Anyelir, gadis pekerja keras yang tak mengandalkan orangtuanya dalam menata masa depan pilihannya sendiri. Tiba-tiba harus mengabulkan satu-satunya permintaan papanya yaitu menikah dengan anak teman papanya.
Diandra, seorang pengusaha yang ditinggalkan oleh orang yang sangat dicintainya. Apakah kehadiran Anyelir mampu melupakan kekasihnya itu?
Atau mereka akan memilih jalan berbeda?
#slow update
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jojo Natasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Memaafkan
Seharian setelah menjemput Diandra di apartemennya, Anyelir seperti berpuasa bicara dengan Diandra. Merasa sedang mendapat serangan kemarahan dari Anyelir, Diandra hanya mampu diam dan bertahan di samping Anyelir hingga istrinya itu mau berbicara lagi dengannya. Walau ini bukan murni kesalahannya, tapi Diandra mengerti akan kemarahan Anyelir. Dengan begini dia sedikit banyak mengerti jika istrinya telah memiliki perasaan padanya. Ada rasa bahagia di atas rasa sedih yang dia rasakan saat ini. Biarlah dia memberi waktu kepada Anyelir untuk berpikir dan mau memaafkannya.
Malam ini Anyelir memilih kembali tidur di kamarnya. Entah mengapa dia tidak terima setiap ingat jika semalam Diandra tidur dengan perempuan lain. Entah kategori tidur yang mana Anyelir tidak peduli. Anyelir merasa dibohongi dan tidak dianggap. Bagaimana bisa Diandra telah berjanji pulang, tapi malah tidak pulang dengan hanya mengirim sebuah pesan yang berisi alamat apartemennya. Anyelir tidak mengerti maksud Diandra, tapi dia sedang tidak ingin bertanya atau berdebat. Dia hanya ingin sendiri malam ini. Menenangkan hati dan pikirannya.
Setelah lelah dengan pikiran masing-masing, sepasang suami istri itu tidur di kamar masing-masing dengan beban hati masing-masing.
Pagi hari, suasana itu masih terus berlanjut. Tanpa berbicara, Diandra hanya duduk mengawasi Anyelir dari jarak yang tak terlalu jauh. Mencoba mencari celah agar bisa berbicara dengan istrinya yang sedang merajuk itu. Tanpa sadar, senyum terkembang di bibir Diandra memikirkan keadaan mereka pagi itu. Mereka berada begitu dekat, namun tidak ada kata di antara mereka.
" Fir, bisa kita ngomong sebentar?" Dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan antara takut Anyelir semakin marah, pengen tertawa melihat keadaan atau bahagia karena istrinya cemburu. Namun yang diajak bicara belum mau membuka mulutnya atau melangkah duduk di sampingnya.
" Fira.." Diandra melembutkan nada suaranya.
" Fira sayang.."
Mendengar kata sayang dari bibir Diandra, Anyelir merasa begitu kesal membayangkan jika panggilan itu juga biasa Diandra gunakan kepada banyak perempuan.
" Gak usah ngomong."
" Tapi ada yang harus aku jelasin ke kamu, masak gak boleh ngomong."
" Gak perlu."
" Jadi lebih suka salah paham ya?"
" Apaan sih. Gak penting juga."
" Kalau gak penting kok ngambeknya lama banget. Maaf ya kalau aku dah buat kamu maran."
Melihat respon Anyelir yang tetap diam. Diandra melanjutkan ucapannya.
" Perempuan yang kamu lihat di apartemenku kemarin itu namanya Rachel."
" Terus?"
" Aku jujur aja sama kamu ya. Terserah kamu mau percaya atau gak. Tapi yang pasti gak ada apapun yang aku tutupi dari kamu. Rachel itu perempuan yang dulu pernah aku bilang sebagai orang yang telah mengisi hatiku sebelum kita menikah. Apa kamu ingat?"
" Ya."
" Tapi sekarang aku cuma pengen menjalani hubungan yang sudah kita pilih ini dengan baik. Mungkin kita bisa jatuh cinta berulangkali tapi aku cuma mau menikah sekali. Dan itu sama kamu Fira. Memang salah kemarin dia ada di apartemenku. Tapi yakinlah keadaan itu bukan aku yang minta Fir. Dia sudah di sana waktu aku kembali." Diandra menjeda kata-katanya, menunggu reaksi Anyelir. Namun ternyata tidak ada reaksi apapun, hanya kediaman yang semakin menjadi.
" Hingga tiga bulan yang lalu, aku memang masih mengharapkan dia kembali. Makanya, semua yang ada di sana masih tetap seperti sebelumnya. Sama saat dia ada di sana, bahkan code akses pun masih sama. Mungkin itulah yang menyebabkan dia ada di sana kemarin. Sehabis telepon kamu kemarin, aku langsung mau pulang dan aku mau Rachel juga pergi dari sana. Tapi dia maksa untuk ditemani makan sebelum pergi. Aku gak makan Lo Fir. Cuma minum jus. Dan setelah itu aku gak ingat apa-apa. Tahu-tahu dah pagi dan kamu ada di sana." Diandra sedikit merasa frustasi yang terlihat dari cara Diandra mengacak-acak rambut dan berulang-ulang mengusap wajahnya. Diandra hanya ingin Anyelir mengerti, tapi dia bingung bagaimana cara mengungkapkan agar istrinya itu bisa mengerti dan tidak ada salah paham di antara mereka.
" Aku bersumpah gak ada ngelakuin apapun sama dia Fir. Aku berani jamin itu. Jadi tolong percaya. Aku gak ada maksud untuk mengkhianati kamu. Jangan kamu berniat pergi ya. Dan jangan juga hukum aku begini. Aku gak bisa Fir. Tolong." Pinta Diandra sambil menghampiri Anyelir. Membawa perempuan itu ke dalam pelukannya. Tak ada penolakan walau tidak ada juga sambutan. Tapi Diandra mengerti jika Anyelir sudah mulai mengerti keadaannya.
" Kamu gak marah lagi kan Fir?" Anyelir masih diam walau wajahnya sudah tidak sekaku sebelumnya. Melihat keadaan ini, Diandra mencoba mencari celah agar istinya mau tersenyum kembali.
" Fir..."
" Fira.."
" Zafira.."
" Zafira Rahma Rahadiansyah."
Mendengar cara Diandra memanggil namanya, Anyelir ingin sekali tertawa
Bagaimana bisa seorang Diandra memanggilnya dengan begitu manja. Mimpi apa dia pagi ini. Namun Anyelir masih mencoba bertahan untuk memastikan kesungguhan Diandra. Dan ketika Diandra membawanya kembali ke dalam pelukannya, ada perasaan yang tidak bisa dia definisikan sebab seperti bada yang merayap di seluruh tubuhnya. Dan dia tidak mampu menolaknya.
" Anyelir, aku sayang kamu. Tetaplah di sisiku ya." Bisik Diandra sambil mempererat pelukannya. Menghirup setiap aroma tubuh Anyelir. Aroma yang telah menjadi kesukaannya. Dulu dia begitu percaya diri untuk tidak jatuh cinta pada perempuan yang dipilihkan oleh orang tuanya. Tapi ternyata dia kalah dengan egonya sendiri. Sebab perempuan yang kini ada dalam pelukannya ini adalah perempuan yang sulit ditolak pesonanya. Hingga begitu mudahnya Diandra jatuh dan menyerah kalah serta tertawan di penjara milik Anyelir. Diandra telah siap memilih melepas semua masa lalunya dan kemudian menata masa depan bersama perempuan penuh pesona ini.
Anyelir mengangguk dan mempererat pelukan Diandra. Ada rasa bahagia pagi ini di antara dua manusia yang semakin jatuh cinta itu.
tbc
Maafkan jika update tak pasti 🙏🙏🙏
Tapi tolong tetap jadikan favorit ❤️, like 👍, vote 🌟 dan
Terimakasih
lanjut ya author aku menunggu mu😘
kirain dah pada pindahan semua 🤭