Ketika Cinta suaminya terbagi untuk orang lain, maka semua kebiasaannya mulai berubah.
Akankah Nigar akan mempertahankan haknya? Atau dia akan meminta berpisah dari suaminya ketika dia merasa tidak bahagia didalam pernikahan nya.
Ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mona Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Kelicikan Amora
Nigar memberikan kesempatan sekali lagi pada pernikahan nya.
Namun, masalah tetap sering datang menghampiri. Dalam hati Amora, tetap membenci Nigar serta anaknya.
Dan kali ini dia sudah membuat jebakan untuk membuat Nigar benar-benar mundur dari poligami ini.
Selama setahun, Hansel telah membuat Amora mengalah dan dalam hatinya ada amarah terpendam.
Maka di hari ulang tahun ibu mertuanya, Nyonya Dave, Amora sudah mempersiapkan semua siasatnya, meskipun untuk itu diapun harus mengorbankan sesuatu.
Demi mendapatkan Hansel seutuhnya, apapun akan dia lakukan. Dan sekaranglah saatnya.
Nigar datang dengan putrinya bersama satu orang suster.
Briana sangat senang melihat pesta yang begitu meriah untuk neneknya. Meskipun hingga saat ini, neneknya tidak menerimanya sebagai cucu, namun Brian atetap senang karena bisa datang di pesta yang mewah dan indah seperti saat ini.
"Kalian mainlah diatas. Aaron sudah menunggu kalian...."
Sapa Amora dengan berpura-pura manis pada anak Nigar. Nigar tidak menyadari niat jahatnya. Karena dia tidak bisa membaca isi hati orang. Jika dia ramah, haruskah dia berburuk sangka padanya?Itu yang Nigar pikirkan saat melihat keramahan yang diperlihatkan Amora.
Mungkin dia sudah berubah....
Hansel tersenyum ketika kedua istrinya nampak akrab dan sedang bercakap-cakap.
Nyonya Dave juga keluar ketika tamunya sudah begitu hanyak mengisi ruangan pesta di rumah besar.
Satu persatu dia menyalami tamu yang hadir. Dan setelah itu ada acara menari dan juga menyanyi yang di tampilkan oleh teman-temannya.
Tiba-tiba ketika hiruk pikuk pesta begitu meriah, ada suara teriakan dari tangga.
"Aaron......"
Amora berteriak melihat anaknya terguling di tangga.
Dan disana berdiri Briana.
"Dia mendorong anakku! Briana....kenapa kamu mendorong adikmu sendiri!" Amora berteriak dan melotot padanya.
"Bukan aku yang melakukannya!" Briana menatap semua orang dengan ketakutan.
Nigar segera melihat apa yang terjadi. Dia melihat putrinya berdiri di tangga dengan wajah pucat.
Hansel kaget dan melihat keadaan Aaron.
"Kau mendorongnya!?" Hansel pun berteriak ketika melihat kening Aaron berdarah.
"Aku tidak mendorongnya!"
Nigar segera berlari memeluk Briana. Dia tahu jika Briana tidak mungkin melakukannya. Dan saat ini dia sedang ketakutan melihat kemarahan ibu tirinya dan ayah sambungnya.
"Kau pasti mendorongnya! Dia bersamamu tadi. Dan lihatlah. Kau berdiri disana dan anakku jatuh dari tangga. Kau mendorongnya! Kau pasti membenci putraku. Karena aku adalah istri kedua ayahmu! Dan Aaron apa dosanya? Kau hampir membuatnya celaka!"
Hansel termakan hasutan Amora. Melihat anak kandungnya berdarah diapun menatap Nigar dan Briana dengan penuh emosi.
"Ayah....aku tidak melakukannya!"
"Dia tidak akan mengakuinya! Dia pasti sudah merencanakannya! Dia marah karena kasih sayang ayahnya terbagi denganku dan Aaron. Karena itu dia ingin menyakiti putraku dan melenyapkannya. Kau masih kecil tapi kau jahat!"
Amora terus berteriak dan membuat Briana gemetaran di pelukan ibunya.
"Jika sampai terjadi apa-apa dengan putraku. Aku akan menelpon polisi dan kau akan di penjara!"
"Han...segera bawa Aaron ke dokter...."
"Ya...baiklah...." Hansel sangat khawatir dengan keadaan Aaron yang jatuh dari tangga. Dia sekilas menatap tajam wajah Briana, anak sambungnya.
Briana menggelengkan kepalanya seakan memberi isyarat jika dia tidak melakukan nya. Dan dia berharap ayahnya percaya padanya.
Melihat tatapan dan kemarahan ayahnya, hatinya hancur dan sedih.
Hansel menggendong Aaron dan membawanya ke dokter.
Nigar hanya menatap bingung dengan apa yang terjadi. Dia lalu berjongkok dan membelai pipi Briana.
"Apa yang terjadi nak?"
"Aku tidak mendorongnya ma....."
"Lalu bagaimana dia bisa terjatuh?"
"Aku tidak tahu...."
Briana menangis. Mendengar kata polisi membuatnya terus gemetar dan ketakutan.
Nyonya Dave mendapatkan laporan dari salah seorang pelayannya.
Dia tadi sedang sibuk berpesta dan tidak mendengar ada keributan. Karena rumahnya begitu luas sehingga dia tidak tahu apa yang baru saja terjadi.
"Kau dan ibumu memang pembawa sial! Jika sampai terjadi apa-apa dengan cucuku. Kalian akan masuk ke dalam penjara!"
Ancam Nyonya Dave menatap tajam wajah Briana dan Nigar.
"Ma...aku tidak mau di penjara. Aku takut..."
"Tenang nak. Jangan takut. Mereka hanya sedang panik dan berkata demikian,"
"Kalian pulang saja! Jika kalian datang, selalu saja ada masalah!" Usir nyonya Dave dan membuat Nigar malu di hadapan semua tamu yang hadir.
"Ma...ayo kita pulang," Briana semakin sedih melihat ibunya di usir dari pesta itu oleh neneknya.
"Iya. Kita pulang....."
Mereka bertiga lalu berjalan melewati para tamu yang menatap dengan sebelah mata dan sinis ketika tahu jika dia adalah janda satu anak yang di nikahi Hansel.
"ihh dasar! Tidak tahu malu!"
Ucap salah seorang saudara nyonya Dave yang turut datang ke pesta.
Sampai dirumah, Nigar memikirkan kembali apa yang terjadi.
Dia lalu menulis di buku hariannya.
Aku memang harus mundur dari poligami ini. Ibunya masih tidak bisa menerimaku. Dan Amora dia juga tidak bisa membagi cinta Hansel denganku. Aku harus lapang dada jika akhirnya pernikahan ini gagal. Aku sudah berusaha melakukan yang terbaik. Dan memberi kesempatan sekali lagi pada pernikahan ini.
Tapi ternyata putriku justru tidak bahagia.
Dia tidak pantas mendapatkan semua hinaan ini. Putriku, maafkan ibu....
Aku tidak bisa membahayakan mentalnya.
lanjut
jangan lama² kalo bisa sehari 2x upnya