Sepakat untuk menikah dan sepakat akan bercerai setelah 2 tahun menikah, itulah perjanjian antara Rani dan Temy sebelum menerima perjodohan mereka. Namun, saat tiba waktunya mereka akan berpisah, keduanya baru menyadari jika keadaan sudah membuat mereka jadi terbiasa dan telah hadirnya benih cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Fi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Urusannya hari ini telah selesai. Rani keluar dari rumah Hanna dengan perasaan campur aduk. Kini, pikirannya benar-benar tak bisa jernih, selalu saja ada hal yang membuat Rani merasa tak tenang. Tentu saja, itu semua menyangkut tentang pertanyaan terakhir Hanna yang tak sempat ia jawab.
Apakah benar bahwa Rani telah menemukan orang lain yang membuatnya nyaman selain suaminya sendiri?
Sungguh, pikiran itu tak bisa Rani tepis. Sedari tadi, satu nama seolah muncul di otaknya terus-menerus bak terukir dalam di sana. Ya, satu nama pria itu tak lain adalah Jodhi, seorang pria yang akhir-akhir ini dekat dengan Rani dan sering menghubungi Rani lewat pesan.
Jika saja apa yang dikatakan oleh Hanna benar, Jodhi-lah satu-satunya yang dekat dengan Rani dan membuatnya nyaman. Rani tak tahu harus mengakhiri ini semua seperti apa. Dirinya sungguh dilema, kedua pilihan sama-sama membawanya ke jalan yang buntu.
***
Rani tiba di rumah yang sangat tak asing baginya. Wanita itu berjalan pelan memasuki ambang pintu rumah, lalu pergi menuju ke arah pintu kamarnya. Namun, sebelum pintu kamar berhasil dibuka, Rani merasakan ada sesuatu yang tak enak menggerayangi lehernya. Ya, perasaan ini sering muncul ketika ada yang sedang memperhatikan dirinya.
Dengan sigap, Rani menoleh ke arah belakang. Benar saja, tatapan tajam Temy langsung menyapanya, membuat Rani terkejut. Tentu saja, wajah pria itu tak seramai seperti akhir-akhir ini. Kedua alisnya turun ke bawah, seolah ekspresi itu menyimpan amarah yang cukup besar.
Dengan nada ketus, Temy bertanya kepadanya. “Dari mana saja kamu?” Pertanyaan itu cukup untuk membuat Rani menjadi gelagapan.
“Eh, ya ... aku baru saja pergi berkunjung ke kafe terdekat, me–menenangkan diri sambil ....” Kalimat Rani menggantung, buntu akibat kalimat sambungan tak terpikirkan olehnya.
Temy terkekeh sini. “Ya, aku tahu kamu sedang berbohong kepadamu. Ketika kamu meninggalkan rumah tadi, aku bernama mengikuti. Bukan apa-apa, aku hanya ingin tahu ke mana kamu pergi, ternyata ....” Temy menatap Rani dengan raut wajah kecewa. “Hanna, seorang pengacara perempuan yang ada di kota itu. Ada urusan apa kamu menemuinya?”
Kini, mulut Rani seolah terkunci oleh sesuatu, sama sekali tak bisa membuka, menjelaskan alasannya datang ke sana. Temy kembali menyunggingkan senyuman sinis. “Atau kamu memang perlu pengacara untuk membantu mengambil keputusanmu yang tadi malam? Kalau begitu ....” Temy menggantung kalimatnya sejenak. “Apa keputusan yang akan kamu buat selanjutnya masih berkaitan dengan perceraian?”
Kini, kedua mata Rani melotot, tak percaya Temy bisa tahu sejauh ini tentang kedatangannya di rumah Hanna. Namun, ada sedikit kesalahpahaman di sini. Ya, Rani harus segera memperbaiki hal itu. “Ya, aku ... aku memang pergi ke rumahnya, aku minta maaf karena sudah berbohong kepadamu.” Rani menundukkan kepala, memasang ekspresi memohon.
Temy kembali terkekeh, merasa lucu karena Rani dengan cepat langsung mengakui kebohongannya. Pria itu membiarkan Rani untuk menjelaskan bagiannya. “Tapi ... tapi aku sama sekali tak punya lagi tujuan perceraian. Aku ... aku hanya menepati janji temu yang sudah aku buat sebelum kejadian malam terjadi. Aku hanya ... aku hanya meminta solusi kepada pengacara itu, tak lebih!”
Sepertinya jawaban Rani tak membuat Temy puas. Pria itu masih memasang wajah datar, seolah perkataan Rani barusan adalah omong kosong belaka. “Benarkah begitu? Bagaimana caranya agar aku bisa mempercayai perkataan dari orang yang baru saja mengakui kebohongannya? Apakah akan ada kebohongan lain yang akan ia katakan?”
“Tidak, kali ini aku bersungguh-sungguh. Aku ... aku sama sekali tak berniat untuk bercerai! Aku ... aku berharap rumah tangga ini akan bertahan selamanya!!!” Kalimat itu Rani lontarkan dengan nada lantang, membuat Temy sedikit terkejut mendengar hal itu. Namun, itu semua juga tak cukup untuk membuatnya percaya.
“Oh, ya, lalu mengapa harus pergi ke sana untuk meminta solusi? Ayolah, mungkin seorang psikolog akan lebih masuk akal ketimbang pengacara untuk alasan kali ini. Dan ekspresi wajahmu itu, sejak kapan kamu pandai berakting hingga membuatku hampir saja termakan oleh perkataanmu?”
Rani menggeleng cepat. Sebelum sebuah kalimat sanggahan ia lontarkan, bel rumah mendahuluinya dirinya. Fokus mereka berdua teralih. Seakan tahu bahwa pintu rumah tak dikunci, seseorang yang ada di luar saja langsung membuka pintu tanpa menunggu pemilik rumah melakukan hal itu.
Selanjutnya yang terjadi adalah kedua wajah itu yang sama-sama menampakkan keterkejutan. Seorang wanita paruh baya berdiri di ambang pintu, menatap Rani dan Temy secara bergantian, sebelum senyumannya terukir di bibirnya yang mulai keriput. “Halo, anak-anakku.”
***
“Ibu dengar, kalian berdua akan segera bercerai, benar begitu?” Rani dan Temy saling bertatapan muka. Tak ada dari mereka yang berani menganggukkan kepala. Hal itu membuat Ira tersenyum. “Apa kalian tak mau mengakui? Tenang saja, saya sudah mendengar semuanya dari Rafa sebelum kalian mengatakannya.”
Ira membenarkan posisi duduknya menjadi lebih tegap lagi. Ya, itu semua Ira lakukan karena ia mulai serius melontarkan kalimat-kalimat selanjutnya. “Saya hanya ingin bertanya kepada kalian, apa kalian benar-benar sudah memikirkan hal ini dengan matang? Tanpa kalian sadari, keputusan inilah yang akan menentukan masa depan kalian masing-masing.”
Rani dan Temy masih tetap seperti sebelumnya, tak berani mengucapkan atau bahkan bergerak sedikit pun. Ira mengembuskan napas kasar, merasa bahwa tak ada di antara mereka berdua yang mau menjawab pertanyaannya. “Baiklah jika begitu, kalian berdua benar-benar mengabaikan pertanyaan saya. Bagaimana kalian akan melakukan perceraian jika menjawab pertanyaan mudah dari saya saja tak bisa?” Kalimat itu menyambar hati keduanya.
Ira menyenderkan punggungnya di sofa. “Jika kalian tak menjawab apa-apa, saya akan anggap kalian sudah siap dengan semuanya. Oh, ya, akhir-akhir ini, Rafael mempunyai kesibukannya sendiri, membuat pria itu tak bisa mengurus perceraian kalian dengan cepat.” Ira menjeda kalimatnya sejenak, mengambil napas. “Kalian pasti tak mau, ‘kan, perceraian ini berjalan dengan lambat. Kalian menginginkan semuanya terjadi dengan gesit, baiklah ....”
“Saya akan memberikan kalian kesempatan terakhir. Saya bertanya sekali lagi, apa kalian benar-benar ingin melanjutkan proses perceraian ini? Harus saya katakan, saya bisa membantu kalian mempercepat ini semua menjadi dua kali lipat! Jika kalian tak kunjung menjawab pertanyaan dari saya selama sepuluh detik, kalian saya anggap sudah siap dan hari ini juga saya akan mengurus semuanya! Mengerti?”
Temy dan Rani melotot tajam, terkejut dengan perkataan Ira yang sangat mendadak. Mereka berdua menjadi panik, terlebih Ira mulai menghitung waktu dari angka satu dengan cepat. Dalam sekejap, hitungan wanita paruh baya itu menginjak lima detik, tersisa lima lagi.
Tanpa pikir panjang, Rani dan Temy akhirnya membuka mulut, memberikan keputusannya masing-masing dengan cepat. Tak ada lagi waktu untuk berpikir, mereka harus berkata sesuatu dengan kata hati mereka saat ini.
“Tujuh, delapan, sembilan, se ....”
“Tidak!!!” Sebuah kata yang diucapkan serentak oleh dua orang.