Zuyyina Al Humaira seorang gadis cantik nan imut yang terlahir dari keluaga sederhana.
Sang ayah yang hanya bekerja sebagai seorang petani hanya mengandalkan dari hasil kebunnya untuk kehidupan sehari-hari.
Dia mempunyai tekat yang kuat untuk memperdalam ilmu agamanya di pesantren DARUL QUR'AN.
Dengan kebaikan sang ummi mau menerima Zuyyina di pesantrennya.
Akankah Zuyyina mampu menjalani hari-harinya sang sangat di sibukkan dengan kegiatan-kegiatan pesantren.
Bagaimanakah kisah cinta Zuyyin yang jatuh hati dengan seorang anak dari putra yai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐀❣️𝐅, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
🍂🍂🍂🍂🍂
Hari semakin gelap, gemericik air hujan begitu deras di sepanjang jalan. Jingga pukul sepuluh malam Gus Atha pun langsung memarkirkan mobilnya terlebih dahulu di garasi samping rumah.
"Yuk sayang turun," ajak Gus Atha.
Keduanya pun turun dan tak lupa pula membawa barang belanjaannya. Mereka berjalan beriringan menuju ke kamar yang berada di lantai atas.
Ceklek
Zuyyin pun langsung menuju sofa singgle yang berada di pojok kiri ruangan tersebut.
Setelah menaruh barang belanjaan Zuyyin, Gus Atha pun bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang sudah terasa lengket.
Dua puluh menit Gus Atha keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan kain putihnya sebatas pinggang dan handuk kecil di tangannya sambil mengeringkan rambutnya.
"Hubby kebiasaan deh, kalau mau ke kamar mandi gak bawa ganti baju," ucap Zuyyin sambil bangkit dari duduknya dan berjalan menuju lemari untuk mengambilkan baju ganti sang suami.
Setelah selesai Zuyyin pun langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Gus Atha pun menunggu Zuyyin di atas tempat tidur sambil memainkan ponselnya dan melihat-lihat isi galeri yang tadi di ambil di pantai.
Ceklek
Gus Atha yang mendengar pintu kamar mandi di buka, seketika melihat ke arah Zuyyin yang keluar dari kamar mandi menuju tempat tidur dimana Gus Atha berada. Zuyyin pun duduk di samping suaminya.
"Sayang, kenapa yang tadi gak di pakai hemm," ucap Gus Atha.
"Yang mana," ucap Zuyyin pura-pura lupa.
"Yang tadi siang hubby belikan baju buat dinas,"
"Enggak ah malu," ucap Zuyyin langsung merebahkan tubuhnya di samping Gus Atha.
"Menyenangkan hati suami itu pahala loh, sayang lupa," ucap Gus Atha sambil meletakkan ponselnya di atas nakas.
"Enggak lupa tapi malu aja bie,"
"Ganti gih, hubby tunggu. Pakek yang warna putih ya," ucap Gus Atha sambil membisikkan di telinga Zuyyin.
Dan pada akhirnya sesuatu pun kembali terjadi seperti malam kemaren suara merdu Zuyyin pun menghiasi kamar tersebut dengan cuaca yang sangat mendukung untuk mencari kehangatan masing-masing.
.
.
.
Keesokan harinya, suara kicauan burung-burung pun bersahutan. Udara di pagi hari begitu sejuk sisa-sisa hujan semalam menetes dari dahan pohon dengan bersamaan semilirnya angin menerpa dedaunan dengan seiring fajar yang mulai menyingsing begitu indahnya di bagian ufuk timur.
Zuyyin merenggangkan otot-otot tubuhnya merasakan tidurnya yang nyaman dalam pelukan suami dan tanpa Zuyyin Sadari ternyata pergerakan Zuyyin pun langsung membangunkan sang empu dari tidur lelapnya.
Cup
Kecupan singkat mendarat sempurna di kening Zuyyin.
"Pagi sayang,"
"Pagi juga bie,"
Zuyyin pun langsung bangkit menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk sholat berjamaah.
Keduanya pun selesai melakukan sholat berjamaah dan tak lupa membaca wirid.
Gus Atha pun meminta Zuyyin untuk membaca hafalanya.
"Sayang kamu sudah sampai juz berapa hafalannya,"
"Baru sepuluh juz bie,"
"Mulai sekarang sekarang gak usah setor sama ummi, setoran aja sama hubby,"
"Iya bie."
Kemudian Zuyyin pun membaca hingga akhir di simak oleh sang suami.
Setelah selesai muroja'ah hafalanya, Zuyyin pun pamit untuk turun kebawah untuk membantu Ummi membuat sarapan. Tak lupa pula Gus Atha meminta kopi untuk di bawa ke kamarnya.
Zuyyin pun langsung turun ke bawah guna membuatkan kopi sang suami dan tak lupa membawakan cemilan untuk menemani sang suami yang agak sibuk dengan laptopnya.
Dan ternyata di dapur sudah ada ummi yang di bantu oleh Mak Zar.
"Pagi ummi,"
"Pagi juga sayang, semalem pulang jam berapa?" tanya Ummi.
"Jam sepuluh lebih sedikit ummi."
"Mau bikin kopi ya nak,"
"Iya ummi, mau membuatkan kopi untuk Gus Atha," ucap Zuyyin sambil mengambil panci untuk merebus air.
Sambil menunggu air mendidih Zuyyin pun menyiapkan gelas beserta kopinya dan tak lupa cemilannya. Serasa udah selesai Zuyyin pun pamit untuk mengantarkan kopi ke kamar.
Sampai di kamar Zuyyin meletakkan kopinya di atas meja dimana Gus Atha berada.
"Bie ini kopinya."
"Makasih sayang."
Zuyyin pun duduk di samping sang suami sambil melihat suami yang masih asik memainkan jarinya di atas keyboard.
Setelah selesai Gus Atha pun menutup laptopnya.
"Sayang nanti jam sepuluh hubby mau pergi sama Zidan ada jadwal ngaji yang ada di kota B," ucap Gus Atha sambil meraih cangkir kopinya dan menyesapnya perlahan.
"Iya hubby hati-hati di jalan. Kabarin Zuyyin ya kalo ada apa-apa," ucap Zuyyin.
"Iya sayang,"
"Bie nanti Zuyyin ingin ke kamar pondok ya buat ngambil kitab-kitab Zuyyin yang masih di sana," ucap Zuyyin.
"Iya gak apa-apa."
Gus atha yang sudah menghubungi Zidan untuk menyiapkan mobilnya terlebih dahulu sebelum berangkat ke kota B. Gus Atha yang sudah siap dengan berpakaian rapi kini keduanya turun kebawah untuk sarapan pagi sebelum berangkat pergi.
Sampai di ruang makan ternyata Zidan sudah siap untuk sarapan bersama Abah dengan yang lainnya.
'Maaf telat ya," ucap Gus atha yang melihat semuanya sudah berkumpul di meja makan.
"Gak kok nak, ini Abah juga baru sampai."
"Kamu mau kemana pagi-pagi gini sudah rapi?" Tanya Abah.
"Ada jadwal dakwah di kota B Abah," ucap Gus Atha sambil melihat ponsel yang ada di tangannya.
Zuyyin dengan cekatan mengambilkan makan sang suami.
Seketika hening hanya ada dentingan sendok yang menghiasi ruang makan tersebut.
Setelah semuanya selesai Gus Atha pun pamit kepada kedua orang tuanya. Zuyyin pun mengantarkan Gus Atha sampai di teras rumah di mana mobil suaminya berada.
"Sayang, hubby pamit ya," ucap Gus Atha sambil mencium kening Zuyyin.
"Iya, hubby juga hati-hati di jalan. Jangan lupa kabarin Zuyyin," jawab Zuyyin.
Kalau mau ke pesantren jangan lupa ponselnya di bawa sayang, siapa tahu hubby butuh sesuatu," ucap Gus Atha Yang tak ingin jauh dari istrinya.
"Nggih bie," ucap Zuyyin sambil melihatkan senyuman manisnya.
Seakan tak rela berjauhan dengan istri tercinta, namun ada kewajiban yang harus ia lakukan untuk memenuhi kewajiban dahwahnya yang sudah tercantum tanggal dan hatinya yang tak bisa di rubah ataupun di wakilkan.
Keduanya pun masuk kedalam mobil. Perlahan tapi pasti kini Zidan menjalankan kendaraannya meninggalkan pesantren menuju ke kota B.
Mereka pun mengobrol hanya sepatah dua patah kata dan kembali lagi fokus pada jalanan, sedangkan Gus Atha memainkan ponselnya untuk menghubungi sang istri melalui aplikasi hijau tersebut untuk menghilangkan rasa jenuh dalam perjalanan kali ini.
Obrolan seedarhana dan candaan yang di layangkan Gus Atha kepada sang istri itupun mampu mengusir kejenuhannya dalam perjalanannya kali ini.
Seulas senyum terukir di wajah Gus Atha. Zidan yang sekilas melihatnya pun merasa enggan untuk mengganggu orang yang lagi kasmaran.
"Ehem……."
Deheman Zidan mampu mengalihkan pandangan Gus Atha dari ponselnya.
"Ada apa?" tanya Gus Atha dengan rasa tak bersalahnya.
"Jangan senyum-senyum sendiri Gus, ntar di kira kesambet setan jalanan," ucap Zidan sambil terkekeh.
"Kenapa dengan ana, jangan ngada-ngada ya kamu Dan," dengan wajah cengo Gus Atha yang tak mengerti apa maksud Zidaan.
"Lah itu njenengan maen ponsel sambil senyum-senyum kaya orang kesambet,"
"Oh……kamu iri dengan ku yang lagi godain istri dirumah," ucap Gus Atha dengan bangganya.
"Ck, njenengan gak kasian sama saya. Jiwa jombloku meronta Gus," jawab Zidan sambil tertawa lepas.
"Lah kalo pengen kenapa kamu gak nikah aja biar ada yang di ajak bercanda,"
"Nikah masalah gampang, masalahnya yang di ajak nikah gak ada yang mau sama ana. Mana ada santri Wati yang mau sama orang pengangguran kaya ana,"
"Haiss kamu mah Dan, rezeki itu sudah ada takarannya masing-masing,"
Tak terasa kini mereka telah sampai dimana acara yang akan di langsungkan pengajian. Zidan pun memarkirkan mobilnya sesuai arahan dari panitia.