NovelToon NovelToon
Terlalu Goblok Mencinta

Terlalu Goblok Mencinta

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Novi Artikasari

Pernah merasa goblok saat mencintai seseorang?

Tenang, kalian tidak sendirian! Karena aku juga masuk dalam antrian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Artikasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Kucoba untuk terus bersabar dan mengimbangi sikap kekanak-kanakkannya. Mungkin karena perbedaan usia di antara kami, menjadi faktor yang membuat ia terlihat lebih manja. Aku sungguh tidak keberatan sama sekali dibuatnya, karena memang merupakan hal yang wajar jika seorang istri bersikap manja terhadap suaminya.

Hari-hari kami lewati seperti biasa. Ketika ia mulai merajuk atau pun marah, aku berusaha untuk mengalah dan menuruti keinginannya. Begitulah seterusnya, hingga ia benar-benar merasa bahwa aku sangat mementingkan dirinya.

Suatu hari ketika aku baru pulang dari kantor, ia menyambut kedatanganku dengan wajah sumringah. Terpancar aura yang tidak biasa dari wajah ayunya yang selalu dibalut dengan kerudung ketika ia berada di luar rumah. Kukira ia sedang berbunga-bunga dengan suasana hati yang begitu apik, namun ternyata ada sesuatu yang membuatnya cukup marah.

"Ada masalah apa lagi, Dek?" Tentu saja dengan wajah yang diselimuti aura kebingungan, aku mulai kelabakan.

Seingatku tidak ada dosa fatal yang telah aku lakukan, sehingga membuat ia merasa dikecewakan. Iklima tampak begitu naik pitam setelah sebuah gelang kesayanganku ia lemparkan.

"Siapa wanita itu, Mas? Hiks ... hiks ...." Tangisannya pecah seiring dengan pertanyaan yang ia ajukan.

DEG DEG DEG

Bagaimana mungkin aku bisa melupakan gelang itu? Seingatku setelah mandi tadi pagi, aku sudah memasukkan gelang kesayanganku itu ke dalam tas kerjaku.

Matilah aku!

Kuhirup oksigen sebanyak-banyaknya, sembari berpikir bagaimana cara untuk menjelaskan. "Adek, dengerin mas dulu ya?!" Kucoba meraih lengan kirinya, namun sejurus kemudian ia menepis cekalanku dengan sekali kibasan.

"Penjelasan apa lagi, Mas? Sudah jelas di gelang itu tertulis nama wanita lain, huhuhu ...." Ia kembali meraung dengan wajah yang sudah bersimbah air kekecewaan.

"Mas udah gak ada hubungan lagi sama dia, Dek. Sejak ia menikah, komunikasi di antara kami juga ikut terputus." Kujelaskan hubunganku dan Anis dengan hati-hati. Aku tidak ingin Iklima menjadi salah paham akan hal ini.

Ia mendongakkan pandangan nanar setelah mendengar kalimatku. Agaknya aku sudah salah bicara, sehingga membuat ia menatapku seperti itu.

"Kalo gak ada hubungan lagi, kenapa Mas masih menyimpan gelang itu? Malah, sejak pertama kali kita berjumpa, mas selalu memakainya, hiks ... hiks ...," pekiknya di sela-sela isakan.

JLEB

Aku tak bisa berkata-kata lagi. Benar kata Iklima, kalau sudah tidak ada apa-apa, kenapa aku masih memakainya?

Jujur, gelang itu memang sudah ada ketika aku masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Ketika aku mengenal Anis dan mulai mengaguminya, aku langsung mengukir gelang itu dengan namanya. Hingga saat ini, gelang itu masih selalu menemaniku ke mana-mana.

Aku tidak pernah berusaha untuk menyembunyikan barang itu dari istriku. Namun, mungkin takdir memang sudah memilih jalan ini untuk menunjukkan bahwa ada wanita lain yang telah lama bertahta di hatiku.

Saat ini, aku sudah tidak bisa mengelak lagi. Baris demi baris dialog yang Iklima keluarkan, tidak ada satu pun yang bisa aku bantah lagi. Walaupun sebenarnya, tidak semua yang ia katakan itu benar, namun dalam kondisi seperti ini, sungguh tidak ada gunanya jika aku membela diri.

Biarlah Iklima meluapkan semua isi hatinya. Dengan begitu, ia akan merasa lebih baik daripada aku menyahut dengan seribu alasan yang malah akan membuat emosinya semakin membara.

***

Iklima masih berkicau dengan irama panasnya. Sementara aku hanya bisa tertunduk tanpa angkat bicara. Kupikir-pikir, jika ia sudah lelah nanti, pasti akan berhenti juga.

Dan benar adanya!

Tangisan puncaknya pecah seiring dengan melorotnya tubuhnya ke lantai. Dengan sigap kusambut kepalanya yang hampir terkulai. Kudekap tubuhnya agar ia bisa sedikit lebih santai.

Namun, berbeda dengan yang aku harapkan, ia malah kembali meraung dan mendorong tubuhku hingga terjungkal.

"Jangan sentuh aku, Mas!" Tangisannya kembali pecah. Untung saja kamar ini kedap suara sehingga tidak akan ada tetangga yang bisa mendengarkan teriakannya.

"Kamu pasti masih mencintai wanita itu, iya, 'kan?" tanyanya dengan napas memburu.

Aku bergeming. Apa yang harus aku katakan? Bahkan lidahku sendiri terasa kelu dalam keadaan genting.

"Jawab aku, Mas! Kamu masih mencintai wanita itu, 'kan? Jawab aku!" pekiknya lagi dalam dekap pilu.

Mungkin karena tidak ada jawaban dariku, sehingga membuat emosinya semakin membara. Sebenarnya, aku sendiri bingung untuk meresponnya. Jika aku berkata 'TIDAK', berarti aku telah berbohong padanya. Namun, jika aku berkata 'AKU MASIH MENCINTAINYA', maka ia akan semakin terluka.

"Kamu masih mencintainya, Mas. Aku tahu itu, hiks ... hiks ..., bahkan dalam tidur pun kamu sering menyebut namanya."

DEG

Benarkah seperti itu?

Namun semua itu di luar kesadaranku!

Karena buktinya, selama bersama Iklima aku tidak pernah menjalin komunikasi dengan Anis. Jangankan bicara langsung, di dunia maya pun kami tidak pernah saling gubris.

Walaupun Anis sering update status dan kabar berita, aku tidak pernah berusaha mencuri kesempatan untuk menyapanya. Karena aku tahu batasan di antara kami berdua. Aku sudah beristri dan dia juga sudah bahagia dengan kekasih halalnya. Biarlah takdir ini berjalan sesuai alurnya.

Kembali ke Iklima!

"Dek, tolong jangan bilang begitu. Adek udah salah paham dalam hal ini. Yang terpenting sekarang adalah mas ini suaminya adek, hak miliknya adek." Kucoba membujuknya sebisa mungkin. Jika kali ini ia masih membantahku, maka aku sudah tidak tahu harus bagaimana lagi untuk membuatnya yakin. Karena hubungan tidak akan bertahan lama, jika aku dan dia tidak saling percaya sedalam mungkin.

Kudekati kembali tubuhnya, kuraih kedua telapak tangannya. Dan bagusnya adalah ia tidak menepisnya. "Tolong percayalah, dan berikan mas kesempatan untuk membuktikan," pintaku dalam pandangan sendu.

Air matanya masih terjun bebas dan menjamah kedua pipinya tanpa segan. "Maaf, Mas ... aku udah gak bisa lagi percaya sama kamu." Ia menarik tangannya dariku.

DEG

Kenapa dia berkata seperti itu? Apakah itu maksudnya ... ia tidak ingin lagi hidup bersamaku?

"Maksud, Adek?" Aku kembali pada mode tololku, seolah saat ini aku adalah siswa sekolah dasar yang tidak bisa mengartikan makna tersirat dari sebuah kalimat sarkas.

"Sepertinya kita tidak diciptakan untuk bersama, Mas. Aku tahu itu di luar kuasamu. Tapi, dengan mengetahui hal ini, aku bisa menyimpulkan bahwa selama ini aku hanyalah pelarian."

Allahu Akbar!

"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu, Dek? Kita ini suami-istri, bukan cuma pacaran seperti anak-anak sekolahan." Suaraku sedikit meninggi seolah tidak terima dengan kalimatnya.

"Tapi aku merasa kamu tidak pernah mencintaiku, Mas. Hiks ... hiks ...."

Ya, sudahlah!

Ia tidak sedikit pun memberiku kepercayaan. Usaha yang selama ini aku terapkan menjadi sia-sia karena satu kesalahan.

Baiklah!

"Jika itu yang kamu inginkan, aku tidak bisa lagi memaksamu untuk percaya. Dan aku tidak bisa lagi memaksamu untuk terus bersama jika kamu memang tidak menginginkannya." Aku dalam mimik berserah, memasrahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa.

Perlahan aku berdiri dan membelakanginya. Kuhela napas panjang sebelum akhirnya berkata, "Tapi, kamu harus ingat! Selama ini aku berusaha mengalah, karena aku ingin mempertahankan hubungan ini. Namun, berbeda dengan dirimu yang selalu membahas perpisahan ketika sedang emosi. Jika suatu saat nanti kamu menyesal dengan keputusan ini, jangan pernah kembali dan mencariku lagi. Karena di saat itu, perasaanku bukan untukmu lagi."

Kudengar tangisannya semakin pilu menyayat kalbu. Aku bisa apa jika ia memang menginginkan hal itu? Dalam getar tubuh yang nyaris membelenggu, aku sudah siap dengan lanjutan dialog yang memaksa telak sekujur lidahku.

"Mulai detik ini juga, kamu bukan lagi istriku!"

1
Han
Aku mampir ya kak
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐
Ruaaarrr biassyaaahhh.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!