Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 - Sumpah Dibalik Bayang-Bayang
Langkah kaki Elang Dirgantara menghantam tanah taman dengan ritme yang kacau dan tidak beraturan. Amarah yang bergolak di dalam dadanya laksana lahar panas yang siap membumihanguskan apa saja.
Namun, pelariannya terhenti ketika sesosok bayangan ramping dengan gerakan secepat angin melesat, memotong jalurnya, dan berdiri tegak menantang langsung di hadapannya.
Citra Kencana berdiri menahan pergerakan Elang. Sepasang mata bulat milik Citra berkilat tajam di bawah temaram lampu taman yang sekarat.
"Singkirkan amarah konyolmu itu, Elang! Berlari seperti anak kecil tidak akan pernah bisa menyelesaikan kekacauan yang ditinggalkan oleh kakekmu!" bentak Citra, suaranya jernih namun memiliki tekanan wibawa yang dingin.
Elang mencengkeram rambutnya frustrasi, dadanya naik-turun megap-megap menahan rasa sesak yang menghimpit ulu hatinya.
"Lo enggak mengerti, Cit! Gue bukannya tidak mau dengan posisi CEO itu! Gue bukannya tidak peduli pada keselamatan Kakek!" raung Elang, suaranya parau dan bergetar hebat memecah keheningan malam.
"Tapi apa kata dunia, Cit? Apa kata hati gue sendiri kalau gue harus meninggalkan Surya, lo, dan Kirana? Saat gue berada di titik paling rendah, saat seluruh dunia menginjak-injak kepala gue laksana an-jing jalanan, kalian yang ada di sini! Hidup bersama dalam suka maupun duka di atas tanah kotor ini! Gue... gue gak bisa mengkhianati kebersamaan itu hanya untuk kembali duduk di kursi empuk Menara Dirgantara!"
Mendengar bait kalimat yang meluncur jujur dari lubuk hati Elang, gurat kekerasan di wajah Citra perlahan melandai. Jiwa Nyai Kencana di dalam dadanya menangkap sebuah ketulusan loyalitas yang teramat langka, sebuah nilai kesatria sejati yang selama ini coba ditempa oleh takdir.
Citra melangkah satu depa lebih dekat, menatap langsung ke dalam sepasang mata merah Elang dengan ketenangan yang misterius.
"Jika itu yang mengunci langkah kakimu, maka dengarkan aku, Elang Dirgantara," ucap Citra lirih namun sarat akan penekanan yang absolut.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Jika kau bersedia memegang tampuk pimpinan itu demi menyelamatkan kakekmu, aku menawarkan diri untuk berjalan di sampingmu... sebagai pengawal pribadimu."
Elang tersentak hebat.
Jantungnya seolah berhenti berdetak mendengar jawaban tak terduga yang keluar dari bibir gadis beasiswa tersebut.
Rasa haru, frustrasi, dan kelegaan psikologis yang luar biasa besar mendadak melumpuhkan akal sehatnya.
Tanpa sadar, Elang merangsek maju, melingkarkan kedua lengan kekarnya dan memeluk erat raga tubuh Citra Kencana ke dalam dekapannya.
Set.
Meskipun memiliki jiwa seorang pendekar kuno abad ke-14 yang telah kebal terhadap ribuan desing senjata di medan laga, bersentuhan fisik secara intim dan mendadak seperti ini membuat seluruh raga modern Citra bergetar hebat.
Sebuah sengatan aneh menjalar dari pori-pori kulitnya, meruntuhkan sirkulasi energi tenaga dalamnya selama beberapa detik yang membingungkan.
Ruang bawah sadarnya mendadak memutar kembali memori visual malam dramatis di tepi sungai, saat dirinya dengan panik memberikan bantuan napas buatan dari bibirnya ke bibir Elang yang dingin membiru di bawah guyuran hujan deras Jakarta.
Rasa hangat yang ganjil itu mulai membakar pipinya.
Menyadari getaran yang salah di dalam dadanya, Citra Kencana dengan cepat menguasai kesadaran spiritualnya. Ia kembali ke mode jutek yang dingin, lalu menggunakan kedua telapak tangannya untuk mendorong dada Elang dengan sentakan tenaga dalam mikro yang memaksa pemuda itu mundur dua langkah menjauh dari tubuhnya yang masih menyisakan getaran halus.
"Jangan berani-berani mengambil kesempatan dalam kesempitan, Murid durhaka!" desis Citra ketus, memalingkan wajahnya yang memerah samar ke arah kegelapan pohon mangga sembari merapikan jaket jinsnya yang sedikit kusut.
*
Di belahan sudut kota metropolitan yang lain, atmosfer pekat yang sarat akan intrik kriminal terkunci rapat di dalam sebuah ruangan luas tanpa jendela. Cahaya di ruangan itu teramat minim, hanya mengandalkan pendaran biru tipis dari jajaran layar monitor komputer yang menampilkan grafik pergerakan saham finansial global.
Seorang pria misterius duduk bersandarkan kursi kulit mewah, tangan kanannya mencengkeram hulu sebuah tongkat kayu hitam berkepala naga logam yang berkilat perak. Suara derit halus tongkatnya yang mengetuk lantai marmer beradu ritmis dengan suara getar ponsel pintar di atas meja jati.
Bzzzt... Bzzzt...
Pria misterius itu memajukan tubuhnya, meraih gawai tersebut lalu menggeser layar sentuhnya dengan gerakan jemari yang dihiasi cincin batu giok kuno. Sebuah panggilan dari nomor gelap yang terenkripsi resmi terhubung.
"Lapor, Bos besar," suara parau seorang pria di seberang telepon terdengar berbisik di antara desau angin malam.
"Target utama atas nama Wirawan Dirgantara telah resmi kami amankan di dalam kabin kendaraan taktis. Kondisinya masih pingsan akibat hantaman di tengkorak belakang. Kami menanti instruksi lanjutan."
Pria misterius dengan tongkat di tangannya menyunggingkan sebuah senyum licik yang teramat dingin, sebuah ekspresi kemenangan yang telah ia rancang selama berbulan-bulan untuk memberikan pelajaran pada Wirawan. Ia mengetuk hulu tongkat naganya ke lantai dengan satu hentakan yang tegas.
"Bagus. Jangan bawa orang tua itu ke gudang pelabuhan, terlalu banyak mata-mata Dirgantara yang berkeliaran di sana," perintah sang pria misterius, suaranya berat, rendah, dan memancarkan kekejaman yang tak terbantahkan.
"Bawa Wirawan, buang tubuh tua yang tidak tahu terima kasih itu ke pulau pribadiku di perairan utara. Tapi ingat baik-baik... tetap urus kebutuhannya, obati lukanya, dan beri dia makan secara teratur. Jangan sampai dia mati."
"Siap, Bos Besar. Perintah dilaksanakan," jawab anak buahnya sebelum sambungan telepon itu terputus, meninggalkan ruangan gelap itu kembali ke dalam keheningan yang mencekam, bersiap membakar kedamaian Jakarta dalam hitungan hari.
**
Kembali ke lokasi taman di belakang kompleks hunian kos-kosan Surya. Banyu Permana masih setia bersimpuh, menjatuhkan lututnya di atas tanah merah yang dingin dengan posisi kepala yang tertunduk penuh keputusasaan. Lencana emas Dirgantara Perkasa masih tergeletak bisu di dekat ujung sepatunya.
Keheningan itu terpecah saat derap langkah kaki Elang dan Citra kembali melangkah masuk ke dalam area siraman lampu taman yang berkarat. Melihat sepasang kaki Elang berhenti tepat di depannya, Banyu mendongak dengan binar mata yang dipenuhi oleh harapan baru.
Elang Dirgantara menarik napas panjang lurus melintasi rongga dadanya, menepis sisa amarah yang semula menguasai batinnya. "Berdirilah, Om Banyu. Gak usah pakai acara seperti ini," ucap Elang, suaranya terdengar lebih tenang namun menyimpan ketegasan baru yang kokoh.
Banyu bangkit perlahan, merapikan jasnya yang kusut sembari menatap Elang dengan cemas. "Tuan Muda... jadi Anda bersedia?"
"Gue siap memegang tampuk pimpinan sebagai CEO Dirgantara Perkasa demi menyelamatkan Kakek," jawab Elang tegas, membuat Banyu mengembuskan napas lega yang luar biasa. Namun, Elang langsung mengangkat tangan kanannya, memotong kegembiraan Banyu dengan sebaris syarat mutlak.
"Tapi dengan satu kondisi. Skenario Kakek tentang kebangkrutan ini harus tetap berjalan di mata publik. Gue tidak akan mengantor setiap hari di Menara Dirgantara. Gue akan tetap tinggal di kosan Surya dan memantau pergerakan operasional lewat jaringan rahasia lo."
Banyu Permana tertegun sejenak, namun logika intelijennya segera membenarkan taktik tersebut. "Siasat yang sangat luar biasa, Tuan Muda. Dengan tetap berada di jalanan, musuh tidak akan pernah menyangka bahwa semua kendali kini berada di tangan Anda."
Banyu merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan selembar kartu hitam (Black Card) tak terbatas tanpa limit dan seikat kunci mobil mewah sport yang dulu sempat disita oleh kurator palsu.
Ia menyodorkan kedua benda fasilitas tersebut ke hadapan dada Elang.
Elang menatap seikat kunci mobil itu selama beberapa detik, lalu mengulurkan tangannya hanya untuk mengambil selembar kartu hitam tersebut, sementara ikat kunci mobilnya ia dorong kembali ke arah dada Banyu.
"Kartu hitam ini gue ambil murni untuk kebutuhan logistik pertempuran kita mencari Kakek," ucap Elang dengan sorot mata yang tajam.
"Tapi untuk mobil ini, tetap Om bawa. Kalau gue mendadak memakai kembali fasilitas mewah Dirgantara di kampus, sirkel Natasha, Wijaya dan musuh-musuh Dirgantara akan langsung curiga bahwa ada yang tidak beres dengan kebangkrutan Dirgantara. Jadi, biarkan skenario ini berjalan persis seperti yang Kakek inginkan."
Banyu mengangguk takzim, mengagumi kematangan berpikir cucu tunggal Wirawan yang telah melesat jauh melampaui usianya. "Sesuai perintah Anda, CEO Elang."
"Satu hal lagi," Elang memutar tubuhnya sedikit, mengarahkan telapak tangannya ke arah sosok gadis di sampingnya. "Perkenalkan... ini Citra Kencana. Mulai detik ini, dia resmi memegang posisi sebagai pengawal pribadi gue dalam urusan perlindungan ring satu."
Banyu Permana mengalihkan pandangannya, menatap Citra Kencana yang berdiri tegak dengan kedua tangan bersedekap di depan dada tanpa ekspresi riak emosi sepeser pun. Mengingat bagaimana kecekatan taktis Citra saat melumpuhkan Samudra semalam dan wibawa ketenangannya yang luar biasa, Banyu langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, memberikan penghormatan resmi yang setara dengan kedudukan komando militer.
"Sebuah kehormatan yang teramat besar, Nona Citra. Saya sangat setuju dan menyerahkan keselamatan Tuan Muda seutuhnya ke dalam perlindungan Anda," ucap Banyu tulus, menyadari bahwa di balik raga mahasiswi beasiswa ini, tersimpan sebuah kekuatan kanuragan rahasia yang akan menjadi zirah tak terlihat bagi masa depan dinasti Dirgantara.
Citra hanya mengangguk, bak cerita berulang, dulu perkataan serupa disampaikan Sang Raja yang begitu sayang pada anak perempuannya. Dia ditugaskan untuk selalu menjaganya. Sayangnya, amanat itu tak dapat dia tunaikan. Dan kini, amanat serupa dia emban kembali.
***
Matahari pagi keesokan harinya menyiramkan cahaya terik yang membakar pelataran beton fakultas bisnis Universitas Dirgantara. Ruang koridor utama yang biasanya ramai oleh hilir mudik mahasiswa mendadak berubah menjadi sebuah panggung tontonan sosial yang teramat kejam begitu raga Elang Dirgantara melangkah masuk melintasi pintu gerbang utama.
Meskipun status rahasianya kini telah bertransformasi menjadi seorang CEO tertinggi di balik bayang-bayang, penampilan luar Elang tetap dipertahankan dalam kondisi yang memprihatinkan demi menjaga kontinuitas skenario.
Ia hanya mengenakan kemeja flanel murah yang warnanya sudah memudar di bagian siku dan sepasang sepatu kets usang yang sol bawahnya mulai menipis.
Langkah kakinya tetap ritmis, namun getaran pandangan mata dari sekelilingnya dipenuhi oleh bisik-bisik perundungan yang tajam.
"Heh, lihat tuh... Si pelayan angkringan itu sudah masuk kampus," sebuah suara melengking yang sarat akan nada kebencian memotong udara koridor.
Natasha berdiri di dekat pilar marmer utama bersama sirkel elite mahasiswi kayunya. Di sampingnya, Wijaya Samudra berdiri dengan tangan kiri yang dibalut gips putih akibat patah tulang mikro pasca-insiden pemukulan di pasar induk sore lalu.
Tatapan mata Wijaya merah menyala, dipenuhi oleh dendam kesumat yang pekat.
Begitu melihat Elang mendekat, Natasha melirik Samudra, memberikan sebuah kode lewat anggukan kepala yang dingin, sebuah isyarat yang langsung direspons Samudra dengan langkah tegap untuk menghadang jalur jalan Elang tepat di tengah koridor.
"Gue kira lo udah malu untuk balik ke kampus. Setelah semua, tahu jika lo seorang yang kalah. Elang," cibir Samudra sembari sengaja menyenggol bahu Elang menggunakan lengan atasnya yang kekar, memamerkan balutan gips di tangannya dengan gurat seringai yang menjijikkan.
"Lo, dan juga perempuan sialan itu harus bertanggungjawab. Gara-gara video viral sampah lo, reputasi gue jadi buruk. Tapi biarlah, asal semua orang-orang di kampus sudah tahu. Jika Tuan Muda Dirgantara, sekarang sudah menjadi sampah! Dibuang dari keluarga lo sendiri haha..."
Tawa Natasha terdengar membahana sambil dirinya melangkah maju, berdiri berdampingan dengan Samudra seolah sewaktu-waktu siap menjepit posisi Elang yang berada diantaranya.
Wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada, menatap flanel murah Elang dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan mata yang teramat merendahkan.
"Dengar baik-baik, Elang pecundang," desis Natasha, suaranya pelan namun tajam menusuk laksana sebilah silet. "Gak usah mimpi lo bisa hidup tenang lagi di sini. Tempat lo itu di trotoar kotor, bukan di koridor fakultas ini. Nikmati sisa hari-hari nerakamu sebagai pelayan miskin, Elang!"
Elang Dirgantara menghentikan langkah kakinya tepat dua jengkal di depan dada Samudra. Menghadapi semburan rundungan yang dilemparkan oleh sepasang remaja arogan tersebut, Elang tidak lagi memperlihatkan gurat kepanikan, ketakutan, atau amarah meledak-ledak seperti beberapa minggu lalu.
[BERSAMBUNG]
like+ bunga🌹🤭
kalo berkenan mampir ya thor😉