Apakah waktu adalah dapat mengubah semuanya? Termasuk setiap kehidupan. Mungkin iya. Dan itulah yang dirasakan oleh gadis biasa yang terlempar ke dunia lain, dalam seketika dia mengubah semuanya dengan kedua tangannya sendiri.
Sebuah Negara yang amat besar harus terpecah belah menjadi dua sehingga memiliki latarbelakang yang sangat buruk.
Kehadiran gadis itu mungkin bukan main-main. Sehingga siapa saja dapat mengira bahwa gadis itu adalah 'Sebuah Ancaman'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mauraa_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hiragi Bodoh
Semerbak bubuk putih mengenai wajah Hiragi. Jendela kamarnya yang sengaja direnggangkan untuk mempersilahkan hawa segar memasuki ruangan. Hening dan sunyi itulah keadaan sekarang.
Sepulangnya dari Kediaman Keluarga Hans. Hiragi terus berbaring tidak menunjukkan tanda bahwa dia akan sadar. Erthan telah menyuruh Dokter untuk memeriksa Hiragi lebih lanjut, dan ada racun yang menyeruak di tubuh Hiragi. Racun itu tidaklah berbahaya, namun jika diteruskan bisa membahayakan bagian saraf otak.
Jadi Dokter memberikan beberapa obat yang harus diminum oleh Hiragi.
"Harui~ apa kau tidak pernah berciuman~" Ucap Gorsa yang kedinginan di ruang tamu. Ya tahuh ini adalah waktunya turun salju, Yuri pun menyempatkan dirinya kembali ke kamar Hiragi untuk memeriksa keadaannya.
"Ha-Hah? Tentu saja tidak pernah!" Balas Harui dengan cepat namun membuat warna wajahnya seperti tomat masak.
"Menurutku apa yang dikatakan Gorsa itu benar." Tambah Pamannya.
"HAH? Mahkluk bodoh ini yang datang tanpa diundang, mengapa Paman dukung?!"
Harui merasa dirinya panas, dan jantungnya tak karuan. Memang disaat seperti ini seharusnya Hiragi harus cepat meminum obatnya, tapi mungkin Hiragi kelelahan sehabis pertandingan tadi.
Gorsa dan Erthan pun menyuruh Harui yang meminumnya lalu dipindahkan melalui mulut Hiragi, itukan sama halnya dengan berciuman.
"Aku ingin kembali!" Ucap tegas Harui dan langsung hilang dari hadapannya.
"Anak ini pasti malu." Batin Gorsa dan Erthan bersamaan.
Musim dingin di tahun ini lebih dingin ketimbang tahun lalu. Semua jendela Mansion ditutup rapat, sehingga para pelayan rumah menyalakan beberapa api penghangat di ruangan tertentu.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukkan pintu membuat Gorsa terbangun dari lamunannya, disaat seperti ini adalah hal yang langka. Bisa bersantai tidur makan serta melakukan apapun sesuka hati.
Erthan membuka pintu utama Mansion.
"Hai! Paman."
Erthan menemukan Biara yang ada di depan pintu dengan membawa beberapa makanan.
"Biara, masuklah cepat, di luar sangat dingin."
Biara langsung membuka jubah tebalnya dan ia menyerahkannya pada para pelayan Mansion itu.
Kehadiran Biara ingin melihat keadaan Hiragi. Kejadian kemarin itu membuat dirinya terkejut, karena dengan kemampuannya sendiri Hiragi dapat menaruh kepercayaan orang lain.
Yuri pun langsung mengajak Biara menuju
kamar Hiragi.
Cklek!
Suara pintu besar Hiragi terdengar, Biara dari ambang pintu pun dapat melihat Hiragi terkulai lemas di atas ranjang, dan perlahan lahan menemui gadis cantik yang sudah dia anggap sebagai Adik sendiri.
"Hiragi kau ini sungguh wanita yang kuat, cantik dan serba bisa."
"Aku kadang melihatmu begitu menderita menahan semua ini sendirian, padahal kau punya Tuan Muda Harui yang selalu bersamamu, Pangeran Erthan, Bibi Yuri, Paman Daisi Bibi Mina. Kau mempunyai kami semua, tapi kenapa kau harus menanggung semua sendirian."
Biara begitu sedih melihat keadaan Hiragi yang sekarang. Terkulai lemah di atas ranjang tanpa suara sedikit pun.
...☄☄☄☄...
Sreek~
Biara merasakan sesuatu dari yang dia pegang, selama setengah jam Biara tertidur di samping Hiragi, berharap sahabatnya itu bangun.
Dan ya, semua itu benar. Hiragi saat ini telah terbangun dari tidurnya yang lumayan panjang dan menatap ke jendela besar yang sedang berjatuhan salju putih. Biara dengan mata yang berkaca langsung memeluk Hiragi.
Serta menangis sejadi-jadinya, Biara sangat khawatir karena Hiragi dari tadi tidak menandakan bahwa akan siuman, dan kini disaat Hiragi sadar Biara langsung memeluk erat tubuh yang ramping itu.
Hiragi menoleh dengan tatapan kosong yang sedang dipeluk oleh Biara.
"Ka-Kau siapa?"
Biara tersentak dari tangisannya langsung mengarahkan pandangannya ke Hiragi.
"Eh... Bukan bukan, siapa aku?~"
"Hah? Seharusnya aku tanya itu dirimu!"
"Hi-ragii?"
Biara kebingungan sendiri, saat siuman Hiragi kehilangan kewarasannya. Hiragi pun langsung menatap Biara, dengan sontak Biara berdiri dan menjauh secara perlahan. Saat ini wajah Hiragi sangat mengerikan seperti rada rada bodoh dan dicampur pemabuk.
"HAAA!"
Duk duk duk duk duk duk.......
Harui pusing dengan kebisingan itu langsung keluar kamar dan memastikan hal apa yang terjadi di luar.
"Kena-"
"Tu-Tuan Mudaaaa tolong akuu!!~~"
Harui melihat Biara berlari kencang ke arahnya. Dan sempat sempatnya dia berfikir sejak kapan Biara ada di sini, bukannya memastikan siapa yang mengejarnya.
"HAHAHAHA!!"
Harui menoleh sedikit kanan, dia melihat Hiragi sedang berlari mengejar Biara.
BRUAAAK!
"Astagaa!" Ucap Gorsa dengan mengusap dadanya..
Erthan yang merasa terganggu langsung beranjak dari lantai dua menuju ke atas lantai tiga. Saat tiba dia melihat para manusia yang saling tertindis dan melihat ada Hiragi disana.
"Ada apa ini, Hiragi kau, kenapa ada disini-"
"Husst!... Aku ingin tidur."
Krik krik krik. . . . . . . .
"Hiraaagi! Apa yang terjadi padamu?!" Teriak histeris Pamannya sambil menggoyangkan seluruh tubuh Hiragi.
"Hi-Hiragi sadarlah." Begitupula dengan Biara, dia begitu bingung dengan sikap aneh Hiragi.
"Kenapa gadis ini menjadi gila." Seperti inilah pemikiran pria itu.
Tapi memang benar, Hiragi langsung tertidur di atas badan Harui. Perempuan itu sungguh tidak sadarkan diri maupun telah siuman. Racun yang ada di tubuh Hiragi seperti alkohol dan obat-obatan untuk tidur. Namun yang terjadi seperti ini.
Erthan menyuruh Harui untuk menggendong Hiragi untuk kembali ke kamarnya. Dan Erthan kembali menghubungi Dokter Sia.
...☄☄☄☄...
"Hmm... Nak Hiragi tidaklah amnesia, hanya saja karena pengaruh obat itu, dan lebih baik saat ini jangan paksakan nak Hiragi untuk mengetahui dirinya sendiri ataupun orang lain, biasanya kalau seseorang terkena racun ini pasti menjadi ceroboh, oleh karena itu kalian harus menjaga nak Hiragi dengan baik dan ini adalah hal paling penting, nak Hiragi akan tetap terus terang, entah itu rahasia pribadi atau yang lainnya."
Sama seperti mengurus anak kecil. Dokter berkata hal ini tidaklah berlangsung dengan lama, paling keesokan harinya akan pulih. Karena campuran alkohol dan beberapa obat-obatan tidur.
Mereka berempat pun menatap Hiragi dengan bersamaan.
"Biaraa~" Ucap ceria Hiragi.
"Eh?"
Hiragi memeluk Biara dengan erat dan tak lama kemudian teralihkan oleh kehadiran Harui.
"Cuih!"
Urat-urat kekesalan Harui terbentuk disegala kepalanya, bagaimana bisa dia direndahkan seperti itu.
"Hei kau laki-laki jahat, pergilah." Ucap Hiragi
tak sadarkan diri.
"Apa?" Harui membuat alisnya berkerut.
"Kau ingin bertengkar hah?" Tukas Hiragi mengancam Harui.
"Jika saja-"
"Humph!... Mengaku kuat, tapi saat mencariku hilang, sama sekali tak menyadari bahwa aku bersama Biara."
Dengan segala kejujuran tanpa batas Hiragi seperti mencurahkan isi hatinya.
Namun tiba-tiba air matanya terjatuh. Senyuman tadi dalam sekejap hilang. Menyisakkan sakit. Bukan hanya Harui yang bingung namun Erthan dan Biara pun merasakan hal yang sama.
"Harui bodoh, tak punya otak!"
"Kau ini-"
"Kenapa dia harus melindungiku, seharusnya saat ini aku yang harus melindungi dia. Bukan dia saja, semua orang." Isak Hiragi.
Hiragi terdiam sebentar dan mulai ceria lagi. Harui tersentak mendegar bahwa dirinya di hati dan pikiran Hiragi seperti itu. Harui selalu merasa bahwa gadis ini membenci dirinya, ternyata tidak. Emosi Hiragi kini menjadi seperti anak anak pada umumnya. Tiba-tiba Hiragi menoleh ke bawah tepat di arah dadanya.
"Oh benar, saat ini ukuran da-"
"Hump!... Hump!!" Biara dengan peka langsung menutup mulut Hiragi sekuat-kuatnya dan menyuruh Tuan Muda Harui dan Pangeran Erthan bergegas pergi dari kamar.
Erthan masih bingung kenapa mereka dihusir begitu pula dengan Harui tanpa memakai pakaian atasnya.
Cklek!
Biara menutup pintu kamar Hiragi untuk mengawasi gadis itu.
"Huft....."
Keluh Biara, saat ini membutuhkan kesabaran tinggi untuk mengatasi masalah ini.
"Hiragi sedang sakit, dan saat ini aku harus ada di sekitarnya, kalau tidak, mungkin Hiragi akan mengungkapkan segalanya tentang dirinya yang dapat membuat harga dirinya jatuh."
Biara tersenyum melihat tingkah Hiragi yang kekanakan, Hiragi telah banyak membantunya, kini saatnya bagi Biara yang membantu Hiragi.
Moga komen ma like nya tersampaikan okey, yaa walau cuma 'Abc' ma 'Xyz'😆😆
Knp sad ending????