Di dunia bernama Proelium ini tidak ada yang namanya uang, kedamaian, ataupun cinta. Yang terdapat disini hanyalah pertarungan, kematian, dan juga kesengsaraan. Orang orang di dunia ini hidup dengan cara membunuh orang yang lemah kemudian mencuri apa saja yang mereka punya. Tidak ada yang namanya penjara atau penjaga keamanan di dunia ini.
Di dunia ini, yang haus akan darah menjadi semakin kuat layaknya seorang dewa, sementara yang lemah hanya akan menjadi batu pijakan bagi mereka yang haus akan pertarungan.
Keres Sanguis adalah seorang petarung wanita yang telah mencapai puncak tertinggi dengan cara membunuh semua orang yang dia temui. Namun pada akhirnya, dia tidak memiliki tujuan apapun selain terus bertahan hidup di dunia yang kejam ini. Apa yang diinginkannya sekarang adalah berubah menjadi orang yang lebih baik dengan cara meninggalkan dosa masa lalunya, sekaligus menjatuhkan kekuasaan yang telah menciptakan sistem keji di dunia ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lowdod, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Separate Ways
Siang jam dua belas, keesokan harinya.
Ini sudah hari keenam belas, dan aku mendapatkan teman seperjalanan yang baru, yaitu di babi yang nge fans sama aku ini, namanya Constantes. Walaupun begitu, perjalanan ini sedang tidak baik-baik saja. Tidak ada yang saling berbicara sama sekali, baik Poppy kepada aku, si setan ke adiknya, ataupun si setan ke Poppy. Semuanya sunyi, sangatlah sunyi. Aku rasa, akan terjadi masalah besar antara hubungan kami berempat setelah ini.
Angin di padang gurun sedang mengamuk, dan begitu juga dengan aku saat ini. Kemarin malam, benar-benar sebuah hal yang membuatku marah besar, terutama pada Poppy. Pertarungan yang terakhir itu, hampir sama seperti perang saudara. Akibat serangan Poppy yang secara tiba-tiba ke si setan itu, kini sosoknya sangat jauh di belakangku, dengan sengaja menjauh dari kelompok ini. Dan untuk Poppy, aku mematikan sistem pendeteksi ancaman miliknya. Kini dia bukan hanya tidak bisa merasakan ancaman yang akan datang, namun juga tidak bisa merasakan apa-apa. Memang sebuah tindakan yang kejam, tapi itu aku lakukan supaya Poppy tidak mengacau lagi di sepanjang sisa perjalanan.
Constantes sedang berjalan di depanku saat ini, sambil menunduk ke bawah seperti orang yang sangat menyesal. Apakah pikirannya sudah rusak aku pun tidak tahu, namun yang pasti, dia begini sekarang karena ucapanku yang di malam itu.
Julukan yang kalian berikan padaku itu sebenarnya adalah sebuah kutukan bagiku.
Dipanggil berkali-kali pun dia tidak akan menjawab, begitupun dengan kakaknya, yang bahkan ada jauh di belakangku itu. Benar, kami berempat, semuanya sedang bertengkar dalam diam.
Satu jam, dua jam, tiga jam. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku dan yang lainnya berjalan tanpa henti di tengah padang gurun yang selalu terlihat sama ini. Waktu terasa seperti tidak ada lagi di dunia. Bahkan jika ada seseorang yang sedang kelelahan sekalipun, dia tidak akan meminta yang lainnya untuk berhenti, dan orang itu, adalah aku. Aku berhenti dan mengambil nafas sesaat. Keringat ku mengucur deras membasahi wajah, dan mataku, masih tertuju pada Poppy yang bahkan tidak menoleh sama sekali saat seharusnya dia tahu aku sudah tidak ada di sampingnya lagi saat ini. Aku menoleh ke belakang, dan si setan sudah tidak lagi terlihat wujudnya, tertutup oleh debu pasir yang sangat tebal. Entah dia hilang atau apa, aku pun tidak peduli. Yang lainnya pun juga begitu.
“Istirahatnya sudah cukup. Sebelum aku terpisah dengan yang lainnya.” gumamku.
Aku berjalan kembali, sambil mengambil sebuah botol minum dari dimensi saku ku, kemudian membuka dan meminumnya. Semua air ini, berasal dari vital fluid miliknya Poppy, dan aku sudah menghabiskan lima botol hanya selang beberapa menit saja sampai saat ini. Kalau pun aku meminta Poppy untuk isi ulang, tidak mungkin aku akan dapat respon darinya. Padahal tenggorokan ku masih minta minum lagi, namun aku sudahi sampai sini saja dulu. Sekarang, aku bahkan sudah tidak lagi yakin kalau aku bisa bertarung saat sedang dibutuhkan. Jarakku dengan Poppy sudah terlampau agak jauh. Kalau begini caranya, aku harus lari kencang untuk menyusulnya, supaya tidak ketinggalan. Ini benar-benar sebuah situasi yang tidak pernah aku duga bakalan terjadi sebelumnya.
Aku mulai berjalan agak lebih cepat, sambil terkadang menoleh ke samping kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada makhluk sialan yang lainnya yang menyerang ku. Yah, itu benar-benar terjadi saat aku menoleh ke kiri untuk yang terakhir kalinya. Seekor kalajengking sialan baru saja berusaha untuk menyerang ku dengan muncul dari dalam pasir, namun sebelum aku jadi santapannya, sebuah tombak telah menghancurkan tubuhnya duluan yang melesat dari arah kanan.
“Apa-apaan ?” gumamku.
Hanya dengan sekali lemparan itu saja, tombak tersebut telah membuat si kalajengking sialan ini kehilangan bagian tengah dari tubuhnya. Aku menoleh ke kanan, arah dari lemparan tombak tersebut untuk mencari siapa orangnya, karena dia harusnya masih belum jauh. Memang benar dugaanku, kalau orang itu masih belum jauh. Walaupun sekilas saja sebelum akhirnya dia berbalik dan pergi entah kemana, aku sempat melihat seluruh tubuh orang itu. Seorang wanita, dengan rambut sebahu berwarna merah dan kepalanya ditutupi oleh tudung kain hitam.
“Siapa di sana !?”
Sia-sia saja. Sudah pasti orang itu tidak akan berbalik lagi kepadaku hanya untuk menjawab. Orang itu, sudah pasti sangatlah kuat. Bisa dilihat dari lemparan tombaknya yang menghancurkan sialan ini sekali saja. Siapa dia sebenarnya ?
...****************...
Tidak tahu ini sudah berapa jam yang terlewat, namun yang pasti, ada sebuah hal yang mengejutkan baru saja terjadi di sini. Saat aku akhirnya terpaksa berlari menyusul Poppy, di sana, si setan sudah ada mendahuluiku bersama dengan yang lainnya. Logika macam apa yang sedang terjadi di sini sebenarnya ? Bukankah si setan itu harusnya masih ada jauh di belakangku ? Persetan dengan hal itu, aku tidak akan menanyakan hal bodoh yang seperti ini kepadanya, terutama di situasi yang seperti sekarang.
Dari kejauhan aku bisa mendengar ketiga orang itu akhirnya saling berbicara kembali dengan satu sama lain. Aku semakin dekat dengan tiga manusia itu (anggap saja Poppy manusia), dan suara mereka dapat terdengar semakin jelas dari sini. Mereka ternyata bukan sedang berbaikan, tapi sedang menambah api masalah sepertinya.
“Woi, adek iblis ! Lu ngapain, bangsat !!? Bajingan ini sudah mati, tahu !!”
“Warden kayak mereka memang cocok buat mati kejam kayak begini !! Mereka iblis yang sebenarnya !!”
“Dimana otak lu, bangsat !!?”
Ah, masalah mereka yang seperti biasa. Antara si setan yang tidak suka melihat adegan gore, dan si babi Constantes yang tidak bisa mengontrol dirinya saat dalam wujud iblis miliknya. Sementara itu, dari belakang aku melihat kedua tangan Poppy yang sedang mengepal, seperti berusaha menahan amarahnya. Apa yang membuat Poppy sampai menahan marah seperti itu ?
“Ibu ga pernah pingin punya anak iblis kayak lu, bangsat !!”
“Apa hubungannya dengan ibu !? Dia juga tidak pernah mengajari anaknya jadi emosian seperti kakak, tahu !!”
“Gw ngajarin lu biar nggak jadi 'iblis', anak pungut !!”
“Kamu bilang apa !!?”
“Begitulah kenyataannya, bodoh ! Ibu gak pernah ngelahirin lu !! Lu cuma anak pungut Daemones yang dibuang sama orang tua aslinya gara-gara gak guna, ngerti !!?”
Hei hei hei, bukankah ini sudah terlalu melenceng dari topik utama ? Padahal awalnya, mereka bertengkar karena masalah membunuh warden, tapi mereka sampai membahas ibu mereka dan juga anak pungut ? Si setan ini, dia sudah sangat keterlaluan jadi kakak ! Tidak yakin juga apakah menengahi mereka adalah hal yang benar.
Tapi sebagai kakak juga, aku harus memukul kepala si setan ini dengan keras. Supaya dia bertobat.
Aku berjalan ke tengah-tengah mereka, yang saat ini sudah saling menatap dengan kesal dan mendiamkan satu sama lain. Benar-benar seperti anak kecil saja mereka ini.
“Ada apa ini sebenarnya ?”
“Urus urusan lu sendiri, ****** !! Hmph !” jawab si setan sambil memalingkan wajahnya dari aku.
Cih, selalu saja menjawab pertanyaan dengan sangat ramah.
“Aku bertanya pada Poppy, bukan dua setan tak berpendidikan seperti kalian, bodoh.”
Aku menoleh ke arah Poppy, yang dari mukanya kelihatan dengan sangat jelas bahwa ia merasa bersimpati pada mayat warden berbentuk beruang di depannya itu. Ekspresinya bercampur antara sedih dan juga marah, seperti baru saja kehilangan temannya. Aku sudah melihat banyak orang dengan ekspresi seperti itu selama ini. Tapi kepada warden ? Aku tidak pernah membuatnya menjadi seorang yang penyayang warden, tahu.
“Poppy, apa yang kamu lakukan ?”
Poppy tidak menjawab seperti yang aku kira. Memang sensor pendengarannya juga ikut mati setelah aku mematikan sistem perasa miliknya, tapi itu bukan sebuah alasan untuk tidak mempedulikan aku. Kalau sistem aku nyalakan kembali secara remote dari sini, dia harusnya menjawab ku dengan jawaban yang layak, bukan ?
“Nyalakan kembali sistem pendeteksi. Poppy, apa yang kamu lakukan ?”
Poppy hanya mendongak ke atas dan menatap wajahku dengan tajam. Apa-apaan respon sampahnya itu !?
“Poppy, apa.... Yang sedang kamu lakukan !!?”
“Melihat seorang pembunuh. Dia, adalah temanku.”
“Apa katamu ?”
Aku membalas tatapannya itu. Seorang pembunuh ? Padahal bukan aku yang membunuh warden beruang yang brengsek ini. Dan juga temannya ? Aku menciptakannya bukan untuk berteman dengan warden, bangsat !
“Ulangi itu lagi, dan kepalamu akan menjadi rongsokan, bocah warden.”
Perkataan ku dapat terdengar dengan jelas oleh Poppy pastinya, namun itu juga terdengar oleh dua setan bersaudara di sampingku. Constantes seketika menoleh ke arahku dan menatapku dengan tajam, aku tidak menghiraukannya sama sekali. Yang sedang menjadi perhatianku saat ini adalah si bocah cyborg kurang ajar yang aku ciptakan sendiri. Jangan bilang, Poppy yang selama ini membuatku sampai berdoa pada tuhan supaya bisa hidup seperti yang aku harapkan, ternyata adalah ciptaan yang gagal ?
“Nona Keres...... Kamu, barusan mengatakan mau membunuh ciptaan mu sendiri ? Apa itu benar !?”
“Aku, tidak menciptakan produk gagal.”
Jadi memang benar selama ini, kalau Nona Keres tidak peduli dengan ciptaannya sendiri. Poppy, bukanlah apa-apa di matanya ? Apa dia, menganggap Poppy sebagai sebuah barang ?
Poppy berjongkok di dekat mayat warden beruang itu, kemudian berdiri sambil memegangi jantungnya yang sudah tidak berbentuk lagi. Ia menaruh jantung beruang brengsek itu di dadanya, seolah jauh lebih menghargai beruang besi itu daripada aku ?
“Aku dan beruang besi ini, adalah sama-sama warden. Kami adalah teman, dan selamanya akan selalu seperti itu. Tapi kalian para manusia, membunuh semua warden dengan kejam. Kalian adalah iblis yang sebenarnya di dunia ini.”
“Heh, membunuh ? Kita manusia dan warden sama-sama makhluk yang diciptakan sebagai pembunuh, tahu. KALIAN YANG MEMBUNUH IBUKU !!”
“Nona Keres, dia adalah ciptaan mu sendiri !!”
“Cih, ****** tuh idola brengsek lu itu.”
Aku hampir mengambil Tonitrui dan memenggal kepala Poppy tepat di depan mata Constantes. Namun saat itu aku berhenti, karena tiba-tiba, ingatan waktu aku menciptakannya dengan penuh harap dan keinginan yang besar supaya dia bisa bangun dan berbicara denganku, menjadi temanku yang baru. Semua itu, teringat kembali.
Apa lagi yang harus aku lakukan, supaya kamu bisa hidup sebagai cyborg, Poppy ?
Poppy, berbicaralah padaku, sekali saja. Aku sangat sendirian di dunia yang luas ini.
Aku akan melakukan apapun buatmu, Poppy. Jadi, hiduplah !!
Aku tidak akan berhenti di sini, Poppy. Tidak sampai keinginanmu itu terwujud !
Ketika aku akhirnya melihat dengan mata kepalaku sendiri, Poppy yang mengenaliku itu bagaikan sebuah hadiah yang terindah dari atas sana. Aku memang tidak terkejut atau bereaksi dengan sangat 'wah' atau apa saat itu, namun sampai beberapa hari setelah itu, aku merasa jauh lebih hidup di dunia daripada biasanya. Aku melatihnya selama perjalanan ke rumah si setan dengan lembut. Bahkan saat dia melemparkan sebuah kaleng ke dahiku, aku hanya menghela nafas, dan menasehatinya tanpa nada keras sama sekali. Aku menyayanginya, seperti adikku sendiri, atau mungkin, justru seperti anak sendiri. Tapi sekarang, aku malah hampir memenggal kepalanya ? Apakah itu adalah perlakuan seseorang yang menyayangi seseorang ?
“Sudah tidak ada harapan lagi. Kita berpisah di sini.”
“Heh, itu pilihan yang bagus, ******.”
Pada akhirnya, semuanya bubar begitu saja. Aku mengambil arah barat laut, si setan mengambil arah timur laut, dan Constantes, setelah bersama dengan Poppy selama beberapa saat, dia pergi ke arah tenggara. Ini lebih baik bagi Poppy daripada dia kehilangan kepalanya karena emosiku.
Kami berempat, memang sepertinya tidak diciptakan untuk bersama. Bertemanlah yang banyak, Poppy.