Hasrat adalah sebuah keinginan. Keinginan dalam apapun. Tapi kata "hasrat" biasanya berkonotasi sedikit negatif. Kata itu selalu disandingkan dengan keinginan untuk bercinta.
Sedangkan bagi Abra Ishan Abinawa dia tidak mengenal kata itu. Dia tidak memiliki keinginan untuk berhubungan dengan wanita di usianya yang sudah tidak muda lagi, yakni 32 tahun. Menurutnya wanita itu sungguh ribet dan menyusahkan. Terlebih sebuah alergi muncul saat dia bersentuhan dengan wanita. Hingga dia bertemu oleh seorang gadis yang memanggilnya "Om".
Gadis cantik berusia 25 tahun bernama Ciara Kamila Prasojo itu selalu membuat Abra naik darah. Ada saja ulah Ciara yang membuat Abra kehabisan akal.
Apakah akan muncul hasrat dari Abra kepada Ciara?
Lalu kira-kira hasrat seperti apa itu?
Dan, bagaimana dengan alergi Abra?
Cerita ini pol ringan ya guys. Nggak akan ada konflik yang berat. So nikmati aja oke.
HAPPY READING
pict. by pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Presdir Ketus 24
2 hari berlalu, akhirnya Abra baru bisa kembali ke kota J. Setelah kejadian kemarin paginya Billy langsung ke perusahaan untuk memeriksa pekerjaan, tapi ternyata pekerjaan belum selesai. Maka dari itu baru sekarang mereka bisa kembali ke kota J.
Sekitar pukul 10.00 pagi, Abra sudah sampai bandara. Oleh Billy dia langsung diantar ke rumah. Tapi Abra menolak. Dengan alasan ingin segera melaporkan pekerjaan yang sudah ia selesaikan kepada sang kakak.
Billy menurut, padahal dia tahu persis bahwa Abra aat ini sedang dalam kondisi yang tidak baik. Abra masih terlihat begitu lemas. Sebenarnya Billy sagat khawatir dan ingin menceritakan hal tersebut kepada Akhza, tapi dilarang keras oleh Abra.
" Kenapa nggak langsung pulang ke rumah dan istirahat? Oh iya, ruangan mu sudah jadi. Kemarin Wanti sudah membereskannya. Mulai hari ini kamu bisa menempatinya," papar Akhza panjang lebar.
" Oh ya, dari kapan. Lalu wanita itu, dimana?" Abra tampaknya sudah tidak sabar untuk menemui Ciara. Tapi jawaban Akhza membuatnya terduduk lemas.
" Ciara? ya sudah pergi, kan pekerjaannya sudah selsai. Mungkin sekarang dia sedang mengerjakan proyek dari klien lainnya."
Akhza menelisik wajah sang kembaran yang seketika tidak bertenaga itu. Sampai sebuah pemikiran masuk ke kepala Akhza mengenai saudara kembarnya itu.
" Jangan-jangan kamu suka ya sama gadis itu?"
Deg!
Abra seketika langsung terlonjak. Yang awalanya dia duduk bersandar di kursi kini dia duduk dengan tegap. Sebuah hembusan nafas kasar dikeluarkan dari mulut dan hidungnya.
Akhza seketika tertawa terbahak-bahak. Pantesan saja buru-buru ke perusahaan dan bukan pulang ke rumah, semua itu untuk menemui sang pujaan hati.
" Hahahah, akhirnya. Setelah berkarat terlalu lama tuh hati, melebur juga karena si gadis cantik. Tapi sukurin, doi udah pergi. Kenapa juga nggak dari kemarin-kemarin bilang.Nanti kalau digondol orang lain, baru tahu rasa kamu."
" Et dah kak, udah napa, dari tadi nyerocos mulu. Iya-iya aku yang salah karena nggak gercep."
" Ya emang kamu salah. Contoh Rey tuh, ngejar Arumi meskipun buapaknya susahnya minta ampun tetep aja dijabanin. Contoh Abang, suka langsung nikahin," cibir Akhza.
Abra hanya bisa diam dengan semua kata yang Akhza ucapkan kepadanya. Bagiamana tidak, semua itu betul dan sekarang dia sedikit sesal karena tidak bicara terus terang kepada Ciara.
" Ya sudah Kak, aku mau pulang?"
" He? Semudah itu menyerah. Nggak berusaha nyari gitu?"
" Mungkin memang bukan jodohku!"
Lain di mulut lain pula di hati, itulah yang saat ini yang terjadi kepada Abra. Mulutnya seakan-akan melepaskan C iara, tapi hatinya tidak. Ia bahkan sudah meminta orang untuk mencari informasi mengenai Ciara.
Sebelum kembali ke rumah, Abra memilih untuk masuk ke ruangan barunya. " Terimakasih Wan, sudah mengaturnya untukku," ucap Abra kepada Wanti saat melintasi meja sang sekertaris.
Abra terus masuk ke dalam dan melihat semua ruangan yang selesai di renovasi. Persis, apa yang dia minta benar-benar terwujud. Ciara sungguh mewujudkan kantor idamannya. Ia melihat secara seksama mini pantry yang dibuat gadis itu.
" Bahkan dia juga meletakkan kompor listrik di sini lengkap dengan mesin pembuat kopinya juga."
Abra melanjutkan langkah kakinya menuju ke ruang istirahat, bayangan ciuman mereka kembali muncul di kepalanya. Dan sungguh di luar dugaan, junior Abra bereaksi hanya dengan membayangkan adegan ciuman itu.
" Sial, sungguh benar-benar tidak bisa melepaskan gadis itu dengan mudah. Aku harus pulang dulu sekarang, baru setelah itu akan mencarinya. Kebetulan besok akhir pekan. Waktu yang pas untuk menemuinya, aah lupa masih harus ke kantor ding."
Abra menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia bergegas pulang degan menaiki taksi online.
Di luar Abra melihat Wanti sedang berbicara dengan seorang wanita. Wanita itu langsung berbinar saat melihat Abra keluar dari ruangannya. Baginya Abra semakin tampan setelah 5 hari tidak bertemu.
" Hallo Pak Abra, apakah bapak sehat?"
" Hmm?"
Abra berlalu pergi membuat Belinda kesal setengah mati. Dia tahu kabar kepulangan Abra dan berniat untuk menyapa, tapi ternyata harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Abra sungguh menjawab dengan ketus dan acuh. Bahkan dia sama sekali tidak melihatnya.
" Bel, sudah ku katakan, jangan berusaha mendekatinya. Bekerjalah dengan baik, sudah itu saja."
" Jangan sok mengajariku Wan, aku tahu apa yang harus aku lakukan!"
Belinda kemudian membalikkan tubuhnya dan kembali ke mejanya. Wanti hanya membuang nafasnya kasar. Dia sudah membantu hingga berada di JD, setelah itu terserah bagaimana Belinda bersikap. Ia tidak akan ikut campur dengan apa yang akan terjadi nanti.
" Sttt, kenapa dia?"
" Ish Bang Billy, aku masih kesel ya karena ulah Abang tempo hari. Enak saja ngomong kalau akau pacar Abang."
Wanti bersungut-sungut saat Billy berdiri di sampingnya. Selanjutnya Billy mengutarakan niatnya untuk minta maaf kepada Wanti. ia bahkan membawa oleh-oleh dari Kota K untuk gadis itu.
" Nyogok nih?"
" Wan, aku serius, aku minta maaf. Sungguh aku waktu itu tidak ada cara lain untuk menghindari mantanku itu. Dia berselingkuh tapi setelah selingkuhannya meninggalkannya, dia mau kembali lagi padaku, dia ngejar-ngejar aku. ya aku no way."
" Iya-iya tahu."
Wanti dan Billy kemudian membicarakan banyak hal termasuk Abra. Wanti juga mengatakan bahwa mungkin saja Bos nya itu menyukai Ciara.
" Mengapa bisa mengambil kesimpulan begitu?"
" Soalnya Bang, hanya Mbak Ciara yang bisa masuk ke ruangan si bos. Hanya Mbak Ciara yang bisa dekat dengan Pak Bos. Abang kan tahu Pak Bos anti banget sama WA NI TA!"
Billy mengangguk paham, dia tentu tidak tahu kebiasaan Abra sebaik Wanti mengetahuinya. Maka dari itu Billy percaya dengan penilaian Wanti.
" Bang, lihat aja ya. Besok nih kalau masuk kerja, bawaan Si Bos pasti marah-marah melulu."
Billy hanya bisa menaikkan kedua bahunya tanda dia tidak tahu. Mereka benar-benar sangat seru saat menggibahi Abra.
Sedangkan Belinda, ia sungguh kesal. Mendapat nasehat dari Wanti bukannya membuat wanita itu berpikir lebih tapi malah semakin kuat tekadnya untuk mengejar Abra. Dia tidak tahu saja bahwa saat ini seorang Liana Sudibyo pun ketakutan dengan apa yang sudah dia lakukan. Wanita itu bahkan sudah dua hari ini hanya meringkuk di kamar tanpa berani keluar sama sekali.
TBC
Terima kasih utk karyanya Kak, sehat2 slalu 🙏🏼💐💪🏼