Info novel ada di ig syifa_sifana
Kelanjutan dari novel Terpaksa Menikahi Mantan
Niat kembali ke tanah air untuk melanjutkan kuliah, namun malah menguakkan sebuah rahasia besar.
Pertemuan yang tak disengaja membuat mereka saling memusuhi karena sebuah kejadian yang memalukan. Bersumpah tak ingin mengenal malah terjerat sebuah ikatan.
Inilah lika liku sepasang kekasih yang mejilat air ludahnya sendiri.
Bila cinta sudah berbicara, seberapa hebat dan sombongnya kamu maka akan tunduk pada orang yang kamu cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Sifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan dan Rahasia (2)
Semua orang sudah berkumpul menunggu dokter keluar dari ruangan. Segala doa mereka panjatkan berharap dokter cepat keluar dan memberikan kabar bahagia. Mata Mera terus menatap mereka satu persatu dengan tatapan tajam. Ia mulai merekam semua wajah mereka yang telah menyakiti hati mommy-nya, meskipun ia tidak tahu kejadian yang sebenarnya, namun ia dapat merasakan bahwa Melisa kabur dari rumah karena keluarga mereka merestui perselingkuhan Raka dengan Marisa.
Kini dokter telah keluar dari ruangan dengan membawa kabar bahagia. Bahu mereka semua langsung merosot lega dan terlihat senyum syukur di bibir masing-masing. Kiano dan Amel sudah mulai membaik dan hanya menunggu siuman saja, itulah yang dikatakan dokter.
Marisa dengan penuh semangat ingin masuk menemui Kiano. “Stop! Jangan pernah kamu melangkahkan kakimu untuk masuk ke dalam ruangan itu!” tegas Mera menatap tajam.
Semua orang tersentak dengan ucapan Mera yang sangat lantang. “Kenapa saya tidak boleh masuk?” tanya Marisa heran.
“Seorang pelakor tidak pantas berdekatan dengan kami,” ketusnya dengan lirikan sinis.
“Mera, jangan ngomong seperti itu!” tegur Melisa dengan tatapan tak bersahabat.
“Tapi ....”
“Sudah! Sebaiknya kita masuk,” sambung Melisa menarik tangan Mera, lalu masuk ke dalam ruangan.
Marisa hanya bisa menahan pahitnya perkataan Mera. Tidak bisa dipungkiri, status sebagai istri kedua memang dipandang hina. Kata-kata pelakor itulah yang tertanam dalam benak pikiran manusia.
Melihat wajah Marisa yang sudah kuyup, Talita merasa semakin bersalah. Dialah dalang dibalik semua tragedi ini. Kebahagian yang ia dambakan, ternyata malah berbuah kesedihan. Tapi apalah daya, nasi sudah menjadi bubur, sekuat apapun kata penyesalan melebur di hati, tetap saja tak bisa mengubah masa lalu. Hanya kata maaf yang selalu terlontarkan dari bibir Talita dan sebuah harapan yang semu.
Air mata Melisa jatuh seketika saat melihat kedua anaknya terbaring di atas brankar dengan kepala yang sudah di perban. Perlahan dia berjalan menghampiri Kiano, anak yang ia tinggal sejak kecil. Pertemuan yang ia harapkan bisa menjadi pertemuan yang mengesankan, tapi ternyata malah menjadi pertemuan yang penuh duka.
“Kiano, anak Mommy.” Kata-kata penuh kerinduan terlontarkan dari mulut Melisa. Ia memegang tangan Kiano, lalu menciumnya.
Mera berjalan menghampirinya. Ia masih tidak percaya dengan kenyataan yang ada. Semua rahasia yang tersimpan begitu rapat kini mulai terkuak sedikit demi sedikit.
“Mommy, kenapa Mommy tidak memberitahukan kejadian yang sebenarnya?” tanya Mera penasaran.
Melisa tergeming. Ingatan masa lalu kembali terlintas dipikirannya. Sesak di dadapun tak terelak lagi.
“Maafkan Mommy. Ini semua tidak ada hubungannya dengan kalian. Biarkan ini menjadi hubungan Mommy dan papa kalian,” jawab Melisa tidak ingin anak-anaknya terlibat dalam perang batinnya.
“Kenapa, Mom? Mera ini anak Mommy, kenapa Mommy masih menutupi segalanya dari kami?” desaknya.
“Sudah! Mommy tidak ingin membahas masalah itu lagi. Sekarang yang terpenting adalah kesembuhan kakak-kakakmu,” ucap Melisa berdalih.
Mera mendengus kasar. Meskipun Melisa menutup mulut, ia tetap akan berusaha mencari tahu kebenarannya. Sehingga rasa penasarannya bisa segera terjawab.
Sesaat kemudian, Raka masuk dan menghampiri mereka. “Anak-anak belum sadar?” tanya Raka.
“Ini orang bodoh atau apa sih? Gak lihat apa mereka masih menutup mata,” gumam Mera melirik sinis.
“Mera, bisa tidak kamu jangan bersikap kasar dengan Papamu?” Sorotan mata Melisa terlihat tajam.
“Sudah, sudah, biarkan saja,” ucap Raka menengahi.
“Tapi dia tidak bisa berperilaku kasar terhadap Papanya sendiri,” sahut Melisa kesal.
“Biarkan saja. Mungkin Mera masih syok,” timpanya penuh pengertian.
“Jangan sok membela aku, karena aku gak butuh itu,” ketus Mera. Api amarahnya masih berkobar-kobar dalam hati, seakan ingin segera menyingkirkan semua orang yang telah menyakiti ibunda tercintanya.
Raka hanya bisa bersabar atas perlakuan anak bungsunya itu. Ia tahu ini adalah hukum karma atas kesalahan yang pernah dilakukannya dulu.
Malam semakin larut, Melisa meminta Mera untuk pulang bersama dengan Bibi Sri. Sempat menolak karena tidak ingin membiarkan Melisa tinggal bersama dengan Raka, tapi permintaan Melisa dengan wajah melas tak bisa menundanya untuk berlama-lama di sana. Sebuah tatapan tajam dan mengancam mengakhiri perjumpaan Raka dan Mera.
Kini suasana rumah sakit semakin sunyi. Mata Melisa sudah melek, tapi ia paksakan untuk bisa tetap kuat begadang demi ke dua buah hatinya.
“Tidurlah! Biar aku yang jagain mereka,” ucap Raka menghampirinya.
“Kalau kamu sudah ngantuk, tidur saja. Aku masih mau menunggu mereka siuman,” sahut Melisa bersikeras.
“Kamu masih saja seperti dulu, keras kepala dan tak pernah ingin mendengarkanku,” celetuknya menyeringai saat file masa lalu terbesit dalam ingatan.
Melisa mematung. Kenangan indah saat bersama membuat hati berbunga-bunga, tapi kepedihan karena pengkhianatan cinta lebih sakit dan membekas.
“Jangan pernah mengungkit lagi masa lalu yang pernah terjadi di antara kita, karena aku tidak ingin mengingatnya lagi,” balas Melisa langsung to the point.
Raka mendengus kasar dan tersenyum pahit seraya menelan pedihnya duka.
“Aku ingin ....”
“Stop! Apa kamu tidak paham dengan ucapanku?” tanya Melisa meninggikan suaranya.
“Maafkan aku. Aku pergi,” lirih Raka beranjak pergi. Suara lantang Melisa masih membekas di hati, sejauh mereka bercinta belum pernah ia melihat kemarahan yang mendalam pada diri Melisa. Sosok wanita yang terkenal dengan kelembutannya kini berubah menjadi bara api yang sangat panas. Jujur saja, amarah kali ini lebih berbahaya daripada amarah yang dulu saat Raka meninggalkannya demi menikahi Bella.
“Hiks ... hiks ....” Suara tangisanpun lolos dari bibir mungilnya seraya menenggelamkan wajahnya pada tangan Kiano.
“Kenapa, kenapa ini semua harus kembali terjadi? Kenapa luka yang sudah mulai mengering harus kembali basah? Kenapa aku harus kembali melihat wajah yang sudah susah payah kulupakan? Kenapa takdir sekejam ini padaku?”
Menangis, meluapkan semua kesedihannya, kini Melisa pun tertidur dalam tangisannya.
Setelah sekian lama Raka menenangkan dirinya di luar dengan memandang bulan purnama dan sejuknya angin yang menyentuh kulit, kini Raka pun kembali.
Krek ...
Perlahan Raka membuka pintu dan melihat Melisa sudah tak terbergerak, mungkin dia sudah tidur, batinnya. Langkah kakinya berjalan menghampirinya. Dengan sigap ia menggendongnya lalu merebahkan tubuhnya di sofa.
Getaran cinta kembali terasa saat memandang wajah sang pujaan hati dari jarak yang sangat dekat. Bibirpun tergerak untuk mencium keningnya. Segala kerinduaan tertuntaskan dan hasratpun melebur menuntut lebih.
“Hummy, aku sangat mencintaimu, dulu, sekarang dan selamanya. Mungkin luka yang kutorehkan dalam hatimu lebih perih dibandingkan dengan kesedihan yang kutanggung selama bertahun-tahun. Kamu adalah napas bagiku. Kepergianmu sempat membuat aku kehilangan gairah hidup. Aku selalu berharap kamu kembali padaku dan kita memulai kehidupan yang baru tanpa ada campur tangan orang lain atas cinta kita. Tapi kenapa kembalinya kamu padaku malah dengan cara seperti ini? Masih adakah sisa cinta di hatimu untukku, meskipun itu lebih kecil daripada debu? Biarkan aku menaung dalam cintamu seiring dengan kesempatakan untukku menebus dosa.”
Itu bersaudara.
panggilan itu, aku tidak bisa melupakannya sampai sekarang.
jika aku merindukannya aku sangat berdosa, tp apa yg harus aku lakukan? maafkan aku tuhan, i really miss him:')