NovelToon NovelToon
PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:2.6M
Nilai: 4.8
Nama Author: Siti Jenab

Kisah seorang gadis cantik yang bernama Siti Humaira Adiba Ahmad yang akrab disapa Adiba. Ia menikahi pria tampan dan kaya yang usianya 15 tahun lebih tua darinya

Gibran Adelard Wijaya seorang Presiden Direktur yang harus menikahi gadis yang sama sekali tidak dikenalnya karena hutang nyawa kepada orang tua gadis tersebut. akankan pernikahan yang sama sekali tidak diinginkan kedua belah pihak itu berlanjut? saksikan terus kisanyanya
Happy Reading😍😘


ig :sitijenab451

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Jenab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terbelenggu di kandang singa

Pulang? hey kau mau

kemana pak? Tolonglah, tolong aku keluar dari kandang singa ini. Batin Adiba menjerit, tubuhnya gemetar

kala Sekertaris Vino menutup pintu. Bulu kuduknya bahkan berdiri melihat betapa

luasnya apartemen milik Gibran ini.

 Gibran meletakan tentengan belajaan di meja

besar yang terletak di ruang tengah, tersedia tv besar didepannya dan Rak buku

yang terjajar rapi disana.

 "Beresken

semua ini! Lakukan apapun

sesukamu aku akan istirahat sebelum pulang kerumah utama." Ucap

Gibran menunjuk beberapa tumpukan belanjaan dan langsung melangkah membuka

pintu kamar yang berminimalis putih besar dengan pahatan yang sangat indah

memberikan kesan elegant. Adiba menatap kepergian Gibran, pria itu ternyata

benar-benar menepati ucapannya.

 Tanpa menunggu jawaban, Gibran memasuki

kamarnya dan langsung membersihkan badannya. Hanya terdapat satu kamar disini,

Gibran sengaja mendesain Ruang Apartement ini khusus keluarga kecilnya nanti

yang selama ini dia impikan hidup bersama Shella dan jagoan kecilnya. Tapi

semuanya sirna kini tinggal kenangan yang melekat diapartemennya, yang sangat

terlihat masih terpajang rapi foto-foto kebersamaannya bersama Shella.

 Adiba melangkah mendekati foto yang paling

besar dari beberapa foto yang terpajang diruangan tersebut, terlihat Shella

sedang berpose dan tersenyum manis dibalut dengan gaun panjang berwarna maroon.

Tapi masih memperlihatkan lutut putihnya, rambut hitam terurai sedang dipeluk

dari belakang oleh seorang pria tampan memakai toxedo dan celana berwana hitam

dengan sepatu yang senada dengan hells yang dikenakan Shella.

 Ya, pria tampan itu tak lain adalah Gibran. Itu

adalah foto kebersamaan Shella dan Gibran ketika mereka bertunangan, terlihat

dari cincin yang melekat di jari manis keduanya yang terletak di perut Shella.

 "Mereka

sangat serasi, cantik dan tampan" Adiba tersenyum mengagumi

keduanya.

 Tampan?

eh apa yang kau ucapkan Adiba?Huhft,

kau sudah gila. Menepuk jidatnya pelan kemudian kembali melangkah melihat

beberapa foto disampingnya. Masih banyak foto kebersamaan mereka, mulai dari

ketika mereka di pantai, berpose dibelakang menara eiffel dan masih banyak

lagi. Bahkan ada foto ketika mereka sedang berciuman.

 Mengapa mereka tidak

malu menaruhnya disini.

Batin Adiba masih focus dengan foto itu,

 Merasa risi dengan foto yang terakhir kali

dilihatnya, Adiba memalingkan pandangannya ke arah lain. Adiba kembali

teringat, ia harus membereskan barang-barang tadi. Dengan telaten Adiba

membereskan barang-barang tersebut, menata buku-buku yang tadi dibeli di Rak

buku yang tersedia. Terlihat banyak koleksi buku disana. Beres menata buku,

Adiba melangkah memasuki dapur dan membereskan kebutuhan dapur yang tadi sempat

dibeli sekertaris Vino sebelum pulang.

 Melihat jam yang sudah menunjukan pukul 17:00

WIB, Adiba berinisiatif memasak makanan untuk Gibran sebagai bentuk terima kasihnya

karena telah menetapati ucapannya juga telah membelikannya buku.

 Setengah jam bergelut di dapur, Adiba baru selesai

dan menata makasan tersebut di meja makan yang tidak jauh dari dapur.

 "Sedang

apa kau." Tanya Gibran yang datang tiba-tiba mengejutkan Adiba

 "Astagfirullah,

huft.”

 “Memasak makanan

untukmu tuan."

 Gibran duduk di meja dan menyicipi makanan

buatan Adiba,

 "Lumayan,

buatkan aku kopi." Titah Gibran

 Tanpa menunggu lama Adiba membuatkan Gibran

secangkir kopi hitam pahit dan langsung menyajikannya.

 "Silahkan

tuan." Adiba mempersilahkan

 Gibran menatap Adiba kemudian menyuruput

kopinya perlahan.

 Darimana diatahu

kopi kesukaanku. Batin Gibran

 "Kenapa

kau membuat kopi pahit?" Tanya Gibran menatap Adiba.

 Adiba menundukan kepalanya, tubuhnya gemetar takut

jika dia salah membuatkan kopi.

 "Ma_maaf

tuan, yang saya tahu orang seusia anda menyukai kopi pahit hitam, saya akan

membuatkannya kembali." Jelas Adiba dengan nada suara ketakutan.

 "Tidak

perlu, pergilah bersihkan badanmu dan ganti pakaianmu. setelah itu aku akan

mengajarimu." Titah Gibran

 Eh kenapa ini? dia

tidak marah? dia menyukai kopi buatanku. Aisyah! kau menyelamatkan nyawaku hari

ini. Batin Adiba

 Adiba mendapatkan pengetahuan macam itu dari

sahabatnya Aisyah, ketika itu ia harus bolak balik dapur membuatkan kopi yang

pas untuk Pak Harman kepala Sekolahnya. Aisyah datang membantu dan menyarankan

membuatkan kopi hitam pahit untuk orang yang sudah lumayan tua, dan benar saja

Pak Harman sangat menyukainya.

 "Membesihkan

badan dan mengganti pakaianku? tapi dimana tuan?" Tanya Adiba bingung.

 "Di

parkiran! Kenapa kau bodoh

sekali hah? Tentu saja dikamarku. Cepat ganti atau aku akan membantumu membukanya." Seringai

Jahil Gibran muncul

 Hah? tidakk!!!!!

Adiba langsung berlari berhamburan menuju kamar

membuat Gibran kembali tersenyum melihat tingkahnya, senyuman yang sudah lama

tidak terlihat setelah kepergian Shella. Adiba masuk kamar mandi menghiraukan

keindahan yang terdapat di dalam kamar dan langsung membersihkan badan, Karna

tidak terbiasa mandi di bathup ia membersihkan badannya di Shower dengan

berjongkok.

 Setelah selesai, Adiba menggunakan Handuk yang

tersedia disana. Ia keluar kamar mandi, matanya terbelalak melihat keindahan

yang takah mewahnya dari kamar pribadi Gibran di kamar utama.

 Masya Allah, indah

sekali.

 Tapi tunggu, bagaimana mau gantii baju, aku bahkan tidak membawa baju satu helaipun. Batin adiba

lagi, matanya celingukan berharap ada baju perempuan yang bisa ia pakai.

Adiba melihat ruang kecil dipojok kamar dan

mendekatinya dan benar saja itu adalah ruang ganti yang sudah seperti toko,

banyak baju yang terjajar rapi disana. Adiba membuka lemari besar dan yang

dilihatnya hanya pakaian pria, kemuidan Adiba kembali membuka lemari

disampingnya.

Betapa senang hatinya melihat jejeran pakaian

wanita muslimah disana.

Inikan pakaian yang

di toko tadi? kenapa sudah ada disini? bukannya bapak tadi pulang bersama.

kenapa bajunya sampai duluan? Batin Adiba.

Tidak mau ambil pusing, Adiba langsung memakai

salah satu pakaian yang sangat cocok baginya dan memakai hijab yang senada

dengnnya.

 Waktu sudah menunjukan pukul 18:00, Adiba

melaksAnakan kewajibannya menggunakan Mukena yang ada di lemari pakaian.

 "Lama

sekali gadis itu." Kesal Gibran yang lagi-lagi harus menunggu lama.

 Gibran melangkah memasuki kamarnya, entah darimana

asal angin yang menghangatkan badannya. Dirinya merasa sejuk, hatinya tenang

melihat Adiba tengah melaksanakan sholat. Gibran tidak ingat kapan terakhir

kali ia melaksanakan kewajibannya.

 Melihat Adiba yang sebentar lagi selesai dengan

segara Gibran kembali ke meja dapur.

 "Maaf

tuan menunggu lama." Ucap Adiba yang baru tiba

 "Makanlah

dulu." Jawab Gibran yang sudah lebih dulu menyantap makAnannya.

 Mereka menyantap makananan masing-masing dengan

keheningan menyelimutinya, hanya suada aduan sendok dan garpu yang terdengar.

 Setelah selesai, Gibran beranjak meninggalkan

meja dan pergi ke ruang keluarga. Berbeda dengan Adiba, ia membereskan sisa makanan

dan langsung mencucinya.

 Selesai menyelesaikan tugas dapur, Adiba

menghampiri Gibran yang sedang duduk disofa sambil mengangkat kaki di atas meja

dengan kertas dan pulpen di tangannya.

 "Isi

soal-soal itu." Melempar kertas di meja kehadapan Adiba yang sudah

duduk di bawah menghadapnya.

Adiba membolak balikan kertas yang dilempar Gibran, terdapat 100 soal matematika Tingkat Aliyah degan jenis yang berbeda.

1
Vivi Oktaria
Penulisan nya perlu di perbaiki lagi thor 🙏🏻
Herna Wati
gampang amat irayu
arzetti azra
Buruk
arzetti azra
Kecewa
Hilmiya Kasinji
bagus
Leerienna
seru ceritanya
guntur 1609
seharusnya sdh jatuh talak atas diba. krn gibran sdh berbicara ingin bercerai setelah 3 bulan.talak 1 tu
Rini Haryati
ceritanya bagus dan keren
sukses thor
semangat
mksh
Lienda nasution
bukankah wanita baik baik diberi Allah suami yang baik. tapi ini cerita menyalahi wanita baik mendapatkan suami penzina hi...
AwanMendung26: Assalamu'alaikum. 🌻
Halo, kak. Jika berkenan mampir di cerita aku juga, yuk! judulnya cinta seluas samudera. 🌻

Terima kasih. 🌻
total 1 replies
Lienda nasution
ini anak yatim piatu habis dikerjain sama si iblis Gibran
Lienda nasution
cerita aneh kok Adiba diam saja dipeluk dicium sama lelaki yang bukan suami
Lienda nasution
kok gak ada rasa marahmu adiba Gibran kan bukan muhrim
Lienda nasution
do'a untuk ayahnya mana adiba
Lienda nasution
ngapain habiskan tenaga buat 2 orang khianat rugi sekali tenaganya mending melakukan yang berguna. orang selingkuh gak perlu diperjuangkan. ayoo gibran katanya lulusan S3 pake otakmu
Yani
Jangan main nuduh licik selediki dulu .udah jelas dia yang bersalah
Yani
Gibran yang licik itu kamu
Yani
Adiba usia 21 masa masih putih abu"
Yani
Di Gibran bodoh udah di selingkuhin masih aja cinta bener" bodoh
Yani
Afa janji apa ya?
Yani
Udah lama juga ni novel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!