Suara serak seseorang dari ujung telepon membuat Khadijah merasa panik.
Air mata luruh begitu saja, tatkala sebuah kabar yang Khadijah dengar memberikan fakta bahwa kedua orang tuanya telah tiada.
Dengan mata yang sudah berkaca-kaca Khadijah mencoba menguatkan hatinya, berharap jika ini hanya mimpi saja, Namun sepwrtinya semua itu nyata.
Kehidupan bahagia berubah tatkala cinta pertama dan separuh hati Khadijah berpulang pada Sang Maha Kuasa.
Belum Sembuh Luka hati nya, Ujian kembali datang.
Takdir yang memaksa Khadijah harus menerima Perjodohan Dengan Seorang Pria yang Khadijah belum pernah Kenal sebelumnya.
Akankah Hidup Khadija akan Bahagia ?
Ataukah Khadija akan semakin menderita ?
Selamat Membaca Semoga Suka dengan Karya Baru saya -TAKDIR CINTA KHADIJAH-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabila.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24. KANTOR
...Menenangkan diri dari kebisingan hati, jujur saja mungkin begitu sulit karena soal hati sangat sulit untuk di pahami...
...☘️...
Sepanjang perjalanan keduanya hanya saling diam, jujur saja memang tidak ada yang perlu di bicarakan.
Melihat beberapa paperbag di samping nya, serta beberapa lainya di bagasi mobil sebelumnya, cukup membuat Khadijah penasaran jujur saja.
"Maaf. Apa saya bisa menemui Mas Aksa ?"
Meski begitu berat untuk bertanya, namun Khadijah memberanikan diri untuk meminta pada Asisten pribadi suami nya.
"Baik Bu. Saya akan membawa ibu ke kantor"
Setelah mengingat jadwal Aksara hari ini, sepertinya saat ini bos nya itu sedang tidak ada agenda, terlebih saat ini mendekati waktu makan siang dan juga waktunya untuk istirahat tentu nya.
Tidak butuh waktu lama, Dion kembali menepikan mobil nya di sebuah gedung pencakar langit, tinggi dan megah tentu nya.
Segar di ingatan Khadijah, saat dulu 3 bulan Khadijah berada di ibukota, dirinya sempat mengagumi gedung di hadapan nya ini, tidak di sangka jika saat ini pemilik gedung ini adalah suami nya. 'Pikir Khadijah'.
"Mari Bu ?"
Masih begitu mengagumi kemegahan gedung di hadapannya, sampai lamunan Khadijah kembali buyar karena Dion membuka kan pintu untuk nya.
"Terima kasih"
Khadijah lantas berjalan mengikuti langkah kaki asisten suami nya, jujur saja Kantor ini terlihat begitu megah dalam benak Khadijah.
Senyum di wajah Khadijah terlihat jelas, mengingat dulu orang tuanya mungkin saja juga kerap berada di tempat ini.
Senyum di wajah Khadijah berubah tatkala melihat beberapa pasang mata tengah menatap nya dengan tatapan penuh tanya.
Entah apa yang ada dalam pikiran mereka, hanya saja Khadijah menangkap wajah-wajah tidak suka di sana, apa yang salah dengan penampilan nya 'batin Khadijah'.
Namun wajah-wajah intimidasi itu seketika tertunduk takut tatkala.sosokndi depan nya menatap tajam ke arah mereka.
Jujur saja, Khadijah begitu tidak menyangka jika pada Dion saja mereka begitu takut, hingga tidak lagi memandangi Khadijah, lalu seperti apa sikap mereka jika berhadapan dengan Aksara, 'batin Khadijah'.
Tidak ingin semakin terbelenggu dengan pertanyaan yang jujur saja tidak perlu, Khadijah memilih kembali fokus pada langkah kaki nya, hingga tepat berada di depan sebuah lift.
"Ruang Pak Aksa berada di lantai 10 Bu"
Khadijah lantas menganggukkan kepala nya, sebagai tanggapan atas ucapan Dion sebelum nya.
Ada 23 lantai di gedung ini, dan sudah menjadi pilihan Aksara menempatkan ruangannya di lantai 10, simpel saja tujuannya, agar dia bisa memudahkan karyawan nya yang ingin bertemu saja.
Tidak butuh waktu lama, Dion dan Khadijah telah berada di lantai 10. Dan Dion kembali mengayunkan kaki nya, Khadijah pun lantas mengikuti nya.
Di ujung sana, jelas mata Khadijah melihat tulisan 'Ruang Direktur' disana. Mungkin saja itu ruangan Mas Aksara 'Batin Khadija'.
Benar saja Dion menghentikan langkah nya disana.
Tok tok tok
Meski merupakan asisten pribadi Aksara, dan juga meski Dion tengah membawa Khadijah, hal itu tidak lantas membuat nya bisa masuk kedalam ruang bos nya begitu saja.
"Masuk !"
Sebuah suara terdengar dari balik pintu yang sebelumnya di ketuk oleh asisten suami nya.
Ceklek. Dion lebih dulu masuk dan melebarkan Pintu di hadapannya, di susul Khadijah yang berjalan di belakang nya.
Namun alangkah terkejutnya Khadijah mendapati didalam sana suaminya tidak lah sendiri.
Seorang wanita seusia dirinya tengah berdiri di samping sang suami, menyondong kan tubuh nya dengan beberapa lembar kertas di tangan nya.
Namun yang menjadi fokus Khadijah bukanlah itu, mata Khadijah jeli pada kancing kemeja wanita di hadapannya yang sepertinya sengaja di buka, hingga menampakan dua benjolan besar di balik kemeja nya, belum lagi melihat rok hitam sepanjang lutut yang masih juga memiliki belahan di bagian samping Kanan nya, 'Apa-apa An ini?' batin Khadijah.
Entah mengapa Khadiah tidak begitu menyukai pemandangan di hadapannya. Hingga dia hanya bisa terdiam dengan menautkan kedua alis nya, menampakkan guratan halus di sana. Bahkan untuk sesaat Khadiah lupa akan tujuan kedatangannya.
Sama hal nya dengan Khadijah yang begitu terkejut, Aksara pun juga merasakan hal yang sama, tidak ada angin tidak ada hujan, Khadijah tiba-tiba menemui nya.
Melihat kebingungan di mata Khadijah, Aksara pun lantas mengibaskan tangan kiri nya, isyarat pada sang sekertaris untuk meninggalkan diri nya.
Asila
Sebuah nama yang tertera pada kartu identitas di dada wanita yang berada di samping suaminya, tidak ketinggalan jabatan yang juga tertera di sana.
'Sekertaris' gumam Khadijah dalam hati nya.
Melihat reaksi Aksara, Jelas terlihat raut wajah tidak suka dari wanita di samping suami nya. Dan Khadijah pun jelas melihat jika Asila jelas tidak rela meninggalkan Aksara bersama Khadijah.
Belum juga beranjak dari tempat nya, Aksara kembali menginterupsi.
"Tinggalkan kami !"
Meski dengan Barat hati Asila pun meninggalkan ruangan Aksara bersama Dion yang juga kemudian keluar dari ruang bos besar nya.
***
islam dengan jelas melaknat pelakor dan juga pebinor
pahammmmmmmmmmm
Bukankah ortu Dan adik itu muhrimnya jd tdk perlu memakai cadar?
Dan ketika sama2 bersama wanita apkh jg hrs bercadar?
Harusnya aksa pd waktu akad jg sdh melihat wajahnya