"Kau adalah milikku! Kau sudah membuatku tertarik menjadikanmu kekasih ku, jadi kau harus tahu diri dan jangan coba-coba untuk melarikan diri!" Lennox menangkup wajah gadis cantik itu, lalu mencium bibir ranumnya dengan seduktif.
Memiliki seorang kekasih yang merupakan seorang mafia bukanlah hal yang indah dan mudah seperti sebuah kisah cinta dongeng Cinderella yang diceritakan!
Dia adalah putra salah satu mafia terbesar yang ada. Dia terus memaksaku untuk menjadi kekasihnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dnrfitri_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24
"Selama hidupku, hanya kau saja wanita paling keras kepala yang pernah kutemui," kata Lennox, kedua tangannya bersilang dada.
"Dan kau juga pria paling kejam yang pernah kulihat!" sentak Serena lagi.
Lennox mengerutkan kening. Tidak pernah ada yang berani berbicara keras kepadanya, bahkan meskipun anggota mafia sekali pun.
Semua orang selalu bersikap segan dan hormat pada Lennox. Namun, kali ini Lennox mendapat perlakuan yang berbeda dari seorang wanita miskin seperti Serena.
"Turunkan nada bicaramu, atau kau akan ku buat tidak bisa bicara lagi," ancam Lennox.
Mata Serena terbelalak kaget. Serena tahu, ancaman pria itu selalu serius.
Akhirnya Serena bungkam sambil menelan salivanya dengan susah payah.
"Keluar dari kamarku! Aku ingin sendirian." Serena mengalihkan pandangan sembari memeluk lututnya sendiri.
Mata Lennox memicing. "Siapa kau berani mengusirku? Ini bukan kamarmu! Ini adalah mansion ku. Nona Serena Issabel, saat ini kau sedang berada di dalam mansion ku jika kau lupa. Oww, atau kau sudah menyadari bahwa tempat yang penuh kemewahan ini sangat nyaman? Dan kau mulai menyesal?" sindir Lennox.
Serena mendelik kesal. "Aku tahu. Tapi kedatanganmu membuatku sesak. Aku butuh ruang. Seharian kau membuat perutku kelaparan. Aku baru saja makan dengan perut yang perih. Tolong keluarlah dan berikan aku waktu sejenak untuk mencerna makananku. Setelah itu, aku akan keluar dari tempat neraka ini."
Jantung Serena berdegup resah saat Lennox ternyata tidak menuruti permintaannya sama sekali. Pria itu justru tetap berdiri tegap di tempatnya seraya berkacak pinggang.
"Kau tahu, tidak boleh ada orang yang berani memerintah ku!” kata Lennox sembari melangkah tenang menghampiri Serena.
Tanpa sadar Serena meremas tangannya yang berkeringat seiring langkah Lennox yang semakin mendekat.
Tubuh Serena yang kurus itu makin mengkerut panik dan tersudut ke kepala ranjang hingga punggungnya benar-benar mentok.
"Jangan mendekat!"
"Sudah kubilang tidak boleh ada yang berani memerintah ku!" tegas Lennox. Mata hazelnya mengkilat.
Lennox mencondongkan tubuhnya, membuat jarak wajahnya semakin dekat dengan wajah Serena yang berkulit seputih kapas.
Ya, dalam posisi sedekat ini. Tentu saja Serena langsung pucat pasi jika berhadapan dengan Lennox.
"Kewanitaanku masih sangat perih. Aku tidak ingin lagi melakukannya. Kau membuatku kesakitan saat berjalan!" Serena berkata cepat, seolah takut jika Lennox akan kembali menyentuhnya secara paksa.
Lennox tersenyum menyeringai. "Kau begitu percaya diri mengira aku akan sudi menyentuhmu lagi. Perlu kau tahu jika aku biasanya tidak pernah suka menyentuh wanita sepertimu lebih dari satu kali, kecuali wanita itu spesial bagiku. Seharusnya kau ku pakai beberapa kali, tapi karena kau bersikeras tidak ingin menjadi kekasihku, kau sama seperti wanita lainnya yang ada di mansion ini." bisik Lennox.
Serena tersenyum. "Jika begitu semoga aku tidak pernah menjadi yang spesial bagimu agar aku tidak perlu lagi menjadi boneka pemuas nafsumu," balas Serena yang seketika memadamkan raut wajah Lennox.
Dari riak wajahnya yang redup, tampaknya Lennox tidak suka mendengar perkataan Serena barusan.
"Tapi kau juga harus tahu satu hal ..." kali ini Lennox berdiri menegakan tubuhnya. Kedua tangannya melipat di depan dada.
Mata Serena ikut mendongak menatap wajah pria itu.
"Biasanya setelah aku menikmati seorang gadis tawanan sebanyak satu kali, aku akan langsung melempar mereka pada bawahanku untuk dimainkan sesuka mereka. Kadang aku juga akan menjualnya ke tempat pelelangan jika gadis itu terlihat menarik," sinis Lennox.
Terhenyak, Serena sampai membulatkan matanya lebar-lebar.
Sementara Lennox justru tampak puas dengan senyum bajingannya.
"Tidurlah yang nyenyak, Serena Issabel! Besok aku akan tentukan nasib apa yang paling bagus untukmu. Antara memberikanmu pada para anggotaku atau menjual mu ke tempat pelelangan." Setelah mengatakan itu, Lennox berbalik dan beranjak keluar dari kamar Serena.
Ditutupnya kembali pintu kamar itu dengan rapat. Meninggalkan Serena yang masih tercenung di atas ranjangnya.
"Dia akan melakukannya? Lennox bukan orang yang bermain-main dengan kata-katanya. Apa dia akan benar-benar melakukan itu padaku?" tangan Serena meremas pelan rambutnya sendiri. Merasa frustasi.
Sesak napas menghimpit dadanya. Entah bagaimana nasibnya esok hari.
𝚖𝚊𝚊𝚏 𝚌𝚞𝚖𝚊 𝚊𝚔𝚞 𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚊𝚠𝚊𝚕 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚑𝚒𝚛 𝚌𝚎𝚝𝚒𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚜𝚎𝚍𝚒𝚔𝚒𝚝 𝚕𝚊𝚖𝚋𝚊𝚝🙏 𝚜𝚎𝚖𝚊𝚗𝚐𝚊𝚝 thor