Rachel kembali ke masa lalu dan terjebak dengan sang mantan.
"Kali ini kamu tidak akan bisa kabur dariku," ucap Zen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 - Butuh Pengakuan
Di rumah sakit Zen pun langsung membuang nafasnya dengan kasar setelah mama Sonya dan Lucas pergi.
Dia juga hendak bergegas turun dari ranjang ingin segera meninggalkan rumah sakit ini, namun dengan cepat Rachel menahan. Hingga cekalannya tak mampu membuat Zen bergerak.
"Mau kemana?" tanya Rachel, yang kedua matanya masih nampak berkaca-kaca.
Semalam mereka baru saja melewati malam yang hangat, dan pagi ini tiba-tiba Zen mengalami kecelakaan. Sumpah, Rachel sangat takut sesuatu yang buruk terjadi pada Zen. Dia tak ingin kehilangan Zen lagi, di titik ini Rachel sadar dia masih sangat mencintai Zen.
Melihat keduanya saling tatap dengan serius, Reino kemudian perlahan menyingkir. Tanpa suara dia meninggalkan ruangan tersebut. Reino juga akhirnya bisa bernafas lega karena Zen bisa selamat dalam kecelakaan maut tersebut.
Dan mendapatkan tatapan cemas sang istri, Zen tahu dia tak bisa dengan mudah keluar dari rumah sakit ini. "Ayo kita pergi, aku baik-baik saja," jawab Zen dengan suara yang pelan, tak ingin Rachel terlalu mencemaskannya.
"Tubuhmu banyak luka, bagaimana bisa ini dikatakan baik-baik saja. Jika aku yang terluka seperti ini, apa kamu akan membawaku keluar dari rumah sakit?" tanya Rachel, seiring dengan air mata yang kembali jatuh.
Bagaimana bisa Zen ingin meninggalkan rumah sakit dalam keadaan seperti ini, tubuhnya pasti terguncang setelah mengalami kecelakaan.
"Sstt, jangan menangis. Naiklah ke atas," pinta Zen, dia juga menarik Rachel agar bangkit dari duduknya dan naik ke atas ranjang.
Rachel menurut, akhirnya mereka sama-sama berbaring di ranjang tersebut, ranjang yang telah diatur sedemikian rupa hingga sedikit naik di bagian atasnya.
"Aku takut sekali Zen, aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu."
"Maaf, lain kali aku akan lebih hati-hati," balas Zen, mereka saling memeluk erat. Zen juga berulang kali menciumi puncak kepala sang istri dan juga kening Rachel.
Semua kekhawatiran Rachel kali ini pun membuat Zen tersenyum kecil, akhirnya dia tahu bahwa hati Rachel telah kembali dia dapatkan.
Penyatuan semalam bukan semerta-merta karena Rachel memenuhi kewajibannya sebagai istri, tapi karena Rachel sudah benar-benar menerimanya.
"Rachel," panggil Zen kemudian.
"Apa? Kamu mau minum? Akan aku ambilkan." balas Rachel dengan cepat, dia juga ingin bangun namun Zen tahan. Hingga tubuhnya di dalam pelukan Zen jadi tak bergerak.
"Bukan," jawab Zen kemudian.
"Lalu apa?"
"Aku sangat mencintai kamu."
"Aku tau!" balas Rachel ketus, dia sudah sangat tahu tentang hal ini. Apalagi saat Zen mengatakan bahwa dia memutar waktu hanya untuk bisa kembali bersamanya. Ketika mendengar kalimat itu semalam, Rachel sungguh merasa tersentuh.
Tak bisa dia pungkiri bahwa dia pun sangat mencintai Zen.
"Hanya tau saja? Tidak ingin mengatakan yang lain?" tanya Zen, dia malah menggoda, ingin sang istri juga mengucapkan kata cinta. Zen seperti seorang pria yang haus akan cinta, dia butuh pengakuan Rachel.
Tanpa pengakuan itu rasanya Zen tak akan pernah puas.
"Aku juga ... aku juga mencintaimu, Zen," jawab Rachel lirih. Dia tak ingin menutupi apapun yang dia rasakan. Rachel tak ingin menyesal jika menyimpan hal ini sendirian.
Apalagi beberapa saat lalu di telah sangat takut kehilangan Zen.
Kali ini Zen tidak menjawab apapun, dia mengangkat dagu sang istri dan mencium bibir Rachel dengan begitu lembut. Lembut yang berangsur jadi menuntut.
Sangat bersyukur ketika memiliki cinta yang terbalas. Terlebih cinta itu begitu berarti di dalam hidup.
"Bibirku sampai kebas," ucap Rachel setelah Zen melepaskan ciumannya.
#btw ini aku baca yg kesekian kalinya. habis gabut gda bacaan lagi
jahat bener tuh kakek tua