Takdir seakan mempermaikan kehidupan Syakira Anastasia. Kehidupannya yang bergelimang harta, terlahir dari keluarga mapan, gak pernah sekali pun membuatnya menangis karena derita.
Namun takdir membawanya pada seorang pria beruban, dengan fisik bak pria matang.
Membawanya pada hubungan yang gak pernah ia bayangkan. Mampu kah Syakira menjalani perannya sebagai seorang istri di usia labilnya? Atau berakhir menderita seperti yang di inginkan Jims Prayoga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Demi mama
“Jims!” Syakira berseru marah.
Grap.
Jims berhasil mencekal pergelangan tangan Syakira yang hendak melayangkan tamparan pada pipinya.
Syakira meronta, dengan suara yang jelas terdengar marah, “Lepaskan tangan ku, Jims! Aku gak akan diam saja jika kamu berani membakar jasad mama ku, Jims!”
Jims berseringai, dengan tatapan meledek, dengan satu tangannya yang bergerak menyusuri wajah marah Syakira.
“Benar kah? Apa kau yakin, bisa mencegah ku melakukan pembakaran pada jasad Sasmita! Wanita itu hanya tinggal jasad, Syakira!”
‘Apa hanya aku yang merasa, bibir Syakira lebih menggoda di saat marah!’ batin Jims, dengan ujung jari bertengger di bibir Syakira.
Syakira menggeleng gak percaya, “Dasar iblis! Aku akan menjebloskan mu ke penjara, Jims!” ucap Syakira dengan lantang.
Kreek.
Tanpa pikir panjang, Syakira menggigit ujung jari Jims.
Jims melotot tajam, “Dasar jalaaaang!” dengan tangan yang mengibas kesakitan.
Syakira berhasil membebaskan tangannya yang di cengkram Jims.
“Aku bukan jalaaang! Kau yang pria bajingan! Bannndot tua! Pria brengsek! Gak punya hati!” umpat Syakira dengan nafas memburu marah.
Dengan gak punya perasaan, Jims menarik tangan Syakira ke belakang punggung wanita itu.
Kreeek.
“Aakkkhhh! Sakit! Sialan kau Jims! Lepas!” pekik Syakira dengan kesakitan yang tampak jelas di wajahnya.
“Perlu ku ingatkan, Syakira Anastasia. Setiap kata yang aku ucapkan, adalah perintah untuk Danu dan orang orang ku. Termasuk kau, Kira!”
“Mereka semua bodoh! Mau menuruti semua kata kata kamu, Jims!” sarkas Syakira.
Brugh.
Jims mengikis jarak ke duanya, dengan tubuh depan mereka yang saling beradu. Kilatan kemarahan masih terpancar jelas di mata Syakira untuk Jims, terlebih saat wanita itu mendongak.
“Menjauh dari ku, Jims!” ucap Syakira dengan meronta, membuat pergerakan pada tubuhnya.
Satu alis Jims terangkat, dengan nada mencibir, “Menjauh! Bukankah dengan jarak seperti ini jauh lebih baik, Kira! Kau tidak akan menolak, jika pria yang ada di hadapan mu adalah Willi, bukan begitu Kira, si jalang kecil!”
“Kau! Bajingan, brengsek, lep… emmm..”
Umpatan Syakira terhenti, saat Jims membungkam bibir mungil Syakira dengan bibirnya.
‘Jims sialaaan! Beraninya dia mencium ku! Aku gak terima dengan perlakuan mu, Jims! Dasar pria brengsek, mesuuum!’ batin Syakira.
Sementara Jims menatap Syakira dengan tatapan puas, saat dirinya berhasil mempermainkan Syakira dengan caranya.
‘Benar kan dugaan ku, bibir Syakira ini manis. Sayangnya gak ada hal baik, terlontar dari bibir ini untuk ku! Lihat Itu, di saat seperti ini, dia masih saja menatap ku dengan galak! Apa aku harus dengan perasaan memperlakukan nya! Jangan harap!’ batin Jims.
Tok tok tok.
Dari luar, kaca mobil di ketuk Danu. Membuat Jims melepaskan Syakira dengan perasaan kesal yang masih membuncah.
Dengan punggung tangan Syakira, gadis itu menghapus jejak bibir Jims dari bibirnya dengan kasar.
“Dasar pria brengsek! Aku gak sudi di sentuh oleh mu, Jims!”
Grap.
Jims mencekal pergelangan tangan Syakira, menghentikan wanita itu menyakiti bibirnya sendiri.
“Sayangnya kau akan terbiasa dengan hal barusan, Kira!” ucap Jims, dengan lembut menyapu bibir Syakira yang baaaasah karena ulahnya dengan jempolnya sendiri.
Syakira hendak melayangkan protes, “Kau…”
“Aku gak suka di bantah, Syakira Anastasia! Tawaran dari ku belum berubah, Kira!” ucap Jims dengan tenang, dengan punggung menyandar pada sandaran kursi mobil.
Jims menoleh ke arah Syakira, dengan tatapan mengintimidasi.
“Kau menolak ku, sama artinya kau ingin jasad Sasmita di bakar. Kau harus patuh pada ku, jika ingin jasad Sasmita sampai ke liang lahat. Semua keputusan ada di tangan mu!”
Syakira mengepalkan tangannya erat, dengan nafas memburu, ‘Jims sialan!’
Brugh, brugh, brugh.
Syakira yang gak bisa menaaahan rasa kesalnya, melayangkan pukulan di dada bidang Jims.
“Dasar brengsek!! Bajingan! Kenapa kau begitu kejam pada ku, hah! Belum tentu orang tua ku yang bersalah pada sepupu mu! Kau jahat, Jims! Kau uukkhhh…” pekik Syakira.
Grap.
Jims mencekik leher Syakira dengan satu tangannya. Dengan setengah tenaga yang ia keluarkan. Meski gak menyakiti Syakira. Namun nyatanya berhasil membuat Syakira bungkam.
“Aku tidak meminta pendapat mu, cukup katakan iya atau tidak!”
‘Orang seperti Jims, emang gak main main dengan perkataan nya. Dia tega membakar mobil yang berisikan sahabat sahabat ku. Apa lagi ini, ku gak mungkin tega melihat Jims membakar jasad mama. Wanita yang sudah melahirkan ku.’ pikir Syakira dengan air mata yang mengalir dari pelupuk matanya.
Tok tok tok.
Danu kembali mengetuk jendela kaca mobil.
“Aku setuju, aku ingin mama ku di kuburkan.” ucap Syakira dengan mata terpejam, salivanya seakan sulit untuk lolos dari tenggorokannya.
Pluk.
Jims mencengkram bahu Syakira.
“Anak pintar! Lain kali, jangan tunggu aku bersikap kurang ajar pada mu, Kira!”
“Aku melakukan ini bukan atas kemauan ku, Jims! Tapi demi mama ku, wanita yang sudah melahirkan ku!” Syakira menepis tangan Jims dari bahunya.
“Apa pun itu, aku tidak peduli. Yang jelas sekarang kau mainan ku! Maka patuh lah!” ucap Jims tanpa perasaan.
‘Benar benar manusia iblis! Kenapa kau kirimkan manusia seperti ini pada ku, Tuhan!’ batin Syakira, dengan perasaan terluka.
Prosesi pemakaman Sasmita berjalan dengan lancar. Dengan orang orang Jims yang ikut menghadiri prosesi pemakaman, tanpa di hadiri pihak keluarga.
Baik Sasmita atau pun Bayu, ke duanya sama sama sebatang kara. Tumbuh besar di panti asuhan dengan bantuan keluarga mendiang Reina.
Dengan mata sembab, Syakira menyandarkan kepalanya pada papan bertuliskan nama Sasmita.
‘Maafin Kira, mah! Seandainya Kira bisa mencegah mama dan papa pergi. Keluarga kita gak akan hancur seperti ini.” oceh Syakira, yang masih bisa di dengar Jims dan Danu. Yang setia berdiri di samping Syakira.
Syakira melirik Jims dengan ekor matanya, ‘Mama benar, Jims orang jahat. Dan sekarang aku terperosok dalam kejahatan yang ia buat untuk ku, mah!’ batin Syakira.
Dengan punggung bergetar, Syakira kembali terisak, ‘Kuatkan hati ku, mah! Demi papa, papa harus hidup, papa harus kembali pulih! Papa pasti bisa mengembalikan keadaan seperti sedia kala.’ batin Syakira lagi, dengan secercah harapan.
Jims menoleh ke arah Danu.
“Danu!” seru Jims.
“Saya, Tuan.”
“Kau tau kan, apa yang harus kau lakukan pada bangkai mobil hitam tadi!” ucap Jims dengan penuh maksud.
“Semua sudah berjalan sesuai dengan apa yang Tuan inginkan.” ucap Danu tanpa ragu.
Jims menghembuskan nafasnya kasar, melihat Syakira yang belum beranjak dari posisinya. Gadis itu masih meratapi kepergian sang ibu.
“Kira! Kita harus kembali!” titah Jims dengan suara datarnya.
Syakira mendongak, “Bisa kah tunggu beberapa saat lagi! Aku hanya ingin lebih lama lagi dengan mama ku!” pinta Syakira dengan tatapan memohon.
Jims tersenyum sinis, “Mau kau semalaman berada di sini, gak akan membuat Sasmita bangkit dari kuburnya!” ucap Jims, tanpa perasaan.
Jims menggerakkan kepalanya dengan tatapan datar pada Danu, sebelum pria itu melenggang meninggalkan Syakira.
“Nona Syakira, sebaiknya turuti perkataan Tuan.” ucap Danu, seakan memperingati Syakira.
“Hanya sebentar! 10 menit! Aku mohon!” pinta Syakira, dengan ke dua tangan mengatup di depan wajah.
“Saya mohon, Nona! Jangan buat Tuan Jims menyakiti ayah anda di rumah sakit.” seru Danu, gak kehabisan akal untuk membujuk Syakira.
Dengan langkah gontai, dan hati penuh keterpaksaan, dengan batin yang kian tertekan. Syakira menjauh meninggalkan pusara Sasmita berada.
Di lihatnya Jims yang berdiri menyandar pada pintu mobil. Dengan kaca mata hitam yang menghalangi sepasang mata elangnya.
‘Karena mu, keluarga ku hancur. Karena mu, aku kehilangan sahabat sahabat ku. Karena mu, aku kehilangan Wili. Suatu saat nanti, kau pasti akan membayar setiap duka yang kau beri pada ku, Jims!’ batin Syakira.
Dari tempat Jims berpijak, tatapannya gak lepas dari Syakira, ‘Entah apa yang di katakan Danu. Tapi bagus juga cara membujuknya! Langsung patuh!’
Syakira berdiri tepat di depan Jims, “Aku menuruti kata kata mu, Jims!”
“Memang sudah seharusnya!” ucap Jims.
Brugh.
Bersambung…