NovelToon NovelToon
Holong Di Balik Adat

Holong Di Balik Adat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ada Apa?

"Astaga sudah sore....." gumamnya pelan.

Beberapa jam berada di tempat itu terasa jauh lebih singkat dari yang ia kira.

Pikirannya yang sejak pagi terasa sesak kini jauh lebih tenang. Ia memang belum mendapat jawaban dari keluarganya. Tapi setidaknya ia tidak lagi memikirkan semua kemungkinan buruk setiap menit.

"Pesan online aja kali ya....." gumam Elisya sambil berjalan membuka aplikasi grabnya.

Di depan pintu keluar, Elisya kembali bertemu dengan perempuan yang tadi berbincang dengannya.

"Ka......?"

Elisya berhenti dan menoleh.

"Ternyata kita pulang hampir bersamaan," kata perempuan tadi sambil tersenyum.

"Eh.... Kamu belum pulang juga ya......"

"Iya, Ka. Ini baru mau pulang."

"Sama....." ucap Elisya.

Mereka berjalan berdampingan menuju area depan. Di dekat pintu keluar terdapat sebuah meja kecil dengan layar digital yang cukup modern.

Di atasnya terdapat tulisan.

"Terimakasih telah berkunjung ke Lentera Kata. Silahkan melakukan check out kunjungan."

Elisya memperhatikannya dengan penasaran. Perempuan di sampingnya tampak sudah terbiasa.

Dia mengambil sebuah kartu kecil dari dompetnya lalu menempelkannya ke alat pemindai.

Bip

Layar langsung menampung namanya beserta jumlah kunjungan. Elisya tampak heran.

"Ini harus?"

Perempuan itu tersenyum.

"Iya..... Untuk mendata pengunjung."

Elisya mengangguk pelan, masuk akal. Sistem itu membuat pengelola bisa mengetahui tingkat kunjungan tanpa mengganggu kenyamanan pengunjung.

Seorang petugas yang berjaga di dekat meja kemudian tersenyum ramah.

"Untuk pengunjung baru juga bisa daftar kalau mau."

Elisya sedikit ragu.

"Harus bayar?"

"Tidak. Data kunjungan hanya untuk keanggotaan dan rekomendasi buku."

Elisya berpikir sejenak.

"Udah, Ka. Aman kok." kata perempuan itu.

Akhirnya Elisya mengisi data sederhana yang diminta.

"Sudah, Kak." ucap petugas itu menyerahkan kartunya yang sudah aktif.

Akhirnya mereka keluar dari Lentera Kata bersama sama. Perempuan itu berjalan di samping Elisya sambil sesekali melanjutkan obrolan ringan mereka. Mulai dari pekerja di toko tadi, buku yang sedang populer, hingga kebiasaan membaca sebelum tidur.

Anehnya, meski baru bertemu beberapa jam, percakapan mereka terasa sangat nyaman. Tidak canggung. Tidak dipaksakan.

"Mau pulang naik apa, Kak?"

Mereka berdua berhenti di tepi jalan.

"Angkot" Jawab Elisya.

Perempuan tadi langsung tertawa.

"Loh, sama....."

"Oh ya? Jangan-jangan arahnya.....?"

"Sama??" ucap mereka berdua serentak.

Keduanya kembali tertawa.

Tak lama kemudian sebuah angkot muncul dari kejauhan.

"Nah, itu angkot saya,"

Dan kalimat itu tetap mereka ucapkan juga bersamaan sambil menunjuk angkot itu yang semakin mendekat.

Angkot itu mulai melambat sementara mereka berdua masih saling tertawa.

"Neng.....? Jadi naik nggak?" tanya supirnya.

Tawa mereka langsung menghilang dan menoleh ke supir itu.

"Jadi, Pak. Maaf." ucap Elisya.

Sepanjang perjalanan, obrolan ringan kembali mengalir begitu saja. Beberapa kali supir angkot itu bahkan ikut menyela percakapan mereka dengan candaan.

Tapi setiap supir itu ikut bicara, Nowela tak meresponnya. Bahkan tersenyum pun tidak. Ia hanya bicara fokus pada Elisya.

Tidak lama kemudian, angkot mulai melambat di depan sebuah kawasan rumah kos yang cukup ramai.

"Minggir, Pak!!" kata perempuan itu.

Elisya menoleh ke luar jendela.

"Aku turun sini ya, Kak." ucapnya sambil merapikan tas yang dibawanya.

Namun sebelum benar-benar turun, ia tiba-tiba berhenti.

"Oh ya, kita belum kenalan. Padahal udah ngobrol cukup panjang, Ka...." ucap perempuan itu pelan.

Elisya langsung tersenyum kecil.

"Elisya..." ucap Elisya sambil mengulurkan tangannya.

"Nama yang cantik, Elisya......" pujinya. "Namaku Nowela." lanjutnya.

Supir angkot kembali mengingatkan.

"Mau turun atau lanjut ngobrol, Neng?"

Beberapa penumpang langsung tertawa. Tapi tidak dengan Nowela. Dia tak menjawab supir itu. Bahkan ekspresinya langsung berubah tidak suka mendengar supir dan tawaan penumpang itu.

"Iya..... Iya, Pak.... mau turun kok....." akhirnya Elisya yang menjawab.

"Hati-hati di jalan ya, Elisya....." ucapnya tersenyum. Ekspresinya sangat berbeda dalam sekejap.

Elisya mengangguk sambil tersenyum hangat. Kini Nowela benar-benar turun.

Saat angkot itu pergi. Sosok Elisya tak lagi terlihat. Nowela melangkah. Langkah demi langkahnya pelan tapi pasti. Hingga ia menyusuri lorong kos-kosannya.

Senyum ramah yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan menghilang. Sudut bibirnya turun, wajahnya langsung menunjukkan wajah datar.

Nowela melangkah sambil menunduk, sampai ia tak sadar di depannya seseorang juga sedang berjalan ke arahnya. Orang itu terlihat buru-buru, sambil fokus pada hp nya. Hingga mereka berdua tak saling memperhatikan jalannya.

Bruk!!! Seorang wanita itu terjatuh. Nowela berhenti tapi tetap masih menunduk dengan ekspresi yang sama.

"Astaga!!!!" seru wanita itu sambil melihat ke atas.

Dia segera berdiri, menatap Nowela dengan tajam.

"Nggak punya mata, ya??" bentak wanita itu.

Nowela tetap diam dan tetap memasang wajah seperti tadi, tak ada perubahan ekspresi.

"Heh!!!" wanita itu mendorong bahu Nowela. "Dengar nggak???"

Nowela masih tetap tak bereaksi.

Wanita itu menghela napas panjang, wajahnya terlihat sangat marah.

"Budek ya?? Atau.......Bisu??" tanyanya.

Karna Nowela tetap tak menjawab, wanita itu menarik lengan Nowela ke arahnya.

"SETIDAKNYA MINTA MAAF!!!" ucapnya keras.

Mendengar itu, orang-orang yang kost disana keluar kamar.

"Ada apa itu?"

"Siapa??"

"Mereka berantem?"

Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar penasaran.

"DENGAR NGGAK?" teriak wanita itu langsung ke telinga Nowela.

"Astaga...... Itu kan Nowela..... cewe aneh itu," ucap seseorang.

"iya.... Dia nggak akan mau jawab pasti. Dia kan....." sahut yang lain, tapi kalimatnya tak dilanjutkannya.

"Songong ya??" ucap wanita tadi semakin kesal.

Mendengar itu, Nowela menggerakkan bola matanya melihat wanita itu tanpa bergerak. Tatapan itu terlihat sangat menyeramkan.

Tiba-tiba seseorang berlari mendekati mereka.

"Sin.....? Sin....." panggilnya.

Dia adalah temannya Sintia, wanita yang sedang marah-marah itu.

"Udah..... Dia nggak akan jawab." bisiknya.

Sintia mengernyit heran, "Maksudnya??"

"Iya, nggak usah dilanjutin...." ucapnya pelan pada Sintia.

Wanita itu langsung melepaskan tangannya dari lengan Nowela. Dan mengangkat alisnya sebelah sambil menatap Nowela dari atas sampai bawah.

"Oh......" ucapnya sambil mengangguk. "PANTAS...... orang gila ternyata....." ucapnya.

Semua anak kost yang ada disana saling melirik satu sama lain setelah mendengar kalimat itu. Mereka langsung menunjukkan ekspresi tak menyangka, dan ada rasa takut.

"Dia bilang apa??"

"Astaga!!! kenapa dia bilang begitu......"

Bisik-bisik itu terdengar di sekitaran lorong kost-an itu.

Temannya langsung menarik Sintia, melangkah mundur, menjauhi Nowela. Sementara Nowela menatap mereka tanpa berkedip. Bola matanya membesar. Tangannya saling mengepal.

"Kamu......Ka-kamu kenapa.......kenapa bicara itu??" tanyanya pada Sintia dengan gelagapan.

Sintia malah tertawa santai, menarik tangannya yang ditarik tadi.

"Kenapa??" tanyanya dengan suara kuat. "Kenapa? Ada yang salah??"

Semua orang yang ada disana terdiam. Tak ada yang berani mengangkat bicara.

Sintia mendekat kembali pada Nowela yang masih menatapnya tajam.

"Hei.....!!! Salah?? Yang kubilang tadi SALAH??" tanyanya pada Nowela.

Napas Nowela semakin tidak beraturan. Wajahnya memerah.

Sintia mengangkat dagu Nowela dengan jarinya.

"Kamu memang cewe GI..... LA." tekannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!