Jayden harus menerima takdirnya sebagai seorang bintang, merasa tak memiliki orang yang mencintainya dengan tulus, bahkan Kayla, kekasihnya yang bertahun-tahun dicintainya, hanya memanfaatkannya untuk ketenarannya.
Hingga suatu saat dia bertemu dengan seorang wanita, wanita yang memandangnya dengan cara berbeda, namun bukan hanya itu yang dia temukan, 2 dunia yang berbeda memisahkan mereka bahkan sebelum kuncup cinta bisa mengembang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Mery mencagakkan motor usangnya di depan rumah mereka, tidak seperti biasanya rumah itu tertutup, Mery sedikit mengerutkan dahinya, setiap hari walau Mery pulang semalam apapun, pintu rumah itu selalu terbuka, itu sudah dilakukan oleh Launa bertahun-tahun bahkan sejak mereka kecil dan tak mungkin ada yang mencuri di gubuk reyot milik mereka ini.
Mery melepas sarung tangannya, dia tak bisa mengalihkan pandangannya pada pintu yang tertutup sempurna itu, apa mungkin Launa belum bangun, tapi ini sudah hampir pukul 9, sangat jarang bagi Launa belum bangun jam segini, kecuali dia sakit, tapi apa mungkin, kemarin keadaannya baik-baik saja, saat Mery pergi, Launa bahkan begitu senang karena mendapatkan telepon dari Jayden, dia mengatakan tak sabar menunggu pagi karena Jayden sudah berjanji akan meneleponnya lagi.
Tangan Mery segera membuka pintu kayu yang sudah lapuk dimakan rayap itu, bercat biru muda namun sudah hampir terkikis dan terlihat sudah warna aslinya, Mery membuka pintu itu, ruangan tamu yang hanya ada sofa lama mereka dan satu buah meja itu tampak kosong tertata rapi. Mery memasuki rumahnya, dia melihat keadaan rumah yang tak kurang suatu pun, karena memang rumah itu tidak ada apa-apanya, lampunya sudah dimatikan, tapi di mana Launa.
"Launa?" teriak Mery yang tak bisa lagi menahan rasa penasarannya, saat itulah dia melihat seorang pria berjas hitam lengkap dan rapi muncul dari arah dapurnya, tak lama Launa pun tampak di belakangnya, selain itu ada wanita dengan pakaian rapi dan tampak begitu berkelas ada di sampingnya, Mery memasang wajah curiganya, siapa mereka. "Siapa kalian?" tanya Mery dengan suara besar.
"Wah, pantas saja Launa menjadi wanita yang seperti ini, inikah Mery yang kau ceritakan?" tanya wanita itu dengan suara yang angkuh, melirik ke arah Mery dari atas hingga bawah, Mery melihat ke arah tatapan wanita itu, tak ada salahnya dengan dirinya.
"Ya, dia adalah Mery, Bibi," kata Launa pelan.
Mery mengerutkan dahinya, dia segera menatap wanita itu, pikirannya melayang ke beberapa tahun yang lalu, mengingat wajah wanita muda yang dulu mengantar Launa ke rumahnya, yah, dia akhirnya ingat, wanita ini adalah Bibi Launa, ternyata sudah bertahun-tahun wanita ini hanya sedikit menua.
"Kenapa Anda kemari?" tanya Mery yang segera memasang sikap waspadanya, kenapa orang yang sudah begitu lama pergi meninggalkan Launa, tiba-tiba datang begitu saja, apa maunya?
Wanita itu tampak sedikit tak percaya, dia lalu melepaskan tangannya dari Launa, berjalan ke arah Mery dengan angkuh sambil melipat tangannya dia berhenti di depan Mery.
"Kau ini hanya anak-anak, tak akan mengerti walau aku jelaskan, lagi pula Launa adalah keluargaku, aku ada bibinya, jadi aku berhak menemui Launa kapan saja," kata Juliet memandang hina Mery.
"Kau keluarganya? kalau kau keluarganya kemana saja kau selama ini, meninggalkan seorang anak yang baru kehilangan orang tua dan penglihatannya, tak pernah memunculkan batang hidungnya sekalipun hingga sekarang dan kau mengatakan Launa adalah keluargamu, apa kau gila?" kata Mery marah.
"What ever, lagi pula aku punya bukti yang legal secara hukum bahwa Launa dibawah hak asuhku, jadi akan membawa Launa sekarang," kata Juliet membalik badannya, malas melawani anak ingusan yang menurutnya menyebalkan ini.
"Kau tak boleh membawa Launa," kata Mery ingin menyerang wanita yang sudah membuat emosinya sampai ke ubun-ubun, awas saja dia membawa Launa, sampai mati pun dia tak akan membiarkan Launa melangkah satu langkah pun pergi dari rumah ini.
Namun usahanya untuk menerkam nenek sihir itu langsung dihalangi pria yang berjas dan berpakaian lengkap, Mery berontak pastinya dan Launa langsung segera ingin mengapai Mery.
"Launa! Launa!" seru Mery yang segera dibawa pergi oleh penjaga itu menjauh dari Launa.
"Mery! Mery, Bibi aku hanya ingin dengan Mery!" kata Mery yang tampak juga panik, dia menggapai semua yang bisa dia gapai, namun hanya udara kosong yang ada di tangannya.
"Launa! awas kau," kata Mery yang melihat Juliet menarik tangan Launa, Launa tentu berontak namun entah dari mana, seorang pria yang sama-sama berjas dan berpakaian lengkap segara menggendong Launa bagaikan sebuah karung beras, Launa tentu kaget dan segera berontak, Mery pun ingin membantunya, Mery berontak dengan menggigit tangan penjaga yang terus menahannya, penjaga itu kesakitan dan melepaskan tangan Mery, namun hal itu malah menyulut kemarahan penjaga itu, tanpa ampun dia memukul bagian leher Mery, membuatnya langsung tersungkur ke tanah.
Mery hanya masih sempat mendengar teriakan Launa yang sayup-sayup terdengar, namun dia tak bisa bergerak sama sekali dan selang beberapa detik saja, dia sudah tak sadarkan diri.
-----***-----
Jayden duduk di salah satu sofa di ruang pemotretan itu, gayanya sekarang jangan tanya begitu menggoda bagi siapa pun yang akan melihatnya, di luar studio foto ini, sudah begitu banyak awak media yang ingin bertemu dengannya, bahkan tadi hotel tempat mereka menginap pun begitu ramai di kelilingi oleh para wartawan yang ingin sekali mewawancarainya, tentu saja tentang masalah foto itu.
Jayden hanya duduk, dia disuruh untuk beristirahat karena menurut fotografernya, Jayden tidak bisa menunjukkan yang dia mau, padahal menurut fotografer yang memang sudah beberapa kali berkerja dengan Jayden, Jayden adalah model yang sangat baik.
"Kau jangan begini terus," kata Joseph duduk disamping sepupunya.
"Aku hanya tidak bisa fokus sekarang," kata Jayden yang hatinya dari tadi terasa begitu tak enak, berulang kali dia mengirim pesan namun tak satupun sampai ke sana, dia menelepon selalu saja teralihkan, bagaimana bisa dia fokus bekerja jika perasaannya begitu kacau.
"Kenapa? aku sempat mendengar percakapanmu di telepon tadi, maafkan aku melakukannya, tapi sepertinya kau memiliki seseorang dan seseorang itu salah paham padamu," kata Joseph.
"Ya, aku bertemu seorang gadis saat aku menghilang kemarin, aku menyukainya, namun sepertinya sahabatnya salah paham akan berita ini, jadi dia melarang gadis yang aku suka untuk menghubungiku," kata Jayden tak tahan lagi menahan gundahnya sendiri, sedikit mencoba membaginya dengan Joseph, toh pria ini juga selalu mendengarkannya selama ini, mungkin setelah sedikit berbagi perasaannya akan lebih baik.
"Kalau begitu cepat selesaikan semua ini, setelah ini aku tidak akan punya pekerjaan dan bebas hingga besok, aku akan pergi ke tempatmu kemarin, aku yakin aku bisa menyakinkan untuk menggunakan helikopter ke sana, aku akan menjelaskan semuanya, dan aku yakin sahabatnya dan gadismu itu akan percaya dan yakin bahwa kau benar-benar serius dengannya jika aku datang," kata Joseph menawarkan bantuan, bukan orang yang terlalu ingin tahu masalah orang lain, dia hanya tak ingin Jayden tak fokus dan akhirnya akan dimarahi lagi oleh bibinya itu, tahu bagaimana kehidupan Jayden bahkan dari kecil, dia adalah tulang punggung keluarganya.
"Kau yakin?" tanya Jayden yang tiba-tiba ada secercah harapan di matanya, Jika Joseph bisa benar-benar ke sana dan menceritakan semuanya, pasti Mery akan lebih percaya padanya, dan juga rasanya Jayden punya rencana lain.
"Bisakah kau juga membawanya ke ibukota, bawa dia ke apartemen yang aku beli atas namaku sendiri, dan biarkan mereka tinggal di sana," kata Jayden yang langsung menjelaskan maksudnya.
"Tentu, aku bisa mengatur semuanya, nanti setelah di sana, aku pasti akan memberimu kabar, memastikan mereka akan sampai di ibukota dengan baik, tapi sekarang pergilah bekerja agar semua selesai, kau tinggal tunggu saja aku, semua akan beres," kata Joseph dengan senyum manisnya, sebenarnya tak kalah tampan dari pada Jayden.
"Baiklah," kata Jayden dengan senang hati, dia langsung berdiri, mengatakan pada fotografernya untuk kembali memulai sesi fotonya, Jayden segera berdiri di foto setnya, begitu kamera membidiknya, dia langsung berubah menjadi karya seni yang begitu memukau.
"Ya, benar! ini yang aku cari!" kata fotografer itu puas, akhirnya modelnya kembali lagi.
Jayden melakukan semuanya dengan serius, berusaha secepat mungkin untuk menyelesaikan pekerjaannya agar Joseph bisa segera pergi menemui Mery, menjelaskan semuanya, dan membawa Mery dan Launa pada dirinya, dia yakin, dia bisa menanggung Mery dan Launa, mereka akan segera bertemu kembali, pikir Jayden dengan senyuman begitu manis yang akhirnya terabadikan oleh kamera.
kapan update abang jayden lagi...
udah setahun nungguin nya...