NovelToon NovelToon
PEMURNIAN MUTLAK

PEMURNIAN MUTLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Action
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Takindomaru

Lin Fan, seorang pemuda dari Clan Lin yang hampir punah, dilahirkan dengan meridian tertutup—cacat bawaan yang membuatnya dijuluki "Sampah Klan" selama 16 tahun. Dihina oleh tunangannya, dicampakkan oleh kerabat, dan dipaksa bekerja sebagai pelayan, Lin Fan hidup dalam bayang-bayang rasa malu.
Namun, nasib berubah ketika ia secara tidak sengaja menemukan sebuah Manik Giok Hitam berdarah di reruntuhan kuno keluarganya. Manik itu tidak memberinya kekuatan instan, melainkan kemampuan terlarang: "Pemurnian Mutlak". Ia bisa mengubah limbah qi menjadi esensi murni, menyempurnakan pil sampah menjadi obat dewa, dan melihat kelemahan setiap teknik musuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Takindomaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Jejak Kutukan dan Hutan Kabut Hitam

Lin Fan berlari tanpa henti, paru-parunya terasa seperti terbakar. Setiap langkahnya meninggalkan jejak energi hitam samar di atas tanah—sisa residu dari Pedang Kutukan yang sempat ia pegang. Meskipun hanya beberapa detik, aura kebencian murni dari artefak terkutuk itu telah meresap ke dalam meridiannya, bercampur dengan Qi es miliknya.

Rasa dingin yang biasanya menenangkan dari Manik Giok kini terasa menusuk, seolah-olah ada dua aliran energi yang bertentangan di dalam tubuhnya: Es murni dari warisan Mo Han, dan Kebencian gelap dari Pedang Kutukan.

"Sial," geram Lin Fan sambil menekan dadanya. Rasa sakit itu bukan fisik, melainkan mental. Bisikan-bisikan halus terdengar di kepalanya, menjanjikan kekuatan jika ia menyerah pada kemarahan. "Bunuh mereka... Hancurkan semua... Ambil apa yang menjadi hakmu..."

Lin Fan menggigit lidahnya hingga berdarah, menggunakan rasa sakit tajam itu untuk menjaga kesadarannya tetap jernih. Ia tidak bisa berhenti. Jika ia berhenti, kutukan itu akan mengambil alih pikirannya.

Ia mengubah arah, menjauh dari jalur utama menuju pegunungan utara, dan masuk lebih dalam ke area yang dikenal sebagai Hutan Kabut Hitam. Daerah ini jarang dikunjungi bahkan oleh pemburu beast karena kabut abadi di dalamnya mengandung racun halus yang dapat mengaburkan indra dan menyebabkan halusinasi.

Bagi orang biasa, ini adalah tempat kematian. Bagi Lin Fan, yang memiliki Manik Giok yang mampu memurnikan racun, ini adalah tempat persembunyian terbaik.

Setelah satu jam berlari, Lin Fan menemukan sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik air terjun beracun. Ia masuk, menutup pintu masuk dengan batu besar, dan akhirnya membiarkan dirinya ambruk.

Tubuhnya gemetar hebat. Keringat dingin bercucuran dari dahinya. Matanya berkedip-kedip, melihat bayangan-bayangan hitam menari di dinding gua.

"Manik Giok... bantu aku..." bisiknya lemah.

Ia duduk bersila, memaksa fokusnya kembali ke Dantian. Manik Giok berputar lambat, cahayanya redup karena kelelahan. Lin Fan mulai menjalankan Sutra Nafas Embun Beku, menarik energi Yin dari udara lembap gua untuk mendinginkan darah panasnya.

Perlahan-lahan, energi hitam dari kutukan pedang mulai terpisah dari Qi-nya. Manik Giok bekerja keras, menyaring kotoran mental itu dan membuangnya keluar melalui pori-pori kulit Lin Fan sebagai uap hitam pekat.

Proses pemurnian ini memakan waktu berjam-jam. Saat Lin Fan akhirnya membuka matanya, matahari sudah terbenam. Tubuhnya terasa ringan, tapi lelah luar biasa. Namun, ada perubahan.

Qi-nya sekarang memiliki sifat baru. Selain dingin dan tajam, ada sedikit unsur ketajaman mental yang tersisa dari kutukan itu. Ia bisa merasakan emosi orang lain dari jarak jauh, sebuah kemampuan deteksi dini yang berguna.

"Aku selamat," gumam Lin Fan. "Tapi Elder Mo tidak akan berhenti."

Ia tahu Clan Lin pasti sudah menyebarkan deskripsinya ke seluruh penjaga kota dan klan sekutu. Dia tidak bisa kembali ke peradaban untuk sementara waktu. Dia perlu bertahan hidup di hutan ini, memperkuat diri, dan mencari cara untuk mengalahkan Elder Mo tanpa harus berhadapan langsung dengan kekuatan Fondasi Akhir.

Tiba-tiba, telinganya menangkap suara langkah kaki di luar gua. Bukan beast. Manusia. Dan bukan satu orang. Tiga.

Lin Fan segera mematikan cahaya di sekitarnya dengan memadamkan lumut fosfor, lalu menyelinap ke celah sempit di belakang gua.

Dari celah itu, ia mengintip.

Tiga sosok berdiri di depan air terjun beracun. Mereka mengenakan jubah hitam dengan lambang bulan sabit terbelah di dada.

Sekte Bulan Terbelah.

Pembunuh bayaran lagi?

Salah satu dari mereka, seorang wanita dengan rambut perak pendek, berbicara dengan suara dingin. "Jejak energinya berakhir di sini. Racun air terjun ini seharusnya membunuh siapa pun yang lewat, tapi dia punya kemampuan pemurnian. Dia pasti bersembunyi di dalam."

"Cari sampai ketemu," perintah pria bertopeng besi di sampingnya. "Elder Mo menawarkan harga ganda untuk kepala Lin Fan. Hidup atau mati, asalkan Manik Giok-nya utuh."

Lin Fan mengerutkan kening. Elder Mo tidak hanya mengirim pasukan Clan Lin. Dia juga menyewa Sekte Bulan Terbelah. Ini berarti Elder Mo sangat takut Lin Fan akan membocorkan rahasianya atau menjadi terlalu kuat untuk dikendalikan.

"Wanita itu..." Lin Fan mengamati gerakan wanita berambut perak. Auranya stabil, tajam. Level 8 atau awal Fondasi. Dua lainnya Level 6-7.

Lin Fan tidak bisa bertarung melawan tiga pembunuh elit sekaligus, terutama di kondisi tubuhnya yang belum pulih sepenuhnya. Tapi dia punya keunggulan: Medan pertempuran.

Air terjun beracun itu adalah kunci.

Lin Fan menunggu hingga ketiga pembunuh itu mulai menyebar, memeriksa setiap celah batu di sekitar air terjun.

Saat wanita berambut perak mendekati pintu masuk gua Lin Fan, Lin Fan bertindak.

Dia tidak menyerang wanita itu. Dia melemparkan sebuah botol kaca kecil berisi cairan hijau kental—ekstrak racun laba-laba hutan yang ia kumpulkan siang hari—ke arah dasar air terjun, tepat di mana arus air paling deras.

Botol itu pecah.

Racun larut dalam air.

Arus air terjun yang jatuh ke kolam di bawahnya tiba-tiba berubah warna menjadi hijau neon. Uap beracun yang naik dari kolam menjadi sepuluh kali lebih pekat dan korosif.

"Awas! Racun!" teriak pria bertopeng besi.

Tapi terlambat. Wanita berambut perak, yang berdiri paling dekat dengan cipratan air, menghirup uap itu. Wajahnya langsung membiru, kulitnya melepuh seketika. Dia terbatuk darah, jatuh berlutut.

Dua pembunuh lainnya panik, mundur cepat untuk menghindari uap beracun.

Dalam kekacauan itu, Lin Fan melesat keluar dari celah belakang gua. Dia tidak lari menjauh. Dia menyerang.

Targetnya: Pria bertopeng besi yang sedang sibuk membantu rekannya.

Dengan Teknik Langkah Bayangan, Lin Fan muncul di belakang pria itu. Tinju kanannya, dilapisi es dan sisa energi kutukan yang tajam, menghantam punggung leher pria itu.

Krak!

Tulang leher pria itu patah seketika. Dia roboh tanpa suara.

Pembunuh ketiga, seorang pria kurus dengan dua pisau, menyadari serangan itu. Dia berbalik, melemparkan pisau ke arah Lin Fan.

Lin Fan menepis pisau itu dengan lengan bajunya yang telah dikeraskan oleh Teknik Napas Besi, lalu menerjang maju. Dia tidak memberikan kesempatan lawan untuk bernapas. Serangan bertubi-tubi dengan tinju dan siku, memanfaatkan kecepatan dan kejutan.

Pembunuh itu terdesak. Dia mencoba memanggil bantuan, tapi rekannya sudah mati atau lumpuh.

Akhirnya, Lin Fan menemukan celah. Dia menendang lutut pembunuh itu, membuatnya jatuh, lalu menempatkan pisau kecilnya di tenggorokan musuh.

"Siapa yang memerintahkan kalian selain Elder Mo?" tanya Lin Fan dingin, mata nya bersinar putih.

Pembunuh itu tertawa terbahak-bahak, darah mengalir dari mulutnya. "Kau pikir kau menang, anak kecil? Elder Mo bukan satu-satunya yang menginginkan kepalamu. Ada pihak lain... pihak yang lebih tua... yang tahu tentang Manik Giok."

"Pihak siapa?" desak Lin Fan, menekan pisau lebih dalam.

"Sekte... Langit... Merah..." bisik pembunuh itu sebelum matanya membelalak dan nyawanya melayang. Racun bunuh diri di giginya telah aktif.

Lin Fan melepaskan tubuh itu, wajahnya gelap. Sekte Langit Merah? Nama itu tidak asing baginya. Itu adalah sekte kultivasi elemen Api yang agresif dan suka memperluas wilayah atau pengaruhnya, rival abadi dari banyak sekte elemen Yin/Es di benua ini.

Mengapa Sekte Langit Merah tertarik padanya?

Apakah Manik Giok memiliki koneksi dengan mereka juga? Atau apakah mereka hanya ingin menghancurkan potensi pesaing?

Lin Fan tidak punya waktu untuk memikirkan itu. Suara sirine alarm dari arah kota terdengar samar. Pasukan Clan Lin pasti sudah dekat.

Ia mengambil cincin penyimpanan dari mayat para pembunuh, mengumpulkan senjata dan obat-obatan mereka, lalu menghilang ke dalam kegelapan Hutan Kabut Hitam yang lebih dalam.

Lin Fan menatap ke arah bintang-bintang yang tertutup kabut tebal.

"Aku akan bertahan," bisiknya pada kegelapan. "Dan suatu hari, aku akan membuat kalian semua menyesal."

1
Jojo Shua
😄
Jojo Shua
✅️
Daryus Effendi
masih lai bosan baca nya jarna mulai bab ini mulai bertele tele.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!