudah siap menebas ekor rubah merah milik Hong Maxing.
"Apa yang kamu takutkan? Raja ini sangat pandai mengayunkan pedang dan mengendalikan kekuatan. Jangan khawatir, nyawamu tidak akan melayang. Yunyun, pegang ekornya dengan erat," katanya sambil menatap Li Yunru.
"...?"
Li Yunru terkejut. Sejak kapan Bai Muzhi memanggilnya seakrab itu?
"Tidak, tidak! Aku tidak mau bertemu dengan Dewa Binatang lebih awal!" Hong Maxing menggeleng kuat. Jantungnya berdegup kencang.
Bai Muzhi meliriknya dengan tatapan meremehkan. "Bukankah bertemu dewa yang menciptakan kita sebelum masuk dunia bawah adalah sebuah kehormatan?"
"...."
Bukan itu maksudku! batin Hong Maxing yang merasa akan gila. Mengapa Bai Muzhi tiba-tiba menjadi begitu usil?
Belum sempat berpikir lebih jauh, Bai Muzhi sudah mengangkat Pedang Pencabut Jiwa dan mengayunkannya ke arah ekor yang dipegang Li Yunru.
Melihat kilatan pedang itu, pikiran Hong Maxing langsung kosong. Tanpa peduli Li Yunru berhasil mencabut ekornya atau tidak, ia spontan mengambil langkah seribu.
"Aku belum selesai denganmu, naga sialan!" teriaknya setelah berhasil menghindar. Pedang itu nyaris saja menebas ekornya.
Pedang Bai Muzhi hanya membelah udara. Namun, suasana mendadak hening ketika semua orang melihat dua ekor rubah sudah berada di tangan Li Yunru. Terutama Hong Maxing. Ia seperti disambar petir. Dengan panik, ia menyentuh ekor-ekornya yang tersisa dan mulai menghitung.
"Satu, dua, tiga ... lima ... tujuh—"
Ia menghitung berulang kali, tetapi hasilnya tetap sama. Kini hanya tersisa tujuh ekor. Pria berambut merah itu hampir pingsan. Ia langsung menatap Li Yunru dengan kesal.
"Bukankah aku memintamu mencabut satu ekor saja? Kenapa malah dua?" Nadanya sedikit meninggi.
Li Yunru langsung melotot. "Aku bingung harus mencabut yang kiri atau yang kanan. Salahkan saja dirimu sendiri yang tiba-tiba menjauh sampai aku tidak sempat melepaskan ekormu yang satu lagi."
"Semua ekorku memiliki bentuk dan ukuran yang sama!"
"... Kalau begitu ambil yang ini dan sambungkan lagi. Beres!" katanya santai seraya menyodorkan satu ekor padanya.
Hong Maxing hampir muntah darah. "Mana ada ekor yang putus bisa disambung lagi?"
"Ini hanya ekor! Mengapa kamu marah sekali? Bukankah ekormu bisa tumbuh lagi?"
Keduanya langsung berdebat dan saling menyalahkan, sama sekali mengabaikan Bai Muzhi yang menjadi biang keladinya.
Hong Maxing mendengus. "Apa kamu pikir ekor spiritual yang putus bisa tumbuh begitu saja seperti marmut?!"
"Bodoh! Marmut tidak punya ekor!" Li Yunru memutar bola matanya.
"...."
Hong Maxing terdiam. Rupanya ia lupa seperti apa wujud marmut setelah sekian lama tidak mengunjungi temannya yang memelihara hewan itu.
Sesaat kemudian, ia kembali teringat penyebab semua ini adalah Bai Muzhi. Melihat pria jelmaan naga putih itu tersenyum sambil menyimpan pedangnya, ia begitu kesal hingga ingin berubah menjadi gorila.
"Bai Muzhi!! Jangan-jangan kamu memang sengaja melakukannya sejak awal? Kamu hanya berpura-pura ingin memotong ekorku?!" Hong Maxing menggertakkan gigi.
"Jangan memfitnah. Tidak ada buktinya," jawab Bai Muzhi santai.
"...."
Jelas kamu memang berniat begitu, pikir Hong Maxing yakin.
Melihat dua ekornya yang hilang, Hong Maxing kembali merasa tidak nyaman. "Ekorku, bagaimana sekarang? Aku jadi rubah ekor tujuh."
Li Yunru berhenti mengagumi dua ekor halus di tangannya. Ia mulai merasa bersalah. "Aku akan memasakkan makanan enak untukmu supaya ekor spiritualmu cepat tumbuh lagi. Bagaimana?"
"... Tidak cukup sekali makan."
"Kalau begitu setiap kali kamu datang, aku akan memasakkan daging untukmu. Bagaimana?" Li Yunru mulai menawar.
Mendengar itu, Hong Maxing langsung senang. Ia menatap Bai Muzhi dengan pandangan provokatif, lalu mengangguk kepada Li Yunru. Kekesalannya seketika sirna.
"Kesepakatan! Mulai sekarang raja ini akan datang untuk makan."
"...."
Bai Muzhi tidak menyangka ulahnya justru memberi Hong Maxing alasan untuk lebih sering datang ke istananya. Tidak cukup dengan Hei Sanfeng yang mulai menumbuhkan bulu di kepala botaknya, sekarang Hong Maxing juga ingin menumbuhkan kembali ekornya?
Setelah suasana kembali tenang, Hong Maxing perlahan meredakan amarahnya. Menjadi rubah berekor tujuh bukanlah masalah besar. Sisanya masih bisa tumbuh lagi dengan bantuan makanan spiritual buatan Li Yunru.
Tak lama kemudian, Deng Gubo datang menemui Bai Muzhi sambil menggendong Ruu. Kelinci gemuk itu tampak lesu setelah berkali-kali diceramahi olehnya.
"Yang Mulia, raja wilayah selatan datang untuk menemui Anda. Tapi ..." Deng Gubo tampak ragu.
"Tapi apa?" tanya Bai Muzhi sebelum kepala pengurus istana paruh baya itu melapor sepenuhnya.
Hong Maxing yang sedang dalam suasana hati baik mau tak mau ikut menyela. "Tupai merah, bicaralah yang jelas. Mengapa kamu tampak lemas sekali seperti belum makan kacang?"
"...."
Deng Gubo baru menyadari Hong Maxing juga berada di ruangan itu. Sebaliknya, Ruu langsung tidak senang saat melihatnya. Tatapannya beralih ke dua ekor rubah di tangan Li Yunru hingga salah satu telinganya terangkat tinggi.
"Budak, apakah kamu kehilangan ekor?"
"...."
Mengapa kelinci itu juga ada di sini? pikir Hong Maxing kesal. Jelas Ruu adalah kelinci jantan, tetapi tingkahnya terasa seperti Li Yunru kedua.
Bai Muzhi mengabaikan keduanya yang hampir kembali berdebat. Tatapannya kembali tertuju kepada Deng Gubo. "Katakan saja."
Deng Gubo mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya berkata, "Raja Pei datang bersama Adipati Lan."
"Lan Homian?" Sebelah alis Bai Muzhi terangkat.
"Ya."
Baru saja selesai melapor, langkah kaki kembali terdengar dari kejauhan. Deng Gubo tidak terkejut saat melihat Lan Peijun dan Lan Homian datang. Terutama Lan Peijun yang sejak awal bersikap sombong dan bersikeras ingin bertemu Bai Muzhi.
"Bai Muzhi, jangan mencoba menghindari raja ini!" Lan Peijun menyipitkan mata.
Sudut mulut Bai Muzhi berkedut. "Raja ini tidak perlu menghindari burung sepertimu." Tatapannya kemudian beralih kepada Lan Homian yang berdiri diam di samping Lan Peijun. "Mengapa Adipati Lan memiliki waktu datang ke wilayahku?"
"Aku datang untuk memastikan satu hal. Peijun berkata bahwa Raja Wilayah Baiyun telah memiliki pasangan ...."
Saat mengatakannya, wajah Lan Homian tampak tidak senang. Mengapa putrinya justru berjodoh dengan Raja Wilayah Baiyun?
Sementara itu, Li Yunru yang menjadi topik pembicaraan diam-diam mengamati Lan Homian. Ia sedikit terkejut karena pria itu dan Lan Peijun memang sangat mirip.
"Apakah ada yang salah denganku?" tanyanya heran.
Lan Homian akhirnya dapat melihat Li Yunru secara langsung. Ia langsung tertegun. Meski ada penghalang spiritual yang menyembunyikan penampilan asli gadis itu, pria paruh baya tersebut tetap mengenalinya.
Pertahanan batin Lan Homian akhirnya runtuh. Air mata perlahan membasahi pipinya. Ratusan tahun ... Sudah ratusan tahun ia menunggu hari ini. Wajah gadis itu begitu mirip dengan istri dan ibu mertuanya saat masih muda, terutama sepasang mata yang lembut dan jernih itu.
"Putriku ... Ini benar-benar ... putriku yang malang," ucapnya pelan dengan suara bergetar.
Li Yunru terdiam sesaat sebelum akhirnya bereaksi. "Tunggu, apa yang baru saja kamu katakan?"
mungkin kita juga bisa mencoba resepnyaa 😂