Kiran adalah wanita yang mempunyai wajah jelek, bahkan semua orang menyebutnya dengan sebutan wanita si buruk rupa. Kiran dijodohkan oleh orangtuanya dengan seorang pengusaha tampan bernama Viki.
Viki terpaksa menikahi Kiran untuk menyelamatkan perusahaan orangtuanya yang hampir bangkrut.
Kehidupan Kiran sangatlah menderita, hingga suatu saat Kiran memergoki Viki sedang selingkuh dengan wanita lain. Kiran memutuskan untuk bercerai dengan Viki, dan bertekad ingin membalaskan dendamnya kepada orang-orang yang sudah membuatnya menderita.
Akankah Kiran berhasil membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 DESI
Setelah makan siang selesai, Raj memegang perutnya dan langsung berlari ke dalam kamar mandi. Raj memuntahkan semua makanan yang barusan dia makan.
"Ya Allah Mas, kamu kenapa?" tanya Kiran khawatir.
"Perut aku mual, sayang."
Kiran memijit tengkuk leher Raj, Kiran merasa sangat kasihan melihat suaminya yang terus saja muntah-muntah seperti itu. Kiran membantu Raj bangun dan membersihkan mulut Raj dengan tisu.
"Kamu tidur dulu di atas sofa, biar aku suruh OB untuk bawakan air hangat untukmu," seru Kiran.
Raj pun merebahkan tubuhnya di atas sofa, Kiran segera menghubungi OB untuk membawakan air hangat. Setelah itu, Kiran mengambil minyak kayu putih dan mengoleskannya di perut dan leher Raj.
"Mas, lebih baik kita ke rumah sakit soalnya aku sangat khawatir sama keadaan kamu."
"Terserah kamu sajalah."
Tidak lama kemudian, OB datang membawa air hangat pesanan Kiran.
"Ayo Mas, diminum dulu."
Setelah merasa baikan, Kiran pun memutuskan untuk membawa Raj ke rumah sakit. Selama dalam perjalanan, Raj hanya bisa menyandarkan kepalanya di pundak Kiran karena saat ini kepala Raj sudah mulai pusing.
"Sabar sayang, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit," seru Kiran.
Sampai di rumah sakit, Raj langsung dibawa ke ruangan pemeriksaan.
"Bagaimana dok, suami saya sakit apa?" tanya Kiran cemas.
"Suami anda tidak sakit apa-apa, dia baik-baik saja."
"Tapi kenapa perut saya mual sekali dan kepala saya pusing?" lirih Raj.
"Sepertinya, istri anda juga harus diperiksa," seru dokter.
"Loh, aku tidak sakit, Dok," sahut Kiran.
"Tidak apa-apa, biar saya periksa dulu soalnya saya mencurigai sesuatu."
Kiran dan Raj saling pandang satu sama lain, tapi pada akhirnya Kiran pun bersedia diperiksa. Kiran mulai diperiksa, dan dokter menyunggingkan senyumannya.
"Bagaimana, dok?" tanya Raj.
"Ternyata kecurigaan saya benar, semua akar masalahnya ada di istri anda."
Kiran dan Raj semakin bingung, mereka berdua duduk di hadapan dokter.
"Maksud dokter apa? Memangnya saya sakit apa?" tanya Kiran khawatir.
"Nona tidak sakit apa-apa, tapi saat ini Nona sedang hamil. Saya tidak bisa memperkirakan berapa usia kandungan Nona, jadi Nona bisa memeriksakannya kembali ke dokter kandungan."
Kiran dan Raj sangat terkejut dengan perkataan dokter itu, tanpa buang-buang waktu mereka pun segera pergi ke ruangan dokter kandungan.
Kiran disuruh mengecek menggunakan alat tes kehamilan dan ternyata benar, muncul dua garis merah di sana.
"Kapan terakhir Nona datang bulan?" tanya Dokter.
"Saya lupa Dok, tapi kalau gak salah saya sudah lama tidak datang bulan," sahut Kiran.
"Baiklah, Nona saat ini memang sedang hamil dan diperkirakan usia kandungan Nona saat ini menginjak usia 8 Minggu. Dan mengenai suami Nona yang mengalami mual dan pusing, sepertinya itu efek dari kehamilan Nona karena kasus seperti ini sudah banyak terjadi. Istrinya yang mengandung dan suaminya yang ngidam."
"Tapi, itu tidak bahaya kan, Dok?" tanya Kiran.
"Tidak sama sekali, karena biasanya ngidam itu di trimester awal dan di trimester selanjutnya, itu akan sembuh dengan sendirinya. Jadi, Tuan harus sabar merasakan mual dan pusing yang mungkin akan terjadi sewaktu-waktu," seru Dokter.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, Papa Rahul datang dengan wajah yang sangat khawatir.
"Kalian sakit apa?" tanya Papa Rahul cemas.
Kiran bangkit dari duduknya dan menghampiri Papanya itu.
"Kita tidak sakit apa-apa Pa, tapi saat ini Papa akan segera menjadi seorang Kakek," seru Kiran dengan senyumannya.
"Apa? Maksud kamu apa?"
"Kiran sedang hamil, Pa," sahut Raj.
"Ya Allah, kamu hamil sayang?"
"Iya, Pa."
Papa Rahul memeluk Kiran, bahkan saat ini mata Papa Rahul sudah terlihat berkaca-kaca saking bahagianya.
"Akhirnya Papa akan menjadi seorang Kakek."
Ketiganya memutuskan untuk pulang, semenjak tahu Kiran hamil semuanya memperlakukan Kiran bagaikan Tuan putri walaupun memang dari awal Kiran sudah dilayani dengan baik tapi sekarang pelayanannya pun semakin luar biasa.
Kiran tidak diperbolehkan keluar dari kamarnya, semua kebutuhan Kiran tinggal telepon saja ke lantai bawah dan nanti semua pelayan akan datang membawakan apa yang diinginkan oleh Kiran.
"Mas, aku bosan kalau harus berdiam terus di dalam kamar, aku mau jalan-jalan," rengek Kiran.
"Tidak boleh sayang, di luaran sana sangat bahaya bagaimana kalau kamu tersandung sesuatu, terus banyak anak-anak pula bagaimana kalau mereka lari-lari dan menabrak kamu, pokoknya kamu tidak boleh ke mana-mana karena aku tidak mau sampai terjadi kenapa-napa dengan kamu dan calon anak kita," sahut Raj.
"Ishh..ishh..ishh..aku bisa jaga diri aku sendiri Mas, atau aku bisa ajak Mimi untuk menemaniku," seru Kiran.
"Pokoknya tidak boleh!"
Kiran sangat kesal dengan suaminya itu, dia pun merebahkan tubuhnya dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Kamu jahat, Mas."
Raj menghela napasnya berat, lalu Raj menghampiri Kiran dan ikut merebahkan tubuhnya di samping Kiran.
"Aku bukanya jahat, sayang. Tapi aku tidak mau sampai kamu dan calon anak kita kenapa-napa."
"Iya, aku tahu. Tapi tidak seperti ini juga kali Mas, kata dokter ibu hamil itu tidak boleh stres kalau aku terus-terusan diam di dalam kamar aku bisa stres, memangnya kamu mau melihat aku dan calon anak kita stres?" kesal Kiran.
"Astagfirullah, ya tidaklah sayang."
"Ya sudah, ajak aku jalan-jalan."
"Baiklah, ayo kita jalan-jalan!"
"Nah, gitu dong Mas."
Kiran terlihat sangat bahagia, akhirnya dia bisa melihat dunia luar juga setelah sekian lama harus berdiam diri terus di dalam kamar.
"Kamu mau jalan-jalan ke mana?" tanya Raj.
"Aku ingin makan es krim, Mas."
"Baiklah."
Selama dalam perjalanan, Kiran bernyanyi-nyanyi kecil membuat Raj terkekeh. Dia tidak menyangka hanya dengan membawa istrinya jalan-jalan, itu membuat istrinya sangat bahagia.
Sesampainya di sebuah Mall, mereka langsung menuju kedai es krim dan memesan es krim kesukaan Kiran sedangkan Raj memilih pesan kopi.
"Pelan-pelan makannya, sayang."
"Es krimnya enak banget, Mas."
"Habis ini mau ke mana lagi?" tanya Raj.
"Aku ingin membeli peralatan bayi Mas."
"Kan lahirannya juga masih lama sayang, ngapain beli dari sekarang."
"Ih kamu itu tidak akan tahu masalah ginian Mas, jadi ibu untuk pertama kalinya sangat membahagiakan jadi aku ingin cepat-cepat beli alat-alat bayi."
Raj sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya bisa menuruti apa yang diinginkan oleh istrinya itu daripada nantinya menjadi masalah karena melihat istrinya merajuk lebih mengerikan daripada apa pun juga.
Jadi untuk saat ini lebih baik Raj cari aman saja untuk ketentraman rumah tangganya.