NovelToon NovelToon
Pangeran KW Salah Server

Pangeran KW Salah Server

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Fantasi Isekai / Komedi
Popularitas:750
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Kiano (18), remaja narsis asal era 2050, apes total! Tersesat di stasiun kuburan tua, ia malah mencabut golok pusaka dan membebaskan Tengkorak Hideung, jin buronan yang kini menempel padanya.

Niatnya mau pulang ke Jakarta Barat, Kiano malah terdampar di Kerajaan Bunian dan dikira Pangeran Wirasada yang kabur. Alhasil, kaus mewahnya disita, menyisakan kolor kuning Upin-Ipin, dan ia dipaksa ikut Kencan Buta Maraton dengan ratusan putri jin yang wajahnya bikin jantungan! Tanpa sinyal 6G dan dikepung dedemit Sunda kuno, mampukah pangeran KW ini selamat dari kejaran dan penyihir peminum darah, Nini Kalingking?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. di Balik Topeng Sang Ratu yang Bermuka Dua

"Eh, jangan yang itu juga, somplak! Sembarangan aja lo main mau ancurin barang estetik," cegah Kiano lagi, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. "Meskipun ini bukan istana milik bokap asli gue, tetap aja gak boleh lo rusakin seenak jidat! Daripada lo gabut ngancurin tembok, mendingan lo cari aja tuh orangnya. Siapa tadi namanya... Ki Belut... Ki apa ya? Ah, lupa gue namanya!"

"Ki Pesut," Dharma mengklarifikasi dengan raut wajah datar, menahan sabar menghadapi kelakuan ajaib pemuda di depannya.

"Nah, iya! Itu maksud gue! Lo hajar—eh, maksudnya samperin aja langsung orangnya!" cetus Kiano bersemangat.

"Aku belum siap untuk menemuinya," ucap Ki Saron parau. "Maksudku... mendengar fakta gila tentang apa yang sebenarnya terjadi lima puluh tahun lalu itu, rasanya ada yang keliru. Sepertinya aku harus mencari tahu rahasia ini secara diam-diam terlebih dahulu. Aku harus memastikan apakah dia benar-benar Ki Pesut sahabatku, atau bukan."

Ki Saron mengepalkan tangannya di udara, netra merah menyalanya berkedip gelisah. "Sebab, aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku. Sebelum aku dikubur hidup-hidup, justru dialah orang pertama yang mati duluan sebelum kelima sahabatku yang lain dibantai di tangan Nini Kalingking. Jadi, sangat mustahil jika dia tiba-tiba masih hidup dan mengalahkan nenek sihir itu sendirian. Ditambah lagi, kemarin malam aku pun sempat bertemu dengan kedua anak buah Nini Kalingking di hutan. Sepertinya... ada konspirasi besar yang sedang berputar di balik semua ini."

Kiano menepuk dada bidangnya dengan bangga. "Lo perlu bantuan gue enggak? Gue siap nih jadi intel atau mata-mata buat lo. Hitung-hitung latihan sihir juga, kan?"

"Silakan saja, Tuan. Namun, bagaimana dengan pengawal di depan kita ini? Dia sudah telanjur mengetahui seluruh rahasia kita," ucap Ki Saron seraya menoleh tajam ke arah Dharma.

"Ya mau enggak mau dia harus nurut dan bantuin kita nyari si Wirasada yang asli," jawab Kiano enteng tanpa beban. "Kalau dia nolak atau macam-macam, ya gampang. Lo gibeng aja sampai pingsan. Udah, kan? Enggak usah dibikin ribet, Tahi."

"Aku setuju. Anda cukup pintar juga dalam menyusun rencana darurat, Tuan," puji Ki Saron takzim.

"Apa maksud kalian?! Jangan sembarangan bicara!" potong Dharma lekas, melangkah mundur demi menjaga jarak aman dari jangkauan Ki Saron.

"Saya tidak akan membocorkan rahasia besar ini ke siapa pun. Setelah mendengarkan penjelasan tadi, sekarang saya percaya jika kamu..." Dharma menunjuk wajah Kiano dengan jari telunjuknya. "...kamu sepertinya bukan orang jahat. Saya siap membantu kalian berdua."

Setelah dipikir-pikir dengan kepala dingin, Dharma menyadari tidak ada untungnya sama sekali jika ia mengadukan hal ini ke pihak istana sekarang. Berhubung Sang Prabu dan Ratu sedang pergi bulan madu, ditambah lagi sosok legendaris yang sangat ia segani—Ki Saron—ternyata malah tunduk dan patuh pada perintah Kiano.

Mau tidak mau, demi keselamatan kerajaan dan demi menemukan Pangeran Wirasada yang entah berada di mana, Dharma harus ikut menceburkan diri ke dalam aliansi gila ini.

****

Sementara itu di tempat lain, tepatnya di dalam Istana Kerajaan Gunung Kidul...

Nyi Ratu Ratih Kemuning melangkah masuk ke dalam kamar Ginanda dan Ninanda dengan langkah anggun yang sarat akan kemurkaan. Kebetulan, dua gadis kembar identik itu memang menempati satu kamar yang sama.

Brakkk!

Pintu kayu jati itu ditutup secara kasar hingga menggetarkan engselnya. "Kalian benar-benar payah!" desis sang ratu tajam, menatap kedua gadis itu dengan pandangan menghina.

"Kenapa kalian bisa sampai babak belur seperti itu hanya karena menghadapi jin rendahan?! Dan kenapa kalian pulang dengan tangan kosong, hah?! Aku sudah mengabulkan permintaan kalian untuk menangkap pria yang kalian sukai, tapi kenapa kalian malah datang ke acara kencan buta maraton itu? Untuk apa, hah?! Kalian ingin menikahi Pangeran Arshaka?"

"Sepertinya... Guru sudah keliru," ucap Ginanda terbata-bata, mencoba menahan rasa takutnya yang mendalam. "Kami bukan datang ke acara kencan Pangeran Arshaka, melainkan Pangeran Wirasada."

Nyi Ratu Ratih Kemuning seketika mengernyitkan dahinya dalam-dalam. "Bagaimana mungkin? Pemuda itu sudah aku amankan di suatu tempat rahasia!"

Sang ratu mendadak bungkam. Selama ini ia mengira bahwa acara kencan buta maraton yang diadakan oleh Kerajaan Mandala Hyang ditujukan untuk putra mahkota pengganti, yaitu Pangeran Arshaka. Namun ternyata, dugaannya salah total.

"Dia masih ada di kerajaannya, Guru. Karena itulah kami berniat membawanya pulang ke sini," jawab Ninanda, menyeka sisa lebam di sudut bibirnya. "Dan kami tidak bertarung melawan jin rendahan, apalagi pengawal biasa dari pangeran itu. Makhluk yang menghajar kami di hutan... adalah musuh bebuyutan Anda sendiri. Ki Saron, alias si Tengkorak Hideung!"

Brakkk!

Nyi Ratu menghantam meja rias berbahan kayu jati di hadapannya hingga hancur berkeping-keping. Potongan cermin gaib melesat hancur dan retak di lantai batu istana.

"Omong kosong apa yang kalian katakan?! Jangan membual di hadapanku!" bentak Nyi Ratu Ratih Kemuning dengan napas memburu gaib. "Dasar kalian murid-murid tidak berguna! Bagaimana mungkin musuh lamaku itu masih hidup? Jelas-jelas aku sendiri yang telah menyegel tubuh dan jiwanya jauh di dalam tanah kuburan terkutuk!"

"Kami juga tidak tahu, Guru," jawab Ginanda pelan sambil menunduk dalam, tubuhnya gemetar ketakutan melihat murka sang ratu yang meledak-ledak. "Yang pasti, dia sudah terbebas sekarang. Lebih parahnya lagi, Ki Saron terang-terangan mengatakan kalau Pangeran Wirasada adalah tuan barunya yang sah. Kemungkinan besar, pangeran itulah yang telah menghancurkan segel Anda dan membebaskannya dari dalam tanah."

Nyi Ratu Ratih Kemuning mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga aura hitam pekat keluar dari sela-sela jarinya. "Aku harus memastikannya sendiri! Aku harus melihat dengan mata kepalaku apakah pangeran itu benar-benar berada di istananya sekarang. Jika dia memang berhasil kabur dari tempat persembunyian rahasia yang kubuat, lalu berhasil merekrut Ki Saron, maka rencana besar kita berada dalam bahaya besar!"

Tanpa memedulikan kedua muridnya lagi, Nyi Ratu langsung berbalik arah. Jemarinya bergerak cepat merapal sebuah mantra hitam kuno.

Zzztt!

Dalam sekejap mata, kepulan asap ungu pekat menyelimuti tubuhnya, lalu sosok sang ratu bermuka dua itu menghilang tanpa jejak dari dalam kamar.

Tubuh Nyi Ratu Ratih Kemuning mendarat mulus di depan mulut sebuah gua tersembunyi di kedalaman hutan Kerajaan Gunung Kidul. Mulut gua itu sekilas tidak akan terlihat oleh mata telanjang karena tertutup rapat oleh jalinan tanaman rambat berduri yang membelit satu sama lain. Dengan gerakan cepat, Nyi Ratu merapal sebuah mantra pendek, membuat tanaman rambat itu bergerak sendiri menyibak dan tersingkap lebar.

Ia melangkah masuk ke dalam kegelapan gua. Seketika itu juga, tanaman rambat di belakangnya kembali merapat, menutup rapat jalan masuk hingga gua tersebut kembali menyatu dengan dinding tebing hutan yang curam.

Di dalam gua yang pengap itu, jajaran obor menyala di sepanjang dinding batu. Api magis pada obor-obor tersebut berwarna keunguan dan tidak pernah padam. Tempat rahasia ini sebenarnya adalah rumah lama sekaligus laboratorium sihir hitam Nyi Ratu sebelum ia berhasil merebut takhta dan menjadi Ratu Gunung Kidul.

"Tampaknya... kedua murid bodohku itu telah membohongiku," desis Nyi Ratu tajam.

Sepasang mata liciknya menatap lurus ke arah bagian terdalam gua. Di sana, seorang pemuda tampak tergantung dengan rantai besi gaib yang mengikat kedua pergelangan tangannya.

Tubuhnya telanjang dada, bersimbah darah segar yang mengalir dari puluhan luka goresan mengerikan yang sebagian telah membusuk.

Pemuda yang lemas itu perlahan mendongak, menyadari kehadiran sang ratu bermuka dua. "Kau... wanita jahat. Cepat atau lambat, seluruh kebusukanmu akan terungkap ke seantero negeri!" desisnya parau.

Pemuda malang yang sekarat ini adalah Pangeran Wirasada yang asli—sosok yang selama ini sedang dicari-cari oleh Kiano dan aliansinya.

Nyi Ratu melangkah mendekat, lalu tawanya meledak jahat memenuhi rongga gua yang dingin. "Bermimpilah sesukamu, Pangeran Kecil! Hal itu tidak akan pernah terjadi!"

Sret!

Dalam satu hentakan energi hitam, kuku-kuku jari tangan Nyi Ratu mendadak memanjang tajam laksana belati perak. Tanpa belas kasihan, ia mengarahkan jemari mautnya langsung ke dada Pangeran Wirasada.

Sretttt! Crat!

"Arghhh! Nenek sihir biadab kau! Aku bersumpah tidak akan pernah mengampunimu!" jerit Pangeran Wirasada kesakitan. Tubuhnya menegang hebat saat kuku tajam Nyi Ratu mengoyak luka baru di dadanya yang ringkih.

Nyi Ratu justru tertawa semakin puas menyaksikan penderitaan sang putra mahkota. Dengan gerakan anggun yang mengerikan, ia meraih sebuah cawan perak kuno yang berada di atas meja batu, lalu menampung kucuran darah segar yang mengalir dari dada Wirasada. Setelah cawan itu terisi penuh, ia mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu meneguk darah murni itu hingga habis tak tersisa.

Nyi Ratu menyeka sisa darah di sudut bibirnya, memperlihatkan seringai monster setingkat hantu kuno yang mengerikan. "Darah keturunan bangsawan murni memang tidak pernah mengecewakan. Rasanya jauh lebih manis daripada darah para perawan bunian di pasar gaib. Ahahaha!"

1
Protocetus
Wuih cepet amat nulisnya Thor 💪
Soobin Chan: lumayan, udah hampir setahun juga nangkring di lapak sebelah. dari jaman bapaknya kiano SMA sampai punya anak. dan anaknya sekarang pindah kesini😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!