"Tanggal 1 April pukul 11.11 aku sepertinya telah jatuh cinta!"
Gema menyadari perasaannya dan pada hari itu juga pemuda yang masih duduk di bangku sekolah itu akan melamar sang pujaan hati.
"Aku akan menikahi Chila sekarang juga!"
Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DHEVIS JUWITA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Firasat Buruk
Tidak seperti biasanya, hari ini Chila sibuk memanaskan makanan untuk suaminya. Kebetulan hari ini dia mendapatkan kiriman makanan dari Roro.
"Makanlah!" Chila memberikan satu piring nasi beserta lauk berprotein tinggi.
"Kita membutuhkan banyak protein jadi mami mengirimkan beberapa lauk hari ini!"
Pada saat itu, Gema tengah belajar dan merasa terharu karena mendapat perhatian dari Chila. Dia pikir kalau Chila akan marah padanya.
Ya, di lubuk hati terdalam sebenarnya Gema ingin melihat Chila yang cemburu supaya dia merasa kalau cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Terima kasih, istriku," ucap Gema.
"Aku akan memakannya!"
"Habiskan dan selamat belajar!" Chila kembali duduk dan menghadap bukunya lagi.
Gadis itu harus fokus belajar karena besok adalah ujian terakhirnya.
Setidaknya dia harus mendapat nilai memuaskan untuk bisa masuk ke Universitas.
"Oh iya, kau ingin ambil jurusan apa saat kuliah nanti, sayang?"
Gema memecah keheningan diantara mereka.
Kalau Gema sudah pasti akan mengambil jurusan bisnis karena harus meneruskan bisnis keluarga.
Dia jadi penasaran apa Chila akan mengambil sekolah kedokteran setelah ini.
"Kalau dipikir-pikir jurusan seni akhir-akhir ini sedang populer, aku ingin belajar menggambar dan melukis lalu membuat desain, sepertinya orang sepertiku memang cocok berada di belakang layar," jawab Chila.
Gema terkejut karena mendengar hal yang tidak terduga. "Apa kau yakin?"
"Belum pasti tapi aku akan mencobanya," sahut Chila.
Sepertinya Gema tidak akan bertanya lagi karena Chila belum memutuskan dengan pasti. Sepertinya gadis itu memang ditakdirkan untuknya, Gema lebih suka jika istrinya fokus mengurus rumah tangga saja daripada karirnya sendiri.
Malam itu, keduanya tidur lebih awal supaya besok tidak bangun kesiangan. Sejenak mereka melupakan masalah gosip dan kedekatan Gema dengan adik kelas.
Lebih baik mereka saling menggenggam tangan saat tidur.
Kini Chila sudah mulai terbiasa tidur berdua dengan Gema.
*
*
"Aku harus menjemput Ruka, apa tidak masalah?" tanya Gema seraya mengoles selai ke roti untuk sarapan.
Chila hanya menjawab dengan anggukan kepala tanpa suara.
"Setelah ujian, Ruka akan membuat pengumuman jika kami sudah putus," jelas Gema.
Pemuda itu memberikan roti yang sudah dia olesi selai pada Chila.
Tampak Chila masih tidak mau membuka suaranya yang membuat Gema bingung.
Akhirnya mereka berdua sarapan berdua dengan saling diam.
"Aku akan mencuci piringnya jadi cepatlah jemput Ruka!" Chila berdiri seraya membawa piring kotor ke wastafel.
Kali ini Gema membiarkan sang istri mengerjakan tugas rumah. Dan dia memang harus cepat pergi karena akan menjemput Ruka supaya akting mereka lebih meyakinkan.
"Aku pergi duluan, sayang!" pamit Gema.
Chila masih membasuh piring tanpa menyahut walaupun mendengar suara suaminya itu.
"Ini menyebalkan walaupun Gema melakukannya demi aku," gumam Chila.
Semua akan lebih mudah kalau Chila mau mengakui hubungannya dengan Gema. Tapi, semua jadi rumit seperti ini.
Tidak mau fokusnya hilang, Chila bergegas ke sekolah dengan memakai taksi.
Walaupun terlihat santai, diam-diam Galang meminta untuk orang untuk mengawasi anak dan menantunya. Dia sudah mendengar tentang gosip di sekolah, dia ingin membantu tapi sepertinya Gema bisa mengatasinya dengan baik.
"Ternyata anak muda bucin itu masih bisa berpikir dengan baik," komentar Galang yang menganggap Gema selama ini lebay.
"Tapi, kenapa aku masih tidak tenang?"
Galang merasa gelisah karena seperti mendapat firasat buruk.
cui cui cui