Setelah lima tahun menikah, Adipati Elang Ganendra dan Dewi Astjarjana dikaruniai seorang putri.
Elang Ganendra memberinya nama Dewi Anandhita.
Sejak dilahirkan, Anandhita sudah menunjukkan kekuatannya.
Namun sayang, kelebihan fisiknya membuat Elang Ganendra salah paham dan mencurigai istrinya.
Anandhita kecil harus hidup tanpa belaian kasih sayang seorang ayah.
Untungnya, Dewandaru, Ayah dari Elang Ganendra yang keturunan langsung dari Bathara Guru, sangat menyayanginya.
Dewandaru juga yang mengajari Anandhita dasar-dasar ilmu beladiri.
Anandhita pun bertekat memanfaatkan ilmunya untuk menegakkan keadilan dan menolong sesama.
Cerita dalam novel ini adalah fiksi yang bersifat untuk menghibur, sama sekali tidak ada maksud untuk mengubah sejarah.
Dibingkis dengan cara sederhana, dilengkapi dengan aneka budaya nusantara, dibumbui dengan romansa dan sedikit action, sangat sesuai dijadikan dongeng sebelum tidur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Ekawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terungkap
Setelah melanjutkan perjalan selama satu minggu, tibalah Elang Ganendra di kerajaan Djawa Dwipa.
Yang Mulia Raja amatlah murka mendengar laporan Adipati Elang Ganendra yang mengakui bahwa ia telah gagal menjalankan misinya.
Bahkan terkesan Adipati Elang Ganendra melindungi dan mendukung gerombolan perampok tersebut.
Sang Raja lantas memberi titah kepada seorang Senopati untuk mempersiapkan seribu pasukan untuk menyerang Gerombolan Bandit Tengik esok hari dan mengusir Adipati Elang Ganendra dari istana.
Sang Raja menilai Adipati Elang Ganendra tidak becus menyelesaikan masalah kecil tersebut.
Hanya membasmi sekitar seratus orang anggota perampok saja tidak mampu, begitu menurut Sang Raja.
Sebenarnya Sang Raja mengutus Adipati Elang Ganendra mencari kelemahan Gerombolan Bandit Tengik dan merongrong kekuatan mereka dari dalam, agar tidak terlalu mengeluarkan biaya untuk menumpaskan gerombolan perampok itu.
Akan tetapi, kegagalan Elang Ganendra dalam menjalankan misi, menunjukkan bahwa Gerombolan Bandit Tengik bukanlah gerombolan perampok biasa yang bisa diremehkan.
Dengan mengerahkan seribu pasukan, Sang Raja berharap Gerombolan Bandit Tengik bisa dibasmi tuntas sampai ke akar-akarnya.
Adipati Elang Ganendra segera memacu kudanya kembali ke Dusun Plapah, berniat untuk memberi peringatan anggota Gerombolan Bandit Tengik atas rencana penyerangan prajurit kerajaan.
Baru setengah perjalanan, tiba-tiba,
“Ciiiiieeh…. Gedublak!!” Kudanya terjerembab ke tanah. Hampir saja Elang Ganendra ikut terjungkal jika ia tidak segera melompat.
Ternyata kudanya sudah kehabisan nafas karena dipacu terus-menerus tanpa istirahat.
Elang Ganendra hanya mengangkat tubuh kudanya ke pinggir hutan tanpa sempat menguburkannya. Ia pun melanjutkan perjalanan dengan terbang.
Tidak sampai dua hari ia sudah sampai di gapura Dusun Plapah.
Dua orang penjaga gerbang terkejut saat ia mendaratkan kaki ke tanah dengan mulus dihadapan keduanya, sedangkan Asep Subagja yang mereka kenal hanyalah orang biasa dengan keahlian bela diri biasa saja.
Mereka tidak menduga bila Asep Subagja mempunyai ilmu meringankan tubuh yang begitu tinggi hingga bisa terbang dan mendarat dengan halus.
Tentu saja hal itu menimbulkan kecurigaan pada benak mereka berdua.
“Naon ari anjeun balik deui ka dieu teu kedah anjeun janten di kampung halaman?” Salah seorang penjaga gerbang berusaha menghentikannya.
‘Kira - kira apa yang Ujang bicarakan tentangku pada mereka?’ Batin Elang Ganendra.
“Ijinkan aku bertemu ketua Bayu Mahardika. Ada hal penting yang harus aku sampaikan.” Ucap Elang Ganendra.
Elang Ganendra menuruti kemauan penjaga gerbang untuk tetap menunggu di tempatnya, sedangkan salah seorang yang lain segera menuju ke kediaman Bayu Mahardika, ketua Gerombolan Bandit Tengik, dan menceritakan tentang kedatangan Elang Ganendra.
“Ada hal penting apa yang membawamu kembali kemari, Asep?” Bayu Mahardika berjalan menghampiri Asep Subagja di gapura dusun.
Tentu saja kepergian ketua Gerombolan Bandit Tengik dari kediamannya ke gapura desa, menarik perhatian para anggotanya.
Mereka berduyun-duyun mengiringi ketuanya sambil bertanya kepada penjaga gapura yang menyertainya.
Banyak pula warga dusun yang hadir ingin menyaksikan apa gerangan yang terjadi sebenarnya.
“Bukankah kamu sudah pamit untuk pulang ke kampung halaman?” Lanjutnya.
“Mana si Ujang?” Sejak kembali dia tidak pernah menampakkan batang hidungnya. Bahkan tidak pernah meminta misi lagi.” Lanjut Bayu Mahardika menoleh ke belakang, kemudian melihat kembali ke arah Asep Subagja.
“Seribu pasukan prajurit kerajaan Djawa Dwipa menuju kemari. Mereka berniat akan menghancurkan dusun ini.” Ucap Elang Ganendra tanpa basa-basi.
Semua yang mendengar ucapan Elang Ganendra terkejut, bahkan ada yang mengejek, tidak mempercayai ucapannya.
“Mana mungkin Raja mengirimkan banyak sekali pasukan kemari? Kau kira, berapa banyak biaya yang dikeluarkan Sang Raja bila ucapanmu benar adanya?"
"Yang dipikirkan Sang Raja hanya bagaimana cara memperkaya pundi-pundi kerajaan saja, hahahaha….” Seloroh salah seorang anggota Gerombolan Bandit Tengik.
“Ya, karena Yang Mulia Raja sudah menganggap kalian mengganggu pendapatan pundi-pundi kerajaan, Sang Raja mengarahkan pasukannya kemari untuk membasmi kalian!!” Ucap Elang Ganendra tegas.
Bayu Mahardika mengernyitkan kepala. Tangan kanannya mengelus-elus jambangnya dan tangan kirinya memangku tangan kanannya.
“Bagaimana kamu mengetahui rencana tersebut. Bukankah kamu dalam perjalanan pulang ke kampung halamanmu?” Tanya Bayu Mahardika kepada Asep Subagja.
“Dia adalah utusan Raja!!” Tiba-tiba terdengar teriakan seseorang dari arah belakang.
Semua orang memalingkan wajah melihat ke belakang.
Ternyata suara tersebut adalah suara Ujang yang mereka kenal sebagai sahabat Asep Subagja dan sempat ikut Asep Subagja berkunjung ke kampung halamannya.
“Dia tidak pulang ke kampungnya, melainkan melaporkan ke kekerajaan tentang keberadaan kita!” Lanjut Ujang ketika sudah berada diantara mereka.
Ada nada emosi tertahan di setiap ucapannya.
Semua beralih kembali menatap Asep Subagja dengan pandangan memusuhi lantas mengeluarkan senjatanya.
Pedang, tombak, kapak, semua diarahkan kepada Asep Subagja, sedangkan Elang Ganendra hanya terdiam di tempatnya tanpa memberikan perlawanan sedikit pun.
“Tunggu…. Jangan gegabah.” Bayu Mahardika melarang anggota Gerombolan Bandit Tengik yang ingin menyerang Asep Subagja.
“Aku ingin mendengar penjelasanmu.” Bayu Mahardika meminta penjelasan dari Asep Subagja.
“Yang dikatakan Ujang adalah benar.” Asep Subagja menganggukkan kepala, membenarkan perkataan Ujang tentang dirinya.
“Kurang ajar!!”
“Penghianat!!”
“Tahan!” Bayu Mahardika kembali menghentikan anggotanya yang ingin menghajar Asep Subagja.
Walaupun dalam keadaan bahaya, Elang Ganendra sama sekali tidak berniat melawan.
Elang Ganendra sadar, ia telah melukai hati penduduk Dusun Plapah yang sudah memberinya tempat tinggal dan memperlakukannya bagaikan seorang saudara.
“Tidak akan cukup waktu untuk menjelaskan semuanya. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana caranya agar kita bisa segera meninggalkan dusun ini.” Ucap Elang Ganendra.
Bayu Mahardika menatap mata Asep Subagja dalam-dalam. Tidak ditemukan sedikitpun kebohongan ataupun niat becanda dimatanya.
Warga Dusun Plapah yang wanita dan pria tua yang tidak memiliki keahlian beladiri, menjadi panik setelah melihat reaksi ketua Gerombolan Tengik, Bayu Mahardika, yang seolah-olah mempercayai perkataan Asep Subagja.
Haha, salam dari Clarissa ❣️