Aisyah Safitri, menerima pinangan dari Hanif, seorang dosen yang terkenal soleh dan baik hati.
Awal pernikahan mereka, memang terlihat seperti rumah tangga orang lain pada umumnya, yang bergitu romantis dan harmonis.
Tapi siapa sangka, dibalik keharmonisannya itu, tersimpan sebuah rahasia, yang membuat rumah tangga mereka berada di ujung tanduk.
Akankah perceraian terjadi di antara keduanya? Dan mampukah, Aisyah mempertahankan rumah tangganya? Apa sih rahasia penyebab itu semua?
Yang penasaran, yuk lanjut baca aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkejut Tidak Percaya
"Apa yang kau bilang Nara, aku tidak mungkin menikahi mu, aku sudah memiliki istri," kilah Hanif.
"Apa! Mas bilang tak mungkin menikahi ku?" Nara langsung berdiri dari duduknya. Ia benar-benar tak habis pikir atas kenyataan yang terjadi sekarang ini.
"Mas! Kau sudah berjanji kepadaku, kepada almarhum nenekku, kalau kau akan menikahi ku, mempersunting ku dan menjadikanku istri bagi dirimu! Ke mana janji itu Mas! Apa kau melupakannya hah!" Emosi Nara kini sudah tak bisa terkendalikan, ucapannya begitu meledak-ledak keluar dari mulutnya itu.
Seluruh orang yang berada di cafe langsung menyorot, memperhatikan mereka berdua, dengan wajah-wajah yang kebingungan dan penasaran.
"Nara, ayo kita pergi, tak baik berbicara seperti itu di tempat umum seperti ini." Hanif menarik tangan Nara, dan segera membawanya keluar dari cafe itu. Meskipun sepanjang jalan keluar, Nara terus memberontak dan menjadi perhatian banyak orang, tapi tetap saja Hanif memaksanya untuk masuk ke dalam mobil.
Kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil. Hanif segera melajukan mobilnya, tanpa tujuan yang pasti. Lalu menepikan mobilnya di sisi jalan yang cukup sepi.
"Nara," panggil Hanif pelan.
Nara masih duduk memunggungi Hanif. Air matanya sudah berderai, membasahi kedua pipinya. Hatinya benar-benar terasa hancur saat mendengar apa yang diucapkan oleh kekasihnya itu.
"Antar aku pulang Mas," lirik Nara pelan, sambil menghapus air matanya dengan sebelah punggung tangannya.
"Nara, maafkan aku Nar, aku tak bisa berbuat banyak untuk hubungan kita."
Mendengar Hanif membicarakan hal itu, hatinya kembali terasa begitu sesak. "Apa aku tak berarti bagimu Mas, hingga kau sendiri pun tak bisa memperjuangkan hubungan ini," lirih Nara dengan suaranya yang parau.
"Bukan begitu Nara, t-tapi—"
"Tapi apa Mas!" Nara langsung berbalik menghadap Hanif. Mata dan hidungnya sudah memerah akibat menangis. Tatapannya begitu sayu, mendung semendung-mendungnya.
"Kenapa kau baru mengatakan semuanya sekarang hah! Kenapa! Kenapa tidak dari dulu? Sebelum kau menikahi wanita itu?!" Nara berbicara penuh emosi.
"Nara, tenanglah... aku melakukan semua ini juga demi kamu. Demi kesehatan kamu."
Nara tersenyum getir mendengarnya. "Lalu kenapa tak mengatakannya dari dulu saja? Sebelum aku melakukan operasi? Sekalian saja beritahu aku dari awal biar kalau mati pun aku tak menyesal!"
Mendengar hal itu, Hanif begitu terkejut dan sedikit emosi. "Nara! Apa yang kamu katakan!" seru Hanif, menatap nanar kedua bola mata Nara.
Nara kembali menangis sesenggukan, hatinya benar-benar bagai di iris pisau yang begitu memilukan.
"Antar kan aku pulang sekarang juga!" ujar Nara, dengan suaranya yang seakan tercekat di tenggorokan.
"Nara...."
"Aku mau pulang Mas! Berhentilah, jangan mengatakan apa pun lagi." Nara kembali duduk memunggungi Hanif. Hanif hanya bisa pasrah, sambil menatap pilu wanita yang di cintainya.
"Maafkan aku Nara, maafkan," batinnya. Lalu Hanif pun kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kediaman rumah Nara.
Sesampainya di sana, Nara langsung keluar dari dalam mobil tanpa berpamitan atau mengatakan sepatah kata pun pada Hanif.
Lidya yang mengetahui kepulangan Nara, ia begitu terheran-heran saat melihat kerabatnya itu sudah dalam keadaan menyedihkan.
"Nara, apa yang terjadi Nar?" tanya Lidya, saat Nara melewatinya. Tapi, Nara tak memedulikannya ia langsung jalan menerobos masuk ke dalam rumah, dan yang menjadi tujuan utamanya kini adalah kamarnya sendiri.
Lidya menatap tajam ke arah Hanif yang mematung di halaman rumah, dekat mobilnya.
Dengan langkah penuh emosi, Lidya pun jalan menghampiri Hanif. "Mas Hanif! Apa yang kamu lakukan kepada Nara hah? Kenapa dia bisa sampai menangis seperti itu?" tanya Lidya penuh emosi.
Hanif sejenak menundukkan kepalanya merasa bersalah, sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan dari Lidya.
"Aku mengatakan semuanya Ya,” ucap Hanif pelan. Membuat Lidya membulatkan kedua matanya begitu lebar.
"Apa!" Lidya benar-benar tidak percaya, kalau Hanif berani melakukan semuanya, di saat seperti ini.
Bersambung...
jangan lupa menabur vote nya ya 😊
Follow ig author untuk info update novel-novel yang author miliki.
@dela.delia25
Mau menyamakan. Aisyah ya beda level lah Nara kamu mah ga ada apa apanya
Kamu selingkuh Hanif
Biar Aisyah sama Adam aja
minta ke Aisah baik2
jngan pake cra yg keji , jahat