Menjadi istri pengganti istri pertama, begitulah yang Deandra alami. Ketika dirinya terpaksa harus menikah dengan Majikan di rumahnya ini, hanya karena dia membutuhkan sosok seorang istri pengganti di saat istri pertamanya masih dalam keadaan koma.
"Jadi istri pengganti untukku, selama istri pertamaku belum sadar"
Sebuah kalimat yang membuat Deandra sangat terkejut. Namun sebuah pilihan yang akhirnya dia ambil. Entah bagaimana pernikahan ini berlanjut, mungkin akan tetap bersama dengan saling mencintai? Atau bahkan saling melepaskan dengan rasa sakit?
Saksikan kisahnya di PENGGANTI ISTRI PERTAMA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apakah Ini Rindu?
Hari-hari berlalu melawan waktu yang terasa cepat. Satu minggu lamanya Afkha tidak pulang karena urusan pekerjaannya di luar kota. Seharusnya Deandra senang dengan hal ini, tapi entah kenapa dirinya malah merasa jika dia seolah kehilangan sebagian dari hidupnya.
Merasa hari-harinya terasa hampa. Mungkin untuk hari pertama dan kedua, Deandra masih merasa senang karena dia merasa terbebas dari suaminya itu. Tapi entah kenapa hari ini dirinya malah merasa cukup bosan dan hampa tanpa kehadiran Afkha selama ini.
"Aaa.. Aku ini memang aneh ya, kenapa juga sekarang harus merasa kesepian seperti ini. Padahal aku itu seharusnya senang karena dia tidak ada waktu untuk mengganggu aku lagi"
Deandra yang bingung dengan perasaannya sendiri. Dia berbalik badan di atas tempat tidur itu, menatap langit-langit kamar dengan tatapan menerawang. Entah kenapa bayangan wajah Afkha yang tiba-tiba saja terlintas dalam ingatannya. Padahal Deandra sama sekali tidak pernah ingin mengingat tentang suaminya yang menyebalkan itu. Tapi seolah bayangan Afkha malah mnegkutinya dan terus terlitas dalam ingatanya.
Aaa.. Dean, jangan sampai kalau kamu sedang jatuh cinta sekarang. Tidak! Itu tidak mungkin sampai terjadi. Deandra langsung menggeleng cepat dan mengusir setiap pikiran negatif dalam dirinya yang sebenarnya memang dia tidak akan pernah mau jika harus jatuh cinta pada Afkha. Bukan karena apa-apa, namun dia pasti akan terluka setelah ini.
Deandra menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Mencoba untuk tetap tidur dan tidak lagi memikirkan tentang Afkha yang entah sedang apa sekarang. Deandra mencoba memejamkan matanya dan tidur tanpa terus memikirkan tentang Afkha.
Dan di tempat yang berbeda, Afkha sedang sibuk dengan pekerjaannya di proyek baru perusahaan mereka. Membuat sebuah taman hiburan dengan fasilitas yang terjamin disana. Tentunya akan meraih keuntungan yang cukup besar ketika dia berhasil dengan proyek ini bersama dengan perusahaan besar yang berada di kota ini.
Kembali ke kamar hotel dengan wajah yang sangat lelah. Setiap hari dia pulang larut malam seperti ini untuk melihat semua pekerjaan pembangunan proyek dan juga sebuah kalkulasi dana yang harus dia pikirkan.
Selesai mandi, Afkha langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Bahkan dirinya tidak sempat untuk menghubungi keluarganya dan juga istrinya. Ayah sudah pulang tiga hari yang lalu karena dia yang harus memeriksa keadaan perusahaan juga. Jadi saat ini hanya Afkha yang berada disini.
Dia sedang apa ya? Afkha sangat merindukan Deandra saat ini, apalagi ketika dirinya yang tidak punya waktu yang sempat untuk menghubunginya. Setiap hari pulang malam, dan ingin menghubungi Deandra juga tidak mungkin karena pastinya dia sudah terlelap di hari yang sudah malah seperti ini.
"Pekerjaan aku disini juga masih banyak, tidak akan selesai dalam sehari dua hari lagi" lirih Afkha dengan kebingungan yang dia rasakan.
Perasaan rindu yang menyerang hati keduanya, meski yang satu masih belum mengakui jika dirinya merindukan Afkha. Saat ini Afkha sudah tidak lagi merasa ragu dengan apa yang dia rasakan. Karena saat Sandra koma saja, dia tidak merasakan rindu yang seperti ini. Tapi anehnya ketika dia bersama dengan Deandra, entah kenapa malah merasakan perasaan rindu yang begitu mendalam dan bahkan begitu mneyiksanya.
Aku ingin segera bertemu dengannya.
########
Deandra terbangun pagi ini, lagi-lagi dia merasa ada yang aneh ketika dia bangun tidur dan tidak menemukan suaminya disana yang selalu memeluknya itu. Sekarang Deandra malah bingung bagaimana rasanya ketika apa yang sudah menjadi kebiasaan dia, tapi sekarang hal itu mengilang. Ada sedikit rasa tidak nyaman dalam hatinya.
"Kamu ini sebenarnya kenapa si Deandra? Kenapa harus selalu ingat tentang dia"
Deandra yang sedang kebingungan dengan apa yang dia rasakan saat ini, tentang kepergian suaminya untuk pekerjaan ke luar kota selama satu minggu ini. Afkha yang pergi malah membuatnya merasa tidak nyaman.
Mungkinkah ini rindu? Apa aku sedang merindukannya? Pertanyaan yang membuat Deandra langsung menggeleng cepat. Dirinya masih mencoba menahan diri dan hatinya agar tidak benar-benar jatuh cinta pada Afkha. Karena Deandra sadar jika semua ini hanya sementara saja. Pernikahan ini hanya sebatas di bawah surat perjanjian.
Selesai mandi, Deandra langsung keluar kamar. Tidak menyangka jika Angga sudah berada di rumah ini. Deandra langsung menghampiri Angga yang sedang duduk di atas sofa bersama dengan Ibu.
"Pagi Kak, pagi-pagi sudah datang kesini" ucap Deandra yang duduk di sofa tunggal yang ada disana.
Angga tersenyum ke arah Deandra. "Sengaja, karena mulai besok aku akan sibuk untuk mempersiapkan pernikahan aku yang tinggal menghitung hari. Jadi sekarang aku akan mengecek dulu keadaan Nyonya Sandra. Kamu jangan sampai tidak datang ya"
Deandra mengangguk dan tersenyum, dia mengajak Angga langsung ke kamar Sandra untuk segera mengecek keadaannya. Entah kenapa, sekarang aku malah merasa biasa saja saat bersama dengan Kak Angga. Deandra yang masih bingung dengan perasaan hatinya saat ini.
"Mungkin setelah tahun baru, maka kita akan melakukan suntik obat yang sudah kita rencanakan itu. Berharap Nyonya Sandra akan segera sadar" ucap Aldo.
Deandra mengangguk, tapi hatinya yang tiba-tiba saja merasa tidak begitu senang dengan hal itu. Meski dirinya sangat ingin melihat Sandra segera sadar agar dirinya bisa segera terlepas dari pernikahan di atas perjanjian ini. Tapi sayangnya, hatinya seolah sudah terbiasa dan merasa nyaman dengan pernikahan yang sedang dijalaninya saat ini.
"Baiklah Kak, aku hanya akan mengikuti saran dari Kakak saja. Semoga kita berhasil ya Kak" ucap Deandra dengan tersenyum, namun senyuman itu terlihat sangat samar.
Angga mengangguk, dia juga berharap jika dirinya akan berhasil dengan percobaan ini. Obat dengan dosis tinggi yang baru pertama kali digunakan di tanah air. Karena ada sebuah kemungkinan yang berakibat fatal jika sampai percobaan ini gagal. Kemungkinan pasien meninggal adalah 90 persen.
Deandra mengantar Dokter Angga keluar dari rumah ini karena masih banyak pekerjaan yang harus Dokter Angga lakukan setelah dari sini untuk mempersiapkan untuk pernikahannya.
"Dean.." panggil Ibu saat Deandra masih berdiri di teras depan setelah Angga pergi menggunakan mobilnya.
Deandra langsung menoleh, dia menatap Ibu yang membawa ponsel di tangannya. "Iya Bu, ada apa?"
Ibu menyodorkan ponsel miliknya pada Deandra. "Ini Afkha telepon, katanya ponsel kamu tidak bisa di hubungi"
Deg, entah kenapa mendengar nama Afkha membuat jantung Deandra berdebar begitu saja. Hatinya terasa senang, setelah satu minggu ini dia tidak sama sekali mendengar kabar tentang suaminya ini. Dengan segera Deandra langsung mengambil ponsel dari tangan Ibu dengan antusias. Dia tidak bisa membohongi perasaannya yang begitu senang saat mendengar Afkha menghubunginya.
Bersambung