NovelToon NovelToon
SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."

​Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.

​Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

Deru mesin motor sport milik Pras membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Di punggungnya, tas ransel hitam yang kucel dan berdebu itu bergoyang-goyang, menjadi beban nyata dari harga dirinya yang baru saja dihempaskan ke lantai oleh Arumi. Sepanjang jalan, napas Pras memburu serabutan. Giginya gemeretak menahan malu dan amarah yang bergolak di dadanya. Pria yang biasanya selalu tampil necis dan berwibawa di kantor itu kini pulang dengan kondisi yang sangat mengenaskan—terusir dari rumah peninggalan mertuanya sendiri.

Begitu sampai di depan pagar besi tempa hitam beraksen emas milik ibunya, Pras langsung menghentikan motornya dengan kasar. Ia turun, menyambar tas ransel kucelnya, dan melangkah lebar-lebar membelah teras granit yang mengkilap.

BRAK!

Pras mendorong pintu jati rumah mewah itu hingga menghantam dinding.

"Ibu! Ibu!" teriak Pras dengan suara parau penuh keputusasaan.

Sang ibu yang sedang bersantai di sofa kulit impor sambil menikmati teh hangatnya seketika terlonjak kaget. Cangkir keramik mahal di tangannya hampir saja berdenting keras di atas meja kaca. Melihat anak laki-laki kebanggaannya datang dengan wajah merah padam, napas tersengal-sengal, dan menenteng tas ransel kucel, raut wajah wanita paruh baya itu langsung berubah panik.

"Ya ampun, Pras! Kamu kenapa? Ada apa ini? Kenapa kamu bawa tas kotor begitu?!" tanya ibunya sambil bergegas bangkit dan menghampiri anaknya.

Pras melempar tas ransel kucel itu ke atas lantai granit. Ia terduduk di sofa dengan tubuh yang gemetar hebat, meraup wajahnya kasar. "Arumi, Bu... Arumi sudah keterlaluan! Aku diusir dari rumah! Baju-bajuku semua dimasukkan ke dalam tas kotor itu lalu dilempar ke dadaku! Dia berteriak-teriak menyuruhku keluar dari rumahnya!"

Mendengar aduan dari anak kesayangannya, mata Ibu Pras seketika membelalak sempurna. Wajahnya yang dilapisi bedak mahal itu mendadak mengencang, memerah karena amarah yang langsung naik ke ubun-ubun.

"Apa?! Diusir?!" pekik ibunya dengan nada melengking tinggi, memecah keheningan rumah mewah mereka. "Kurang ajar! Berani-beraninya perempuan dekil itu mengusir anak Ibu! Dia pikir dia itu siapa?! Berani sekali dia menendang kepala keluarga, laki-laki yang punya jabatan, dari rumah tangga! Benar-benar tidak tahu sopan santun, tidak berpendidikan!"

Ibu Pras mengepalkan tangannya hingga gelang-gelang emas di pergelangan tangannya bergemerincing kasar. "Nggak bisa dibiarkan, Pras! Ini pelecehan terhadap keluarga kita! Perempuan melarat seperti dia harus diberi pelajaran sekarang juga! Ayo, antar Ibu ke rumahnya! Ibu tidak akan tinggal diam melihat anak laki-laki Ibu diinjak-injak oleh daster rombeng nya!"

Tanpa membuang waktu, wanita itu langsung menyambar tas branded-nya. Kemurkaan telah membutakan akal sehatnya. Ia menarik tangan Pras, memaksanya untuk kembali menyalakan kendaraan demi melabrak menantu yang selama ini selalu ia remehkan.

Sementara itu, di rumah sederhana peninggalan almarhum orang tuanya, Arumi sedang bersimpuh di ruang tengah. Kedua lengannya mendekap erat Bintang dan Langit yang ternyata sudah pulang dari taman karena mendengar suara teriakan dari dalam rumah tadi. Tubuh kedua bocah itu masih sedikit tegang.

"Nggak apa-apa, Nak. Ada Ibu di sini. Jangan takut lagi ya," bisik Arumi sambil mengusap punggung Bintang dan menyeka sisa air mata di pipi Langit.

Bintang menatap ibunya dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh keteguhan. "Ibu beneran suruh Ayah pergi?"

Arumi mengangguk pelan, memberikan senyuman paling menenangkan yang ia miliki. "Iya, Kak. Ibu ingin kita hidup tenang. Ibu nggak mau kalian dengar bentakan lagi di rumah ini. Kalian percaya kan sama Ibu?"

Langit memeluk leher Arumi erat-erat. "Adik percaya sama Ibu. Adik sayang Ibu."

Tepat saat atmosfer di dalam rumah mulai mencair dan menenangkan, tiba-tiba dari arah depan, suara deru mesin motor yang sangat keras berhenti tepat di depan pagar. Tak lama setelah itu, suara hantaman keras pada pagar besi terdengar, disusul oleh lengkingan suara wanita yang sangat Arumi kenal.

"ARUMI!!! KELUAR KAMU PEREMPUAN KURANG AJAR!!! KELUAR!!!"

Suara Ibu Pras menggelar di sepanjang gang. Karena Arumi tinggal di lingkungan hunian yang cukup padat penduduk di mana jarak antar rumah warga saling berdekatan teriakan histeris itu langsung memecah ketenangan hari Minggu warga kompleks.

Seketika itu juga, beberapa pintu rumah tetangga mulai terbuka. Ibu-ibu yang sedang memasak, bapak-bapak yang sedang mencuci burung, hingga anak-anak yang bermain di gang langsung menghentikan aktivitas mereka. Rasa penasaran menjalar dengan cepat. Dalam hitungan menit, area di sekitar pagar rumah Arumi mulai dipenuhi oleh kerumunan warga yang ingin melihat keributan apa yang sedang terjadi.

Arumi memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang untuk menstabilkan detak jantungnya yang kembali berdegup kencang. Ia melepaskan pelukan anak-anaknya.

"Kakak sama Adik tetap di dalam kamar ya. Kunci pintunya dari dalam. Jangan keluar sebelum Ibu yang panggil," perintah Arumi dengan nada suara yang tegas namun lembut.

Bintang sempat ragu, namun melihat tatapan mata ibunya yang menyala penuh keberanian, ia akhirnya mengangguk dan menuntun adiknya masuk ke dalam kamar.

Arumi berdiri. Ia merapikan daster batik lucunya yang sedikit kusut, menegakkan punggungnya seolah sedang memasang zirah perang, lalu melangkah lebar-lebar menuju pintu depan. Begitu ia membuka pintu dan melangkah ke halaman, ia langsung disambut oleh tatapan sinis dari Ibu Pras yang berdiri berkacak pinggang di depan pagar, didampingi oleh Pras yang berdiri di belakangnya dengan wajah angkuh yang berlindung di balik punggung ibunya.

"Oh......! Keluar juga kamu akhirnya, perempuan dekil!" teriak Ibu Pras begitu melihat sosok Arumi, sengaja mengeraskan suaranya agar seluruh warga yang menonton bisa mendengar. "Hebat ya kamu sekarang! Sudah jadi istri durhaka! Berani kamu mengusir anak saya, membuang baju-bajunya seperti membuang sampah! Kamu pikir kamu siapa, hah?! Sadar diri, Arumi! Kamu itu cuma perempuan miskin yang untung didepak dari kelaparan karena dinikahi oleh anak saya yang punya jabatan tetap!"

Ibu Pras menunjuk-nunjuk wajah Arumi dengan jarinya yang dihiasi cincin berlian besar. "Lihat penampilan kamu itu! Kumal, kusam, dekil! Nggak tahu malu! Dari ujung rambut sampai ujung kaki, semua yang melekat di tubuh kamu itu dibeli pakai uang anak saya! Rumah ini saja kalau bukan karena anak saya yang bayar perawatannya pasti sudah roboh! Dasar menantu tidak tahu diuntung, tidak tahu terima kasih!"

Cacian dan hinaan itu mengalir deras di depan puluhan pasang mata tetangga yang menonton. Beberapa warga tampak berbisik-bisik, membuat Pras tersenyum puas di dalam hatinya, mengira Arumi akan langsung mati kutu karena dipermalukan di depan umum.

Namun, dugaan mereka salah besar.

Arumi tidak menunduk. Ia tidak menangis. Ia justru melangkah maju hingga tepat berada di balik pagarnya sendiri, hanya terpisah jarak beberapa sentimeter dari ibu mertuanya. Arumi menatap lurus ke dalam mata wanita paruh baya itu dengan pandangan yang begitu tajam, menggebu-gebu, dan penuh dengan aura kemenangan yang mutlak.

"Sudah selesai bicaranya, Ibu Mertua yang Terhormat?" tanya Arumi, suaranya tidak melengking, namun begitu lantang dan jelas hingga terdengar oleh seluruh warga yang berkumpul di gang tersebut.

"Kamu..."

"Dengar baik-baik ya, Ibu yang merasa paling kaya dan paling terhormat!" potong Arumi dengan nada memburu yang penuh penekanan, menatap bergantian ke arah Ibu Pras dan Pras sendiri. "Ibu bilang semua yang melekat di tubuh saya adalah hasil uang anak Ibu? Ibu bilang rumah ini dirawat pakai uang Pras?! Biar semua warga di sini dengar, dan biar mata Ibu yang tertutup emas itu terbuka lebar!"

Arumi menarik napas dalam, memfokuskan seluruh energinya untuk melakukan serangan balik yang mematikan.

"Sepuluh tahun saya menikah dengan Pras, tidak pernah satu kali pun saya tahu berapa nominal gaji anak Ibu! Setiap bulan, Pras hanya menjatah uang belanja yang nominalnya sangat tidak manusiawi, dan tahu Ibu berapa kenaikannya? Hanya naik seratus ribu rupiah per tahun! Di tengah harga beras dan kebutuhan anak-anak yang melonjak tinggi, anak Ibu menutup mata dan memaksa saya untuk memikirkan sisanya sendirian!"

Kerumunan warga seketika berdengung riuh terdengar suara kasak-kusuk terkejut.

"Dua tahun ini, sebelum saya menghasilkan uang puluhan juta dari hasil menulis novel online yang Ibu sebut sebagai 'pekerjaan nggak jelas' itu, saya harus ikut kerja apa saja! Saya cuci gosok baju tetangga, saya bikin kue sampai subuh, saya jualan di pasar demi apa, Bu? Demi bayar token listrik rumah ini, demi bayar air, demi beli susu dan biaya sekolah Bintang dan Langit! Ke mana anak Ibu yang kaya dan punya jabatan itu saat anak kandungnya sendiri kelaparan dan harus berbagi satu piring berdua?!"

Wajah Ibu Pras seketika berubah tegang, bibirnya bergetar hendak menyela, namun Arumi tidak memberikan celah sedikit pun.

"Anak Ibu yang terhormat ini sibuk mentransfer sisa gajinya yang besar ke rekening Ibu! Dia sibuk membelikan daging mewah untuk Ibu pamerkan di pasar, sibuk membiayai gaya hidup adik-adiknya Pras yang malas bekerja di rumah mewah Ibu itu! Pras pelit dan kikir kepada darah dagingnya sendiri, tapi bertingkah seperti pahlawan kesiangan di depan keluarga Ibu! Dan puncaknya subuh tadi, anak Ibu dengan keji memfitnah kesetiaan saya, menuduh saya bermain gila dengan laki-laki lain hanya karena saya berhasil punya uang sendiri dari hasil kerja keras saya!"

"Arumi, tutup mulutmu!" bentak Pras yang mulai panik karena rahasia busuknya dibongkar di depan seluruh tetangga.

"Kenapa, Pras?! Takut semua orang tahu kalau kamu itu cuma laki-laki parasit?!" teriak Arumi, matanya menyala-nyala penuh amarah yang menggebu-gebu. Ia kembali menatap Ibu Pras yang kini wajahnya sudah pucat pasi karena malu. "Ibu menghina penampilan saya dekil? Saya dekil karena uang saya habis untuk menghidupi anak-anak saya, sementara uang anak Ibu habis untuk mendandani Ibu dan membiayai rumah mewah Ibu yang dibangun dari atas penderitaan cucu-cucu Ibu sendiri! Jadi sekarang, bawa pulang anak Ibu yang kikir ini! Rawat dia, beri dia makan enak dari uang hasil perasannya kepada anak istrinya! Mulai hari ini, jangan pernah injakkan kaki kalian di atas tanah warisan suci almarhum orang tua saya ini lagi! Keluar dari rumah ini sekarang juga!!!"

Teriakan terakhir Arumi yang begitu bertenaga seolah memutus seluruh urat kesabaran yang ia miliki selama sepuluh tahun. Suasana gang mendadak hening seketika. Ibu Pras berdiri mematung dengan mulut ternganga, matanya bergetar menatap daster Arumi yang tampak begitu agung di balik pagar, sementara puluhan warga di sekitar mereka kini menatap ke arah Ibu Pras dan Pras dengan pandangan penuh rasa jijik dan cemoohan.

Kartu as kemewahan dan jabatan yang mereka bawa untuk mengintimidasi Arumi kini hancur lebur, menyisakan kepalsuan yang telanjang di depan mata publik. Pras benar-benar mati kutu, menarik lengan ibunya yang gemetar karena malu yang tak tertahankan untuk segera pergi dari sana secepatnya.

1
Uthie
rasain tuhh mereka 😡
Suanti
setelah selesai bangun rmh 3 lantai rmh arumi mantan ibu mertua langsung stroke🤭🤣🤣🤣
Uthie
Maaff Thor . koq rasanya ada penggambaran soal bonceng 3 naik motor Matic aga kurang masuk di akal sy yaa 😁🙏🙏

kenapa juga gak naik taksi online atau apa gtu, walau cerita nya mereka masih akting susah sekali pun🙏🙏😁
blcak areng: siap kak 😁😁
total 1 replies
Uthie
dasar manusia - manusia culas 😡😡😡
Uthie
Mantap nii Bu RT dan Bu Ida 👍😁
Suanti
jgn sampai tukang renovasi rmh arumi bocor blg arumi mau renovasi rmh bertingkat 3🤭
Uthie
Maju terus Arumi 👍👍😍
Uthie
kebahagiaan dan Rizki selain materi adalah, memiliki Tetangga yg baik dan saling Peduli satu sama lain 👍👍😍
Suanti
uang 200jt arumi bisa renovaai rmh nya jdi tingkat 2 . uang dlm tabungan arumi bisa buka, usaha 🤭
Uthie
dikira Arumi malah akan ada keluarga yg akan terus melindungi nya, tau nya cuma nitipin jatah warisan ayahnya dulu tohhh... 😁
padahal harusnya hubungan keluarga jangan sampai putus begtu saja, kalau sdh ada penyesalan terdalam dan niat baik untuk memperbaiki nya....
memang menyakitkan, namun mikir untuk kedepannya saja 🙏🙏😁
Uthie
Maaf Thor....itu bagaimana yaa? koq Arumi naik ke boncengan motor pak RT?? lahh Bu RT nya di kemanain?? 😂😂
bukannya Arumi juga punya motor sendiri walau sdh tua yaa peninggalan bapak nya yg suka antar jemput sekolah??? maaf... tolong di jelaskan 😁🙏🙏
blcak areng: udah biarin aja.. ini pak polisi nya mikir" mau nilang Arumi kak🤣🤣
total 3 replies
Uthie
Maju dan sukses 👍👍👍
Uthie
Seharusnya demikianlah bertetangga itu.. saling menjaga satu sama lain seperti keluarga sendiri... ikut bahagia jika ada yg bahagia, ikut sedih jika ada yg sedih dan terluka 👍👍😍
Uthie
Biar sumpah nya berbalik untuk dirinya dan keluarga nya sendiri itu 😡
Suanti
sumpah serapah ibu nya pras buat arumi semoga aja kebalikkan nya senjata mkn tuan 🤣🤣🤣🤣
Uthie
Good Choice Arumi 👍👍👍😡
Uthie
Mantappp ituuu 👍👍😡😡
Uthie
Bagusssss Arumi 👍😡
Uthie
Balas terus Arumi 👍😡😡
Uthie
dasar manusia2 Toxic 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!