"Aku Eve, akan ku pastikan kamu ada di genggamanku, Kak"
.
.
.
Bagaimana kisah Revalina Diharjo mengejar cinta Sahabat Kakaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Soal waktu
"Reva, masuk ke mobil ! ".
Suara yang muncul dari belakang Eve, membuat gadis itu terlonjak kaget.
Eve sedang menungggu jemputan Kak Dimas seperti biasa. Tania yang biasanya menemaninya menunggu jemputan, sudah mendahului, karena ada acara keluarga di rumahnya.
Begitu mendengar suara, dia langsung kaget, dan berdiri. Ternyata guru Matematika baru. Eve heran.
"Saya sedang menunggu jemputan, Pak.. Terimakasih ". Ujar Eve se sopan mungkin.
"Dimas menelpon saya, dia tidak bisa menjemputmu karena harus menemui klien". Terang Arka.
"Kalau begitu saya naik ojek saja, Pak.. Kebetulan mau mampir dulu ke suatu tempat".
Eve menundukkan kepalanya sekilas, sebagai kesopanan. Kemudian melewati Arka begitu saja. Merasa dicuekin, Arka langsung mengikuti Gadis itu. Begitu hampir sampai di mobilnya, dia langsung menarik Eve dan memasukkannya ke dalam mobil secara paksa. Dengan begitu tidak ada yang mengetahui interaksi mereka berdua.
Dia tidak mau seperti Arya yang pintar tetapi ceroboh. Dia yakin, sahabatnya itu terlalu memanjakan si troublemaker, sehingga Dia bisa bertindak tak terkendali.
"Pak Reyy apa - apa an iniii !!!". Eve menggedor pintu mobil berulang kali. Arka memasuki mobil dengan tenang. Memakai sabuk pengaman, dan mulai menyalakan mobil.
"Turunkan saya sekarang pak ! Ini pemaksaan namanya ! Saya tidak mau !!".
Eve memukul lengan Arka berkali - kali.
Arka cuek saja. Gadis tantrum disebelahnya ini, pasti tipikal yang tidak bisa diperlakukan halus. Harus dipaksa agar tenang. Ya betul !
"Mau mampir kemana? Biar Kakak antar.. " Setelah Eve tampak tenang, dan tidak lagi ngedumel, Arka mulai mengajaknya bicara.
"Di sekolah, cuman kamu yang Kakak kenal..".
"Tapi saya nggak kenal Bapak ". Jawab Eve dengan judes. Sepertinya, Sahabat kakaknya yang satu ini menyebalkan. Sangat berbeda dengan Kak Arya.
'Kak, Aku kangen kamu. Kamu apa kabar?'. Monolog Eve dalam hati. Jika teringat Arya, suasana hatinya langsung galau.
Eve menatap keluar jendela mobil, Berada di dalam mobil orang lain, membuat Dia mengingat Kak Arya. Dia ingat selalu mencari kesempatan untuk selalu diantar oleh Arya. Mobil merah milik Arya menjadi saksi bagaimana lembutnya Arya memperlakukannya. Pernah jemarinya digenggam oleh Arya sepanjang jalan, Karena waktu itu Eve sedang bersedih. Atau saat Arya mengelus dan merapihkan anak rambut Eve yang berantakan karena banyak gerak saat berceloteh. Atau saat Arya memberikan hadiah karena Eve berhasil menjuarai lomba di tingkat provinsi. Mengingat itu, Eve menyentuh lehernya, ada kalung kecil berliontin hati di sana. Kalung yang sejak pertama diberikan dan dipakaikan oleh si pemberi, tidak pernah Dia lepas sekalipun.
"Kita turun dulu, Kakak lapar belum makan sejak pagi ! ".
Eve tersadar, dan saat itu, pintu mobil tempatnya duduk telah dibuka oleh Arka. Karena tidak ada pergerakan dari Eve, akhirnya Lelaki itu meraih tangan kiri Eve yang saling bertaut di pangkuan.
Arka menghentikan mobilnya di sebuah restoran makanan khas daerah B. Saat dia mengatakan lapar, itu bukan kebohongan. Karena faktanya sejak pagi dia belum memakan sesuatu apapun. Risiko single. Hehehe,
"Pilih makanan yang kamu mau !". Walaupun sangat lapar, namun Dia masih bisa bersabar untuk terlebih dahulu menawari Adik sahabatnya memilih makanan.
"Saya tidak lapar pak ! ". Sahut Eve jengkel. Guru baru yang sok kenal dengannya ini, sungguh menyebalkan sekali. Dia sudah dipaksa dua kali se sore ini.
"Baiklah terserah ! ".
Arka mengambil buku menu yang sudah dia angsurkan tadi. Dia mulai memilih makanan yang menurutnya enak, dan sebelumnya belum pernah dia pesan. Setelah memilih, Pelayan menghampiri meja tempat dimana Arka dan Eve makan.
"Saya pesan ini, masing - masing dua ".
"Baik kak, ditunggu pesanannya ya". Ujar si pelayan dengan ramah.
"Bisakah Pak Rey telpon Kak Dimas sebentar? Saya mau minta jemput ! ".
"Tidak bisa ". Jawab Arka singkat.
Enak saja mau pergi. Dia sudah menahan malu untuk meminta Dimas supaya tidak menjemput adiknya, ini malah dia mau ditinggalkan begitu saja. Dia tadi bilang ke Dimas kalau adiknya akan telat pulang karena mendapatkan tugas darinya. Tentu saja Kakak Eve itu tidak percaya begitu saja. Tugas kan bisa dilakukan di rumah. Akhirnya Arka bersilat lidah. Dia beralasan bahwa Dia ingin mengetahui sampai mana proses belajar mengajar yang sudah dilakukan oleh Arya, yang berarti sebagai pengganti, Arka harus mengetahui secara detail.
"Kenapa harus adekku? ". Pertanyaan kesekian kalinya dari Dimas.
"Ya ampun ! Kalo jadi Kakak laki - laki dari seorang gadis harus kayak gitu?"
"Jangan macem - macem Lo sama adek gua ! Dia anak emas.. ". Ancam Dimas. Dia memang bercanda, namun serius juga di satu waktu.
"Hmmm ". Panggilan itu pun berakhir, dengan hati Arka yang sedikit dongkol.
"Sampai dimana Arya mengajar kelas kalian?". Arka kembali mencoba berbincang dengan Eve.
"Kenapa tidak bertanya langsung ke Kak Arya? Bukankah kalian cukup dekat? Pak Rey menjadi guru atas permintaan Kak Arya kan?".
Eve balik bertanya. Arka menaikkan satu alisnya. Heran.
Eve tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya barusan. Sepertinya memang seperti itu. Entah mengapa, perasaannya mengatakan bahwa Kak Arya pasti meminta Arka menggantikan posisinya sebagai Guru. Mana mungkin seorang Pebisnis, yang sedang merencanakan pembukaan cafe baru di daerah ini, memutuskan untuk menjadi Guru?
"Aku pertama kali jatuh cinta ya ke Dia, tetapi Dia ninggalin Aku begitu aja..".
Eve mengalihkan pandangannya keluar. Dari balik kaca restoran, dia bisa melihat kendaraan yang lalu lalang.
Arka tidak mengatakan apapun. Ucapan Eve barusan tidak bisa dia respon. Dia tidak berada di posisi Eve.
Seingatnya dulu, saat di bangku SMA, dia tidak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta, galau, apalagi yang sampai terlihat seperti gadis di depannya ini.
Dan setelah masa SMA berakhir, Dia melanjutkan kuliah di luar negeri. Dan selama itu pula, tidak ada lawan jenis yang membuatnya tertarik. Atau sekedar iseng untuk merasakan rasanya punya kekasih. Sama sekali. Garis bawahi itu. Sama sekali tidak pernah !
Dia normal se normal - normalnya, dalam artian orientasi s3ksualnya tidak menyimpang. Mungkin ini soal waktu, dan belum menemukan orang yang tepat.
Yah, ini soal waktu, dan belum menemukan orang yang tepat .
Ulang Arka dalam hati, sekali lagi.