NovelToon NovelToon
Laki-laki Pilihan Suamiku.

Laki-laki Pilihan Suamiku.

Status: tamat
Genre:Janda / Cerai / Cinta Seiring Waktu / Keluarga & Kasih Sayang / Kontras Takdir / Trauma masa lalu / Tamat
Popularitas:135.4k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Yunus

Sakit tak berdarah dirasakan perempuan bernama Ananta Gayatri Rumi ketika laki-laki yang menjadi suaminya justru mendorongnya pergi. Tidak hanya itu Ananta Gayatri Rumi di ceraikan hanya karena masalah sepele, Laki-laki yang menjadi suaminya kecewa karena saat pulang kerja tidak menemukan istrinya di rumah.

Hanya perihal sepele yang menjadi alasannya.

Saat mengetahui kebenaran yang terjadi. Suaminya itu menyesal, tapi semua tak lagi sama. Talak sudah jatuh.

Tak habis akal, anak kepala desa itu memanfaatkan kedudukannya untuk menjerat istrinya yang sudah terlanjur dijatuhi talak tiga.

Dia memaksa Ananta Gayatri Rumi menikah dengan laki-laki pilihannya, laki-laki yang kerap perempuan itu ajak bicara.

Laki-laki tak sempurna yang akan dijadikan tumbal supaya dia bisa kembali rujuk dengan Ananta Gayatri Rumi.

Lantas siapa sebenarnya laki-laki pilihannya itu?
Benarkah rencananya sesuai dengan keinginannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sabar

"Jadi, Abati datang sendiri?" dari sekilas saja, Jaya tahu jika putrinya tengah kecewa.

Bakda subuh gadis cantik paduan wajah Jaya dan mendiang istrinya sudah berada di kediaman Kiai Ahmad Sulaiman.

Lelaki bernama Dafa adalah pengawal khusus untuk calon penerus ponpes Al-Hasan itu.

Duda tampan itu menyapa sahabatnya yang kini sudah sangat jarang ditemui.

"Bunda sedang tidak enak badan, Zahra masuk dulu. Abati mau bicara sama Pak Lik."

"Apa kabar, Gus?" sapa Dafa sembari menjabat tangan Jaya.

"Alhamdulillah, baik, Antum sendiri bagaimana?"

"Alhamdulillah, ana juga baik, sehat, Alhamdulillah. Kok nggak dibawa Mba Ruminya, Gus?"

Jaya enggan menjawab, ia justru menanyakan perihal Dafa sendiri.

"Meskipun sudah pisah, kata Abah kalian masih tetap profesional, jujur, aku iri sama Antum, Dafa." tutur Jaya.

Dafa ini adalah orang kepercayaan Kiai Ahmad Sulaiman, Abah Jaya. Sementara mantan istrinya bernama Sauma, orang yang menjadi kepercayaan dari Umi Zalianty. Nyatanya meskipun sudah bercerai keduanya masih mengabdi kepada kedua orang tuanya, termasuk menjadi pengajar di ponpes Al-Hasan.

"Sayangnya, sering kali yang tampak di pandangan beda dengan kejadian sebenarnya, Gus."

Ah, begitu dalam makna ucapan tersebut. Jaya seorang bercermin dengan kehidupannya sendiri.

Karena asik bercengkrama, Jaya tidak sadar telah begitu lama duduk bersama, ia baru tersadar ketika sang putri sudah menyodorkan ponsel di hadapannya.

"Zahra mau bicara sama, Bunda." dengan ringan Zahra memanggil seperti itu, seolah gadis 10 tahun tepat hari ini itu sungguh begitu mengharapkan kehadiran Rumi disisinya.

Jaya tak mengelak, dengan segera ia menghubungi Rumi. Begitu panggilan terangkat Jaya tak memiliki kesempatan untuk sekedar menyapa, Zahra langsung menyapa wanita di sebrang sana dengan riang.

Sekitar lima belas menit Zahra baru memberikan ponselnya, dan berkata jika Rumi ingin bicara dengannya.

"Bunda mau bicara sama Abati." ujar gadis itu sebelum melenggang pergi.

"Hallo assalamualaikum!" sapa Jaya.

Terdengar jawaban salam dari Rumi. Jaya menunggu sang istri bicara lebih dulu, menunggu apa yang ingin Rumi bicarakan.

"Mas, Zahra meminta aku, untuk izinkan dia sama kamu, katanya dia ingin berkunjung ke sini, apa boleh?" suara lembut Rumi menyapa indra pendengarannya.

Jaya menghembuskan napas pelan sebelum berujar.

"Saat ini hanya Zahra yang bisa menggantikan peran ku dan juga Dinar, biar Abah dan Umi yang mengajari langkahnya, jangan ada yang ikut campur."

"Bukan begitu maksudku, Mas_"

"Abah dan Umi hanya punya Zahra, jadi jangan ganggu dia." kalimat itu serat pinta.

Jaya ingin anaknya meniti langkah mengenal agama. Cita-citanya hanya melihat Zahra hidup dengan syariat kuat, tak apa jika jarak memisahkan mereka, asalkan anak perempuannya memiliki ilmu yang bermanfaat. Masih belia, tak perlu dimanjakan dengan atribut kemewahan. Yang terbaik menjadi orang tua adalah melihat anaknya sukses serta berakhlak. Jaya mengambil contoh remaja sekarang. Bagaimana rusaknya moral dan akidahnya. Jadi, tidak salahkan jika dirinya menginginkan anaknya berjalan di atas tuntunan yang benar?

Akan selalu gagal paham. Ketika sesuatu dibicarakan dalam keadaan yang tidak tepat. Seperti halnya saat ini, Rumi menyalah artikan ucapan suaminya sebagai batas agar dirinya tidak terlalu mendekatkan diri kepada anak lelaki itu.

Terlebih mendengar kata jangan ada yang ikut campur! Kenapa Jaya berpikiran sejauh itu? Zahra hanya ingin mengunjunginya, bukan untuk menetap dan tinggal bersama, kenapa dia dianggap pengganggu?

Setelahnya hening. Jaya tak lagi mendengar suara dari Rumi. Bahkan karena pembahasan mereka Jaya sampai melupakan jika belum menyapa wanitanya dengan benar. Bertanya kabarnya hari ini misalnya. Apakah anak mereka rewel? Apa Rumi mengalami mual? Atau sudah makanlah kamu di sana? Dan kini, ponselnya sudah kembali gelap. Panggilan di akhirnya sepihak, dan itu Rumi yang mematikannya.

Ah, Jaya jadi menyesal, ingin menghubungi kembali nomor istrinya, suara Zahra sudah terdengar.

"Jadi, gimana Abati?" seru gadis itu menatapnya penuh binar.

Jaya tak bisa menjawab, karena dia memang tidak setuju Zahra datang mengunjungi mereka. Jaya tidak keberatan untuk membawa Rumi mengunjungi Zahra, tapi tidak untuk sebaliknya.

Di kota yang berbeda, dibenak perempuan yang tengah duduk termenung itu tengah diliputi tanya. Haruskah ia menyerah?

Tapi, ia belum bisa memberikan jawaban. Menggenggam garam dengan tangan penuh luka, ia belum bisa. Setelah pernikahan pertamanya gagal, haruskah terjadi hal yang sama di pernikahannya yang kedua?

******

Esoknya. Tepatnya menjelang siang. Jaya benar-benar datang seorang diri, nyatanya permintaan Zahra tidak diidahkan olehnya.

Rumi menyambutnya seperti biasa, tapi senyum tulus itu bisa Jaya lihat tak sampai ke mata. Karena pada dasarnya Rumi memang kecewa dengan ucapan Jaya kemarin, Rumi seperti menjadi orang asing diantara hubungan ayah dan anak itu.

"Besok akan ada ART yang akan membantu mengurus rumah." Jaya memberi tahu Rumi yang tengah mengekor di belakangnya.

"Tidak perlu ART, Mas. Aku masih bisa mengurus rumah."

Lagian bukannya mereka akan pindah?

"Sudah terlanjur, kamu nggak boleh nolak apa yang suami upayakan untuk meringankan beban pekerjaan mu!" tegas Jaya seolah tak ingin dibantah.

Beban? Rumi tidak pernah menganggap beban pekerjaan mengurus rumah dan suaminya.

"Mas, mau makan dulu atau_"

"Aku mandi dulu, lengket." Jaya memotong ucapan Rumi. Sungguh hari yang berat dilalui Jaya akhir-akhir ini.

Rumi menatap hampa punggung yang semakin menjauh darinya.

Semua terasa dingin, sedingin makanan yang saat ini sudah terhidang di meja.

Malam kembali menyapa, dan lagi-lagi Rumi harus puas dengan memakan masakannya seorang diri, karena sejak usai magrib hingga kini Jaya masih belum juga kembali dari luar.

Entah masjid mana yang lelaki itu tuju, sikap dingin Jaya sudah membuatnya terbiasa, untuk sementara Rumi akan bersabar, setidaknya berharap anaknya akan mencairkan kebekuan sang suami.

Jaya pulang sekitar jam setelah sepuluh malam. Lelaki itu berjalan memasuki rumah dan menemukan Rumi duduk di salah satu kursi kayu yang berada di dapur.

Wanita itu menoleh menatapnya sejenak sebelum mendatanginya untuk mencium tangan.

Tidak ada kemarahan, atau makian yang dilontarkan oleh Rumi pada Jaya saat lelaki itu tak mengabulkan permohonannya untuk membawa Zahra, pun kini, ketika ia datang tanpa penjelasan dari mana.

Yang terjadi Rumi masih menyambut kedatangannya dengan suka cita. Seperti tidak pernah terjadi sesuatu, dan sifat inilah yang membuat Jaya nyaman hidup dengan Rumi.

Dan selama dua bulan ini, tidak pernah ia lihat gelombang gairah pada wanita yang menjadi istrinya itu. Tidak ada tutur manja apalagi canda yang dulu kerap wanita itu lontarkan ketika menggodanya disaat dia masih kerap di sebut idiot. Rumi tidak pula bertanya apa yang membuat Jaya berubah menjadi dingin.

Kilasan sorot mata kecewa dari Rumi, senyumnya yang terpaksa, mata sembab yang sengaja ditutupi, makanan dimeja yang seringkali tak bisa ia cicipi meskipun Jaya tahu sebesar apa Rumi berusaha membuatnya.

Rumi yang meringkuk di sofa ruang tamu karena menunggunya meskipun ia larang, Rumi tidur meringkuk bak janin.

Semua membuat Jaya tersadar.

Ia bisa saja kehilangan Rumi jika selalu mengabaikan sinyal kelelahan yang belakangan semakin jelas terlihat dari istrinya.

1
.
⭐ ⭐ ⭐ ⭐ ⭐
.
Terima Kasih, cerita nya Bagus
Saya sungguh terharu,

Karya Anda sungguh berkesan 🤍
Sinta Harianto
Bagus
Rahmi Mamimima
Wkwkk jebakan yg mmbuat klian terjebak sendiri 🤣
Rahmi Mamimima
Gede bgt ujian rumi😭 kasian
Rahmi Mamimima
😭Nangis dg kata2 ini
Rahmi Mamimima
Bagus ceritanyaaa😍😍😍
Rahmi Mamimima
Oalah.. Hasan suami dinar
Gnti nama jadi jaya?
Lia Afriani
happy ending n bikin aku terharu
Lia Afriani
apa ya
Lia Afriani
Deg degan bcax
Lia Afriani
crtax bgus,gk kyk kebnyakan novel
Lia Afriani
sepertinya Jaya ingin mrasa jd orng lain untuknutupi knytaan yg tk bs diterimax
Hera sasuwe
👍
Riza Umi Nurjannah
pergi kalau sikap jaya masih dingin
Ranny
akh ternyata ini cerita lanjutan tentang Hassan yg di tinggal wafat dang istri kasihan banget ya hidupnya sampai depresi gitu /Sob/
Ulin Dadi
ternyata ini sambungan kisah Dinar n Hasan sangat bagusssss n apakah da lanjutan u kisah Rumi n Hasan (jaya)?
Batriani
keren... bravo.... 👍👍👍👏🙌🙌🙌
Batriani
kemakan fitnah....
Batriani
pergi..,. kala tak tampak dimata baru akan kerasa ternyataa.... dia sangat berarti.... epeti harsa . sidah diceraikan baru tergila 2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!