Aku tak menyangka setelah membawa istriku ke rumah ibu, aku tak tahu jika banyak tekanan yang Sari hadapi saat itu. Dimana sifat ibu yang tadinya baik berubah derastis, ia memperlihatkan sifat aslinya.
Setiap malam Sari sering menangis, membelakangi tubuhku, mengabaikan aku. Setiap kali aku bertanya, ia tak pernah menjawab selalu terlelap tidur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Arip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 (Pov Riki) Bi Asih mengundurkan diri
Tangan lembut Sari kini memegang bahuku, perlahan menatap ke arah wajahnya. kedua mata Sari terlihat begitu sayu, " Mas, kamu harus tenang. "
Menarik napas, mengeluarkannya secara perlahan, " Bu, ibu tenang dulu ya. "
Tangisan ibu seketika terhenti, saat tangannya diam tak lagi memukul mukul lantai.
Aku berusaha membantu ibu untuk duduk, perlahan demi perlahan, menyandarkan punggung wanita yang menjadi ibuku ini.
Tatapan mata ibu terlihat menyeramkan, ia memelototi Sari, " K-e-na-pa di-a ma-si-h a-da di ru-ma-h ini?"
Pertanyaan ibu membuat aku sekilas menatap ke arah istriku, dimana Sari memalingkan wajah.
"Bu, Sari itu istriku, kenapa ibu malah berkata seperti itu!"
"CE-R-AI KA-N D-I-A SE-K-A-RA-NG JU-GA. RI-KI. "
Ingin sekali memarahi ibu, namun hati tak kuasa, karena nasehat dari Sari masih aku ingat.
"K-ENAPA KA-MU MA-LA-H DI-AM S-A-JA, C-E-PAT PE-R-GI DA-RI RU-MA-H-KU. "
Nada bicara ibu terdengar meninggi, walau memang tak jelas, tetap saja Sari yang mendengarnya akan merasakan rasa sakit hati. Karena dari kode mata ibu yang memperlihatkan kebencian, telunjuk tangan berusaha ibu arahkan pada Sari.
"P-E-R-G-I."
Kedua mata Sari berkaca kaca, " Mas, aku keluar dulu. "
Ingin aku menahan istriku untuk tetap ada disampingku, namun apa daya kondisi ibu yang malah semakin menjadi jadi, ibu mengamuk dan menyuruh Sari pergi.
"Sari."
Memanggil namanya ia hanya melihat sekilas kearahku saja, tanpa menghentikan langkah kaki.
"Bi-a-r-ka-n s-a-ja d-i-a pe-r-gi, ke-na-pa k-a-mu s-el-al-u me-n-aha-n-nya. "
Aku berusaha menahan kekesalan dan amarah yang menumpuk dalam hati dan pikiranku.
Sampai dimana, " bu, kenapa. " Bibir ini malah berubah menjadi kaku, sampai aku mengusap kepala rambutku.
Kalau bukan karena nasehat dari istriku mungkin aku sudah membuat hati ibu sakit dan menangis.
Membopong tubuh wanita yang sudah melahirkanku, untuk menidurkannya di ranjang tempat tidur.
"Ri-ki Pu-ja. "
Aku menekan kepalaku dengan kedua tangan, berusaha tidak marah dan tetap berkata lembut pada ibu.
"Bu, sudah jangan panggil lagi nama itu. Kan di rumah ada Sari."
Ibu malah diam, setelah aku menyebut nama istriku, " bu, kenapa ibu begitu membenci istriku dan ingin sekali membuat Riki berpisah?" Tak sadar melayangkan pertanyaan itu, kedua mataku meneteskan air mata.
"Ib-u ti-d-a-k su-ka d-eng-an Sa-ri!" Setiap kali bertanya tentang alasan ibu membenci Sari, selalu saja jawabannya seperti itu.
"Bu, buka hati ibu, Sari itu wanita baik, dia tak pernah menjauhkan Riki dengan ibu, apalagi menjelekan ibu, " ucapku, berharap jika hati ibu luluh dan mau mendengarkan kebaikan istriku.
Namun apa yang aku terima saat ini, ibu malah memalingkan wajah dan berkata, " Ji-k-a k-amu m-em-ba-has ter-u-s m-e-ne-rus te-nta-ng i-s-tri k-a+mu se-ba-ikn-ya p-er-gi da-ri sin-i. "
"Karena ibu berkata seperti itu, baiklah. "
Aku berdiri membalikkan badan pergi dari hadapan ibu, berjalan pelan, berharap jika wanita itu sadar dan memanggil namaku.
Namun pada kenyataannya, setelah sampai di ambang pintu ibu tetap cuek dan membuang muka saat aku menatap ke arahnya sekilas.
Menghembuskan napas, aku melihat dari kejauhan Sari sedang mengobrol dengan Bi Asih.
Menutup pintu kamar ibu, berjalan mendekat ke arah mereka berdua. " Sari, bi."
Kedua wanita itu kini menatap ke arahku secara bersamaan, dimana Sari mulai menjawab panggilanku. " Iya mas. "
"Tumben kalian ngobrol disini ada apa?"
Karena rasa penasaran aku bertanya pada istriku dan Bi Asih," Ini Bi Asih, izin mengundurkan diri. "
Aku terkejut dengan perkataan wanita tua yang baru saja bekerja satu minggu ini.
"Loh, kenapa bi?"
Bi Asih menundukkan pandangan, dimana aku melihat ada kesedihan dari raut wajahnya.
"Saya mau pulang kampung, kebetulan anak saya nggak ada yang jagain. "
Aku hampir saja berburuk sangka, takut jika Bi Asih tak betah karena mengurus ibu yang terkena struk. " Mm, jadi itu alasannya Bi Asih mengundurkan diri, ya sudah kalau begitu."
"Terima kasih, tuan. "
"Kapan Bi Asih pulang?" tanyaku pada wanita tua yang sudah bekerja selama seminggu ini di rumah.
"Kalau tuan mengizinkan, sekarang juga saya mau pulang!" jawaban Bi Asih yang begitu cepat terucap.
Menghela napas, aku mulai melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar, mengambil uang gaji Bi Asih selama seminggu.
Menghitung jumlah uang, memasukkannya pada amplop putih, perasaanku saat ini benar benar tak menentu. Siapa nanti yang mengurus ibu, kalau tak ada pembantu di rumah, karena mengandalkan Riri hal yang tak mungkin, karena anak itu kurang peduli dan cuek pada ibu.
"Mas."
Lamunanku membuyar saat mendengar panggilan dari istriku. " Ah, iya. Kenapa?"
Sari menatapku dengan penuh rasa cemas. " Kamu pasti bingung sekarang?"
"Mm, " aku berusaha menyembunyikan semua kebingungan ini dihadapan istriku.
"Tidak."
Sari mendekat, menatapku dalam dalam, ia perlahan menyentuh kedua pipiku, " kamu berbohong. "
Begitulah istriku, lembut. Cengeng dan selalu mengerti ketika aku mempunyai masalah. " tidak aku tidak berbohong. "
Malipatkan kedua tangan, Sari tersenyum lebar mencoba membujukku untuk berkata jujur. " Aku tahu mas, sekarang kamu pasti kebingungan, karena Bi Asih mengundurkan diri?"
Aku diam, pertanyaan istriku begitu pas sekali dengan apa yang aku rasakan.
"Iya, mas bingung sekarang, kalau Bi Asih keluar dan tak bekerja lagi di sini, gimana nasib ibu. Nggak ada yang ngurus. "
"Kamu serahkan saja semuanya padaku mas, biar aku saja yang mengurus ibu."
Deg ....
Mendengar perkataan istriku membuat aku tak setuju, " nggak, aku nggak setuju kamu mengurus ibu!"
Sari mengerutkan dahinya, " loh kenapa mas, ibu kamu juga ibu aku. "
Aku duduk, memijat jidat yang terasa berdenyut, " bukan masalah itu, aku takut ibu malah membuat hati kamu terluka. Aku sebagai seorang suami ingin menjaga hati kamu, membuat kamu bahagia. "
"Mas, masalah itu bisa aku tahan kok. Kamu tenang saja, kamu tahu sendirikan aku sudah terbiasa dengan perkataan ibu seperti itu. "
"Tidak bisa, pokoknya aku tidak setuju, biar nanti aku carikan pembantu untuk mengurus ibu, kamu jaga rumah saja, perbanyak istirahat. Aku tak mau kamu sakit dan stres. " Ucapku.
Aku mulai berdiri mengusap pelan kepala istriku dengan berkata, " aku temui Bi Asih dulu ya. "
𝚜𝚘𝚊𝚕𝚗𝚢𝚊 𝚍𝚒 𝚏𝚋 𝚐𝚊𝚔 𝚙𝚞𝚊𝚜 𝚗𝚞𝚗𝚐𝚐𝚞 𝚐𝚛𝚎𝚐𝚎𝚝𝚗𝚢𝚊