Follow sosmed author
IG:Mia novita23
Tiktok:Miss Mia Novita
Perceraian antara kedua orangtuanya membuat Argantara tidak memiliki hubungan baik dengan ayahnya. bagaikan air dan minyak yang tidak akan pernah bisa bersatu. Ikuti kisahnya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembang 2
Kinara tiba di kawasan Lembang saat jarum jam menunjukkan hampir tengah malam. Udara pegunungan yang dingin menusuk tulang, dan kabut tebal melewati jalanan, membuat jarak dipandang terbatas. Ia mengemudi perlahan, mengikuti petunjuk samar yang pernah Daren berikan"Jalan manifold setelah tikungan besar dengan pohon beringin tua."
Jalanan yang ia lalui semakin sempit dan menanjak, memasuki kawasan hutan pinus yang sunyi. Kinara merasa takut, tetapi ketakutan akan keselamatan Arga jauh lebih besar.
Setelah beberapa saat, Kinara menemukan pohon beringin tua yang dimaksud. Ia membelokkan mobilnya ke jalan setapak yang hampir tidak terlihat. Mobilnya berguncang hebat melewati jalur tanah berbatu yang gelap gulita. Kinara harus mengandalkan lampu utama mobil dan instingnya.
“Kumohon, Arga, kau harus di sana,” bisik Kinara sambil memegang kemudi dengan erat.
Lima belas menit kemudian, Kinara melihat secercah cahaya redup di kejauhan, tersembunyi di balik semak belukar. Itu pasti pondok yang dimaksud Daren. Kinara mematikan mesin mobil dan berjalan kaki mendekati cahaya tersebut.
Kinara merasakan jantungnya berdebar kencang. Bagaimana jika Arga menolak membicarakannya? Bagaimana jika Arga semakin marah dan melontarkan kata-kata yang menghancurkan? Ia harus siap menghadapi reaksi terburuk Arga.
Kinara berhenti di ambang pintu pondok, di mana cahaya lilin tampak berkedip-kedip di dalam. Kinara mengumpulkan semua keberaniannya dan mengetuk pintu kayu yang reyot itu.
Tok... Tok...
Tidak ada jawaban.
Kinara mencoba lagi. Tok... Tok... Tok!
Di dalam, Arga tersentak. Ia meletakkan foto ibunya di atas meja. Siapa yang bisa menemukannya di tempat terpencil seperti ini? Ia mengira itu hanyalah hewan, tetapi ketukan kedua dan ketiga terlalu teratur untuk menjadi binatang.
Arga bergerak perlahan, tangannya meraih gagang pisau lipat yang selalu ia simpan di saku jaketnya. Ia mendekati pintu, menahan napas lalu menempelkan telinganya ke kayu.
"Arga, ini aku. Kinara," suara Kinara terdengar, pelan namun jelas, menembus dinginnya malam.
Dunia Arga terasa runtuh untuk kedua kalinya dalam sehari. Bagaimana bisa Kinara muncul? Apakah Daren pengkhianat lain? Atau apakah Adrian bahkan mengetahui tempat ini? Kemarahannya kembali memuncak, bercampur dengan rasa sakit karena pengkhianatan yang terasa berlapis-lapis.
Arga tidak menjawab. Ia tetap berdiri kaku di balik pintu.
"Arga, aku tahu kamu mendengarku. Kumohon, buka pintunya. Aku tahu kamu marah, dan kamu berhak marah. Aku hanya ingin menjelaskan, aku mohon," suara Kinara terdengar memohon, hampir menangis.
“Pergi,” desis Arga, suaranya terdengar serak dan tajam, penuh kebencian.
"Aku tidak akan pergi sampai kamu mendengarkanku. Aku bisa menjelaskan tentang uang itu. Itu bukan seperti yang kamu pikirkan!"
"Aku tidak perlu penjelasan apa pun, Kinara!" Arga membentak, membanting ke dinding di samping pintu, membuat Kinara terlonjak. "Aku sudah melihat buktinya! Kau menjualku! Kau sama saja dengan Ayah! Kalian semua hanya tertarik pada harga yang bisa kalian dapatkan!"
Kinara mundur tersendat, napasnya tercekat oleh nada suara Arga yang menusuk. Ini bukan lagi mengecewakan, ini adalah luka yang sudah membusuk.
"Aku tidak tahu bagaimana kamu menemukanku, tapi sekarang, pergi ! Sebelum aku benar-benar melakukan hal yang akan kamu sesali seumur hidup!" ancam Arga, suaranya kini lebih terkendali namun jauh lebih mengerikan. "Anggap saja kita tidak pernah bertemu. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi."
Kinara bersandar di pintu, air mata mengalir membasahi pipinya yang dingin. Ia tahu Arga tidak sedang main-main. Rasa sakit yang ia dengar dalam suara Arga begitu nyata, begitu menghancurkan, hingga ia merasa tidak pantas berada di sana.
"Baiklah, Arga. Aku akan pergi," Kinara berbisik, dengan hati hancur. "Tapi aku hanya ingin kamu tahu satu hal. Aku tidak dibayar untuk mencintaimu. Dan aku sungguh-sungguh mencintai, terlepas dari semua kekacauan ini."
Kinara berbalik, langkahnya terasa berat saat ia kembali ke mobil. Dia tidak bisa memaksakan diri pada Arga yang berada di titik terendahnya. Yang bisa ia lakukan hanyalah pergi seperti yang Arga inginkan. Ia tahu, saat ini, dia adalah racun bagi Arga.
Kinara kembali mengemudi menembus kabut malam Lembang, kini tanpa tujuan yang jelas. Di dalam pondok, Arga merosot ke lantai, membiarkan dirinya tenggelam dalam kesunyian. Ia mendengar suara mobil Kinara menjauh.
Arga mengambil ponsel lamanya yang diambil dari saku jaket. Ia ingin membuangnya, tetapi ia melihat lagi screenshot bukti transfer itu. Tiba-tiba, ia menyadari detail kecil yang luput dari perhatiannya karena amarahnya yang membabi buta nama pengirim tangkapan layar itu bukanlah Adrian. Itu adalah nomor yang tidak ia kenal.
Siapa yang mengirimkan bukti transfer ini? Dan kenapa sekarang?
Di dalam pondok yang remang-remang, Arga masih memegang ponsel retak yang di tinggalkan Kinara. Ia menatap ulang foto screenshot bukti transfer itu. Ia telah melihat nama pengirim, Adrian, ayah. Namun, kali ini, fokusnya beralih pada pesan pengantar yang menyertakan foto tersebut.
Pesan itu berbunyi: "Dia dibayar. Bangunlah, Arga."
Arga ingat pengirim pesan itu. Itu adalah nomor tunggal, bukan nomor Adrian.
"Tunggu sebentar..." Arga membeku. Jika Kinara benar-benar bersekongkol dengan Adrian, kenapa Adrian harus repot-repot menyuruh orang asing mengirimkan bukti transfer itu? Kenapa Adrian tidak saja yang menampilkannya saat mereka bertemu tadi? Atau kenapa Adrian harus membiarkan Arga kabur?
Logika yang dingin perlahan menembus kabut kemarahannya.
Kinara membawa bertemu Adrian (Pengkhianatan yang Terencana).
Seseorang (Pihak Ketiga) segera mengirimkan bukti transfer uang Adrian pada Kinara (Pukulan Telak).
Kinara berhasil dilumpuhkan dan ia menjauh.
Skenario ini terlalu rapi. Rasanya seperti siasat yang dirancang bukan hanya untuk menarik Arga, tetapi juga untuk memisahkan Arga dan Kinara secara permanen .
"Kenapa ada orang lain yang repot-repot mengirimkan ini padaku?" Arga bertanya pada dirinya sendiri. "Jika tujuannya hanya untuk membawaku kembali ke Ayah, kenapa harus memastikan aku membenci Kinara sebegitu di dalamnya?"
Arga bangkit dan mencari kertas serta pena yang ia simpan di pondok itu. Ia menuliskan nomor pengirim pesan itu. Pihak ketiga ini adalah kuncinya. Orang ini tidak hanya ingin Arga kembali, tetapi juga ingin Kinara disingkirkan. Seseorang yang mengetahui kelemahan Arga, yaitu rasa sakit karena dikhianati.
"Papa...atau mungkin seseorang yang menggunakan papa," pikir Arga.
Arga menatap api lilin yang bergoyang. Ia harus mencari tahu siapa pemilik nomor itu. Jika tebakannya benar, Kinara mungkin tidak sepenuhnya berbohong. Ia mungkin dibayar, tetapi bukan sebagai alat Adrian, melainkan sebagai korban dalam permainan orang lain. Permainan yang kini telah menghancurkan satu-satunya kepercayaan yang ia bangun.
Keputusan Arga berubah. Ia tidak bisa lari lagi. Ia harus mencari tahu siapa dalang di balik semua ini.