Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.
Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.
Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jendela Kaca Mansion
Pintu telah tertutup rapat, meninggalkan Noah dan Lilly dalam keheningan yang menyesakkan. Suara ketukan tongkat emas milik sang Grand Duke masih terngiang jelas di kepala Lilly, begitu pula ucapan Viviane yang terus menyayat hatinya.
Putri Mahkota.
Jari-jari Lilly mencengkeram kain gaun merah mudanya erat. Tubuh kecilnya bergetar samar akibat guncangan yang belum mampu ia cerna. Belum genap seminggu, tanpa persiapan apa pun, hidupnya dipaksa berubah. Kini ia menjadi calon Putri Mahkota dengan dukungan langsung dari Grand Duke d'Orvain, penguasa wilayah timur Vardoria.
Perlahan Lilly mengangkat pandangannya ke arah Noah yang masih membelakanginya. Bahu pria itu tetap tegap seperti biasa. Tarikan napas panjangnya terdengar jelas di tengah sunyinya aula mansion. Sudut bibir Lilly terangkat tipis, miris.
Noah akhirnya membalikkan tubuh. Tatapan mereka beradu selama beberapa detik yang terasa panjang. Untuk pertama kalinya, Noah mendapati Lilly begitu tenang. Tidak ada amarah seperti saat berada di mobil sebelumnya. Justru ketenangan itu terasa jauh lebih menakutkan.
Kini mereka benar-benar sendirian di tengah aula mansion yang megah itu.
Setelah cukup lama menatap wajah Lilly, Noah baru menyadari sesuatu. Tatapan gadis itu tak lagi bisa dibaca. Tenang, hening, namun terasa dingin hingga membuat dadanya sesak. Napas keduanya perlahan menjadi lebih stabil di tengah kesunyian yang menekan.
"Apakah kau sudah puas, Noah?"
Pertanyaan itu menghantam seluruh kepercayaan diri Noah. Untuk sesaat, rasa bersalah menyelinap ke dalam dirinya. Apakah benar ia telah menghancurkan gadis ini?
"Lalu setelah ini... apa yang harus kulakukan?" tanya Lilly lirih tanpa emosi.
"Haruskah aku memberi salam dan senyum kepada para bangsawan yang membenciku? Kedudukan ini jelas bukan sesuatu yang bisa dibanggakan."
Ia tertawa kecil tanpa suara, pahit.
"Bila tidak menikah denganmu, aku tetap akan menikah demi politik."
Lilly mengangkat wajahnya menatap Noah lurus-lurus. Kini ia memahami kenyataan yang sebenarnya. Dirinya hanyalah tameng bagi sang pangeran.
"Anda menikah secara politik dengan siapa pun juga tetap akan menguntungkanmu."
"Itu artinya kau mempercayai rumor tentang Raja boneka."
"Apakah aku terlihat peduli?"
Rahang Noah mengeras. Tangannya mengepal kuat. Keheningan di antara mereka hanya bertahan sesaat sebelum pria itu memalingkan wajah. Bekas tamparan di pipinya tampak jelas di bawah cahaya lampu aula.
"Morgan."
Suara Noah terdengar rendah, namun penuh tekanan.
Seorang pria segera mendekat dan membungkukkan badan hormat.
"Tekan media. Hapus semua artikel tentang Nona Lilly. Gunakan semua koneksi yang ada."
Tatapan Noah berubah dingin.
"Jika perlu... gunakan kekuatan militer. Aku tidak mau tahu semua artikel harus terhapus bagaimanapun caranya."
Tubuh Lilly meremang mendengarnya. Untuk pertama kalinya, Noah terasa jauh lebih mengerikan dibanding rumor-rumor yang pernah ia dengar.
Morgan mengangguk singkat sebelum pergi meninggalkan mereka.
"Kau tampak mengerikan, Noah," bisik Lilly pelan.
Di tengah ketegangan yang menyesakkan itu, pintu aula kembali terbuka. Suara langkah sepatu bergema pelan di atas lantai marmer.
Permaisuri masuk kembali ke ruangan.
Wanita dalam balutan gaun sutra hitam itu tampak jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Wajahnya telah kembali tertata rapi meski bekas tangisan dan sembab masih samar terlihat di matanya.
Ia berhenti di hadapan Noah dan Lilly, memandangi keduanya beberapa saat sebelum akhirnya berbicara.
"Mulai sekarang Nona Lilly tidak diperbolehkan keluar dari area mansion."
Tatapan Permaisuri jatuh tepat pada Lilly disertai senyum tipis yang terasa kaku.
"Nona Lilly kini berada dalam perlindungan Grand Duke d'Orvain. Seluruh pelayan di mansion ini akan melayani calon Putri Mahkota dengan baik."
Permaisuri melanjutkan dengan nada tenang yang terdengar seperti keputusan mutlak.
"Pengumuman pertunangan resmi kalian akan dilaksanakan tiga hari lagi."
Jantung Lilly terasa mencelos.
"Besok, guru etiket kerajaan akan datang untuk membimbing Nona Lilly. Selama berada di mansion ini, Nona Lilly diharapkan menjalankan seluruh protokol kerajaan dengan sempurna."
Setiap kata yang diucapkan terasa seperti rantai tak kasatmata yang perlahan mengikat kebebasannya.
"Semoga Nona Lilly dapat menjalankannya dengan baik," ucap Permaisuri penuh penekanan.
Lilly menatap wanita itu beberapa detik sebelum akhirnya menundukkan kepala pelan.
"Baik, Yang Mulia."
"Noah, aku akan kembali ke istana untuk mengatur semuanya."
Setelah itu, Permaisuri meninggalkan keduanya dalam diam yang terasa semakin menyesakkan. Tak lama kemudian, seorang pelayan wanita masuk ke aula dan membungkukkan badan hormat.
"Lady Lillyane, perkenalkan saya Ruth. Saya akan melayani Anda selama berada di mansion ini."
Keheningan antara Noah dan Lilly akhirnya pecah. Lilly mengalihkan tatapan hazelnya ke arah wanita itu.
"Di mana kamarku?" tanyanya pelan.
"Mari saya antar, Nona."
Ruth mempersilakan Lilly dengan sopan.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Lilly berjalan meninggalkan aula bersama sang pelayan. Noah tetap diam di tempatnya, memandangi punggung gadis itu yang perlahan menjauh menuju tangga penghubung antarlantai.
Hingga sosok Lilly benar-benar menghilang dari pandangannya.
"Morgan."
Suara Noah terdengar tegas memecah sunyi.
Morgan kembali memasuki ruangan sambil membawa tablet dan ponsel di tangannya.
"Apakah pelakunya sudah ditemukan?"
"Maaf, Yang Mulia. Kami masih melacaknya. Akun anonim itu benar-benar tidak meninggalkan jejak."
Noah mendengus pelan dengan rahang mengeras.
"Terus cari. Aku harus mendapatkannya."
"Baik, Yang Mulia."
"Morgan, siapkan semua kebutuhan Lilly. Pastikan pakaian dan barang-barangnya tersedia malam ini."
"Barang-barang Nona Lilly dari gedung kantor juga sudah kami ambil, Yang Mulia."
"Kirim semuanya ke kamarnya."
"Baik."
Noah terdiam sesaat sebelum kembali berbicara.
"Hubungi Billy Jones."
Morgan sedikit menundukkan kepala. "Segera, Yang Mulia."
"Pergilah."
Setelah Morgan pergi, Noah berjalan menuju area pribadi di lantai bawah mansion. Lorong panjang dengan dinding kaca besar membentang di hadapannya. Hujan di luar telah reda, hanya menyisakan embun yang menempel di permukaan kaca.
Cahaya lampu gantung memantul samar di lantai marmer hitam.
Lorong mansion itu terasa jauh lebih megah dibanding istana kerajaan yang dingin dan gelap.
Sementara itu di lantai atas, Ruth mengantar Lilly menuju sebuah kamar besar di ujung koridor. Aroma kayu bercampur wangi lavender langsung menyambut begitu pintu dibuka.
Kamar itu terlalu rapi.
Terlalu hangat.
Seolah seseorang memang selalu menempatinya.
"Silakan beristirahat, Nona," ucap Ruth lembut. "Jika Anda membutuhkan sesuatu, Anda dapat menghubungi saya melalui interkom."
Ia menunjuk perangkat kecil di atas nakas samping tempat tidur.
"Baik."
"Saya akan mengantarkan pakaian ganti beberapa saat lagi."
"Terima kasih, Ruth."
Pelayan itu membungkukkan badan sebelum akhirnya meninggalkan kamar.
Kini Lilly benar-benar sendirian.
Perlahan ia berjalan menuju jendela besar yang tertutup gorden tebal. Saat kain itu disibakkan, pemandangan hutan basah setelah hujan langsung terlihat di hadapannya.
Langit sore tampak lebih gelap dari biasanya.
Ia menyadari dirinya terjebak dalam kandang emas yang telah dijauhinya sepuluh tahun lalu.
*****