Memiliki tubuh obesitas ternyata membuat Amanda dibenci orang-orang di sekeliling, keluarga yang selama ini dia percaya. Di saat usianya berusia 10 tahun ibunya pergi meninggalkannya membuatnya hidup bersama sang ayah.
Hidupnya sejak kecil begitu sempurna nyaris tidak pernah merasakan kesulitan, ketika sang ayah menikah dengan teman masa SMA- ya yang sudah memiliki dua Putri. Amanda justru mendapatkan kasih sayang dari ibu tirinya.
Tetapi siapa sangka Amanda menyadari semua itu hanyalah sandiwara ketika dia sudah dewasa. Tubuhnya yang gendut dengan wajah yang jelek, cupu membuat keluarganya jijik kepadanya, kematian ayahnya membuat penderitaan hidupnya semakin bertambah.
Pria yang dia nikahi baru 1 bulan ternyata memiliki hubungan dengan saudara tirinya, dikhianati oleh keluarganya sendiri membuat Amanda nyaris ingin mengakhiri hidup.
Tetapi semangatnya kembali dalam bentuk pembalasan ketika semua berlalu dia datang dengan penampilan yang sempurna bahkan nyaris Tidak dikenali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 Tidak Terduga
Amanda baru saja tiba di apartemennya, Amanda membaringkan tubuhnya di atas ranjang terlihat begitu sangat lelah.
"Huhhhh, banyak sekali proses pembuatan hari ini dan belum lagi pria itu harus kembali aku temui, ada apa dengan ekspresi wajahnya? apa dia tidak suka aku menjadi model di perusahaan itu? Tidak tahu saja jika perusahaan itu milik kedua orang tuaku, wajahnya begitu dingin, sudah seperti orang benar saja," ucap Amanda jika mengingat Egar dan justru membuatnya semakin kesal.
"Lalu kapan aku memperlihatkan diriku yang sebenarnya kepada mereka? Mereka tidak terlalu mengenaliku meski sudah bertemu denganku, tapi aku tidak ingin mereka tidak mengenaliku dan mereka harus tahu jika aku sudah kembali, pasti ada waktu yang tepat untuk memperlihatkan diriku yang sebenarnya pada mereka," ucap Amanda menghela nafas.
Amanda tiba-tiba saja terdiam, Amanda dengan cepat duduk dengan mengambil tasnya untuk mencari ponselnya.
"Kenapa Dokter Devano tidak pernah menghubungiku dan bahkan aku sudah beberapa kali meneleponnya, tetap saja tidak tersambung? Apa dia sudah mengganti nomor ponselnya? kenapa? Apa dia marah padaku dan ingin memutus hubungan komunikasi denganku?" Amanda overthinking dengan apa yang terjadi.
"Ya, jika situasi sudah memungkinkan aku pasti akan ke Australia untuk sesekali menemui Dokter Devano, bagaimanapun beliau selama ini adalah orang yang membantuku dan membuatku menjadi seperti sekarang dan aku tidak akan pernah melupakan jasa beliau," ucap Amanda.
Amanda sedikit merasa kecewa karena tidak bisa berkomunikasi dengan Devano, tetapi tujuannya untuk kembali ke Indonesia ingin mengambil semua kembali milik keluarganya dan terlebih lagi untuk membalas dendam kepada orang-orang yang telah menyakitinya.
******
Amanda kembali menjalani pemotretan. Amanda selalu terlihat fresh dan kali ini dia menggunakan dress panjang di bawah lututnya, warnanya selalu cerah karena sesuai dengan produk yang dia pegang saat ini.
Rambutnya tampak lucu dengan diberi kelabang yang berada di sebelah kirinya, kelabang itu besar-besar dan diberi beberapa bunga yang membuatnya benar-benar sangat cantik dan lucu.
Amanda menjalani aktivitasnya dengan sungguh-sungguh, banyak orang yang memuji kecantikannya.
Gina terlihat berjalan buru-buru di koridor.
"Aku harus buru-buru melihat hasil pemotretan Amanda dan semoga saja di masih nyaman melakukan pemotretan ini," ucap Gina dengan melanjutkan langkahnya. Gina harus berpapasan dengan Maudy yang Gina menundukkan kepala.
"Egar ada di ruangannya?" tanya Gina.
"Tidak Nona. Pak Egar mungkin sedang berada di lantai bawah di tempat pemotretan," jawab Gina.
"Apa pemotretan yang kamu maksud adalah pemotretan produk baru yang dikeluarkan oleh perusahaan?" tanyanya memastikan.
"Benar Nona," jawab Gina.
"Lalu itu artinya modelnya saat ini melakukan pemotretan itu?" tanyanya kembali.
Gina menganggukkan kepala, "baiklah Nona kalau begitu saya permisi dulu, saya ingin memantau pemotretannya terlebih dahulu," ucap Gina menundukkan kepala dan langsung pergi.
"Aku penasaran dengan model yang telah direkrut Egar untuk menggantikanku," ucap Maudy melanjutkan langkahnya.
Maudy benar-benar penasaran ingin melihat siapa model yang telah menggantikan dirinya dan saat ini dia sudah berada di tempat pemotretan yang kali ini dilakukan di taman di belakang perusahaan.
Seperti biasa banyak kru yang bertugas dan termasuk Maudy menemukan kekasihnya yang berdiri di depan layar monitor yang juga memantau pemotretan tersebut.
Maudy menghela nafas dan kemudian melanjutkan langkahnya dengan mendekati pemotretan itu. Mata Maudy melihat secara langsung ke arah Amanda yang melakukan pemotretan dengan profesional dan senyumnya yang merekah dan terlihat begitu fresh.
"Wanita itu bukankah......" Maudy mengingat pernah bertemu dengan Amanda di depan Restoran.
"Kenapa wajahnya tidak asing menurutku? Apa aku sebelum itu aku pernah bertemu dengannya?" Maudy harus memperhatikan wanita tersebut.
Ternyata Amanda menyadari keberadaan Maudy yang membuat Amanda juga melihat ke arah Maudy. Amanda tersenyum penuh arti kepada Maudy yang membuat Maudy mengerutkan dahi seperti ada tantangan dari seorang matanya.
"Amanda, senyumnya sedikit dilebarkan!" fotografer tersebut memberikan arahan dan mungkin saja Amanda sudah mulai tidak fokus.
"Oke, kita sebaiknya break sebentar!" ucap kru tersebut menghentikan pemotretan.
Egar yang sejak tadi memang menghela nafas dan melihat layar monitor bagaimana pemotretan Amanda benar-benar sempurna dan tidak ada yang perlu diragukan. Egar harus mengakui jika produk itu memang cocok untuk Amanda.
Saat ingin berbalik badan Egar dikagetkan dengan keberadaan Maudy sudah berdiri di sebelahnya dan masih keras menatap Amanda.
"Maudy!" tegur Egar.
"Ha! Iya," sahut Maudy dengan dahi mengkerut.
"Sejak kapan kamu berada di sini?" tanya Egar.
"Aku ingin bicara sebentar dengan kamu!" ajak Maudy ya langsung menarik tangan kekasihnya itu yang Egar tidak sempat menolak dan sementara Amanda memperhatikan bagaimana Maudy berjalan begitu cepat dengan membawa kekasih.
Amanda tersenyum miring melihat kepergian Maudy, entahlah Maudy menyadari dirinya atau tidak tetapi wajah Maudy terlihat panik.
"Amanda!" lamunan Amanda terbuyarkan dengan Gina yang menegurnya.
"Iya kenapa?" tanya Amanda.
"Ini aku bawakan salat kesukaan kamu," ucap Gina terlihat begitu excited memberikan makanan tersebut kepada Amanda yang membuat Amanda tersenyum.
"Makasih ya," ucap Amanda.
Gina menggunakan kepala.
Sementara Egar yang sejak tadi ditarik oleh kekasihnya itu akhirnya melepaskan tangannya sendiri.
"Maudy kamu apaan sih main tarik begitu saja?" Egar tampak begitu kesal yang saat ini berdiri di hadapan Maudy
"Siapa wanita yang menjadi model itu?" tanyanya.
"Maksud kamu?" Egar bertanya kebingungan.
"Yang menggantikanku untuk menjadi modal dari produk terbaru dari perusahaan ini?" tanyanya.
"Bukankah tadi kamu ada di sana dan sudah melihat wanita itu siapa?" tanya Egar.
"Maksudku siapa dia? dari agensi mana?" tanya Maudy.
"Kamu kenapa sih tiba-tiba harus seperti ini? Untuk urusan pemilihan modal itu diserahkan Gina, aku juga tidak terlalu mengenalnya dan yang aku tahu namanya Amanda," jawab Egar.
"Amanda!" pekik Maudy, mendengar nama itu membuat jantungnya berdebar kencang seperti ada sesuatu yang terselubung di antara nama itu.
"Ya, Amanda, pada akhirnya dia yang menjadi model untuk menggantikan kamu, sudah menjalani pemotretan beberapa kali dan hasilnya cukup maksimal dan sesuai dengan harapan dan aku tidak mengerti mengapa kamu tiba-tiba harus membahas model itu kepadaku," ucap Egar kebingungan dengan kekasihnya itu.
"Sungguh aku pernah bertemu dengannya, wajahnya memang tidak asing," batin Maudy.
Sampai saat ini dia masih berusaha untuk mengingat siapa Amanda, tetapi mengenali wajahnya benar-benar sangat sulit karena adanya perubahan 100% yang membuat Maudy tidak bisa dengan cepat mengingat wanita tersebut dan Egar masih memperhatikan kekasihnya yang terlihat gelisah.
Egar juga pasti kebingungan dengan kekasihnya yang tiba-tiba saja harus mencampuri urusan pekerjaannya.
Bersambung.....