Sheeva terpaksa menerima perjodohan yang direncanakan kedua orang tuanya. Suatu hari, dia memergoki Amaar tengah bercumbu mesra dengan seorang perempuan yang tak lain adalah sekretaris calon tunangannya itu. Merasa terhina, dia melabrak mereka dan mengancam akan memberitahu Damian bahwa pria pilihannya itu adalah lelaki berengsek. Namun, Amaar bersikap santai seakan tak merasa takut sebab tahu jika Damian tidak mudah percaya begitu saja tanpa ada bukti nyata.
Sheeva yang kesal pergi meninggalkan ruangan CEO dan meluapkan keluh kesahnya itu kepada Azam, sopir pribadi gadis itu. Akibat sering bertemu membuat benih cinta muncul di hati keduanya. Hingga akhirnya mereka memutuskan menjalin kasih di belakang orang tua dan calon tunangan Sheeva.
Lalu, bagaimana perjalanan cinta mereka? Akankah berakhir bahagia walau banyak ujian datang menghadang? Apakah orang tua Sheeva setuju saat mengetahui bahwa putri mereka menjalin kasih dengan seorang sopir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja_90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianat
Pesta ulang tahun yang digadang-gadang akan meriah dan menjadi tranding topik di sosial media rupanya hanya wacana belaka. Kehadiran Renata dan Amora menghancurkan semua rencana yang telah disusun rapi oleh keluarga Sheeva. Dengan sangat terpaksa pesta ulang tahun yang diperkirakan menghabiskan budget ratusan juta rupiah bahkan hampir mendekati angka 1 M harus dihentikan di tengah jalan karena Sheeva tidak bisa melanjutkan pesta di saat sang mama tengah tak sadarkan diri.
Berdiri di antara empat puluh orang, dengan dua puluh orang bertugas sebagai pelayan, sepuluh orang sebagai bodyguard dan sisanya adalah penerima tamu, Sheeva berjalan mondar mandir sambil menatap penuh curiga kepada mereka. Dugaan semakin kuat kala mendengar desas desus mengatakan bahwa di antara para pekerja ada yang memberi undangan kepada Renata dengan imbalan uang berupa tujuh juta rupiah. Mendengar itu, tentu saja Sheeva tidak tinggal diam, dia akan menyusut kasus ini hingga ke akarnya.
"Aku tahu segala sesuatu di dunia ini tidak terlepas dari yang namanya uang. Ingin membeli sesuatu pasti membutuhkan uang, terlebih dengan harga barang yang semakin mahal membuat kita semua berusaha keras untuk mendapatkan uang agar kebutuhan terpenuhi. Akan tetapi, haruskah kita mendapatkannya dengan cara tidak halal?"
"Aku yakin kalian semua pasti tahu bagaimana hubunganku dengan Renata. Aku dan dia tidak pernah akur sejak pertama kali menginjakkan kaki di dunia model. Banyak terjadi perselisihan di antara kami yang tak jarang berakhir dengan adu mulut, lalu kenapa satu di antara kalian justru memberi surat undangan kepada rivalku itu? Jika memang alasannya adalah uang, kenapa tidak menghubungi kepala pelayanku saja dan meminta uang tambahan. Kami pasti memberinya jika memang ada hal urgent di belakang itu semua," tutur Sheeva panjang lebar. Terlihat jelas raut kekecewaan gadis itu. Alih-alih merasa bahagia atas bertambahnya usia, dia justru dibuat kecewa akan pengkhianatan yang dilakukan bawahannya itu.
Dua kali dikhianati membuat Sheeva berpikir, apakah di masa lalu dia membuat kesalahan besar hingga mantan calon tunangannya dan orang kepercayaannya berkhianat kepadanya. Sungguh, Sheeva tidak habis pikir kenapa mereka tega menusuknya dari belakang.
Melipat kedua tangan di depan dada, Sheeva berdiri di barisan pertama. "Kalau boleh jujur, sebenarnya aku kecewa karena tidak menduga loyalitas kalian dipertaruhkan hanya demi gepokan uang. Padahal selama ini aku beserta keluargaku berusaha untuk bersikap baik kepada kalian, tapi inikah balasan atas kebaikan kami? Memberikan surat undangan kepada Renata, merusak pesta ulang tahunku hingga membuat Mamaku jatuh pingsan."
"Jika seandainya pesta ulang tahunku saja yang berantakan, aku tak masalah. Namun, Mamaku menjadi korban dari perbuatan kalian dan aku tak akan membiarkan kejadian ini berlalu begitu saja."
"Selagi kesabaranku masih ada, kupersilakan tersangka maju ke depan dan mengakui kesalahannya sebelum aku minta Kak Daniel turun tangan, mengatasi masalah ini sendiri!" ucap Sheeva tegas. Mau tak mau, Sheeva mesti mengambil langkah tegas agar di kemudian hari tak ada lagi pengkhianatan di kediaman Bagaskara maupun orang-orang yang bekerja di bawah kendali Bagaskara Group.
Bungkam. Tak ada satu orang pun di antara keempat puluh orang itu membuka suara. Kepala menunduk dengan jantung berdegup kencang. Mereka tak berani berbicara dan mengakui kesalahannya.
Menghela napas panjang dan berat, sudah menduga jika kejadiannya akan seperti ini. Tidak mudah mengungkap pengkhianat di antara banyaknya orang meski mulut berbusa, berbicara ini dan itu, tapi ternyata mulut tetap terkunci rapat.
Sheeva duduk di kursi yang telah disediakan dengan Mila dan Azam berdidi di samping kanan dan kiri. "Baiklah, kalau kalian tetap bungkam maka jangan salahkan aku bila berbuat suatu di luar batas."
Setelah itu Sheeva melirik kepada Mila. Detik berikutnya sahabat sejati sang artis menganggukan kepala kemudian menyerahkan gawai kepada nona muda keluarga Bagaskara.
"Di kontak telepon sahabatku tercantum salah satu nomor ponsel keluarga kalian. Aku baru saja mendapat informasi yang mengatakan bahwa putera kalian saat ini sedang dirawat di rumah sakit karena didiagnosa mengalami penyakit jantung bawaan dan perlu dilakukan tindakan operasi." Wajah Sheeva yang semula ramah meski terlihat kesal, tapi kali ini berubah bengis dan itu membuat bulu kudu semua orang merinding seketika.
"Terlahir dari keluarga kaya raya membuatku hidup bergelimang harta sejak kecil. Segala sesuatu yang kuinginkan bisa segera kudapat hanya dengan menjentikan jari. Begitu pun dengan nasib anak kecil yang saat ini sedang tertidur nyenyak di ranjang pasien. Sekali kutekan nomor ini maka kedua orang suruhanku akan menjalankan tugasnya dengan baik."
Seorang wanita muda yang diberi tugas untuk mencatat nama para tamu undangan menegakkan kepala dan memandang Sheeva dengan terkejut. Sontak dia menggeleng kepala tak percaya jika Sheeva mendapat mengetahui di mana titik kelemahannya.
Entah hanya kebetulan atau memang sengaja, kala wanita muda bernama Olla menatap ke arah Sheeva, gadis bermata almond membalas tatapan itu dengan tajam lali detik berikutnya memalingkan wajah ke sembarang arah.
Hati seperti disayat pisau tajam ketika tatapan mata mereka beradu. Ada kesedihan mendalam terpancar di bola mata Olla dan itu membuat Sheeva kasihan. Akan tetapi, nalurinya sebagai sesama manusia harus dikesampingkan demi memberi efek jera kepada orang-orang itu.
"Kuberi lima menit untuk maju ke depan dan menjelaskan alasannya kenapa sampai mengkhianatiku! Jika tidak ...." Jemari tangan Sheeva telah menyentuh layar ponsel dan bersiap menekan nomor seseorang.
Sontak suasana ballroom hotel kembali ricuh bukan karena acara pesta yang masih berlangsung melainkan karena ketiga puluh sembilan orang itu berbisik dan mencari tahu siapakah pengkhianat yang tega mengkhianati keluarga Bagaskara.
"Cari mati tuh orang berurusan dengan Nona Muda Bagaskara. Apa dia tidak tahu di balik sikap acuh dan pendiamnya seseorang tersimpan sisi gelap yang bisa muncul secara tiba-tiba. Selama ini Mbak Sheeva memang selalu bersikap baik dan membela kita terus, tapi tidakkah kita semua sadar bahwa darah Pak Damian mengalir deras di tubuhnya. Semua tahu bagaimana keras dan menakutkannya Big Boss kita."
"Lihatlah, betapa menakutkannya sorot mata Mbak Sheeva saat ini. Benar-benar menakutkan sekali."
"Semakin lama kalian bungkam maka waktu akan semakin terus berlalu begitu cepat. Jadi, sebaiknya kalian manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik mungkin." Azam ikut membuka suara setelah sekian lama mengunci rapat mulutnya dan membiarkan Sheeva bertindak sesuai keinginannya.
Sekian lama berlalu, tak ada tanda-tanda dari keempat puluh orang itu untuk mengatakan yang sesungguhnya membuat Mila ragu apakah rencana mereka akan gagal.
Berjalan maju beberapa langkah ke depan, lalu berbisik, "Mas Azam, bagaimana jika dia tak mau bersuara apa kita benar-benar akan melakukan sesuatu terhadap anak itu?"
Tanpa menoleh sedikit pun, Azam menjawab, "Tenang saja sebentar lagi pasti si tersangka utama maju dan mengakui kesalahannya."
"Waktu hampir habis dan kesempatan kalian akan segera habis pula. Hitungan kesepuluh, jika tidak ada yang mau mengaku maka ...."
Olla menarik napas panjang kemudian mengembuskan dengan kasar. Dia meremas telapak tangan lalu kembali mendongakan kepala hingga sepasang matanya beradu pandang dengan Sheeva.
Berjalan dengan kepala menunduk karena tidak berani menatap wajah satu per satu teman-temannya. Suara lirih terdengar mengiringi langkah kaki Olla. Di depan sana, Sheeva tampak menatap Olla dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Mbak Sheeva, maafkan saya jika perbuatanku justru menghancurkan suasana pesta yang telah disiapkan Pak Damian selama hampir dua minggu lamanya. Saya melakukan itu karena terpaksa, Mbak. Saya siap menerima konsekuensi atas perbuatanku, tapi tolong jangan libatkan puteraku dalam masalah ini. Dia ... tidak bersalah." Olla mulai berbicara mengakui kesalahannya. Tak ada lagi kesempatan menghindar karena keselamatan sang putera berada di bawah kendali orang suruhan Sheeva.
Menghunus tatapan tajam, Sheeva berkata dengan nada dingin. "Sebelum bertindak apa kamu tidak berpikir terlebih dulu? Akibat perbuatanmu nyaris saja merugikan ketiga puluh sembilan orang tak bersalah. Andai saja Mas Azam tidak mengusulkan rencana ini padaku, sudah pasti semua teman-temanmu kena imbasnya juga."
"Saya mengerti, Mbak. Saya benar-benar menyesal karena telah terbuai oleh bujuk rayu Mbak Renata."
Dengan kepala terus menunduk, kedua genggaman tangan saling mencengkeram satu sama lain, Olla menyesali perbuatannya.
"Aku tahu kamu sedang membutuhkan banyak biaya untuk pengobatan puteramu, tapi bukan berarti kamu harus berkhianat kepada keluargaku. Selama ini kamu bekerja dengan baik dan jika kamu mengalami kesulitan kenapa tidak menghubungi asisten pribadi Papaku saja. Aku yakin dia pasti dapat bersikap bijak jika kamu berkata jujur sebelumnya."
"Maafkan saya, Mbak." Hanya kalimat itu yang mampu diucapkan Olla.
Sheeva bangkit dari kursi, berdiri tegak di depan semua orang. "Ini pertama dan terakhir kalian aku mengetahui ada pengkhianat di antara kita. Kuharap di kemudian hari tak ada lagi kejadian serupa menimpa kalian semua. Jadikan masalah ini pembelajaran untuk kita semua. Ke depannya, jika kalian mengalami masalah jangan sungkan menghubungi asisten pribadi Papa bagi kalian yang bekerja di bawah naungan perusahaan Bagaskara Group atau menghubungi kepala pelayan jika bekerja di kediaman Bagaskara."
"Dan untuk kamu, aku akan memberi bantuan kepadamu untuk meringankan biaya operasi puteramu. Mengingat selama ini betapa setianya kamu kepada perusahaan milik Papaku. Tapi berjanjilah jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama karena aku paling tidak suka ada seseorang yang berkhianat dan juga pembohong!" tandas Sheeva.
...***...
jangan pisahin mereka
biarkan mereka bersatu
bagus ceritanya
Azam bukan orang miskin, sudah
tua berpikir seperti bocah,
nantinya sama amar mau bahwa
sudah berselingkuh dan celap celup
sana sini