Hai aku Aram, pekerja kantoran bergaji standar UMR di pinggiran ibukota. Wanita umur 30-an yang sudah dikejar deadline “kapan menikah?” dari orangtuanya.
Orang yang hanya melihat kehidupan romasa orang lain dari balik kursi penonton. Ketika sudah siap menyambut kematian, aku malah diberi kesempatan kedua menjadi Arabella, calon putri mahkota di novel yang kubaca dulu. Klise!
Tentu saja, Arabella adalah antagonis! Double klise!
Mau mengubah takdir? Ngga dulu deh…
Lagipula, aku sudah terjebak dengan skenario takdir yang mendukung peranku jadi antagonis. Jadi, Mmari kita serius menjalani peran antagonis dan mengakhirnya dengan tragis seperti yang sudah ditentukan dalam cerita!
Hip Hip Hore untuk jadi jahat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ESOK., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Rahasia
Aku membayangkan kecupan tiga tingkat yang tiga hari lalu diberikan Thierry. Terasa asing dan bercampur rasa bersalah.
“Haha, setidaknya dia masih merasa bersalah.” Aku menghibur diri dengan lelucon tak lucu. Di depanku sudah ada laporan hasil pengamatan yang dilakukan oleh mata-mataku. Ini baru lelucon yang sesungguhnya.
Seperti cerita aslinya, Thierry dan Chiara semakin dekat. Percakapan mereka juga lebih hangat, tidak hanya berdebat soal kebijakan. Aku membaca sepintas, meremasnya menjadi bola-bola kertas, dan, melemparkan laporan itu ke perapian. Masa bodoh!
Dibandingkan percakapan Thierry dan Chiara, aku justru lebih tertarik pada beberapa laporan yang mencatat beberapa percakapan dari para anggota lembaga. Firasatku mengatakan, sepertinya memang ada hal yang tidak beres di sini.
‘Tok’ ‘Tok’ Suara pintu ruang baca pribadiku diketuk dari luar.
Ah benar, kabar baru. Aku ternyata punya ruangan baca pribadi! Akhir-akhir ini karena bosan aku menjelajahi puluhan ruangan di sayap kiri dan menemukan ruangan ini. Sepertinya Arabella memang lebih suka mengerjakan tugasnya di kamar, tapi, ternyata aku lebih nyaman di ruangan ini. Tempatnya setengah lebih kecil dari kamarku sehingga aku bisa lebih fokus mempelajari tentang kerajaan sekaligus melakukan pekerjaan-pekerjaanku di Istana Beryl.
Meskipun, khusus buku tentang 'My Chiara' masih tersimpan rapi di meja kerja kamar. Bisa bahaya kalau ada yang menemukan coretan berbahasa tak dikenal itu.
“Ehem.. Masuk!” Ucapku dengan nada datar.
"Nona, Tuan Yorka datang dan ingin bertemu dengan Nona." Helen muncul di muka pintu.
Kabar lainnya dari tiga hari terakhir, akhirnya Helen sembuh juga dari alerginya. Meski hanya melihatnya kurang dari tiga kali, aku tahu kalau wajahnya kali ini terlihat lebih bahagia. Apalagi setelah tahu kucing yang jadi penyebab dia hampir diberhentikan sebagai pelayan justru dipindahkan.
Tidak seperti Lanna dan juga Elise yang wajahnya tampak sedih setelah berpisah dari kucing-kucingku. Pelayan aneh.
"Kesatria Yorka ingin menemuiku selarut ini?" Tanyaku sambil melihat jam yang sudah hampir pukul sepuluh malam.
"Ya, Nona. Katanya mendesak. Apa perlu saya minta agar datang besok pagi?"
"Ah tidak usah, minta dia menunggu sebentar." Aku merapihkan berkasku, memisahkan urusan Thierry-Chiara dengan urusan lembaga.
"Baik Nona, kalau begitu saya minta Tuan Yorka untuk menunggu Nona di ruang tamu utama." Ucap Helen.
"Tidak perlu,”Aku memotong ucapannya. “Bawa Kesatria Yorka untuk menemuiku di sini. Aku perlu bicara hal penting dengannya. Siapkan teh juga."
“Baik, Nona.” Helen pamit undur diri. Tak sampai beberapa menit, pintu itu diketuk kembali.
“Maafkan saya karena menganggu selarut ini, Lady Arabella.” Aku yang sudah bersiap disindir sedikit kaget ketika Yorka masuk dengan wajah seriusnya.
“Tidak masalah, aku tahu kesibukanmu, Kesatria Yorka. Apa ada perkembangan yang ingin Anda sampaikan?” Aku bangkit dari mejaku, mempersilahkan Yorka duduk di sofa.
Hari ini adalah kali pertama aku bertemu Yorka setelah seminggu lalu menugaskannya melakukan penyelidikan. Aku tidak menyangka dia bisa secepat itu menyampaikan informasi. Padahal, di cerita aslinya Yorka hanya akan muncul saat menjelang waktu penyerbuan.
“Saya menemukan beberapa hal, lebih tepatnya, beberapa percakapan yang mencurigakan.” Yorka memberikanku sebuah buku yang dibawanya. Aku membolak -balik cepat tiap halamannya. Sepertiganya sudah tertulis rapi beberapa catatan.
Laporan dengan informasi lengkap? Kenapa dia malah terlihat serius melakukan penyelidikan?
Penasaran. Aku membaca dengan seksama laporan Yorka dan menemukan hal yang memang mencurigakan. Sama seperti perkiraanku saat membaca laporan dari mata-mata yang lain.
“Susunan kalimat mereka punya pola. Seperti..sandi?” Aku bertanya memastikan dan diikuti anggukan setuju dari Yorka.
“Saya juga mencurigainya sebagai sandi tertentu. Kalau didengar sekilas memang tidak terasa aneh, tapi, ada beberapa orang yang punya pengulangan kata-kata tertentu disetiap percakapannya.”
“Apa juga sudah diselidiki sandi itu mengarah ke mana?”
“Masih terlalu cepat untuk menyimpulkan. Buktinya juga tidak cukup untuk melakukan pemeriksaan mendalam.”
Aku mengerti kesulitan Yorka dan mengambil tumpukan laporan lain yang tadi sudah kubaca untuk diberikan ke Yorka, “Aku juga memiliki mata-mata yang lain, ini bisa dipakai untuk menambah informasi.”
“Kalau menggunakan mata-mata lain, kenapa Anda masih butuh saya untuk menyelidiki?”
Aku menatap wajah menyebalkannya. Karena menyuruhmu menyelidiki hanya formalitas, kau seharusnya tidak menyelidiki apapun dan hanya fokus jadi obat nyamuk Thierry dan Chiara.
Inginnya sih aku bicara seperti itu, tapi tentu saja tidak kulakukan. Bisa-bisa masalah ke depannya semakin runyam. Jadi kujawab,
“Karena aku bisa melakukannya.” Ucapku mengelurakan sekilas senyuman sinis.
Meskipun Yorka termasuk kesatria penting di kerajaan, di luar urusan perang di wilayah perbatasan, kekuasaannya di sini masih ada di bawahku. Dia harus tetap menuruti perintahku meskipun hanya bergelar calon putri mahkota.
“Lakukanlah penyelidikan selama beberapa hari lagi. Thierry juga tidak akan curiga kalau ‘teman’nya ikut membantu di lembaga yang sedang dia awasi.” Raut wajah Yorka sekilas berubah saat aku menyebut nama Thierry.
“Baik. Yang Mulia juga sepertinya tidak begitu sadar dengan kehadiran saya.” Ahh. Dia pasti sudah melihat laki-laki itu sedang asyik dengan perempuan lain.
Menyebalkan. Lama-lama aku juga ikut kesal dengan Thierry dan Chiara. Meskipun belum resmi bertunangan, bukankah jika dilihat dari sudut pandang Arabella, yang dilakukan Thierry sekarang ini termasuk berselingkuh? Padahal lembaga buatan Chiara sedang bermasalah.
Sebentar, kalau begitu, jangan-jangan tuduhan tentang lembaga Chiara yang ada dicerita aslinya memang benar-benar ada? Arabella tidak mengarangnya karena dia cemburu. Sungguh plot twist?! Juga, apa Chiara terlibat dalam hal ini?
“Apakah saya perlu mencurigai Nona Chiara yang mendirikan lembaga tersebut?” Seperti membaca pikiranku, Yorka justru menanyakan hal yang sama dengan isi kepalaku saat ini.
“Tidak, tidak perlu.” Jawabku dengan cepat. Entah kenapa aku yakin Chiara tidak tahu ada yang menyalahgunakan lembaganya untuk urusan yang mencurigakan.
“Setahuku, lembaganya berfokus pada ruang diskusi dan penyebaran informasi yang merata kepada rakyat. Aku ingin penyelidikan ini fokus pada anggotanya. Siapa saja yang tergabung di sana dan apa yang mereka bahas.” Aku memberi masukan ke Yorka.
“Karena baru beroperasi beberapa hari sebelum festival bunga, lembaga itu kebanyakan berisi pedagang antar kota yang mencari info bahan dagangan, anak muda yang penasaran dengan perkembangan kerajaan dan para buruh yang mencari kerja.” Yorka menulis tiga kelompok itu di kertas.
“Mempelajari istilah di lingkup sosial mereka sepertinya akan membantu menyeleksi kata-kata anomali yang disamarkan untuk sandi.”
“Akan lebih baik jika mata-mata milik Lady menyelidiki hal yang berbeda dengan yang akan saya kerjakan.”
“Mereka akan kuletakkan dibagian pedagang dan buruh, tapi, tidak menutup kemungkinan pembicaraan terjadi di lintas anggota dari ketiga kelompok itu.”
Aku cukup kagum dengan diriku. Kepala yang biasanya kosong dan susah mengingat ini ternyata bisa bekerja dengan baik. Mungkin Arabella memang kompeten dalam urusan seperti ini.
Aku dan Yorka berdiskusi panjang malam itu. Menyambung dari satu rencana ke rencana lain, ke satu kemungkinan ke kemungkinan lain. Karena yang dihadapi adalah lembaga milik rakyat, kecurigaan bisa datang dari mana saja.