Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Aturan jaga jarak lima meter ternyata jauh lebih sulit dipraktikkan di dalam apartemen daripada di kantor. Di kantor, aku punya ruangan sendiri yang terpisah lorong panjang. Tapi di sini, di dalam penthouse mewah milik Arkan, jarak lima meter berarti salah satu dari kami harus rela berdiri mepet ke dinding atau mengungsi ke balkon luar.
Malam ini, aku duduk di ujung sofa panjang ruang tengah dengan sebuah meteran jahit warna kuning terang milikku. Aku sudah mengukur jarak dari ujung karpet tempatku duduk sampai ke batas koridor menuju dapur. Tepat lima meter.
Arkan baru saja keluar dari kamarnya. Pria itu sudah mengganti baju kerjanya dengan kaus oblong hitam polos dan celana santai. Rambutnya yang sedikit basah disisir asal-asalan ke belakang. Sialan, dalam kondisi acak-acakan begitu pun dia masih terlihat sangat tampan. Tapi ingatan tentang Valerie yang keluar dari kamar istirahatnya sore tadi langsung membuat hatiku kembali panas dan terbakar cemburu.
Begitu Arkan melangkah lebar menuju arah sofa, aku langsung mengangkat tangan kananku tinggi-tinggi, berlagak seperti polisi lalu lintas.
"Stop! Berhenti di situ, Pak Bos!" pekikku galak.
Arkan langsung menghentikan langkahnya tepat di batas ubin marmer. Alis tebalnya bertaut jengkel. "Naura, apa-apaan lagi ini? Aku mau duduk di sofa."
"Tidak bisa," balasku sambil menunjuk garis pembatas tak kasat mata dengan ujung meteran jahitku. "Dari sofa ini ke tempatmu berdiri itu pas lima meter. Kalau kamu maju satu langkah lagi, jarak kita jadi empat meter sembilan puluh sentimeter. Itu artinya kamu melanggar aturan."
Arkan mengembuskan napas kasar lewat hidung. Wajahnya terlihat sangat frustrasi, namun dasar pria keras kepala dengan gengsi setinggi langit, dia menolak untuk meminta maaf dengan benar. Dia masih mengira aku marah karena dia menyembunyikan kertas pesanan rahasia dari butik pakaian tidur itu—dia sama sekali tidak tahu kalau aku mengira dia berselingkuh dengan Valerie!
"Naura, kamu kekanakan sekali," ketus Arkan, mencoba memasang wajah datarnya yang sok berwibawa itu. "Kertas sore tadi itu benar-benar rahasia yang belum bisa kukatakan padamu. Ini masalah harga diriku sebagai laki-laki. Kenapa kamu harus sebingung ini sampai membuat aturan konyol begini?"
"Harga diri?" aku tertawa sinis, meski di dalam hati rasanya perih sekali. "Oh, jadi bersenang-senang dengan asisten logistik barumu di dalam kamar kantor itu bagian dari harga dirimu? Bagus sekali, Pak Arkan. Silakan jaga harga dirimu baik-baik, dan aku akan menjaga jarakku."
Arkan mengerjap, tampak kebingungan dengan kalimatku, tapi egonya yang besar membuat dia malah membalas dengan kalimat yang memancing emosiku. "Valerie hanya mengantarkan berkas. Kenapa kamu jadi membawa-bawa dia? Jangan mengalihkan pembicaraan dari masalah kertas rahasia itu."
Lihat kan? Dia bahkan membela Valerie! Hatiku rasanya seperti diremas-remas. Gengsiku langsung melonjak ke tingkat maksimal. Aku memalingkan muka, mengabaikan keberadaannya sama sekali, dan pura-pura sibuk menggeser-geser layar ponselku yang sebenarnya tidak menampilkan apa pun.
***
Perang dingin kami berlanjut sampai jam makan malam. Perutku sudah berbunyi keroncongan sejak setengah jam yang lalu. Bau harum makanan dari restoran jepang kesukaanku yang dipesan oleh Hadi tadi sore mendadak memenuhi ruangan. Perutku benar-benar tidak bisa diajak bekerja sama untuk urusan gengsi.
Aku melihat Arkan berdiri di dapur, menatap meja konter dengan bingung. Ada dua kotak bento besar di sana. Sesuai aturan, jika dia membawa makanan itu ke meja makan, jarak di antara kami akan menjadi kurang dari tiga meter.
Aku memperhatikannya dari sudut mata. Arkan tampak berpikir keras, mondar-mandir di dapur seperti singa kelaparan yang kebingungan. Lalu, sebuah ide gila sepertinya melintas di otaknya yang jenius tapi gesrek itu.
Arkan berjalan ke sudut ruangan dekat mesin cuci, lalu mengangkat robot vacuum—mesin penyedot debu otomatis berbentuk bulat yang biasa kami panggil 'Si Bulat'—dan meletakkannya di atas lantai dapur.
Pria dewasa, bertubuh tegap, berwajah sangar, dan menjabat sebagai pimpinan tertinggi perusahaan triliunan rupiah itu, kini sedang berlutut di lantai sambil menyeimbangkan satu kotak bento di atas punggung Si Bulat menggunakan selotip bening.
Aku melongo menyaksikannya. "Arkan, apa yang sedang kamu lakukan?"
"Melakukan pengiriman logistik sesuai aturanmu," jawab Arkan ketus, tanpa menoleh padaku.
Dia mengambil ponselnya, membuka aplikasi pengendali robot tersebut, dan menekan tombol jalan. Si Bulat mulai berbunyi pelan, lalu bergerak maju dengan sangat lambat melintasi lantai marmer menuju ke arah sofaku, membawa satu kotak bento di atas punggungnya seperti seekor kura-kura yang membawa beban berat.
Aku harus menggigit bibir dalam-dalam agar tidak menyemburkan tawa. Pemandangan ini benar-benar sangat konyol. Arkan berdiri di ujung dapur dengan menyilangkan tangan di dada, menatap pergerakan Si Bulat dengan wajah yang dibuat seserius mungkin, seolah dia sedang memimpin peluncuran roket ke luar angkasa.
*Bruk.*
Si Bulat mendadak menabrak kaki meja kopi dan berputar arah kembali ke dapur.
"Eh! Salah jalan! Belok kanan!" perintah Arkan pada ponselnya dengan wajah panik yang sangat lucu. Dia menekan-nekan layar ponselnya dengan cepat. Si Bulat berputar lagi, lalu kembali berjalan lurus ke arahku.
Setelah perjalanan panjang selama hampir lima menit untuk menempuh jarak lima meter, Si Bulat akhirnya tiba di depan kakiku. Aku buru-buru mencopot selotipnya dan mengambil kotak bento tersebut.
"Makanan sudah sampai," ucap Arkan dari kejauhan, suaranya terdengar agak angkuh. "Jarak aman tetap terjaga. Nilai kepatuhanku seratus persen."
"Terima kasih," balasku singkat, berusaha tetap ketus meskipun hatiku mendadak menghangat melihat usahanya yang super aneh tapi manis ini.
Kami akhirnya makan malam dalam keheningan yang dipisahkan oleh jarak lima meter. Aku di sofa, dan Arkan duduk di atas sebuah kursi kayu kecil di dekat dapur yang biasanya digunakan untuk mengambil barang di rak tinggi. Kursi itu sangat kecil untuk ukuran tubuhnya yang besar, membuat lutut panjangnya tertekuk tinggi hingga dia terlihat sangat menderita.
***
Sekitar jam sebelas malam, badai hujan disertai petir tiba-tiba melanda Jakarta. Suara gemuruh guntur menggelegar sangat keras, membuat kaca-kaca apartemen bergetar. Sejak kecil, aku selalu takut dengan suara petir yang terlalu keras.
Aku masih duduk di sofa, memeluk bantal erat-erat setiap kali kilatan cahaya putih muncul di balik jendela. Tubuhku sedikit gemetar. Gengsiku melarangku untuk berlari ke kamar Arkan untuk meminta perlindungan, jadi aku hanya bisa meringkuk di pojok sofa sambil memejamkan mata rapat-rapat.
*DUAARR!!*
Satu dentuman petir yang sangat keras terdengar tepat di atas gedung apartemen kami. Bersamaan dengan itu, seluruh lampu di dalam apartemen mendadak padam. Gelap gulita.
Aku memekik kaget, langsung menjatuhkan ponselku ke lantai. "Arkan!" panggilku refleks, rasa takut mengalahkan seluruh egoku tentang Valerie dan aturan lima meter.
Tidak ada jawaban selama beberapa detik. Ketakutanku memuncak. Aku memeluk lututku, bersiap untuk menangis di dalam kegelapan.
Namun tiba-tiba, aku mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru mendekat. Suara langkah itu sangat cepat, menabrak beberapa barang di kegelapan.
"Naura! Kamu di mana?!" suara bariton Arkan terdengar sangat panik.
"Aku di sini... di sofa," cicitku pelan.
Dalam sekejap, sebuah tubuh yang besar dan hangat langsung menerobos kegelapan, duduk di sampingku, dan menarik tubuhku ke dalam pelukannya yang sangat erat. Arkan mendekapku seolah-olah aku akan menghilang jika dia melepas pegangannya sedikit saja. Tangannya yang besar mengusap rambut belakangku dengan gerakan lembut yang sangat menenangkan.
"Aku di sini, Naura. Jangan takut," bisik Arkan tepat di telingaku. Napasnya memburu, jantungnya berdetak sangat cepat di balik dada bidangnya—bukan karena takut petir, tapi karena dia panik memikirkanku yang ketakutan.
Aku menyembunyikan wajahku di ceruk lehernya, menghirup aroma maskulin tubuhnya yang sangat kurindukan. Untuk beberapa saat, aku melupakan aturan lima meter, melupakan saputangan merah milik Valerie, dan melupakan semua perang dingin kami. Berada di dalam pelukan Arkan terasa sangat aman dan benar.
"Arkan..." bisikku pelan setelah beberapa menit keheningan berlalu dan badai di luar mulai mereda. "Aturan lima meternya... kamu langgar."
Arkan tidak melepaskan pelukannya. Dia justru semakin mengeratkan lengannya di pinggangku, menumpukan dagunya di atas kepalaku.
"Persetan dengan lima meter, Naura," ucap Arkan dengan nada ketus yang khas, namun suaranya terdengar sangat lembut dan penuh perasaan. "Ego dan gengsiku bisa kutahan seumur hidup, tapi melihatmu ketakutan sendirian di dalam kegelapan seperti ini... itu di luar batas kemampuanku. Aku lebih baik kehilangan seluruh sahamku daripada harus berdiri sejauh lima meter melihatmu menangis."
Air mata yang sejak sore tadi kutahan akhirnya menetes juga, membasahi kaus hitam yang dikenakannya.
"Lalu bagaimana dengan Valerie?" tanyaku dengan suara serak, akhirnya berani menyuarakan akar dari seluruh masalah ini. "Dia keluar dari kamar istirahatmu dengan pakaian berantakan. Dan saputangan itu..."
Arkan mendadak menjauhkan tubuhnya sedikit, menatapku di dalam kegelapan yang samar. "Valerie? Apa hubungannya dengan dia? Aku bersumpah demi apa pun, Naura, sore tadi dia masuk tanpa izin saat aku sedang rapat di bawah! Aku bahkan tidak menemuinya sama sekali!"
"Lalu kenapa catatan itu bilang kamu sangat lembut? Dan kenapa kamu menyembunyikan kertas itu dariku sambil berwajah merah?!" tantangku lagi, menuntut kejelasan.
Arkan terdiam. Di dalam kegelapan, aku bisa merasakan tubuhnya kembali menegang karena malu. Dia berdehem kaku berkali-kali sebelum akhirnya menjawab dengan suara yang sangat pelan, nyaris seperti bisikan.
"Kertas itu... itu adalah nota pemesanan pakaian tidur seksi warna merah dari butik pakaian dalam wanita, Naura," aku Arkan dengan sisa-sisa harga dirinya yang tersisa. "Hadi yang memesannya atas namaku untuk hadiah kejutan pernikahan kita. Aku menyembunyikannya darimu karena aku sangat malu! Aku takut kamu mengira aku ini suami yang berpikiran mesum saat jam kerja! Aku tidak tahu kalau ada saputangan Valerie di sana!"
Aku mengerjap-ngerjakan mataku di dalam kegelapan. Keheningan malam itu mendadak terasa sangat kocak.
"Jadi... kamu tidak membantah karena malu soal baju tidur seksi, bukan karena menyembunyikan Valerie?" tanyaku memastikan, rasa geli mulai menggelitik perutku.
"Tentu saja!" seru Arkan ketus, memalingkan wajahnya yang pasti sudah merah padam ke arah lain. "Untuk apa aku memikirkan wanita lain kalau istriku yang galak ini sudah membuatku gila setiap hari?!"
Aku tidak bisa menahan diri lagi. Aku meledak dalam tawa kecil, memeluk lehernya erat-erat, dan menyandarkan kepalaku di dadanya.
pokonya terus semangat author