Mendadak menikah dengan duda beranak 3 adalah sebuah malapetaka bagi gadis bernama Vania Clarisa. Kebahagiaannya seperti di rampas, kebebasannya di renggut. Dia yang merupakan gadis bebas yang senang berpetualang mendadak harus mengurus suami dengan 3 putranya yang masih berusia remaja. Apakah dia akan menjelma menjadi ibu tiri yang kejam seperti di film-film jaman dulu?
Seperti apa kisah Vania? Kenapa dia harus menikahi duda beranak 3 secara tiba-tiba? Ikuti kisahnya, "Mendadak Nikah".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terluka
Hati seorang Dion benar-benar merasa hancur saat mendengar rengekan sang adik yang terdengar begitu menyayat hati. Dia lebih memilih untuk keluar dari dalam kamar rawat inap itu karena tidak kuasa menahan kesedihannya.
Bruk!
Tubuh Dion seketika ambruk, dia menyadarkan punggungnya di tembok Rumah Sakit. Tatapan matanya nampak kosong menatap lurus ke depan. Buliran air mata berjatuhan tanpa terasa juga tanpa mengeluarkan suara. Vania dan juga Sultan yang baru saja tiba di sana tentu saja segera menghampiri Dion merasa khawatir.
"Sultan, kamu masuk duluan ya. Mommy mau di sini dulu sama kakak Dion," pinta Vania dan segera di jawab dengan anggukan patuh oleh putra bungsunya itu.
Sultan segera masuk ke dalam kamar. Sedangkan Vania segera berjongkok tepat di hadapan Dion sang putra sulung. Dia menatap nanar wajah sang putra, apa yang saat ini dirasakan oleh Dion tentu saja di rasakan juga oleh Vania Clarisa.
Tanpa mengatakan sepatah katapun. Vania segera memeluk tubuh Dion erat. Bak sebuah magnet, Dion pun membalas pelukan ibundanya karena dia memang sedang membutuhkan sandaran.
"Ryan, Mom. Saya gak sanggup melihat dia menderita seperti ini. Apa lagi saat saya mengingat kejadian tadi. Dia hampir saja menembus pergelangan tangannya menggunakan pecahan kaca. Hati saya benar-benar sakit, Mom. Saya takut kalau dia akan melakukannya lagi suatu saat jika kita tidak segera memasukkan dia ke Rumah Sakit Rehabilitasi, hiks hiks hiks!" tangis seorang Dion seketika pecah di dalam dekapan sang ibu. Tangisan pilu, tangis kesedihan, tangis yang sudah sedari tadi dia tahan.
"Kamu yang sabar, Dion. Adikmu pasti sembuh, yakin itu. Mommy pernah bilang, ucapan adalah doa. Bicaralah yang baik-baik, ingat Tuhan sesuai dengan prasangka hambanya. Yakin, kita semua harus yakin bahwa Ryan pasti sembuh, sayang," lirih Vania mengusap punggung Dion lembut.
"Iya, Mom. Mulai saat ini saya akan menumbuhkan keyakinan itu di dalam hati saya. Yakin bahwa Ryan akan sembuh, saya juga akan mengatakan yang baik-baik karena Tuhan sesuai dengan prasangka hambanya. Maafkan saya, Mom. Maaf karena saya telah bicara seperti itu tadi."
"Iya gak apa-apa, sayang. Mommy tahu betul seperti apa perasaan kamu saat ini, Mommy sangat paham. Kamu, Daddy, Mommy bahkan Sultan pun merasa khawatir dengan keadaan Ryan. Mari kita saling bergandengan tangan dan saling menguatkan, agar masalah ini bisa cepat terselesaikan dan Ryan bisa segera sembuh."
"Terima kasih, Mom. Saya gak tahu apa jadinya jika tidak ada Mommy. Saya benar-benar bersyukur karena memiliki ibu sambung seperti Mommy."
Vania tersenyum kecil. Meskipun hanya sebuah senyuman palsu, karena sejatinya hatinya pun benar-benar merasa hancur. Melihat Ryan yang saat ini sedang dalam keadaan mengenaskan, menyaksikan Dion yang juga terlihat begitu rapuh karena keadaan, membuat hati seorang Vania Clarisa merasa sangat terluka.
Akan tetapi, dia harus tetap terlihat tegar. Semua itu harus dia lakukan demi ketiga putranya juga Arion Delana sang suami. Karena hanya dirinyalah satu-satunya sandaran bagi mereka semua.
"Sekarang kita masuk, gak baik terlalu lama duduk di lantai. Kamu bisa sakit nanti," pinta Vania mulai mengurai pelukan.
"Iya, Mom," jawab Dion patuh, dia pun berdiri tegak begitu pun dengan sang ibu.
"Tunggu, Dion. Bersihkan dulu air mata kamu. Walau bagaimana pun, kita harus terlihat tegar di depan Ryan. Dia akan kuat jika melihat kita kuat, dia juga akan merasa lemah dan merasa sangat bersalah jika melihat kita sedih," pinta Vania.
Tangannya merogoh tisu dari dalam tas yang dia bawa. Perlahan, Vania pun membersihkan sisa air mata yang membasahi wajah putra sulungnya itu lembut dan penuh kasih sayang. Hati seorang Dion mulai merasa tenang, lagi-lagi dia bersyukur karena memiliki seorang ibu tiri berhati malaikat seperti Vania.
Ceklek!
Pintu kamar pun di buka. Vania dan juga Dion masuk ke dalamnya kemudian. Ryan nampak tersenyum menyambut kedatangan kaka dan ibu sambungnya. Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, remaja berusia 15 tahun itu begitu merindukan ibundanya itu.
"Mommy," sapa Ryan dengan nada suara lemah.
"Iya, sayang. Maaf karena Mommy terlambat datang kemari. Bagaimana keadaan kamu, sayang?" tanya Vania, berjalan menghampiri lalu berdiri tepat di samping ranjang.
"Maafkan aku, karena aku kalian semua jadi khawatir kayak gini. Aku benar-benar minta maaf," lirih Ryan dengan nada suara lemah.
Dia pun bangkit dan duduk dengan di bantu oleh kaka dan juga ayahnya. Seketika itu juga, Vania segera memeluk putra sambungnya erat. Hatinya begitu hancur berkeping-keping mendengar sang putra mengatakan hal itu.
"Jangan bicara seperti itu, sayang. Kami semua sayang sama kamu dan kami juga akan berada di sini bersama kamu, Ryan. Berjuanglah untuk sembuh. Ingat, ada Mommy, Daddy, kak Dion juga Sultan yang menunggu kesembuhan kamu, sayang," lirih Vania mendekap erat tubuh sang putra.
Tanpa mereka sadari bahwa, ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan mereka semua. Bola matanya nampak memerah lengkap dengan buliran air mata yang memenuhi kelopaknya kini. Dia menatap mereka semua penuh penyesalan.
"Seharusnya aku yang berada di sana. Seharusnya aku yang mendampingi putraku saat ini."
BERSAMBUNG
...****************...