Menceritakan tentang kehidupan seorang gadis yatim piatu yang mengalami masa-masa sulit dalam kehidupannya.
Semua bermula sejak kematian kakeknya yang tewas terbunuh saat dia masih kecil, hingga dirinya yang dijual dan dijadikan sebagai gadis penghibur di sebuah rumah bordil ternama yang mengubahnya menjadi salah seorang wanita penghibur yang menjadi favorit para bangsawan dan pejabat istana.
Hingga suatu saat, dia harus memutuskan untuk masuk ke lingkungan istana karena kematian kekasihnya yang ternyata dalang dari seseorang yang tinggal di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon embun_senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24
Pangeran Zhao Li tengah duduk di villa bunga menunggu kedatangan Liang Yi. Sepertinya, ada sesuatu yang ingin dia katakan pada sahabatnya itu. "Liang Yi, aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku," ucap Pangeran Zhao Li ketika bertemu dengan Liang Yi yang baru saja tiba.
"Apa yang Paduka ingin aku lakukan, aku akan segera melaksanakannya."
"Bisakah kamu membujuk Huanran untuk datang ke istana? Aku ingin dia menemaniku di sini karena hari ini adalah hari peringatan kematian ibuku," ucap Pangeran Zhao Li yang sontak saja membuat Liang Yi terperanjat kaget.
Sudah hampir setengah tahun Huanran tidak lagi menginjakkan kakinya ke istana dan Liang Yi sempat berpikir kalau Pangeran Zhao Li mungkin saja sudah bisa menerima keputusan Huanran, tapi ternyata Pangeran Zhao Li masih belum bisa melupakan gadis itu.
"Baiklah, aku akan segera kembali dan membawa Huanran untuk bertemu dengan Paduka," jawab Liang Yi sambil menunduk dan meninggalkan tempat itu.
Walau dia merasa berat membiarkan Huanran untuk datang ke istana, tapi permintaan Pangeran Zhao Li tidak bisa dia tolak karena setiap perintah Raja, suka atau tidak suka harus dia laksanakan.
Dengan memacu kudanya, Liang Yi kemudian pergi kembali ke rumahnya. Setibanya di rumah, dia melihat Mei Yin yang tengah asyik bercanda dengan ibu dan adiknya.
"Apakah aku harus membawanya ke istana? Aku tidak ingin dia kembali dekat dengan Zhao Li, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa walau sebenarnya aku ingin dia tetap di sini menemaniku dan keluargaku," gumam Liang Yi pada dirinya sendiri.
"Kakak, kenapa Kakak kembali?" tanya Jiao Yi ketika melihat Liang Yi datang dan berjalan ke arah mereka.
"Kakak ada keperluan dengan Huanran. Ayo, kita bicara sebentar," ajak Liang Yi sambil meninggalkan ibu dan adiknya, sementara Mei Yin mengikutinya dari belakang.
"Ada apa? Kenapa kamu terlihat gelisah?" tanya Mei Yin.
Liang Yi menarik nafas panjang dan mulai mengutarakan maksud dari kedatangannya.
"Apa? Pangeran Zhao Li ingin aku ke istana?" tanya Mei Yin terkejut.
"Aku juga terkejut ketika Pangeran Zhao Li memohon kepadaku, tapi aku tidak bisa menolak permintaannya itu. Dan sekarang, kita akan ke istana dan aku sendiri yang akan membawamu kesana. Kamu tidak keberatan, kan?"
Mei Yin terdiam. Dia ingin menolak, tapi dia tidak bisa. Dia tidak ingin jika penolakannya itu akan membuat Liang Yi mengalami masalah karena bagaimanapun perintah raja harus tetap dilaksanakan.
"Untuk kali ini, aku akan pergi. Aku tidak ingin membuatmu mengalami masalah karena penolakanku. Dan aku akan pastikan kalau ini adalah pertemuan pertama dan terakhirku dengan Pangeran Zhao Li," ucapnya sungguh-sungguh.
Setelah memantapkan hatinya, Mei Yin kemudian pergi dengan Liang Yi ke istana.
"Ibu, kenapa Pangeran Zhao Li meminta kakak untuk membawa Kak Huanran ke istana? Apa mungkin Pangeran Zhao Li menyukai Kak Huanran?" tanya Jiao Yi pada ibunya ketika melihat kedua kakaknya telah pergi.
"Sudahlah, kita lihat saja nanti," jawab ibunya yang seakan tidak terlalu mempedulikan pertanyaan anaknya itu, walau di dalam hatinya dia merasa khawatir karena diam-diam dia ingin menjadikan Huanran sebagai menantunya dan menikah dengan Liang Yi.
Setibanya di istana, Mei Yin kemudian diantar ke villa bunga, tempat di mana Pangeran Zhao Li sedang menunggunya. Ketika mereka memasuki halaman istana, mereka berpapasan dengan Nona Liu dan wanita itu menatap Mei Yin dengan heran.
Setelah memberi hormat, mereka berniat untuk melanjutkan perjalanan ke villa bunga, tapi Nona Liu segera menghentikan langkah mereka. "Ada urusan apa kamu datang kemari?" tanya Nona Liu dengan ketus.
"Maaf, Raja memintaku untuk membawa Huanran ke villa bunga. Ada sesuatu hal yang ingin Raja bicarakan dengannya," jelas Liang Yi sambil menunduk.
Mendengar jawaban Liang Yi membuat Nona Liu mengepalkan kedua tangannya. Dia begitu marah karena selama ini dia tidak pernah diizinkan untuk datang ke villa bunga, sedangkan Huanran dengan mudahnya bisa datang ke sana bahkan kedatangannya adalah perintah dari raja.
Setelah selesai menjelaskan, Liang Yi dan Huanran kemudian melanjutkan langkah mereka menuju villa bunga. Nona Liu hanya bisa memandangi kepergian mereka dengan wajah yang memerah.
"Paduka, aku sudah datang bersama Huanran," ucap Liang Yi yang berdiri di depan pintu kamar Pangeran Zhao Li.
Mendengar Huanran sudah tiba, sontak saja Pangeran Zhao Li bangkit dari tempat duduknya dan berlari kecil ke arah pintu dan segera membuka pintu kamarnya itu. Melihat Huanran yang sudah berdiri di depannya membuat Pangeran Zhao Li segera memeluk gadis itu. Liang Yi yang melihat mereka berpelukan hanya bisa menundukkan wajahnya walau dia merasakan cemburu yang luar biasa.
"Aku senang kamu mau datang menemuiku lagi, terima kasih," ucap Pangeran Zhao Li yang masih belum melepaskan Mei Yin dari pelukannya.
"Liang Yi, terima kasih karena kamu sudah membawa Huanran kemari, aku sangat berterima kasih," lanjut Pangeran Zhao Li.
"Apapun perintah Paduka akan aku lakukan. Kalau begitu, aku akan menunggu di luar," ucapnya sambil menunduk memberi hormat dan melangkah meninggalkan mereka dengan perasaan terluka.
Dengan lembut, Pangeran Zhao Li meraih tangan Mei Yin dan mengajaknya masuk ke dalam kediamannya. Mei Yin hanya bisa menuruti kemauan Pangeran Zhao Li yang berlaku manja padanya.
"Aku sempat berpikir kalau kamu tidak akan datang menemuiku lagi, tapi aku tidak menyangka kalau kamu berkenan memenuhi panggilanku," ucap Pangeran Zhao Li dengan senyum di wajahnya.
Melihat Pangeran Zhao Li yang begitu senang menyambutnya membuat hati Mei Yin menjadi luluh. Dia bisa melihat dari sorot mata Pangeran yang terlihat sangat kesepian.
"Kenapa Pangeran memanggilku ke istana? Apa ada yang ingin Pangeran katakan padaku?"
Pangeran Zhao Li menatapnya dengan tatapan penuh kebahagiaan. Perlahan, Pangeran Zhao Li meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat. "Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu hingga membuatku hampir gila. Andai kamu tahu, aku sangat ingin bertemu denganmu dan menghabiskan waktuku bersamamu di tempat ini," jelas Pangeran Zhao Li dengan kesungguhan hatinya.
Mei Yin tersentak. Dia tidak menyangka, kalau Pangeran Zhao Li bisa semudah itu mengungkapkan perasaan padanya.
"Pangeran, aku tidak pantas mendapatkan kasih sayang dari Pangeran. Aku hanya gadis biasa dan Pangeran adalah seorang Raja yang harus menjaga kewibawaan. Aku tidak mungkin menerima perhatian Pangeran karena ada Permaisuri yang lebih pantas untuk mendapatkannya," jelas Mei Yin berhati-hati agar Pangeran Zhao Li tidak tersinggung.
"Apa kamu pikir aku bahagia dengan pernikahan ini? Dia hanya permaisuri bagi negeri ini, tapi dia bukan permaisuri di hatiku. Sejak malam pernikahan, aku tidak pernah menemuinya dan selamanya aku tidak akan pernah menganggapnya sebagai istriku."
Mendengar penjelasan Pangeran Zhao Li membuat Mei Yin merasa kasihan padanya. Pernikahan yang sudah berlangsung hampir setengah tahun ternyata tidak membawa kebahagiaan bagi Pangeran. Bahkan, Pangeran tidak pernah tidur sekamar dengan istrinya itu.
"Aku memanggilmu karena aku ingin bersamamu. Hari ini, adalah hari peringatan kematian ibuku dan aku ingin kamu menemaniku di sini," pinta Pangeran Zhao Li yang terlihat begitu manja padanya.
Entah apa yang harus dia jawab. Dia ingin memenuhi keinginan Pangeran, tapi dia takut karena bagaimanapun juga ada Permaisuri yang lebih pantas menemaninya. Kegelisahan hatinya seakan dirasakan oleh Pangeran Zhao Li.
"Kamu tidak perlu khawatir. Aku adalah raja dan aku berhak melakukan apa saja tanpa perlu persetujuan dari siapapun. Bahkan, hari ini juga aku bisa menyingkirkan permaisuri dan menjadikanmu sebagai permaisuri di negeri ini," ucap Pangeran Zhao Li dengan sorot matanya yang tajam.
"Jangan lakukan itu. Baiklah, hari ini aku akan menemani Pangeran, tapi hanya kali ini saja. Setelah itu, aku mohon pada Pangeran untuk membiarkanku menjalani kehidupanku dan Pangeran harus menjalani kehidupan Pangeran dan aku mohon agar Pangeran bisa melupakanku."
"Apakah kamu membenciku hingga ingin aku melupakanmu? Aku sangat mencintaimu, tapi kenapa kamu tidak bisa memberikan sedikit saja hatimu padaku?"
Mei Yin terdiam. Dia sadar kalau hatinya telah luluh dan mulai mencintai Pangeran Zhao Li karena perhatian dan kebaikan Pangeran padanya, tapi dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya itu karena dia sadar dia tidak pantas untuk bersanding dengan Pangeran itu.
"Aku tidak pernah membencimu, bahkan aku sangat ingin bersama denganmu, tapi aku sadar aku tidak pantas untuk mendampingimu. Aku hanya seorang gadis biasa, dan ...," belum sempat Mei Yin menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja Pangeran Zhao Li memeluknya.
"Jangan katakan apapun. Aku bahagia karena ternyata kamu tidak membenciku dan ingin bersama denganku, aku sangat bahagia," ucap Pangeran Zhao Li sambil memeluk Mei Yin dengan air mata yang mulai jatuh di sudut matanya.
Melihat Pangeran Zhao Li yang bahagia karena bertemu dengannya membuat Mei Yin ikut tersenyum bahagia. Dia tidak menyangka, kalau Pangeran sangat merindukannya. Perlahan, hatinya mulai luluh. Dengan senyum, Mei Yin mengiyakan untuk menemani Pangeran hingga membuat Pangeran Zhao Li tersenyum bahagia.
Saat itu juga, Mei Yin mulai menemani Pangeran Zhao Li dari jalan-jalan di taman hingga membaca buku bersama. Pangeran Zhao Li terlihat bahagia karena ditemani wanita yang sangat dia rindukan. Tawa dan senyum menghiasi sudut bibirnya tatkala melihat Mei Yin yang tersenyum padanya. Semua kerinduannya pada gadis itu seakan terbayar.
Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Terik matahari yang bersinar menandakan kalau pagi telah beranjak ke siang hari. Pangeran Zhao Li kemudian mengajak Mei Yin untuk masuk ke dalam kediamannya karena wajah Mei Yin mulai memerah karena terkena sinar matahari.
"Duduklah di sini, sinar matahari di luar sudah membuat wajahmu memerah," ucap Pangeran Zhao Li sambil mengelus lembut dahi gadis itu hingga membuat jantungnya bergetar hebat.
Mei Yin menundukkan wajahnya karena malu, tapi tangan Pangeran Zhao Li kemudian mengangkat dagu gadis itu dan mendaratkan sebuah kecupan di dahinya dengan mesra.
"Apa yang aku lakukan? Kenapa aku membiarkannya melakukan hal ini padaku?" gumam Mei Yin yang seakan menyalahkan dirinya sendiri karena membiarkan Pangeran Zhao Li mengecup dahinya.
Melihat Mei Yin yang terdiam saat dikecup membuat Pangeran Zhao Li tersenyum dan segera meraih tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.
Sementara kedua insan itu sedang berbahagia, di tempat lain ada hati yang tengah terluka. Liang Yi yang mulai merasakan benih cinta untuk Mei Yin, terpaksa harus menahan rasa cemburu karena sahabatnya kini sedang bersama gadis yang dicintainya itu. Betapa dia harus bisa menerima kenyataan dan rasa sakit karena cintanya yang terpendam selamanya akan terkubur tanpa seorangpun yang tahu.
Di dalam kamar lainnya, Nona Liu sedang duduk sendiri dengan perasaan yang hancur dan terluka. Di depan matanya, Pangeran Zhao Li meminta wanita lain untuk menemaninya. Wanita yang sangat di bencinya. "Aku tidak akan pernah memaafkan kalian, lihat saja kalian pasti tidak akan bisa bersama lagi," ucap Nona Liu dengan tangan mengepal karena menahan marah.
Sekuat apapun dia mencoba untuk bertahan, tapi dia tidak mampu untuk bisa menerima kenyataan kalau dirinya tidak pernah di anggap. Selama ini, dia mencoba menahan amarah karena Pangeran Zhao Li tidak pernah menemuinya. Bahkan, dia tidak peduli andai Pangeran Zhao Li memiliki selir asalkan sekali saja Pangeran datang menemuinya. Namun, rasa cemburunya pada Mei Yin telah membuat hatinya sakit dan terluka karena dia tidak akan pernah menerima Mei Yin menjadi selir Pangeran Zhao Li.
"Dayang Min, apakah wanita itu masih bersama dengan Paduka di villa bunga?" tanya Nona Liu pada Dayang Min yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Maafkan hamba, wanita itu masih di villa bunga bersama Paduka," jawab Dayang Min yang sontak saja membuat Nona Liu memukul meja dan segera bangkit dari tempat duduknya.
Dengan raut wajah yang penuh amarah, Nona Liu kemudian keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke villa bunga. Dia tidak lagi mempedulikan larangan Pangeran Zhao Li untuk tidak datang ke tempat itu. Rasa cemburunya yang begitu dalam telah membuatnya memberanikan diri untuk menemui Pangeran dan berniat memberikan hukuman pada Mei Yin.
"Maafkan hamba Permaisuri, tapi Paduka tidak ingin diganggu siapapun. Sebaiknya, Permaisuri kembali ke kamar," ucap Liang Yi yang mencoba menghalangi Nona Liu untuk masuk ke villa bunga.
"Jangan halangi jalanku, minggir!!" ucap Nona Liu marah dan menampar wajah Liang Yi. Walau Liang Yi sudah berusaha menghalangi, tapi dia tidak mampu karena Nona Liu yang terus memaksa hingga dirinya tiba di depan pintu kediaman Raja.
Dengan emosi, Nona Liu kemudian membuka pintu kamar dan mendapati Pangeran Zhao Li yang tengah tertawa bersama Mei Yin. Rupanya, Pangeran Zhao Li dan Mei Yin sedang bercanda dan tertawa sambil bermain mahyong, karena Mei Yin yang tidak pernah menang dan mendapat hukuman dengan tinta hitam yang memenuhi wajahnya.
Nona Liu kemudian berjalan mendekati Mei Yin dan langsung menampar wajahnya. Liang Yi yang melihat kejadian itu tidak bisa berbuat apa-apa. Tangannya mengepal karena menahan amarah. Sementara Pangeran Zhao Li dengan marahnya menampar Nona Liu dan meraih tubuh Mei Yin ke dalam pelukannya hingga membuat wajah Nona Liu memerah dengan air mata yang mulai menggantung di pelupuk matanya.
Apa Lian itu kekasih yg di sebut di prolog itu.... Yg mati krna orang istana??
bingung aku🤔🤔