Aku masih perawan, itu yang di katakan Maudy ketika akhirnya Ia tau kalau suaminya selama ini mencoba menghindarinya karena kepercayaan turun temurun dari keluarga suaminya itu.
Pada saat resepsi pernikahan mereka entah karena apa, ada beberapa kembang mayang yang tiba-tiba mengering, dan itu membuatnya mendapat hinaan karena di percaya sudah tidak segel lagi.
Maudy yang mengira kalau suaminya menghindarinya karena memang tidak ada cinta, karena memang pernikahan mereka terjadi karena perjodohan.
Hingga akhirnya Ia tau alasan suaminya itu diam padanya selama berbulan-bulan. Yuk mampir di karya author remangan, jangan lupa bagi like komennya ya 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raisya Putri 🕊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Rencana Gibran
...****************...
Hari ini adalah hari terakhir Maudy mengajar di sekolahnya yang lama, Ia akan mengemas semua barang- barang miliknya dan juga bertemu dengan sang Ayah. Sebenarnya ada rasa menyesal karena sudah mengajukan pengunduran diri dari sekolah yang lama, apalagi secara tiba-tiba suaminya memberinya kontrak pernikahan.
Apa yang akan terjadi nanti setelah kontrak enam bulan itu berakhir, Ia tidak mungkin akan tetap mengajar di yayasan yang di miliki oleh keluarga suaminya itu.
Namun semua sudah terlanjur, Maudy tidak punya pilihan lain. Hari ini Ia harus mengemasi barang- barang miliknya yang berharga untuk di bawa ke tempatnya yang baru.
Maudy berpamitan langsung pada Bunda Ayu karena pagi tadi suaminya langsung berangkat setelah Maudy menandatangani surat kontrak yang Ia ajukan.
Bunda Ayu pun mengijinkan apalagi mendengar alasan menantunya itu, Bunda Ayu merasa bahagia karena Maudy mau memenuhi keinginannya. Mereka sarapan bersama sebelum berangkat.
Di perjalanan Maudy kembali mengingat kejadian pagi tadi, Ia masih tidak menyangka kalau suaminya sampai punya pikiran untuk mengajukan kontrak pernikahan. Ia sudah berusaha menerima kalau pernikahan merek tidak seperti pernikahan pasangan pada umumnya, namun tidak pernah menyangka akan menjalani kontrak pernikahan.
Maudy memainkan ponsel di tangannya, ingin menelpon tapi ragu. Namun ketika mengingat poin yang ada di kontrak pernikahan mereka, Maudy akhirnya memberanikan diri.
Satu kali, dua kali bahkan sampai lima kali Maudy menghubungi suaminya namun tidak ada jawaban. Maudy menghela nafas dan meletakkan kembali ponselnya itu namun belum lagi hal itu Ia lakukan ponsel itu berdering, Maudy segera menerimanya setelah melihat nama yang berada di layar ponselnya.
" Iya hallo, assalamu'alaikum Mas. "
Raut wajah Maudy langsung berubah setelah mendengar suara dari lawan bicaranya, Ia sampai memeriksa ponselnya kembali untuk memastikan.
Lama Maudy terdiam mendengarkan lawannya berbicara hingga akhirnya kata " Baik " menjadi akhir dari pembicaraan mereka.
Maudy menghela nafas dan masih menatap ponselnya yang masih menyala, Ia kembali mengingat poin- poin yang di ajukan Gibran. Ia tersenyum miris sebelum akhirnya melanjutkan perjalannya.
Di tempatnya Gibran yang baru keluar dari toilet langsung bertanya pada Susan.
" Apa tadi ponselku bunyi, siapa yang nelpon. " Tanya Gibran.
" Ng- nggak ada sayang. Tadi ponselku yang bunyi, tapi bukan apa-apa. Biasa lah sayang, teman-teman ngajakin jalan malam ini. " Jawab Susan sedikit gugup.
Gibran mengambil ponsel nya dan mengeceknya, ternyata benar tidak ada panggilan masuk.
" Ah ya sayang, bagaimana kalau kamu temani aku malam ini. Kita kan sudah lama tidak pergi bersama, aku mohon...... mau ya sayang. "
Gibran berpikir sejenak, ingin menolak namun tidak tega apalagi melihat Susan memohon-mohon padanya.
" Baiklah Susan, aku tidak bisa janji tapi aku akan usahakan, semoga saja aku punya cukup waktu buat nanti malam. "
Susan langsung tersenyum sumringah dan serta merta memeluk tubuh Gibran setelah mendengar jawaban Pria itu. Akhirnya mereka bisa pergi berdua, Gibran melepas pelukan Susan karena harus berangkat bekerja.
" Ya sudah, sekarang kamu sudah senang kan. Aku harus berangkat bekerja dan kamu juga siap-siap, nanti aku kabari kalau sudah mau berangkat. "
Susan mengangguk senang, Ia mengantar Gibran sampai di depan rumah. Setelah Gibran hilang dari pandangan matanya Susan kembali bersorak, Ia berlari ke dalam rumah meraih ponselnya yang berada di atas meja dan mulai sibuk dengan ponsel itu.
Gibran menggeleng pelan setelah pandangannya beralih dari kaca spion, Ia langsung meminta sesuatu dari supir pribadinya itu.
" Arga, berikan padaku. "
Arga menyerahkan tablet miliknya pada Bos nya itu, Gibran mengepalkan tangannya setelah melihat apa yang ada di tablet milik orang kepercayaan nya itu. Arga menunggu tanggapan Gibran mengenai laporan yang Ia berikan.
" Baiklah, lanjutkan rencana kedua. Kamu sudah mengerti maksud ku kan " Tanya Gibran seraya mengembalikan tablet milik Arga.
Arga mengangguk dan kembali melanjutkan perjalanan mereka, Gibran kembali di sibukkan dengan aktivitas nya di kantor hingga sampai lupa waktu. Ia baru sadar ketika ponselnya berdering dan itu ternyata dari Susan, yang mengingatkan tentang rencana mereka.
Gibran merapikan meja kerjanya sebelum pergi, di luar ruangan Arga sudah menunggu. Gibran mengangguk memberi isyarat, Arga pun mengikuti langkah kaki atasannya itu. Mereka berpisah di parkiran karena Gibran memilih mengemudi sendiri.
Sampai di rumah Gibran merasa bingung karena tidak ada yang menyambutnya seperti biasa, bukan hanya itu saja. Salam nya pun tidak ada yang menjawabnya, Ia melangkah masuk dan langsung ke kamarnya. Disana kebingungan nya bertambah karena tidak menemukan siapapun.
" Hm, apa dia belum pulang. " Gumam Gibran.
Ia melepas jas termasuk pakaiannya dan melemparnya ke atas sofa, sambil dengan mulut komat-kamit Ia masuk ke kamar mandi guna membersihkan diri.
Bunda Ayu keluar kamar dan langsung mencari keberadaan asisten rumah tangga nya.
" Bi, Bibi.... apa Gibran sudah kembali. " Tanya Bunda Ayu.
Bibi yang di tanya langsung menoleh ke arah luar lalu mengangguk.
" Iya Nyonya, sepertinya Bapak sudah kembali. "
Bunda Ayu langsung menemui Putra pertamanya itu di kamarnya, Ia mengetuk pintu perlahan namun tidak ada jawaban. Bunda Ayu pun memutar gagang pintu dan ternyata tidak di kunci, wanita itu menggeleng pelan di sertai helaan nafas.
" Gibran..... belum juga sehari di tinggal nih kamar sudah seperti gudang, apa susahnya pakaian kotor di simpan di tempat pakaian kotor. " Gumamnya.
Bunda Ayu mengambil pakaian kotor Gibran dan meletakkan nya di tempat seharusnya, Ia menunggu di sofa karena mendengar gemericik air di dalam kamar mandi.
Sambil menunggu Gibran keluar, Bunda Ayu membuka lemari menyiapkan baju ganti untuk Putranya itu. Senyumnya terbit di bibir ketika melihat lemari Putranya begitu rapi, semua tertata sesuai jenisnya dan itu memudahkannya untuk mengambil apa yang di butuhkan.
Karena melihat lemari yang rapi, Bunda penasaran dengan lemari yang lain, senyum tak pernah hilang dari bibirnya. Namun tiba-tiba Bunda menemukan sesuatu yang membuat fokusnya teralihkan, Bunda meraih sebuah amplop yang terbuka dan terlihat lampiran nya.
Jantung nya berdegub kencang setelah melihat keterangan yang tercantum disana, tanpa sengaja matanya mengembun.
" Gibran, sungguh tega kamu Nak. " Batin Bunda Ayu.
Bunda ingin membaca isi surat itu sampai habis namun Ia urungkan karena tidak terdengar apapun dari dalam kamar mandi, benar saja. Tidak lama kemudian terdengar bunyi pintu di buka, nampak Gibran keluar dari sana.
" Maudy, kenapa pulangnya te...... Bunda, kenapa Bunda disini. "
Gibran terkejut karena ternyata tebakannya salah, yang berada di kamarnya bukan istrinya tapi Ibunya.
" Kenapa Nak, kamu menunggu istri mu pulang. " Tanya Bunda Ayu bersikap biasa saja.
Gibran menuju lemari dan mengambil pakaian gantinya, Ia melangkah ke sisi lemari untuk berganti pakaian.
" Biasakan untuk merapikan kamar mu Nak, belum juga sehari istri mu pergi kamar ini sudah seperti gudang. "
Gibran menoleh ke arah Ibunya dengan kening berkerut, Ia tidak mengerti apa maksud perkataan Ibunya itu.
" Apa maksud Bunda. " Tanyanya.
" Maudy tidak akan pulang malam ini atau mungkin dua, tiga atau bisa saja satu minggu. "
Gibran semakin bingung dan Bunda Ayu pun mengetahui kebingungan putranya itu.
" Ya, Maudy pulang kampung, dia tadi ingin pamit tapi kamu sudah pergi ketika dia masih di kamar mandi, makanya Maudy meminta ijin ke Bunda. Bunda minta kamu jaga kebersihan selama istri mu tidak ada, jangan seperti tadi. Ya sudah, Bunda keluar dulu. Jangan lupa makan malam bersama nanti. "
Gibran hanya diam melihat Bundanya pergi, ingin bertanya tapi gengsinya selangit.
...****************...