Ellena Celestia Baskara adalah gadis pewaris tahta keluarga Jarzam, pemilik perusahaan berlian terbesar di negara itu. Tetapi dia harus mengalami peristiwa buruk saat para mafia merampas seluruh hartanya, dan membunuh kedua orangtuanya, dia melarikan diri dan tenggelam di lautan tempat tinggalnya dewa laut, sang dewa menolongnya dan membalik kehidupan Ellena menjadi seorang bayi lagi yang kemudian ditemukan oleh seorang wanita tua.
Para Mafia itu mengejarnya sampai menemukan sebuah kristal biru sumber kekuatan terbesar seluruh lautan di muka bumi ini, dan mereka merampasnya juga, sang dewa murka dan mengirim titisan setengah kekuatannya dalam kristal kapsul kecil bersamaan dengan Ellena yang juga sengaja di masukkan ke dalam sebuah kapsul kristal, lalu apakah yang akan terjadi dengan kedua kristal itu?
Saksikan kisah selanjutnya hanya di sini, happy reading semuanya ...
Jika membaca tolong tinggalkan jejak ya ges, like, komen, dan vote-nya, thankyouu---haturnuhun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Teriablackwhite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADD Eps 23
"Geng motor Atlantis Aodra," celetuk seseorang dari balik pintu kamar mandi.
Membuat Ellena mematung, tatapannya yang terjatuh tadi lekas memuncak dan menyulam sosok lelaki yang sudah berulang kali dia temui dalam waktu yang tak terduga. Ellena mendapati sosok Kano di pantulan kaca di depannya, tubuhnya membeku dalam beberapa waktu bersamaan dengan bola mata yang menyalang kuat.
"Ka--mu ...." Sorot matanya yang indah terdiam di sana, lantas dia menelan ludahnya kasar dan punggungnya mengkristal.
Kaki jenjangnya yang hanya menggunakan sebuah sendal jepit berwarna merah dengan hiasan bunga daisy di atasnya lekas berputar ke arah Kano yang telah berdiri tegap sembari menyelukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Kontur wajah Kano benar-benar sempurna, rahangnya yang tegap dengan bibir tebal yang menggoda, merampas tatapan Ellena yang biasanya tidak pernah tertarik dengan lelaki mana pun, mau setampan apapun lelaki itu, gadis pemilik rambut panjang bergelombang itu tidak pernah sekalipun tertarik dengan pesona para pria.
"Kamu ngapain ke sini da—n, kok bisa masuk sih, kan yang bisa masuk ke dalam sini hanya karyawan saja, bagaimana bisa kamu menerobos masuk tanpa diketahui oleh siapapun, kamu manusia apa bu—"
Belum habis Ellena memuntahkan keheranannya, Kano sudah bergerak ke depan mendekati Ellena, langkah gadis itu terseret ke belakang dan melanggar wastafel yang ada di belakangnya dengan tengkuk yang mengeras, kaku.
"Jangan banyak bicara," tukas Kano menjatuhkan satu tangannya di atas pesisir wastafel bersamaan dengan kedua tangan Ellena yang bergeming di sana.
Sementara satu tangan Kano dia letakkan di atas bibir gadis cantik di depannya. "Dengarkan baik-baik," ucapnya setelah lelaki itu melekatkan tubuhnya dengan Ellena sehingga gadis bermata merah muda itu merasakan lekukan demi lekukan perut atletis Kano.
Ellena hanya mampu mengangguk dengan anggukan yang kaku. "Ka-kamu ... Tidak akan macam-macam kan?" kata Ellena lirih.
Kano mendengkuskan sebuah senyuman tipis, tetapi lelaki itu tidak menjawab pertanyaan dari kekhawatiran gadis di depannya. Dadanya membusung membuat Ellena menahan napasnya di dalam dada.
"Jika kamu bertemu dengan anggota geng motor Atlantis Aodra di manapun dan kapanpun saja, berpura-pura lah tidak mengenal satu pun dari mereka, bersikap seperti biasa layaknya kamu tidak pernah bertemu dengan mereka, ngerti!" bisik Kano di belakang telinga Ellena, tubuh keduanya saling berdekatan.
"Hh-hah?" seru Ellena tidak mengerti, mengapa dia harus melakukan semua itu.
Gadis berparas indah itu mendorong dada lebar lelaki di depannya dan membuat Kano kembali berdiri tegak dengan kedua tangan yang dia benamkan ke dalam saku celananya, tetapi tak lama dari itu salah satu tangannya kembali keluar dan menyugar rambut side bangs-nya ke belakang.
"Maksudnya? Kenapa aku harus melakukan itu semua?" tanyanya menarik tubuhnya untuk berdiri tegak.
"Semua anggota Atlantis Aodra tanpa terkecuali, hanya mengetahui jika ingatan kalian telah aku hilangkan, dan jika kamu mengenalnya ... Maka nyawamu tidak selamat, mereka adalah kumpulan lelaki yang kehausan akan nafsu mereka sendiri, dan aku tidak akan bisa menyelamatkanmu berulang kali tanpa sepengatahuan mereka," terang Kano dengan suara tegasnya yang berat dengan aksen lembut yang khas.
'Nyawamu tidak akan selamat'
Untaian kata itu telah berhasil merobek keberanian Ellena yang baru saja terbit, dan kini bola matanya yang bersinar menjadi redup, melahap kelam dan sekarang menyelimuti gadis itu dengan ketakutan yang kembali membuncah.
"Kamu pimpinan mereka bukan? Kenapa kamu takut dengan keganasan anggotamu sendiri, seharusnya kamu yang berkuasa dan semua keputusan ada di tangan kamu, termasuk menyelamatkanku," oceh Ellena yang tidak memahami posisi Kano dalam kepemimpinannya.
Lelaki itu mendengkuskan sebuah senyuman tipis, bibirnya menyungging, lalu dia buang mukanya sekejap ke arah samping kanannya, tak lama dari itu pandangannya mengegah ke arah Ellena berada.
"Kamu tidak mengerti," celetuknya tanpa menjelaskan apapun.
Wajah cantik itu menguncup, tubuhnya terhenyak ke belakang. "Makanya jelaskan, kenapa kamu harus bersembunyi untuk menyelamatkan seseorang, agar anggotamu tidak berlaku ke—"
Lagi-lagi Kano mendekat dan tubuhnya berhimpit dengan Ellena, sementara gadis itu tidak bisa bergerak kemana pun, wastafel di belakangnya memangkas segala keinginan gadis itu untuk menghindarinya.
"Heh! Apa sih, mau ngapain? Jangan macam-macam ...," protes Ellena menahan dada bidang Kano.
Namun, semua hal itu tidak bisa menghentikan Kano untuk bertindak, pria berparas menarik itu mengunci pinggang kecil Ellena dalam dekapan salah satu tangan kekarnya, sedangkan tangannya yang lain dia gunakan untuk mengapit dagu cantik gadis itu membuat debur jantung Ellena yang berhamburan semakin berkobar-kobar.
"Jangan bergerak, sampai aku melepaskanmu," cetus Kano seraya dia melangkahkan wajahnya ke dekat bibir manis gadis itu.
"H-hah? Apa sih kamu, semakin gak jelas. Lepaskan aku sekarang atau aku tendang kamu!" gertak Ellena mendorong dada Kano darinya, tetapi dada kekar milik Kano sama sekali tidak bergerak. "Lepaskan aku, Kano!" tegas Ellena geram karena tidak mengindahkan permintaannya.
Wajah Kano condong ke samping kanannya seraya dia menekan pinggang Ellena untuk terus dekat dengan perut sixpack-nya yang hanya dibaluti kaos hitam polos yang tipis, membuat Ellena tak bisa berkutik lagi, untaian kata yang sudah dia rajut dalam benaknya seketika lenyap karena pergerakan dari Kano.
"Ssstt ...!" desis Kano menyelipkan beberapa helai rambut Ellena di belakang telinga gadis itu dan Kano melucuti leher Ellena yang mulus dari arah kiri ke arah kanan, "akan ada yang datang, jika kamu tidak diam maka aku akan menikmati bibirmu lagi," ancam Kano membuat Ellena mengeras.
"Jangan macam-macam lagi, aku tak peduli kamu orang kejam atau bukan a—"
Cepat-cepat Kano menjawab ocehan Ellena. "Euum ...." Kano bergumam, dia merekatkan tubuhnya lagi bersamaan dengan wajahnya yang semakin dekat dan menciptakan jarak sekitar tiga sentimeter saja.
Raga Ellena kaku, dan seketika gadis itu tidak melanjutkan ocehannya lagi dengan kedua netra yang terpejam. Satu tangan yang tertidur di dada lebar Kano mulai mengerat karena bibirnya dengan bibir Kano benar-benar dekat dan Ellena takut jika hal itu terjadi lagi.
Samar-samar suara dua orang wanita yang saling berbincang mulai mendekat, suara itu pelan-pelan bertandang ke pintu kamar mandi di mana Ellena dan Kano berada. Dua wanita yang merupakan karyawan Beyci Cake and Bakery itu membuka pintu kamar mandi yang tertutup rapat itu dan mendapatkan pemandangan yang membuat keduanya urung untuk masuk ke dalam kamar mandi itu.
"Eh siapa mereka?"
"Bukannya yang bisa masuk ke sini cuman karyawan aja ya?"
"Tapi ... Gak ada karyawan cowok yang badannya bagus kayak cowok itu di sini, jadi mereka siapa?"
Mendengar celotehan kedua wanita yang bekerja dibagian dapur itu membuat Ellena memberontak dan mendorong Kano menjauh darinya. "Jadi ini ...," ketus Ellena kesal dengan nada suara yang amat pelan.
Kano mendelik ke arah pintu yang telah tertutup rapat tanpa menjawab pertanyaan Ellena lagi dan lagi. Tubuhnya bergeser mendekati pintu tersebut. Ketajaman pendengarannya bagaikan penglihatan sang elang, desir angin yang hanya bergerak lamban mampu terdengar oleh telinga Kano.
"Mereka sudah pergi," ucapnya kemudian.
Lelaki itu kembali ke dekat Ellena. "Pura-pura tidak mengenal kami, jika kamu ingin selamat," ucapnya dengan penekanan yang kuat.
Setelah mengucapkan hal itu lelaki itu bergerak menuju pintu lagi dan menurunkan kenop hendak keluar dari sana, tetapi tiba-tiba Ellena berlari ke dekat Kano dan mengunci pergelangan tangan lelaki kekar di depannya itu.
"Jawab dulu ...!" Ellena menuntut jawaban dari pertanyaan yang sedari tadi tak kunjung di jawab oleh Kano.
Kano menoleh pelan, tetapi tatapan tajamnya sama sekali tidak memudar. "Kamu tidak takut memegang tangan yang sudah merampas puluhan nyawa ini?" balas Kano melucuti paras kaku Ellena.
Mendengar penuturan Kano, lekas Ellena melempar tangan itu menjauh darinya, sekujur tubuhnya mendadak merinding dengan hal itu. "Kematian milik tuhan, bukan di tangan kamu," ucapnya dengan jiwa yang menggigil.
Kano mengulas senyuman, netranya tidak pernah lepas dari bibir Ellena. Bibir mulus berwarna merah muda alami itu selalu menarik Kano pada sebuah pemikiran yang selalu berusaha dia tepis kala raga mereka saling terikat pada sebuah pertemuan yang tak terduga.
"Dan kematian itu melewati diriku," tukasnya kemudian melanjutkan langkahnya.
"Kenapa kamu tidak bisa melawan anggotamu sendiri, apa kamu pemimpin yang didikte oleh anggotamu?" cetus Ellena yang kembali berhasil menghentikan langkah Kano.
Leher Kano mengeras mendengar semua pertanyaan Ellena, embusan napasnya terurai jengah. Lantas dia menoleh pada Ellena lagi, dia memutar lidahnya di dalam mulut sampai akhirnya terjulur keluar yang kemudian dengan cepat dia tenggelamkan lagi ke dalam mulutnya.
Tidak mungkin aku menjelaskan segalanya pada wanita asing ini, tapi gadis ini telah berhasil menarik empatiku pada jurang yang paling curam.
"Jika kamu sangat ingin tahu alasannya, aku akan menjelaskannya jika kamu menjadi istriku, aku akan jujur hanya pada istriku," celetuk Kano yang segera keluar dari ruangan kamar mandi tersebut.
Menyisakan gelembur yang mengesalkan, bola matanya berulang kali terkercit. "Apa maksudnya sih?" kesal Ellena berkacak pinggang di hadapan pintu yang tertutup.
Ellena keluar dari toilet tersebut. Saat di luar tiba-tiba saja dia berpapasan dengan dua orang lelaki yang merupakan anggota Atlantis Aodra, jantung Ellena berhamburan tak karuan, ketakutan teranyam begitu saja.
...----------------...
jangan lupa mampir di novel pertama qu
🙏