Akibat kecelakaan yang dialaminya, Ryan Jamaluddin justru kembali ke masa lalu, di mana waktu itu dia sedang di rawat di rumah sakit dengan kesulitan ayahnya untuk biaya pengobatannya.
Mampukah Ryan Jamaluddin untuk mengubah kehidupan keluarganya di masa lalu, agar ayahnya tidak menderita dan diremehkan orang lain, termasuk sang Paman?
Lalu misteri pembunuh ibu dan ayahnya di masa lalu juga harus dipecahkan. Apakah Ryan Jamaluddin mampu melakukan semua itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Elly
"Kenapa dadaku terasa sangat sakit sekali!" batin Elly.
Elly adalah anak terakhir dari keluarga Sudiarto, jadi hidup Elly benar-benar dijaga oleh Ibu dan juga Kakak-kakaknya. Bahkan Leo yang kejam itu pun sangat menyayangi adiknya. Elly tumbuh menjadi seorang gadis yang masih polos karena semua ditangani oleh orang-orang di sekitarnya yang begitu menyayangi dan melindungi dirinya.
Karena terlalu Over protective ini lah, Elly akhirnya tidak pernah dekat dengan pria manapun kecuali keluarganya. Akibatnya, Elly benar-benar polos masalah cinta. Ia bahkan tidak menyadari bagaimana perasaannya pada Ryan.
"Elly, kamu kenapa? Kok tiba-tiba bengong?" tanya Renata, sahabat dekat Elly sejak Sekolah Dasar yang juga merupakan putri salah satu keluarga konglomerat di Jakarta.
"Ah, maaf… tidak apa-apa kok. Ayo jalan…" ajak Elly dengan ekspresi tidak natural.
Di saat yang sama, Ryan tidak sengaja melihat ke arah Elly. Sebagai karyawan yang baik, sudah sepantasnya menyapa atasannya dan berbasa-basi ketika bertemu di luar kantor. Meskipun saat ini dia sedang bersama dengan orang lain, bahkan orang itu adalah seorang gadis.
Ryan lalu menggandeng Mira dan mengajaknya menemui Elly. "Malam nona Elly." Ryan menyapa dengan sopan.
Elly sedikit terkejut dengan sapaan Ryan. Dia tidak menyangka jika Ryan akan melihat dan menyapanya.
"Malam juga mas Ryan. Kapan kembali dari kampung?" Akhirnya dengan tetap berusaha senatural mungkin, Elly membalas ucapan salam dari Ryan.
"Baru sore tadi Saya tiba di Jakarta. Mohon maaf jika Saya mengganggu nona, Saya hanya ingin menyapa saja." Ryan menganggukkan kepalanya, memberikan penjelasan tentang niatnya.
Saat Elly akan membalas, ucapan Elly terhenti ketika melihat Ryan menggandeng seorang wanita di sampingnya Dengan suara yang terbata-bata, Elly bertanya pada Ryan. "I-ini?"
"Ah, maaf belum memperkenalkannya. Ini adalah temanku, Mira." Ryan cepat memperkenalkan Mira pada Elly sebagai temannya.
Mira lalu menganggukkan kepalanya, dengan menyebutkan namanya sendiri, "Mira."
Mira sedikit canggung di depan Elly yang merupakan bosnya Ryan. Ia takut melakukan kesalahan dan membuat Ryan dipecat. Maka dari itu Mira tidak berani berbicara banyak.
Namun, karena rasa canggung ini, Mira tanpa sadar memeluk erat lengan Ryan. Hal ini malah membuat hati Elly serasa di tusuk ribuan pisau.
Renata yang melihat ekspresi temannya ini, mulai menyadari bahwa Elly menaruh rasa pada pria yang ada di depannya.
"Hei, Aku tidak menyangka, jika sahabat ku yang polos ini akan merasakan jatuh cinta juga. Baiklah, Aku akan berusaha untuk mendukungnya sekuat tenaga," pikir Renata.
Setelah basa-basi sedikit, akhirnya mereka berpisah.
Renata mencoba menghibur Elly yang terlihat down setelah bertemu Ryan. "Elly, kamu masih punya kesempatan kok."
"A-apa maksudmu?" tanya Elly dengan wajah bingung. Dia tidak paham dengan maksud perkataan sahabatnya barusan.
"Kamu mencintai pria tadi kan?" senyum Renata jail.
"A-aku tidak tahu. Aku belum pernah jatuh cinta sebelumnya, jadi Aku belum tahu bagaimana rasanya," jawab Elly polos.
"Aku yakin, apa yang Kamu rasakan sekarang adalah cinta. Dadamu terasa sakit kan ketika melihatnya bersama wanita lain?" Elly mengangguk atas pertanyaan yang diajukan oleh teman itu.
"Itulah perasaan cemburu. Cemburu timbul karena perasaan cinta." Renata menerangkan bagaimana keadaan yang sedang dirasakan oleh Elly saat ini.
"Jadi ini yang namanya cinta?" bisik Elly sambil meletakkan tangan di dadanya sendiri.
"Jadi jangan menyerah. Ingatlah Elly, selama janur kuning belum melengkung, Kamu masih bisa terus mengejarnya." Renata kembali memberikan semangat.
"Tidak masalah kalau ada yang bilang Kamu pelakor atau apalah, jangan hiraukan mereka. Toh ini juga demi kebahagiaanmu kok, bukan demi kebahagiaan mereka." Terang Renata lagi, berusaha untuk memantik semangat Elly supaya tidak patah hati sebelum memulai sebuah hubungan.
"Terus berusaha, aku akan mendukungmu."
Elly akhirnya tersenyum lebar setelah mendengar nasehat dari sahabatnya itu, yang secara logika benar, tapi secara akhlak salah.
"Un …" angguk Elly.
Dari tempat tersembunyi yang ada di dekat Elly dan Renata, beberapa bodyguard terlihat menepuk jidatnya.
"Ugh, nona Renata telah mencemari pikiran Nona Muda kami."
"Maafkan kami atas sikap nona Muda Renata. Dari dulu Nona Muda kami memang suka gonta ganti pacar."
"Tidaakk, Nona Muda Elly … tolong tetaplah polos dan suciiii…"
"Tuhan, tolong jangan biarkan Nona Renata mencemari malaikat kecil kami."
"Hush, ayo jangan ngobrol aja, kita harus tetap siaga menjaga keselamatan Nona Muda kita!"
"Siap!"
Tentu saja, obrolan para bodyguard ini tidak diketahui oleh Elly dan Renata.
*****
Di Ruang Direktur Utama, Ammy duduk di kursinya dengan mata yang melotot. "Kamu bilang gagal?"
"Maafkan saya, Nyonya." Seorang pria berambut cepak dan berbadan tegap itu meminta maaf sambil membungkukkan badannya 90 derajat.
"Dasar Bodoh!"
Buk!
Amy melempar buku yang ada di mejanya pada pria di depannya. Sontak, buku itu mengenai kepala pria yang sedang membungkukkan badannya itu.
"Pastikan Ilham tidak ikut menyeret mu masuk penjara, Erold!"
"Baik, Nyonya!" Erold kemudian kembali tegap dan berbalik menuju pintu keluar.
Setelah melihatnya keluar, Ammy mengambil nafas panjang. "Haah..."
"Imam, kenapa Kamu sampai sekarang masih tetap mencintai kakakku? Padahal 14 tahun sudah berlalu sejak meninggalnya Kakak."
"Kalau saja kamu memilihku saat itu, Aku tidak akan berbuat sampai sejauh ini…"
"Jika Aku tidak bisa mendapatkannya, maka Aku harus memusnahkannya…"
Saat sedang merenung, mendadak ponsel Ammy bergetar.
Dreet... dreet... dreet...
"Hmm?" Saat Amy melihat nama menelponnya, ekspresi Amy langsung berubah. Dari yang awalnya sedang emosi, menjadi penuh senyum.
..."Halo Laura, ada apa malam-malam begini telepon?"...
^^^"Saya mau membatalkan kerjasama kita."^^^
..."Apa maksudmu?"...
..."Saya melakukan beberapa pengecekan setelah tiba di Jakarta. Aku menemukan informasi laporan keuangan yang aneh dalam Laporan Neraca Akhir tahun lalu. Sepertinya ada manipulasi dalam pembuatannya."...
..."Apa?!"...
..."Bahkan sepertinya Anda sendiri tidak tahu masalah ini. Saya tidak bisa mempercayakan kerjasama ini dengan perusahaan seperti ini! Anda sebagai direktur utama saja tidak tahu apa-apa."...
..."Tunggu, Aku akan segera memeriksanya. Bisakah Anda ke kantor kami besok siang? Saya janji akan segera memberi penjelasan."...
..."Baiklah, akan saya beri Anda satu kesempatan."...
Klik!
Brak!
"Brengsek!" Ammy menggebrak meja dengan sangat keras, begitu sambungan telepon dengan Laura terputus.
"Siapa yang berani bermain di belakangku?" Ammy berpikir sejenak, berusaha untuk menenangkan diri.
"Apakah ini perbuatan salah satu anakku?"
Tanpa pikir panjang, Ammy langsung menghubungi Sekretarisnya.
..."Pak Kurniawan, saya minta malam ini Kamu segera mengecek laporan keuangan tahun lalu. Dan saya mau informasi ini ada di meja Saya besok pagi!"...
Setelah selesai menghubungi sekretarisnya, Ammy kembali merenung di ruangan yang sepi dan dingin ini.
jangan lupa mampir ya kak. biar tambah semangat iklan sbg sponsor
E tapi 2014 ada taruhan bola ya. Aku lupa loh
Diriku tandain buat baca chapter pertama
penasaran !!