NovelToon NovelToon
Khanaya

Khanaya

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Model / Tamat
Popularitas:117.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Muhammad Yunus

Tidak bertanggung jawab kalau baper, nangis, berkata kasar terus senyum-senyum sendiri.

Jika perlu cek tensi sebelum membaca.

Happy reading ❤️

Tujuan mulia dan tulus yang Khanaya berikan di salah artikan oleh sahabatnya.

Semua sudah terjadi, bukan sekali! Tapi tak terhitung kebaikannya, menjaga anak serta mengurus suami sang sahabat sudah dilakukan Khanaya bertahun-tahun. Tulus tapi diragukan.

Pria yang merasa terabaikan mulai melihat pada Khanaya.

Jatuh hati pada sahabat Istrinya.

Lantas siapa yang layak di salahkan?

Hati Huston?

Ataukah Qilla yang secara tidak langsung mendorong Khanaya masuk dan membuat suami serta anaknya nyaman?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mimpi?

"Aku hanya sekedar mampir."

Perasaan Huston tidak setenang Khanaya, kedatangan Qilla merusak momen kebersamaannya dengan sang istri.

Tepatnya merusak suasana.

Berapa lama mereka tidak bertemu? Qilla tidak menghitung. Tapi seperti berabad-abad, di matanya ada yang berubah dari mantan suaminya.

Huston sendiri tidak memperhatikan Qilla. Ia tak sadar dengan tatapan Qilla padanya, namun Khanaya yang mengambil minuman dari dapur melihat tatapan sahabatnya pada Huston yang kini jadi suaminya.

Dalam hati ia berkata.

"Lihatlah Mas, perasaan Qilla masih sama. Bagaimana aku bisa berbahagia di atas kesedihan sahabatku sendiri?"

Khanaya menyayangkan keadaan yang menimpa sahabatnya. Kadang Khanaya sering merenung mengkaji ulang tentang semua perilakunya, ada kah selama ini dia mengharapkan hal seperti ini? Rasanya tidak. Mungkin penyebab rumah tangga sahabatnya retak karena keegoisan mereka namun itu hanya sebab sementara takdir lebih kuat.

Ada rasa sesak yang tidak di tahu sebabnya. Kadang ada kalanya Khanaya sering bertanya kepada diri sendiri. Mengapa dia harus berjodoh dengan Huston? Mantan suami sahabatnya sendiri.

Dari dulu Khanaya tidak memiliki kriteria tertentu untuk seorang pria, tapi tidak juga melawan takdir ketika dia sudah di satukan dengan Huston.

Tidak menolak bukan berarti selama ini dia sudah bahagia.

Ada rasa bersalah setiap kali mereka baru saja melewati malam panas. Rasa bersalah seperti merasa berkhianat, meskipun itu bukan keadaan sebenarnya dan dia tidak harus merasa seperti itu.

"Diminum dulu."

Baru setelah itu Qilla memutuskan pandangannya pada sang mantan.

"Kamu apa kabar?"

Khanaya selalu ramah pada Qilla, bukan karena rasa bersalah tapi dari dulu.

"Jauh lebih baik, aku kesini juga ingin memberi tahu pada mu kalau aku sudah baik-baik saja!"

Qilla berkata dengan sungguh-sungguh, perasaannya pada mantan suami sudah memudar.

Dengan menatap penuh rindu seperti itu?

"Bukanlah masih stuck sama Mas Huston?" tes Khanaya.

"Enggak," jawab Qilla cepat.

"Yang kulihat nggak begitu."

Mendengar penuturan istrinya Huston melihat Khanaya. Memastikan wajah itu tidak ada kecemburuan.

Tapi mana bisa, sejak dulu Khanaya selalu tenang di situasi apapun, lawan bicaranya sulit menebak perasaannya.

"Yang kurasakan sama yang terlihat berbeda, " jawab Qilla lagi. "Tuhan hanya belum mempertemukan aku dengan pria baru, bukan berarti aku masih ada rasa dengan mas Huston, kamu jangan khawatir."

Pengajaran tepatnya yang diperoleh Khanaya dari rumah tangga sahabatnya, ternyata saling mencintai bukan jaminan langgeng untuk sebuah hubungan. Komunikasi, waktu, dan saling menghargai itu hal yang paling penting dari sebuah hubungan.

Khanaya selalu menerapkan itu. Meskipun menumbuhkan cinta untuk sang suami tidaklah mudah tapi bukan berarti ia tidak berusaha.

Bukan soal trauma, tapi kalau Tuhan belum berkehendak apa mau dikata.

"Jangan khawatirkan aku Khanaya," dan Qilla tertawa lepas."Aku menikmati hidupku sekarang yang jauh dari kata tuntutan karena aku sadar bahwa aku tidak ingin di kekang." ungkap Qilla menatap pada Huston sekali lagi dan ini terang-terangan di depan Khanaya.

Huston tidak nyaman, karenanya dia langsung menggenggam tangan Khanaya di bawah meja.

Dengan cepat, Khanaya menaikkan tangannya ke atas meja dan membuat Huston tersentak.

Baru saja, Khanaya menolaknya, kan?

"Disini mungkin masih ada getar, tapi tak sekuat dulu." ucapan Qilla menarik perhatian Huston dan Khanaya, tangan kanannya di letakkan di dadanya sendiri.

"Selama ini tidak ada yang perduli keinginanku, apa lagi keputusanku. Hanya kamu Khanaya, hanya kamu yang selalu ada untukku "

Khanaya tersenyum miris, melihat keberanian sahabatnya yang menatap Huston di depannya.

Suara Qilla bergetar, tapi tidak ada tangis disana.

"Kamu berhak bahagia, jangan ragukan cinta suamimu, cukup aku yang mengalami penyesalan, jangan terulang lagi. Aku sengaja ingin menatap wajah mas Huston, setidaknya memastikan diri dan juga padamu jika cinta itu sudah tak sebesar dulu. Aku ikhlaskan mas Huston untukmu, kalian sama-sama baik, sama-sama bijak. Sangat serasi."

Nasehat Riduan membuat Qilla dapat berpikir rasional dan lebih dewasa. Qilla tidak ingin terus terjebak dalam kubangan dosa.

Setelah mengutarakan maksud dan tujuannya Qilla berpamitan pada Khanaya dan Huston.

"Aku bisa melihat cinta di mata Huston, cinta yang jauh lebih besar dari cintanya padaku dulu, berbahagialah, Kay."

Sebelum keluar dari pintu Qilla sempat memeluk tubuh Khanaya dan membisikkan kata-kata yang dia yakini.

Qilla tersenyum ketika membelakangi sahabatnya, langkahnya terasa ringan meninggalkan rumah Khanaya dan Huston seperti baru saja meninggalkan beban yang selama ini di pikul nya disana.

**********

Setelah kepergian Qilla Khanaya masuk ke dalam kamar mandi.

Awalnya Huston tidak khawatir tapi karena sudah lebih setengah jam wanita itu di dalam sana Huston mulai cemas.

"Kay..."

Suara Huston dapat di dengar oleh Khanaya.

"Kamu baik-baik saja?"

Tanya itu seperti tidak sabaran.

"Khanaya, kamu....,"

Pintu kamar mandi terbuka. Wajah tegang Huston berangsur normal.

"BAB?"

Khanaya menggeleng.

Aduh Huston jadi gemas, tingkah lempeng Khanaya ini memiliki daya tarik tersendiri untuk Huston.

Batin mereka sudah terhubung, hanya cinta Khanaya saja yang belum menyapa. Sebagai istri Khanaya tahu, Huston mencintainya dengan tulus.

Apa, pantas ia menuntut lebih banyak hal pada suaminya?

Lagian mereka sepadan.

Bukankah garis takdir rahasia Tuhan?

"Sepertinya aku perlu ke dokter."

"Kamu sakit?" bisa Khanaya lihat wajah itu kembali tegang.

Huston mengkhawatirkannya.

Seharusnya, Khanaya speechless. Bukan tenang, seperti ini. Atau, setidaknya, dia terkejut.

Tapi tidak!

Karena kejadian ini masuk akal dan juga....di tunggu oleh Khanaya.

Huston memejamkan matanya, ketika Khanaya memagut bibirnya lembut dan dalam.

"Kay..."

Huston mengerang pelan, ketika Khanaya melepaskan tautan bibir mereka dan melenggang ke meja rias.

Sikap Khanaya agak aneh, tapi Huston senang dengan inisiatif Khanaya untuk memberinya sebuah ciuman ini seperti obat yang diberikan Khanaya setelah membuatnya kecewa tadi saat Khanaya menolak genggaman tangannya.

Padahal itu hanya spontanitas, Khanaya tidak sengaja.

Dua manusia masih bergelut dalam pikiran dan logika masing-masing.

"Jadi ke rumah sakit?" tanya Huston meredam getaran aneh yang belum reda.

"Ke bidan saja."

Huston mengangguk mengerti tapi sekejap kemudian ia memperhatikan Khanaya.

"Kenapa harus ke bidan?" Maksud Huston kenapa tidak langsung ke rumah sakit saja.

"Hanya memastikan dulu, lagian aku telat belum dua bulan."

"Oh, iya.... eh, telat? Maksudnya kamu telat?"

Dari saku baju Khanaya menyodorkan sesuatu yang dibungkus plastik.

Huston tau alat apa itu. Persis sesuatu yang pernah membuat hati dan jiwanya bergetar karena kabar yang tak terduga di saat dirinya belum menikah. Tapi kali ini, gemuruh itu sangat berbeda dentuman jantungnya terdengar jelas.

Hanya khayalan saja kah ini?

Atau.....

Mimpi?

Tapi kenapa kebahagiaan yang dia dapat sangat nyata? Bahkan Huston bisa merasakan air hangat yang mengalir melewati kedua pipinya.

#####

Maaf ya, sempat tidak update, author sedang flu kemarin. Sangat tidak nyaman untuk beraktivitas.

happy reading ❤️❤️

Semoga para reader selalu bahagia, sehat dan banyak rezeki.

Jangan lupa jejak cinta untuk author ya.

love you all....

1
Hanna Julia
qilla jahat banget
Lia Afriani
hamil Khay
Lia Afriani
aq kira kanaya 😭😭
Lia Afriani
suka sm kanaya
Lia Afriani
suka sm karakter Khanaya
Lia Afriani
aku mo bc smua novelmu thor💪💪
Lia Afriani
Qila Qila
Lia Afriani
buq jangan ketus2 ntar pengen Khanaya jd menantux
Diana Dwiari
sudah kudugong....pasti aksanyg ingin kembali pada khanaya
Diana Dwiari
hamil ya.....ah,baru sadar ternyata avila bukan anaknya Houston,tapi jebakan Aqila yg dah hamil
Diana Dwiari
ya betul itu,laki2 kog ga bertanggung jawab dg keluarga,.alah limpahkan ke orang lain
ayu cantik
bagus
Nesya Yanuar
Kanaya ini terlalu baik apa terlalu bodoh sih, kok ya mau" nya dia mengorbankan banyak hal dlm hidupnya Demi utk sahabat yg tak layak utk di sebut sbg sahabat
Nesya Yanuar
Qilla ini bnr" istri tak berguna, ibu tak punya hati, Dan sahabat tdk tahu diri.
Heryta Herman
pusing dgn skap khanaya...
Heryta Herman
hubungan yg rumit...
Heryta Herman
jln takdir mu ada bersama si gadis kecil kesayanganmu khanaya..
Heryta Herman
takdir dan jodoh urusan Allah sang pencipta...
klo khanaya menuruti kata orang tua dan pergi sejauh manapun...bila mereka berjodoh,pasti bersatu juga..
serahkan semua pada yg punya hidup...
Heryta Herman
dasar qilla wanita minim akhlak...lupakah kamu,selama ini siapa yg berdiri di sblhmu bila kamu memerlukan sandaran dan dukungan wahai qilla si gila...
Heryta Herman
kasihan khanaya...serba sulit posisinya..
saranku...mantqpkan hati..tinggalkan sahabat ga ada akhlakmu itu..biarkan dia selesaikan mslhnya sendiri...wanita egois sprti qilla tdk layak menjadi sahabatmu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!