Lyra mencoba untuk bertahan meski ia terluka oleh kenyataan pahit yang baru saja ia ketahui setelah 6 bulan lamanya. Suami tercinta tega menduakan cintanya dan bermain api dengan Ibunya sendiri.
Rumah Tangga seumur jagung bagai neraka untuk Lyra. Lantas bagaimana ia harus menghadapi situasi ini?
Baca kisahnya yuk readers...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Bukan Anak Kandung
Bab 24. Bukan Anak Kandung
(POV Author)
Empat hari setelah kejadian itu Lyra selalu menghindar jika bertemu dengan Teguh. Ada saja alasan yang ia berikan jika di tanya oleh Teguh. Dan pertanyaan itu ia jawab melalui balasan pesan singkatnya pada Teguh.
Tiap kali melihat Teguh, Lyra teringat kembali adegan waktu itu. Dan itu membuat pipinya merona menahan malu. Walau hanya pucuk kepala, tapi itu adalah ciuman pertama yang dilakukan lawan jenis kepadanya selain Papanya.
Sewaktu berpacaran dengan Andi sampai dia menikah, Andi sama sekali tidak pernah menyentuh Lyra. Mungkin karena janjinya dengan Kamila, sang kekasih.
Pagi ini Lyra sudah rapi dan bersiap akan ke kampus. Ia sengaja pergi agak siang untuk menghindari Teguh yang terbiasa berangkat pagi. Aku Lyra hendak menuju dapur untuk sarapan pagi ini. Walau pun ia menghindari Teguh, namun wanita itu salut sang pengacara tidak pernah absen membuatkan sarapan untuknya.
Pagi ini tidak ada pesan singkat ucapan selamat pagi dari sang pengacara. Lyra menduga mungkin saja Teguh sangat sibuk hingga ia lupa mengirim pesan mengingat jadwalnya yang sangat padat.
Namun langkah Lyra terhenti ketika melihat seseorang sedang duduk manis menikmati sarapannya. Dengan cepat Lyra membalik badan untuk segera kembali ke kamarnya.
"Cil! Sini, ayo kita sarapan bareng. Sudah berapa hari kita nggak sarapan sama-sama."
Namun sayangnya, sepertinya niat Lyra harus terpatahkan karena Teguh terlanjur telah melihat dirinya. Dengan langkah gontai wanita itu perlahan mendekati meja makan. Lalu mengambil tempat duduk di hadapan Teguh.
Begitu Lyra duduk, Teguh segera mengambilkan makanan untuk sarapan Lyra pagi itu.
"Makasih Bang, padahal aku bisa sendiri."
"Udah jadi tanggung jawab Abang, Cil. Ayo makan..."
Lyra hanya menunduk dan terus menunduk tanpa banyak bicara. Sesekali ia melirik ke arah Teguh. Dan ketika mata mereka bertemu, Lyra semakin menundukkan pandangan.
"Cil Abang mau tanya?"
"Tanya apa Bang?
"Kamu masih marah ya sama Abang, Cil?"
"Kenapa aku harus marah Bang? Kapan?"
"Kamu kayaknya terus ngindarin Abang. Apalagi kemarin itu kamu menutup pintu sampe keras gitu. Abang sih nggak apa-apa, Cil. Pintunya yang kasian. Kamu marah kenapa?"
"Aku nggak marah kok Bang. Mana pernah aku marah."
"Terus kamu sampe banting pintu itu kenapa coba?"
"Itu karena...."
Lyra menggantung kalimatnya. Ia tidak sanggup mengatakan bahwa ia merasa malu saat itu.
"Karena...."
Lagi-lagi pipinya merona mengingat kejadian kemarin.
"Karena apa Cil?" Teguh yang penasaran semakin mendesak Lyra untuk menjawab pertanyaannya.
"Karena Abang harus tanggung nikahi aku pokoknya."
Duh, Gue kok malah ngomong gitu?! ..Batin Lyra merutuki kesalahannya karena grogi.
"Nikah? Kok mendadak Cil?" Tanya Teguh bingung.
"Kan kita udah pernah bahas Bang."
"Abang bukan nggak mau kita nikah Cil? Kita tunggu kelanjutan masalah kamu. Kalau ternyata masalahmu bisa selesai tanpa perlu kita nikah, maka kita nggak perlu nikah."
Lyra berubah sendu dengan gurat kekecewaan terlihat jelas di wajahnya yang cantik dan ayu. Bibirmya manyun di kuncir kedepan.
"Jadi Abang nggak mau nikahin aku?!"
Duh, gemesnya. Pengen Gue gigit rasanya. Tapi kasihan juga. Batin Teguh
Teguh yang melihat kekecewaan di wajah Lyra merasa tidak enak hati dan bersalah.
"Bukan begitu Cil....."
Belum selesai Teguh menyambung kalimatnya, Lyra sudah beranjak bangun dari duduknya dan berlalu meninggalkan meja makan menuju kamarnya.
"Duh salah ngomong Gue..." Gumam Teguh yang melihat bayangan Lyra telah hilang dari balik dinding kamar.
Teguh berjalan mendekati kamar Lyra. Ia pun mengetuk pintu itu, menunggu Lyra mau membukakannya.
"Cil... Abang minta maaf. Bukan Abang nggak mau nikahin kamu. Tapi Abang harus ngomong dulu sama Umi."
"Ceklek..."
"Umi itu siapa Bang?"
Teguh terkejut tiba-tiba Lyra langsung membuka pintu dan bertanya padanya. Namun rasa terkejut itu langsung sirna berganti senyuman ketika melihat Lyra di hadapannya.
"Umi ya Umi, Cil. Wanita yang Abang cintai, yang telah melahirkan Abang."
"Abang seperti suami dan Mama ku gitu, sama Umi?"
"Astagfirullah... nggak gitu Cil. Benar-benar cinta anak kepada ibunya. Nanti deh, Abang kenalin sama Umi, kalau Umi main kesini. Tiga hari lagi Abang ke Kalimantan nyusul Umi dan Abi disana. Abang tahu mungkin kamu masih trauma atas apa yang terjadi. Tapi orang tua Abang insyaallah adalah orang tua terbaik bagi Abang." Jelas Teguh.
"Maafkan aku Bang, aku udah salah paham sama orang tua Abang." Ujar Lyra dengan tatapan memohon berkedip-kedip nista.
"Iya nggak apa-apa, Abang maafin..."
Duh makin gemes jadi pengen cium. Batin Teguh eh...
Tanpa sadar tangan Teguh terangkat dan mengusap pucuk kepala Lyra.
Hal itu membuat Lyra tersenyum menunduk menutupi rona wajahnya.
"Ting... Tong!"
"Sepertinya itu temen Abang."
"Siapa Bang?"
"Informan yang Abang sewa."
"Aku ingin dengar juga boleh Bang?" Tanya Lyra yang menjadi sangat ingin tahu hasil yang di selidiki oleh informan yang di sewa Teguh.
Teguh melihat penampilan Lyra dari atas sampai bawah. Lyra yang diperhatikan seperti itu pun merasa kikuk dan ikut melihat penampilannya sendiri.
" Ya udah, yok. Tapi duduk di samping Abang ya."
"Iya Bang."
Siapa yang nolak duduk di samping orang yang selama ini selalu membantu, memperhatikan dan bertanggung jawab pada dirinya, padahal bukan siapa-siapa. Tentu saja Lyra menerimanya dengan senang hati. Ada Teguh di sekitarnya, membuat Lyra selalu merasa aman.
Pantas Abang belum berangkat kerja. Rupanya nungguin temennya. Batin Lyra.
"Masuk Lex. Ini klien Gue." Ujar Teguh memperkenalkan Alex pada Lyra secara tidak langsung ketika Alex melihat ke arah Lyra.
Alex menganggukkan kepala tanda salam kenal dan menghormati Lyra. Lyra pun membalas anggukan itu sambil tersenyum.
Jangan senyum napa Cil, nggak suka rasanya di lihatin yang lain. Batin Teguh sedikit kesal.
"Duduk Lex." Ujar Teguh mempersilahkan.
Mereka bertiga serempak duduk di sofa ruang tamu.
"Jadi apa hasil yang Lo dapet?"
Alex mengeluarkan laptopnya, lalu mencolokan flashdisknya di sana. Beberapa detik mengutak ngatik. Munculnya sebuah video dengan durasi 24 menit lamanya.
Video itu berisikan percakapan antara Andi dan Kamila, sang Mama. Dan kalimat yang baru saja terlontar begitu mengejutkan Lyra hingga wanita itu mencengkram lengan Teguh yang berada disampingmya.
"Hehehe, mana mau aku mengasuh anak orang. Dia bukan anakku. Aku menikah dengan Zail lewat perjodohan ketika anaknya dengan istri pertama berusia hampir 2 tahun. Dan syarat yang aku ajukan adalah, Zail harus menyimpan semua foto mendiang istrinya, nggak boleh ada satu pun foto di rumah ini."
"Tapi kamu terlihat seperti ibu kandungnya sayang."
"Harus seperti itu sayang. Aku terus di awasi oleh pengacara Zail. Karena saat Lyra belum menikah, aku menerima jatah bulanan untuk kami dengan syarat semua harus terpantu jelas. Beruntung kamu menikahinya. Kita bisa menikmati bersama. Tapi aku takut dia melaporkan kita?"
"Nggak ada bukti sayang. Dia kabur seperti orang bodoh."
Teguh menggenggam tangan Lyra yang masih mencengkram kuat lengannya. Seolah-olah ingin memberikan kekuatan kepada wanita di sampingnya.
Setelah video berakhir, Alex mengeluarkan selembar keras dan diberikan kepada Teguh.
Bersambung...
hempaskn para bunga bangkai itu
maksain diri amiiiittttt
salah sangka..tiwas berbunga hati tryt berbunga bangkai
harus nya selidiki diam diam saat mereka mengira kamu gak curiga klo gini kan mereka waspada dasar. Polos apa goblok. gregeten akunya 😄